
Ron meraih kunci mobil dengan wajah panik dan tubuh gemetar. Pria itu sudah tidak bisa berpikir jernih saat ia mendapat kabar bahwa sang istri tengah tergolek lemas di rumah sakit.
Suami Thrisca itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan mengendarai kendaraan roda empatnya dengan ugal-ugalan di jalan raya yang padat.
Pria itu berkendara dengan tidak sabaran dan terus mengomel di jalanan yang penuh dengan kendaraan.
"Icha, kalau kau meninggalkanku, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" gumam Ron dengan mata mengembun.
Rasa cemas Ron sudah menggelapkan mata pria itu hingga ia memilih jalan tikus yang berkelok agar suami Thrisca itu bisa segera melihat keadaan sang istri.
Namun bukannya cepat sampai, Ron yang berkendara ugal-ugalan di jalan sempit juga ikut terkena kecelakaan kecil hingga membuat pria yang belum lama berulang tahun itu tidak sadarkan diri.
Bruukk!!
Mobil mahal Ron sukses menabrak pohon di pinggir jalan hingga membuat penyok bagian depan kendaraan roda empat itu.
Beruntung Ron hanya mengalami luka ringan di dalam mobil. Namun tubuh pria itu nampak lesu dan tak bertenaga. Perlahan mata Ron mulai memburam dengan kesadaran yang berangsur-angsur menghilang.
***
Bau obat yang menyengat mulai menyelimuti ruangan beranjang kecil yang ditempati oleh Ron.
Pria yang hendak mengunjungi sang istri itu kini ikut menjadi pasien di rumah sakit tempat istrinya dirawat.
Nyonya Daisy duduk di sofa seraya menunggu sang putra tersadar dengan wajah pucat. Mata wanita paruh baya itu nampak bengkak dan memerah karena bekas tangisan.
Setelah tak sadarkan diri selama kurang lebih satu jam, Ron akhirnya terbangun dari tidur panjangnya. Nyonya Daisy menyambut girang sang putra yang akhirnya membuka kedua mata.
"Ron.."
Nyonya Daisy mendekati ranjang putra satu-satunya dan mengusap lembut rambut anak semata wayangnya itu.
Ron berusaha keras bangkit dari ranjang dan memaksa untuk duduk. Pria itu melepas infus di tangannya dengan kasar dan hendak beranjak meninggalkan kamar pasien.
"Kau mau kemana, Ron?"
"Aku harus menemui istriku, Bu.."
"Ron, istirahat saja dulu! Tubuhmu masih lemah! Wajahmu benar-benar pucat, Ron.."
"Bagaimana bisa aku beristirahat di sini tanpa mengetahui keadaan istriku?!" pekik Ron dengan suara parau.
"Ron, Thrisca masih di dalam ruang operasi. Kau harus sabar, Ron. Kalian.. kalian sudah kehilangan calon anak kalian. Sekarang dokter sedang berusaha menyelamatkan istrimu.." ungkap Nyonya Daisy dengan suara lirih dan penuh hati-hati.
Keinginan Ron untuk menghampiri sang istri semakin membesar begitu ia mendapat kabar yang kurang menyenangkan.
Ron tetap memaksa untuk berdiri dan berjalan perlahan, meskipun tubuhnya masih lemah. Nyonya Daisy yang tak dapat mencegah putra keras kepalnya, hanya bisa menuruti kemauan Ron dan membantu memapah tubuh jangkung anak laki-lakinya itu menuju ruang operasi.
Sementara, di luar ruang operasi, Tuan Hasan, Nyonya Aswinda, Tuan Derry, dan Genta tengah menunggu operasi Thrisca dengan cemas. Istri dari Ron itu mengalami benturan keras di kepala dan kehilangan banyak darah.
"Ron?"
Nyonya Aswinda menghampiri sang cucu dan membantu Nyonya Daisy memapah Ron menuju bangku.
Genta yang melihat kedatangan Ron, segera berlari menuju sang sepupu dan berlutut di hadapan suami Thrisca itu.
"Maaf, Ron. Ini semua salahku," ujar Genta dengan wajah pucat nan sendu.
Ron ingin sekali menghajar sepupunya itu dan melimpahkan segala kesalahan pada Genta, namun pria itu tak memiliki banyak tenaga untuk mengurus amarahnya.
Kepala Ron sudah penuh dengan rasa cemas dan khawatir mengenai keadaan sang istri yang tak kunjung keluar dari ruang operasi.
Pria itu tidak menanggapi sedikitpun ocehan Genta dan terus sibuk memandangi pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.
"Sudahlah, Gen. Ini hanya kecelakaan. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi," ujar Nyonya Daisy.
"Ibu bisa mengatakan hal itu dengan mudah karena bukan anak ibu yang terbaring di dalam sana." sindir Ron sinis pada sang ibu.
"Ron, Thrisca juga anak ibu. Kenapa kau berbicara seperti itu?!"
"Aku tidak akan meloloskan siapapun yang berani menyentuh istriku!"
