DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 134



"Mas Gen, kau sudah makan? Aku akan memasak banyak makanan untukmu." ujar Thrisca bersemangat.


Wanita itu segera berlari ke dapur dan menyiapkan banyak bahan makanan yang akan ia olah.


"Kau di rumah sendiri? Bi Inah belum kembali?"


"Mungkin masih dalam perjalanan. Ron bilang Bi Inah akan segera kembali ke sini."


"Ron?"


Wajah Genta langsung berubah murung begitu ia mendengar nama sepupunya itu.


"Mas Gen, duduk saja di meja makan. Cherry juga akan datang sebentar lagi," ujar Thrisca.


"Cherry? Dia akan datang ke sini?" tanya Genta membulatkan mata lebar-lebar.


"Kenapa? Bukankah dia calon istrimu?" ledek Thrisca.


"Calon istri apanya.." gumam Genta lirih.


"Tolong jangan rusak suasana hatiku! Aku masih bingung memikirkan calon pengantin yang harus kuajak ke pelaminan nanti.." rengek Genta pada Thrisca.


"Mas Gen, lebih baik jujur saja pada nenek. Kenapa Mas Gen tidak terima saja calon mempelai wanita yang sudah disiapkan ibunya Mas Gen?" saran Thrisca.


"Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan ibuku. Ibuku sudah kembali pulang beberapa minggu yang lalu, tapi aku tidak bisa menghubunginya. Mungkin ibuku sibuk,"


"Mas Gen, kau--"


Kalimat Thrisca terhenti begitu ia mendengar suara bising ponsel Genta yang berbunyi. Genta mengambil ponsel di kantongnya dan segera menyingkir dari hadapan Thrisca untuk mengangkat panggilan telepon dari Ron.



"Gen, kau ada di mana?" tanya Ron dengan nada dingin.


"Kenapa?" jawab Genta agak gugup.


"Kau tidak ada di kantor! Kemana kau pergi?!" sentak Ron.


"Aku.. di--"


"Di rumahku, kan? Kau masih berani menunjukkan wajahmu di depan istriku?! Kembali ke kantor sekarang!" omel Ron seraya memutuskan panggilan telepon.


"Ada apa, Mas Gen?" tanya Thrisca begitu ia melihat ekspresi wajah Genta yang tak biasa.


"Aku harus kembali ke kantor sekarang. Masih ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan." pamit Genta.


"Hati-hati di jalan, Mas Gen."


"Aku akan mampir lagi nanti. Hati-hati di rumah, Gendut! Jangan pergi kemana-mana sendirian!" ujar Gen seraya mengacak-acak rambut Thrisca.


Pria itu berjalan perlahan dengan langkah berat menuju pintu. Sesekali Genta menoleh ke arah Thrisca dengan tatapan tidak rela.


"Boleh aku mampir lagi ke sini?" tanya Genta sebelum ia benar-benar keluar dari pintu.


"Tentu saja," sambut Thrisca hangat.


Sepupu Ron itu berbalik badan dan berlari kecil menghampiri Thrisca. Genta memberanikan diri meraih tengkuk Thrisca dan melayangkan kecupan ke bibir wanita yang sudah bersuami itu.


Thrisca yang terkejut, tidak sempat menghindar dari Genta. Wanita itu mencoba mendorong tubuh Genta, namun tenaganya tidak cukup besar untuk menghalau pria bertubuh kekar seperti Genta.


"Apa yang Mas Gen lakukan?!" batin Thrisca terkejut bukan main melihat aksi Genta.


Sepupu Ron itu mendekap erat tubuh Thrisca sembari melumatt bibir merah istri dari Ron itu.


Cherry yang sudah masuk ke rumah Thrisca, ikut membelalakkan mata melihat sahabatnya tengah bercumbu dengan pria yang hampir saja menjadi suaminya.


"Apa yang kalian lakukan?!" pekik Cherry.


Genta tersadar seketika begitu ia mendengar pekikan seseorang. Pria itu gelagapan melepas dekapannya dari Thrisca dan menjauh dari wanita yang baru saja ia cumbu itu.


Thrisca menatap Genta dengan mata memerah penuh amarah. Belum sempat istri Ron itu melayangkan tamparan pada Genta, Cherry sudah terlebih dulu menonjok wajah Genta hingga hidung pria itu berdarah.


