
"Ron, bisakah aku tinggal beberapa hari lagi di sini?" pinta Thrisca takut-takut.
"Sayang, maaf. Aku tidak bisa menemanimu jika kau ingin tinggal lebih lama. Ada pekerjaan mendesak di kantor. Lain kali aku akan menemanimu berlibur ke kota ini lagi," bujuk Ron.
"Kau bisa kembali lebih dulu, Ron. Aku akan menyusul--"
"Tidak bisa! Bagaimana bisa aku meninggalkanmu sendirian di sini?" potong Ron cepat.
"Hem." balas Thrisca singkat.
"Kau tahu kan aku tidak bisa jauh darimu. Aku janji, bulan depan kita akan ke sini lagi." bujuk Ron lagi.
"Iya." jawab Thrisca singkat.
"Jawaban macam apa itu?!" cibir Ron kesal.
"Iya, Sayang.."
Thrisca mengalungkan tangannya ke leher sang suami dan mengecup pipi pria tampan di pelukannya itu.
"Aku sudah mengurus barang ayahmu. Untuk pabrik ayahmu, mulai sekarang aku yang akan mengelolanya. Tidak masalah, kan?"
"Terima kasih, Ron. Aku juga tidak tahu caranya mengelola pabrik ayah. Kau saja yang urus,"
"Kau masih ingin mencari Susan?" tanya Ron penuh hati-hati.
"Kalau aku bilang aku ingin menyelesaikan masalah ini sendiri, kau juga tidak akan mengijinkanku kan?"
"Bukan begitu, Sayang. Aku hanya tidak ingin kau membuang-buang waktu untuk orang yang tidak penting." ujar Ron seraya membelai lembut rambut sang istri.
"Aku mengerti, Ron. Aku tidak akan banyak membantah lagi." ucap Thrisca mengalah.
***
"Sayang, aku pergi ke kantor sebentar. Bi Inah dan pelayan lain akan kembali sebentar lagi. Kau di rumah sendiri sebentar tidak apa-apa, kan?" tanya Ron penuh cemas.
"Ron, aku wanita dewasa yang sehat. Berhentilah mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu."
"Diam saja di dalam rumah. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku, ya?" pamit Ron seraya mengecup kening sang istri.
"Hati-hati, Sayang.."
Thrisca melambaikan tangan pada sang suami dan segera menutup pintu besar kediaman Ron begitu mobil suaminya menghilang dari pekarangan rumah.
"Mas Gen tidak juga kembali. Pergi kemana orang itu?" gumam Thrisca seraya melirik ke arah kamar Genta yang sepi.
Nyonya rumah itu merebahkan diri di atas sofa ruang tamu seraya mengotak-atik ponselnya selama berjam-jam lamanya tanpa melakukan hal lain.
Tringg.. Tring..
Satu panggilan masuk dari ibu mertuanya, Nyonya Daisy.
"Halo, Sayang? Kau sudah kembali? Ibu melihat Ron di kantor," ujar Nyonya Daisy.
"Sudah, Bu. Setelah sampai, Ron langsung ke kantor."
"Kau tidak sibuk, kan? Kau masih ingat dengan tawaran ibu minggu lalu?" tanya Nyonya Daisy.
"Soal tawaran model itu?" tanya Thrisca lirih.
"Kau mau mencobanya, kan? Kalau kau tidak mau tidak apa-apa, tapi setidaknya coba dulu. Siapa tahu karir ini cocok untukmu," bujuk Nyonya Daisy.
"Maaf, Bu. Tapi Ron tidak memberiku ijin. Ron akan marah padaku." ujar Thrisca takut-takut.
"Ibu akan bilang pada Ron. Hanya mencoba saja. Kalau memang tidak cocok, tidak apa-apa. Ibu akan membantumu memilih kegiatan lain."
"Em, aku akan coba rundingkan lagi bersama Ron."
"Besok ada acara peragaan busana. Agensi yang memberi tawaran padamu yang akan menjadi model di acara peragaan busana itu. Kalau kau ada waktu, bagaimana kalau kita datang melihat-lihat?" ajak Nyonya Daisy.
"Datang melihat-lihat?"
"Hanya sebentar saja. Tidak akan lama. Mau, ya?"
Nyonya Daisy masih bersemangat membujuk Thrisca.
"Baik, Bu."
Thrisca akhirnya menyerah dan menerima ajakan sang ibu mertua. Wanita itu juga sungkan jika harus menolak keinginan ibu mertua yang sudah bersikap baik padanya selama ini.
Begitu Thrisca selesai berbicara dengan ibu dari suaminya, kini ponsel wanita itu kembali berdering. Kali ini telepon berasal dari temannya, Cherry.
"Icha, kau di rumah? Boleh aku berkunjung?" tanya Cherry antusias.
"Tentu. Tapi memangnya kau sedang libur?" tanya Thrisca heran.
"Hari ini adalah hari penilaian pegawai magang. Aku mendapat libur satu hari penuh." jelas Cherry.
"Hari penilaian magang?"
"Waktu magangku sudah habis di kantor suamimu. Kalau aku lolos sebagai pegawai tetap, tentu aku akan terus bekerja di kantor suamimu. Kalau aku tidak lolos, aku mungkin akan pulang."
"Pulang? Bagaimana dengan Nadine?"
"Nadine juga sedang menunggu hasil seleksi. Tapi jatah libur Nadine masih besok."
