
"Thrisca.."
Nyonya Aswinda menyambut sumringah sang cucu menantu yang membawa koper besar.
Wanita tua itu membelai lembut rambut Thrisca seraya melempar senyum penuh kasih pada wanita hamil itu.
"Kau bertengkar dengan Ron?" tanya Nyonya Aswinda.
"Itu.. boleh aku menginap di sini beberapa hari?" tanya Thrisca takut-takut.
"Tentu saja boleh, Sayang. Cherry juga menginap di sini sampai hari pernikahan kalian minggu depan."
"Terima kasih, Nek."
"Nenek juga melakukan hal yang sama dulu sewaktu kakekmu mempunyai istri baru." ujar Nyonya Aswinda mengira Thrisca kabur dari rumah karena sudah mengetahui tentang pernikahan kedua sang suami.
"Hem? Istri baru?"
"Tidak apa-apa, Sayang. Kau tetap istri pertama, Ron. Bayi di perutmu ini yang akan menjadi pewaris keluarga kita. Istri kedua Ron tidak akan--"
"Apa maksud Nenek?" tanya Thrisca lirih dengan wajah bingung.
Bak disambar petir di siang bolong, Thrisca nampak terkejut bukan main mendengar perkataan Nyonya Aswinda mengenai Ron.
Tubuh wanita itu mulai gemetar mendengar penuturan sang nenek yang membahas istri kedua dari Ron.
"Hem? Apanya? Nenek sedang membahas istri kedua suamimu. Kau tidak perlu berkecil hati. Meskipun istri kedua suamimu seorang Nona Muda, tapi--"
"Istri kedua suamiku?" potong Thrisca cepat.
Manik mata wanita itu mulai memerah dan nafasnya mulai tidak beraturan. Thrisca mencoba mencerna baik-baik perkataan sang nenek, namun pikirannya justru semakin kacau saat ia mendengar kata istri kedua meluncur dari mulut Nyonya Aswinda.
"Sayang.. ada apa? Nenek tahu, kau pasti sangat sakit hati dengan keputusan Ron yang menikah lagi. Tapi lama-lama kau pasti juga bisa terbiasa, sama seperti nenek dan ibumu." nasihat Nyonya Aswinda.
"Ron.. menikah lagi?" tanya Thrisca dengan suara bergetar.
Kini giliran Nyonya Aswinda yang bingung dengan ucapan Thrisca. Wanita itu mulai menyadari kalau Thrisca belum mengetahui apapun mengenai pernikahan Ron dengan Katrina yang hanya dilangsungkan dengan mendaftarkan pernikahan tanpa membuat acara.
"Sayang, Ron belum memberitahumu?" tanya Nyonya Aswinda penuh hati-hati.
"Jadi, ini alasan kenapa Ron pergi larut malam dari rumah. Ini alasan kenapa Ron sembunyi-sembunyi mengangkat panggilan telepon. Ini alasan kenapa dia terus mengelak dan mengarang cerita padaku." racau Thrisca.
"Ron tidak mengijinkanku melihat ponselnya, karena istri barunya?" sambung Thrisca seraya tersenyum kecut.
"Sayang, dengarkan dulu penjelasan nenek--"
"Akh!"
Thrisca tiba-tiba memekik seraya memegangi perut ratanya.
"Icha, kau kenapa?"
Cherry yang melihat Thrisca kesakitan, segera mendudukkan temannya di sofa.
"Cherry cepat panggil supir!"
Nyonya Aswinda tak kalah panik mendapati sang cucu menantu yang tiba-tiba menjerit kesakitan.
Nyonya Aswinda bergegas membawa istri Ron itu menuju rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
***
Tring.. Tring..
Ron yang duduk bersimpuh di lantai rumahnya, bergegas meraih ponsel berharap panggilan masuk itu berasal dari sang istri.
Pria itu langsung berdecak kesal begitu ia mendapati nama Katrina di layar ponsel mahalnya.
