
Thrisca berbaring di kasur besar sambil memainkan ponsel di kamar sang suami. Gadis itu fokus menatap layar ponsel jadulnya hingga ia tidak menyadari sang suami terus memanggil-manggil namanya.
"Gendut! Apa telingamu ini hanya pajangan?!"
Ron mendekati sang istri dan menjewer telinga kecil gadis cantik berambut panjang itu.
"Ron, telingaku bisa lepas!" jerit Thrisca seraya menepis tangan sang suami yang bertengger di telinganya.
"Aku memanggilmu sejak tadi! Apa ponsel tua itu lebih menarik dari suamimu?" rengek Ron pada sang istri.
"Maaf, aku hanya sedang membaca ini.."
Thrisca menunjukkan layar ponselnya pada sang suami.
"Apa ini? Layar buram dan retak seperti ini apa masih pantas disebut ponsel? Kau ingin membuatku terlihat seperti suami pelit yang tidak sanggup membiayai istrinya?!" omel Ron jengkel melihat sang istri masih memelihara benda jadul itu.
"Aku memang tidak punya uang untuk membeli yang baru," ujar Thrisca dengan wajah cemberut.
"Kau kemanakan saja uang yang kuberikan padamu setiap bulan?"
Ron mulai merendahkan suaranya dan mulai merebahkan diri ke ranjang. Pria itu membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri sebagai bantal dan memainkan rambut panjang gadis kesayangannya itu.
"Kau tidak memperbolehkanku pergi keluar, bagaimana aku bisa membelanjakan uangmu?" protes Thrisca.
"Memangnya belanja harus keluar rumah? Kau bisa membeli apapun hanya dengan satu jari. Kau ini sebenarnya manusia planet mana? Semua wanita juga tahu bagaimana caranya berbelanja online," sanggah pria beralis tebal itu.
"Kau pikir ponsel tua seperti ini bisa digunakan untuk itu?" ujar Thrisca kesal.
Ron merebut ponsel yang ada di genggaman istrinya dan mengamati benda kotak kecil itu dengan cermat.
"Buang saja benda mengganggu seperti ini!"
Ron melempar ponsel sang istri dengan santai dan masuk tepat ke tempat sampah yang terletak tidak jauh dari ranjang mereka.
"Ron! Itu ponsel pertamaku! Kau jahat sekali!"
Thrisca memukul-mukul dada bidang suami yang berbaring di pangkuannya. Gadis itu segera menyingkirkan kepala Ron darinya dan berjalan menuju tempat sampah untuk mengambil ponsel berharganya.
"Gendut, barang seperti itu kenapa masih kau pungut? Jangan seperti orang miskin! Aku masih sanggup membelikanmu yang baru," bujuk Ron pada istri cantiknya.
"Terimakasih atas belas kasihanmu tapi ponsel ini masih berfungsi dengan baik, jadi aku tidak butuh barang baru darimu." ucap Thrisca tegas.
"Jaman sekarang siapa yang masih memakai ponsel hingga rusak? Bukankah mereka langsung mengganti ponsel saat model terbaru sudah beredar?"
"Tidak semua orang hidup dengan mudah sepertimu." ujar Thrisca dengan tatapan dingin ke arah suami.
"Baiklah, aku menyerah. Maaf sudah melempar benda antik milikmu,"
Ron melingkarkan tangannya ke pinggang sang istri dan memberikan pelukan hangat pada gadis bertubuh ramping itu.
"Em, temanku mengundangku untuk mengikuti reuni sekolah. Bolehkah aku pergi?" pinta Thrisca.
"Reuni apa? Dimana?"
"Reuni bersama teman-teman sekolahku. Aku memang tidak memiliki banyak teman dekat di sekolah, tapi ada satu temanku yang sudah bersusah payah menghubungiku hanya untuk mengundangku datang. Aku tidak enak jika menolak,"
"Maksudmu kau harus pulang ke kota asalmu?"