"Kau pasti bisa, Cherry. Mau kubantu untuk membujuk Ron?" hibur Thrisca.
Thrisca hanya menanggapi omelan temannya dengan gelak tawa. Istri Ron itu mengobrol sejenak dengan Cherry melalui telepon, sebelum temannya itu datang berkunjung.
"Kalau begitu sebentar lagi aku akan ke sana. Bos tidak ada di rumah, kan?" tanya Cherry was-was.
"Aku di rumah sendiri. Ron sedang tidak ada," ujar Thrisca.
Wanita itu langsung mematikan telepon dan kembali mendapat panggilan masuk lainnya.
"Kenapa hari ini banyak sekali orang yang meneleponku?" gumam Thrisca seraya mengangkat panggilan video dari sang suami.
"Sayang, kau sedang menghubungi siapa? Kenapa aku tidak bisa meneleponmu sejak tadi?!" protes Ron.
"Maaf, Ron. Cherry menelponku tadi. Cherry boleh berkunjung ke rumah, kan?" ijin Thrisca.
"Untuk apa dia berkunjung?! Kau tidak akan pergi bersamanya, kan? Di rumah saja! Kau tidak boleh pergi kemanapun tanpa aku!" larang Ron.
"Cherry tidak mengajakku kemana-mana, Ron. Aku akan tetap berada di rumah." terang Thrisca.
"Aku akan pulang dua jam lagi. Beritahu aku kalau terjadi sesuatu di rumah." ujar Ron mengakhiri panggilan videonya.
Ponsel Thrisca kembali berdering setelah ia selesai melakukan panggilan dengan Ron.
"Sebenarnya ini hari besar apa?!" gumam Thrisca heran.
Kali ini panggilan telepon berasal dari Genta. Setelah lama pria itu menghilang semenjak kecelakaan yang dialami oleh Thrisca, kali ini Genta mulai memberanikan diri menghubungi kembali wanita yang sangat dicintainya itu.
"Halo, Thrisca?" sapa Genta dengan suara lirih.
Thrisca nampak senang sekaligus terharu mendapati Genta yang kembali menghubunginya kembali.
"Mas Gen, kau kemana saja? Aku di rumah sendirian! Kenapa kau tidak pulang?! Kau tidak kasihan padaku? Kenapa kau tidak menjengukku selama aku di rumah sakit?!" omel Thrisca dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, aku sedang ada banyak pekerjaan." jawab Genta lirih.
"Kapan Mas Gen akan pulang?"
"Aku.. aku sudah memiliki rumah baru. Nenek memberiku rumah baru setelah aku mendapat jabatan baru di kantor."
"Benarkah? Mas Gen naik jabatan? Kenapa tidak memberitahuku? Kita bisa merayakannya bersama," ujar Thrisca antusias.
"Ron sedang tidak ada di rumah, kan? Kau di rumah sendiri? Boleh aku berkunjung?" pinta Genta.
"Untuk apa meminta ijin padaku? Ini juga rumah Mas Gen, kan? Rumah ini sepi tanpamu.." rengek Thrisca.
"Thrisca.."
"Hm?"
"Aku.."
Genta menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Iya?"
"Aku.."
"Kenapa Mas Gen?" tanya Thrisca gemas.
"Aku merindukanmu," ujar Genta lembut. Terdapat perasaan cinta terpendam yang teramat besar terselip di antara kalimat sederhana itu.
"Aku juga, Mas Gen. Aku juga rindu sekali padamu.." balas Thrisca.
"Benarkah? Rindu sebagai apa?"
"Rindu sebagai apa apanya?! Mas Gen, kau kakakku, kan? Kita masih keluarga, kan? Aku sangat merindukanmu. Pulanglah, Mas Gen," rengek Thrisca manja.
"Sebagai kakak, ya? Aku juga merindukanmu, adikku." ujar Genta dengan senyum kecut.
"Kemarilah, Mas Gen. Aku akan memasak banyak makanan untukmu," ujar Thrisca bersemangat.
"Aku ada di dekat rumah, Ron. Boleh aku masuk sekarang?"
"Tentu. Masuk saja, Mas Gen. Aku ada di dalam."
Thrisca mematikan telepon dan segera membukakan pintu untuk menyambut kedatangan Genta.
"Mas Gen.." sapa Thrisca kegirangan begitu mobil Genta masuk ke pekarangan kediaman sang suami.
"Thrisca.." balas Genta seraya tersenyum tipis.
Pria itu berlari menghampiri istri dari sepupunya itu dan memeluk Thrisca dengan erat.
"Mas Gen, kenapa tidak langsung masuk saja? Aku di rumah sendiri sejak tadi," ujar Thrisca.
"Aku takut mengganggu istirahatmu. Kau baru saja pulang dari luar kota, kan? Oleh-oleh apa yang kau bawa?" tanya Genta bersemangat.
Sementara Genta dan Thrisca saling berbincang akrab masuk ke dalam rumah, Cherry yang sudah berdiri di depan gerbang nampak mengurungkan niatnya untuk ikut masuk ke dalam kediaman sahabatnya.
Wanita itu terlihat risih melihat Thrisca dan Genta yang nampak akrab hingga saling berpelukan untuk melepas rindu.
"Gen, kau masih saja berusaha mengejar orang yang tidak mungkin bisa kau gapai?" gumam Cherry dengan wajah penuh kecewa.
***
Bersambung...