"Aww!" pekik Genta seraya memegangi hidungnya.


"Kau tidak apa-apa, Icha?" tanya Cherry seraya memeluk Thrisca yang berdiri dengan tubuh gemetar dan mata berkaca-kaca.


"Mas Gen, apa yang kau lakukan?!" tanya Thrisca dengan suara bergetar.


"Thrisca, maaf. Aku hilang kendali, aku--"


"Maaf apanya?! Aku tahu kau menyukai Icha, tapi seharusnya kau tahu batas!" omel Cherry geram.


"Apa? Menyukai apa?" tanya Thrisca bingung.


"Sekali lagi kau melecehkan temanku, aku akan mengirimmu ke penjara!" ujar Cherry seraya mendorong tubuh Genta yang sudah sempoyongan.


"Thrisca, aku minta maaf. Aku--"


"Pergi dari sini, Gen!" usir Cherry berang.


"Cherry, biarkan Mas Gen berbicara." sela Thrisca.


"Tapi--"


"Kita dengar dulu saja penjelasan apa yang ingin dia katakan." potong Thrisca cepat.


"Bisakah kau keluar sebentar?" ujar Genta pada Cherry.


"Aku tidak akan pergi kemanapun!" sentak Cherry.


"Tidak apa-apa, Cherry. Tolong keluar sebentar," sanggah Thrisca. Istri Ron itu mengambil pisau dapur dan berdiri sejauh mungkin dari Genta.


Cherry berjalan lemas meninggalkan Thrisca bersama Genta dan bersembunyi di balik tembok untuk mengawasi mereka berdua.


"Aku mencintaimu.." ujar Genta seraya menatap mata Thrisca lekat-lekat.


Cherry tak menyangka Genta berani mengungkapkan perasaannya pada Thrisca meskipun ia tahu Genta hanya akan mendapat penolakan.


"Aku tahu, Thrisca. Ini akan menjadi ciuman pertama dan terakhir kita. Setelah ini, aku akan mulai membangun hidupku yang baru tanpamu."


"Mas Gen, kau benar-benar membuatku kecewa." ungkap Thrisca dengan air mata berlinang.


"Ini jauh lebih baik, Thrisca. Melihatmu terus bersikap baik padaku, membuatku semakin berharap padamu. Jika kau membenciku, akan lebih mudah bagiku untuk melupakanmu." batin Genta.


"Keluar dari rumahku!" usir Thrisca tanpa menoleh ke arah Genta sedikitpun.


"Aku.. mungkin tidak akan kembali." ujar Genta lirih.


Pria itu keluar dari rumah sang sepupu dengan penuh penyesalan. Genta duduk sejenak di dalam mobilnya dan terus menatap ke arah pintu rumah Ron yang sudah tertutup rapat.


"Sial! Aku memang ingin Thrisca membenciku, tapi bukan ini akhir yang kumau.." sesal Genta.


"Ayolah, Gen! Kenapa kau justru menyakiti Thrisca?! Dasar pria bodoh!"


***


Genta membuka pintu ruangan kerja Ron dan mendapati sang ibu sudah duduk manis di dalam sana dengan wajah ketakutan.


"Ibu!"


Genta berlari menghampiri Berlin dan mengusap wajah ibunya yang memucat.


"Apa yang kau lakukan pada ibuku, Ron?!"


"Tanya pada ibumu sendiri, apa yang sudah dilakukannya pada wanita pujaanmu!" ujar Ron sinis.


"Wanita pujaan apa, Ron?"


"Gen, tidak perlu berpura-pura lagi! Kau menyukai istriku, kan? Kau pikir kau bisa merebut Icha dariku?! Berhenti mengganggu istriku sebelum aku melenyapkan ibumu!"


"Ron, ibuku tetap bibimu! Kenapa kau tega sekali berbicara--"


"Tanyakan juga pada ibumu kenapa dia juga tega menyakiti istriku!" potong Ron.


"Apa? Menyakiti apa?"


"Gen, kau ini bodoh atau bagaimana?! Kecelakaan yang dialami istriku saat Icha pergi ke taman hiburan bersamamu itu bukanlah kecelakaan belaka!" terang Ron seraya melempar berkas berisi bukti-bukti kejahatan ibu dari Genta.


"Kau tidak terlibat kan, Gen? Kau menyukai istriku. Kau tidak mungkin menyakiti wanita yang kau cintai, kan?" cibir Ron.