"Tentu saja. Teman-teman sekolahku berada disana. Aku juga rindu pada rumahku. Aku boleh pulang, kan?"
Thrisca meminta ijin dengan penuh hati-hati.
Ron terdiam sejenak dan mencoba mempertimbangkan permintaan sang istri. Pria itu sudah mulai dilanda kesibukan pekerjaan dan jarak dari kota tempat tinggal mereka ke kota asal sang istri cukup jauh.
Ditambah lagi ayah Thrisca masih berada di luar negeri. Artinya Thrisca akan sendirian selama gadis itu pulang ke kampung halaman.
"Kapan acaranya?" tanya Ron setelah lama terdiam.
"Akhir pekan ini. Ini masih hari Rabu. Kalau boleh, hari Jumat nanti aku ingin pulang."
"Baiklah." ujar Ron dengan santai.
"Kau mengijinkanku semudah ini? Tidak biasanya."
Thrisca menyambut ijin dari suaminya dengan tatapan curiga.
"Kenapa aku harus mempersulit? Aku sendiri yang akan mengantarmu dan menemanimu ke acara itu." ujar Ron kemudian.
"Aku tidak bilang aku akan mengajakmu,"
Kepala Ron bagai terpukul palu besar saat mendengar ucapan sang istri.
"Maksudmu apa berkata seperti itu? Kau sudah mempunyai suami, kemanapun kau pergi tentu saja harus bersamaku!"
Pria itu mencubit pipi halus sang istri dengan gemas.
"Ron, mana bisa aku pergi bersamamu! Kau terlalu mencolok! Aku tidak mau menjadi pusat perhatian."
"Apa hubungannya? Kalau kau harus memakai kursi roda itu artinya aku harus berpenampilan gendut, kan? Mana mungkin aku datang dengan sumpalan kain itu? Teman-temanku tidak akan ada yang mengenaliku." ujar Thrisca mulai dongkol.
"Jadi kau akan datang dengan berdandan cantik?!"
"Berdandan cantik apa? Aku hanya akan datang dengan penampilan asliku. Kalau kau menemaniku dengan memakai kursi roda, aku akan dituduh sebagai selingkuhanmu!" protes Thrisca.
"Selingkuhan apanya?"
"Ron, orang-orang tahu Thrisca gendutlah satu-satunya istrimu. Mereka tidak mengetahui wajahku yang sebenarnya. Mereka akan salah paham seperti Gen jika kita datang bersama." terang Thrisca.
"Untuk apa kau memikirkan hal tidak penting seperti itu? Aku hanya perlu mengatakan pada mereka kalau kau adalah istriku!"
"Apa tidak apa-apa jika aku muncul sebagai istrimu dengan penampilan asliku? Kau juga akan muncul sebagai Ron yang sehat?" tanya Thrisca.
Ron mengernyitkan dahi dengan pikiran melayang membayangkan saat mereka muncul di publik dengan penampilan asli mereka nanti.
"Kalau aku menunjukkan wajah asli istriku pada publik dan aku muncul sebagai Ron yang sehat, bukankah kami akan menjadi pasangan yang sempurna?" batin Ron sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Tapi tunggu sebentar, itu artinya wajah Thrisca akan dilihat oleh semua orang. Aku tidak mau wajah cantik istriku menjadi tontonan banyak pria!" gerutu Ron dalam hati dengan wajah cemberut.
"Tuan, jadi bagaimana? Kita tidak akan berpura-pura lagi dihadapan siapapun? Kita bisa mulai jujur pada keluargamu? Kakek dan ayah ibumu pasti mengkhawatirkanmu. Mereka akan senang sekali saat mengetahui keadaanmu yang sebenarnya bahwa kau baik-baik saja selama ini," ucap Thrisca dengan senyum sumringah.