"Dasar wanita gila! Awas saja kalau istriku merajuk lama karena kau! Aku akan mencari dukun untuk menyantetmu!" rutuk Ron pada ponselnya.
Ron menutup panggilan dari Katrina tanpa ingin meladeni lagi istri keduanya itu.
Namun, lagi-lagi ponsel Ron berdering kencang menerima panggilan telepon dari Katrina.
Karena panggilan telepon tak mendapat respon, pesan singkat pun menjadi jalan terakhir untuk mendapat menghubungi Ron.
"Istri Tuan saat ini tengah berada di rumah sakit karena demam tinggi. Tolong Tuan segera datang ke rumah sakit karena istri Tuan terus memberontak dan menolak menerima perawatan medis dari kami jika Tuan tidak berkunjung kemari." tulis pesan singkat yang ternyata dikirim oleh perawat rumah sakit itu.
"Apa-apaan ini?! Istri apanya?!" umpat Ron kesal.
Pria itu segera menghampiri supir kediamannya untuk bertanya mengenai Katrina.
"Tolong hubungi rumah Katrina. Tanyakan pada petugas keamanan di sana, apa wanita itu benar-benar dibawa ke rumah sakit?" ujar Ron pada supirnya.
"Benar, Tuan. Baru saja Pak Kian menghubungi kalau Nyonya dibawa ke rumah sakit oleh pelayan di sana."
Mendengar Katrina sudah diurus dengan baik oleh asisten rumah tangga, Ron pun tidak perlu ambil pusing lagi untuk meladeni wanita menyebalkan itu.
"Tuan.."
Supir kediaman Ron memberanikan diri menghampiri Ron dengan takut-takut untuk menyampaikannya informasi mengenai Katrina.
"Kata pelayan, kondisi Nyonya Katrina semakin memburuk Tuan. Nyonya Katrina ingin Tuan segera menjenguk ke rumah sakit." ujar supir itu.
"Lain kali jangan kirim dia ke rumah sakit umum! Kirim saja ke rumah sakit jiwa!" omel Ron kesal.
Pria itu segera mengambil kunci mobilnya dan melesat menuju rumah sakit untuk memberikan pelajaran pada Katrina.
Namun, begitu ia sampai di depan pintu, manik mata pria itu menangkap pemandangan tak asing tepat di hadapannya.
Seorang wanita yang nampak familiar, terbaring lemas di brankar pasien dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri. Sementara sang pengantar, mulai menangis sesenggukan melihat pasien yang terbaring itu memejamkan mata.
Ron langsung berlari kencang begitu menyadari bahwa wanita yang tergolek lemas itu adalah istrinya. Dan pengantar pasien yang tengah menangis sendu itu ialah Nyonya Aswinda dan Cherry.
"S-sayang, apa yang terjadi padamu?" ujar Ron tiba-tiba muncul mengagetkan Nyonya Aswinda dan Cherry.
Pria itu menggenggam erat tangan sang istri yang sudah berwajah pucat dengan mata tertutup.
"Ron.. nenek belum sempat menghubungimu. Bagaimana kau tahu--"
"Apa yang terjadi pada istriku, Nek?" potong Ron cepat.
"Mohon tunggu di luar selama kami menangani pasien." ujar seorang perawat menghalau Ron keluar ruangan.
"Aku suaminya! Biarkan aku di sini!"
"Ron, ayo kita keluar.."
Nyonya Aswinda segera menarik tangan Ron dan mengajak sang cucu menunggu di luar.
Air mata pria itu langsung mengucur deras tanpa permisi, membasahi pipi suami Thrisca itu.
"Apa yang nenek lakukan pada istriku?! Belum ada satu jam aku meninggalkannya pada nenek, kenapa istriku bisa berakhir seperti itu?!" sentak Ron pada Nyonya Aswinda.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Ron?! Apa yang kau lakukan pada Icha? Kau menikah lagi dan kau menyembunyikan istri barumu dari Icha?" pekik Cherry melotot pada Ron.
"Dari mana kau tahu tentang hal ini?"