"Ibu, apa benar ibu melakukan hal ini pada Thrisca?" tanya Genta lirih.


Berlin hanya diam tanpa berani menatap mata sang putra. Wanita paruh baya itu menundukkan kepala dalam-dalam tanpa ingin melihat wajah sendu putra semata wayangnya.


"Gen, kau pasti kesulitan menghubungi ibumu belakangan ini, kan?! Nenek sengaja memulangkan ibumu dan menutup kasus ini secara diam-diam karena nenek tidak ingin menyakitimu." ujar Ron.


"Tapi aku bukan nenek! Aku akan mendapatkan keadilan untuk istriku. Aku masih menghargaimu sebagai sepupu, karena itu aku ingin meminta pendapatmu mengenai ganjaran yang pantas untuk ibumu." imbuh Ron.


"Kau juga mencintai Thrisca, kan?" tanya Ron dengan sorot mata tajam.


"Apa yang ingin kau lakukan pada ibuku?" tanya Genta seraya menundukkan wajahnya.


"Bolehkah aku membuka kasus ini kembali?!" tanya Ron disertai senyum sinis.


"Kalau kau tidak ingin kasus ibumu mencuat dan menjadi bulan-bulanan media massa, aku bisa memberimu pilihan lain." imbuh Ron.


"Pilihan apa?"


"Aku akan memaafkan ibumu kalau wanita itu mematahkan salah satu kakinya." ujar Ron.


Genta menggebrak meja dan melotot ke arah Ron.


"Ron, kau jangan keter--"


"Kalau begitu kembalikan calon anakku yang sudah mati!" teriak Ron hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan.


"Ibumu juga harus merasakan sendiri bagaimana rasanya ditabrak truk besar dan terguling di aspal dengan darah yang berceceran!" tambah Ron makin berang.


Genta tak berani lagi bersuara di depan Ron. Pria itu berjongkok di depan sang ibu dan menggenggam erat tangan wanita paruh baya itu.


"Ibu sendiri yang memilih jalan ini. Jadi, ibu juga harus bertanggungjawab. Thrisca hancur karena kehilangan anaknya, Bu. Ibu juga seorang ibu, kan?" ujar Genta lirih pada sang ibu.


"Bagaimana, Gen? Kau pilih reputasi ibumu yang hancur atau tubuh ibumu yang hancur?" tanya Ron dingin.


Ron melempar beberapa berkas pada Gen hingga kertas-kertas itu berhamburan di lantai.


"Aku sudah memilihkan hadiah untuk Lilian. Kau bisa melihatnya," ujar Ron.


Genta mengambil beberapa lembar foto yang berserakan di lantai dan mendapati wajah Lilian terpampang jelas di foto itu dalam keadaan terbaring di ranjang pasien.


"Aku memilih untuk menabrak Lilian dengan truk, sama dengan apa yang dia lakukan pada istriku." ujar Ron datar.


"Mungkin seperti itulah nasib ibumu nanti jika kau lebih memilih ibumu dicium truk besar. Aku juga mematahkan satu kaki Lilian. Wanita itu sudah berani mengusik ayahku dan istriku. Aku tidak mungkin hanya membiarkannya duduk manis di balik jeruji besi. Wanita itu tidak akan jera jika aku belum menghajarnya," imbuh Ron tanpa perasaan sedikitpun.


"Ron, sejak kapan kau berubah menjadi sekejam ini?" ujar Genta lirih.


"Kalian yang membuatku bersikap kejam! Penjahat hanya bisa dilawan oleh penjahat yang lebih kejam," jawab Ron cuek.


"Kau bisa menghabiskan malam ini bersama ibumu. Aku menunggu jawabanmu besok pagi,"


Ron menepuk bahu Genta seraya berlenggang keluar dari ruangannya.


Han ikut menepuk bahu Genta pelan untuk menghibur pria malang itu.


"Han, kau yang mengurus semua ini?" tanya Genta dengan suara parau.


"Maaf, Gen. Aku hanya mengikuti perintah Bos. Kau seharusnya tahu kan, setiap tindakan memiliki resiko masing-masing. Tolong bijaklah dalam menyikapi tindakan Bos padamu. Bos sangat menyayangimu, Gen." hibur Han.


***


Bersambung...