"Kenapa terburu-buru sekali? Kau sudah tidak sabar menunjukkan wajah cantikmu di hadapan pria-pria di luar sana? Kau sudah tidak mau lagi berdandan aneh karena itu membuatmu diabaikan oleh para pria?!" sindir suami Thrisca itu.
"Apa yang kau bicarakan, Ron? Aku hanya lelah terus berbohong."
"Mengenai hal itu, kita bahas lain kali saja! Aku masih senang menggunakan kursi roda. Aku juga lebih suka Thrisca gendut," ujar Ron asal.
"Kita tidak bisa berpura-pura selamanya, kan? Kau juga akan kesulitan menyelesaikan pekerjaanmu jika kursi roda itu terus menempel di badanmu,"
"Sudahlah, gendut. Banyak hal yang harus kupertimbangkan! Aku akan mengakhiri sandiwara kita. Tapi tidak dalam waktu dekat." tukas Ron mengakhiri perbincangan mereka.
"Lalu bagaimana dengan nasib reuniku? Kau akan mengijinkanku pergi, kan?" tanya Thrisca kembali membahas reuni sekolahnya.
"Kau bilang kau tidak memiliki banyak teman disana kan? Kalau begitu tidak usah ikut! Duduk di rumah saja! Aku akan membawamu pergi berlibur sebagai gantinya," jawab Ron malas.
Thrisca mengepalkan tangannya kuat-kuat dan melempar bantal tepat ke wajah Ron.
Bukk!
"Kau ini kenapa, gendut?!!" bentak Ron dongkol mendapat lemparan bantal dari sang istri.
Thrisca benar-benar kesal pada tingkah sang suami yang terus melarang-larang dirinya dalam segala hal. Gadis rumahan itu semakin tidak senang berada di rumah dan ingin mencari suasana baru di luar sana. Namun Ron selalu saja menghalangi kebahagiaannya untuk melihat dunia luar.
"Kau yang tidur di luar atau aku yang pulang ke rumah?!" teriak Thrisca pada pria yang hendak membaringkan tubuh di ranjang itu.
"Apalagi ini? Kau ingin mengusirku dari kamarku sendiri?" tanya Ron dengan wajah memelas.
"Kalau begitu aku saja yang pergi,"
Thrisca bangkit dari ranjang dan bersiap meninggalkan kamar Ron dengan membawa satu bantal di tangannya.
"Gendut, apa reuni itu lebih penting dari suamimu? Aku akan menemanimu pergi tahun depan," bujuk pria berusia dua puluh delapan tahun itu.
Thrisca membeku seketika saat mendengar kata "tahun depan" meluncur dari mulut sang suami.
"Tahun depan? Apa aku dan Ron masih akan bersama hingga tahun depan?" batin Thrisca seraya mengerutkan keningnya.
Gadis itu melanjutkan langkahnya keluar dari kamar Ron tanpa menoleh sedikitpun ke arah pria pemilik kamar itu.
Ron segera menarik tangan Thrisca sebelum istrinya itu benar-benar meninggalkan kamar.
"Baiklah, kau menang! Kau boleh pergi, aku akan menemanimu." ujar Ron menyerah.
Istri Ron itu masih membuang muka pada sang suami dan memasang wajah cemberut.
"Baiklah, aku tidur di luar."
Ron mengambil bantalnya dan berjalan perlahan keluar dari ruangan surganya itu.
Thrisca yang sudah geram dengan gerakan Ron yang lelet seperti keong, segera mendorong pria itu keluar saat sang suami sudah berdiri di ambang pintu.
Brakk!
Tepat setelah Ron berdiri di luar kamar, sang istri langsung membanting pintu dengan keras hingga membuat jantung Ron hampir rontok karena terkejut.
"Si gendut itu sudah semakin melawan sekarang," gumam Ron lirih seraya berjalan perlahan menuju kamar tamu.
Acara malam pertama indah yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh Ron kini kembali dilanda kegagalan besar.
***
Bersambung..