"Icha sudah tahu, Ron. Kau pikir bagaimana perasaannya saat dia mengetahui suaminya menikah lagi disaat dia tengah mengandung? Bukankah minggu depan adalah pesta pernikahanmu dengan Icha?! Atau kau berniat mengganti mempelai wanitanya dengan istri barumu?!" sindir Cherry.
"Sudah Cherry, Ron. Ini rumah sakit. Jangan membuat keributan di sini." lerai Nyonya Aswinda.
Ron menyandarkan kepalanya di dinding dengan pikiran kacau. Pria itu tidak hanya menyakiti hati sang istri, namun ia juga menyakiti fisik Thrisca dan calon buah hatinya.
Pria itu menjedotkan kepala ke tembok dengan frustasi sembari menunggu sang istri selesai mendapat penanganan medis.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini, Ron?" tanya Nyonya Aswinda.
"Aku tidak ingin membahasnya."
"Icha pasti baik-baik saja.." hibur Nyonya Aswinda.
"Ini semua salahku.." gumam Ron lirih.
"Kau sudah membantu kakekmu, Ron. Nenek benar-benar menghargai itu."
"Aku tidak butuh penghargaan dari siapapun. Aku hanya ingin istriku kembali menatapku." keluh Ron.
"Dulu nenek juga marah pada kakekmu. Nenek kabur ke rumah orang tua nenek. Dan nenek tidak berbicara pada kakekmu selama satu bulan lamanya." ujar Nyonya Aswinda bercerita.
"Sebulan? Aku bisa mati jika istriku mengabaikanku selama sebulan lamanya.."
"Ibu juga kabur dari rumah saat ayahmu menikah lagi,"
Nyonya Daisy ikut menyela pembicaraan putranya bersama ibu mertuanya.
"Daisy.." sapa Nyonya Aswinda.
"Ibu, kenapa tidak bilang kalau menantuku sedang hamil? Kalau saja Thrisca kabur ke rumahku, aku akan membantu menantu kesayanganku menghilang dari hidup Ron selama beberapa minggu." ujar Nyonya Daisy seraya menatap sinis sang putra.
"Ibu pikir aku yang menginginkan pernikahan ini?! Kakek tua itu yang memaksaku!" kilah Ron.
"Jadi, kau memilih untuk mengorbankan istrimu?" sindir Nyonya Daisy.
"Kalian yang membuatku tidak memiliki pilhan!"
"Ron, ibu sangat berterimakasih kau lebih mengutamakan keluarga kita. Tapi ibu juga seorang istri. Ibu pernah berada di posisi Thrisca. Sebagai seorang istri, ibu tidak akan menerima alasan apapun yang membenarkan pernikahan kedua ayahmu." ungkap Nyonya Daisy.
"Semoga Thrisca tidak seperti ibu." imbuhnya.
"Ibu salah! Icha pernah berkata padaku.. jika aku menikah lagi. Dia akan menuntut pisah dariku.." ungkap Ron dengan wajah murung.
"Kau pasti bisa melewati ini, Ron. Coba minta beberapa saran dari ayah dan kakekmu." usul Nyonya Aswinda.
"Meminta saran dari dua tukang poligami itu? Apa nenek luluh karena bujukan kakek? Nenek justru semakin menjauh semenjak kakek memiliki istri lain. Nenek bahkan tidak ingin lagi tinggal bersama kakek dan lebih memilih menghabiskan waktu di luar negeri." sanggah Ron.
"Ayah juga sama saja. Lihat ibu sekarang! Kapan ayah dan ibu pernah berbicara normal?! Semenjak ayah menikah lagi, pria tua itu bahkan tidak pernah menghabiskan waktu di rumah." imbuh Ron kecewa.
"Apa aku dan istriku akan berakhir seperti ibu dan nenek?!" tanya Ron dengan suara parau.
"Aku tidak ingin.. pernikahanku berakhir berantakan seperti pernikahan kakek dan ayah."
***
Bersambung...