Ron berbicara dengan dingin tanpa melirik sedikitpun ke arah Genta. Manik mata pria itu terus fokus memandangi pintu ruang operasi.
Hati Nyonya Daisy makin tersayat melihat sang putra yang menangis tanpa suara. Hati ibu mana yang tidak hancur berkeping-keping mendapati keterpurukan putra satu-satunya.
"Ron, ayo kembali ke kamarmu! Kau juga harus sehat agar kau bisa menjaga istrimu.." bujuk Nyonya Daisy.
Ron masih diam tak bergeming, tidak mengindahkan sedikitpun perkataan sang ibunda. Nyonya Aswinda ikut mendekat ke arah Ron dan memeluk erat tubuh kekar cucunya itu.
"Ron, kau tidak boleh memperlihatkan tampilan menyedihkan di depan istrimu. Kau tega membuat istrimu semakin hancur dengan melihat wajah pucatmu?" Nyonya Aswinda ikut membujuk cucu laki-lakinya itu.
"Nenek dan ibu pergi saja. Aku akan menunggu di sini." ujar Ron lirih.
Tak lama kemudian, akhirnya pintu ruangan operasi terbuka. Dokter keluar dari ruangan penuh jarum itu dan menghampiri keluarga pasien yang masih setia menunggu.
"Keluarga pasien Nyonya Thrisca?"
Ron segera berdiri dengan semangat dan berlari kecil mendekat ke arah sang dokter.
"Operasinya berjalan lancar. Pasien sudah berhasil melewati masa kritis. Namun untuk saat ini pasien masih harus menjalani observasi. Untuk sementara, pasien belum dapat dijenguk." terang dokter.
Ron mulai sedikit bernafas lega, mendengar penjelasan dokter. Raut wajah tegang pria itu mulai kembali normal, menyungging senyum kecil sebagai bentuk rasa syukur atas kabar baik yang diberikan oleh sang dokter.
***
Tuan Derry berlarian di rumah sakit, meninggalkan sang menantu yang masih belum sadarkan diri. Pria tua itu bergegas memasuki salah satu ruangan pasien yang berada tak jauh dari ruangan operasi menantunya.
Genta yang melihat langkah terburu-buru dari sang paman, mencoba mengikuti kemana gerangan ayah dari sepupunya itu hendak pergi.
Pria tua itu membuka salah satu ruangan pasien, yang mana ruangan tersebut bukanlah tempat sang putra dirawat maupun ruangan sang menantu.
"Lian, kau baik-baik saja?" tanya Tuan E dengan cemas.
Genta mengintip dari pintu dan nampak terkejut bukan main begitu melihat pamannya yang menghampiri Lilian.
"Jadi, semua yang dikatakan oleh Jane itu benar? Lian kembali bersama dengan paman?" gumam Genta tak percaya.
Sepupu Ron itu melarikan diri secepat mungkin sebelum ia tertangkap basah oleh sang paman. Genta menatap pilu bibinya yang masih menangisi sang menantu, sementara pamannya justru sibuk mengurus simpanan.
"Gen, kau pulang dulu saja. Kau juga harus beristirahat," ujar Nyonya Aswinda.
"Tidak apa-apa, Nek. Aku di sini saja." tolak Genta halus.
"Gen, boleh nenek meminta tolong?"
"Tentu, Nek."
"Tolong ajukan kasus ini ke pengadilan." pinta Nyonya Aswinda.
"Aku akan mengusahakan yang terbaik, Nek."
"Apa kau melihat sesuatu yang janggal sebelum kecelakaan terjadi?" tanya nenek Ron lagi.
"Itu.. emm, aku tidak tahu dari mana datangnya truk itu. Taman hiburan itu ramai dengan orang-orang. Meskipun itu hanya truk pengangkut barang untuk taman, seharusnya mereka mengendarai dengan hati-hati di tempat umum, kan?" jelas Genta.
"Apa alasan yang diberikan mereka? Rem blong? Mobil yang bermasalah atau supir yang bermasalah?" tanya Nyonya Aswinda.
"Alasan rem blong memang agak klise, tapi hanya itu yang bisa mereka katakan." jawab Genta lirih.
"Kau tidak diikuti seseorang, kan? Kau tidak merasa ada yang mengintaimu?"
"Kurasa Thrisca tidak memiliki musuh, Nek. Thrisca hanya gadis rumahan. Dia bahkan tidak mengenal banyak orang. Di mana gadis itu bisa membuat masalah?" ujar Genta lesu.
Genta, Nyonya Aswinda, dan Ron terduduk lemas di luar ruangan tempat Thrisca masih terbaring. Nenek dan kedua cucunya itu menatap pilu ke arah kaca yang menghalangi mereka menjumpai sang pasien.
Ron terus memandangi sang istri yang masih memejamkan mata. Ingin sekali pria itu mendobrak pintu dan menerobos masuk ke ruang tertutup yang mengurung istrinya itu.
"Icha.. kau harus bangun.." gumam Ron dengan suara lirih nan parau.
***
Bersambung...