DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 106



Thrisca terlelap seraya bersandar di bahu lebar sang suami dalam perjalanan pulang mereka dengan kereta.


Ron mendekap erat sang istri yang memejamkan seraya mengusap pipi halus wanita hamil yang kelelahan itu.


"Istriku cantik sekali.." gumam Ron sembari tersenyum tipis.


Pria itu meraih tangan Thrisca dan memandangi cincin baru yang ia berikan, melingkar serasi di jari manis sang istri.


Lamunan pria beristri itu buyar seketika saat ponselnya bergetar kencang di kantong celananya.


"Halo, Gen?"


Ron menjawab telepon dari sang sepupu yang masih sibuk menyiapkan pesta kecil di rumah.


"Kapan kau pulang? Han sedang menjemput nenekmu. Cepatlah kembali sebelum nenekmu datang," ujar Genta.


"Nenek? Nenek apanya?!"


"Memangnya kau punya berapa nenek, bodoh?! Kau tidak tahu kalau nenekmu akan datang datang?!"


"Siapa saja yang kau undang? Aku hanya ingin mengadakan pesta untuk istriku. Kenapa kau mengundang orang-orang tidak penting?!" omel Ron dengan suara tertahan.


"Orang-orang tidak penting?! Ron, kau jahat sekali. Jangan jadi cucu durhaka!" nasihat Genta.


"Jangan undang siapapun kecuali teman-teman istriku! Aku hanya ingin membuatkan pesta kecil untuk menyenangkan istriku, bukan untuk memamerkannya pada orang-orang tua itu! Mereka hanya akan membuat istriku gugup dan tertekan!"


"Aku hanya mengundang keluarga, Ron. Tidak ada orang luar!"


"Gen, kau benar-benar--"


Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, Thrisca mengucek mata dan bangkit dari sandaran bahu Ron.


"Sayang, kau terbangun? Apa aku berisik?"


Ron mengusap-usap kepala sang istri untuk menidurkan wanita itu kembali.


"Maaf aku tertidur, Ron."


"Tidak apa-apa. Tidur saja. Masih beberapa stasiun lagi," ujar Ron.


"Aku sudah tidak mengantuk. Kau pasti pegal karena aku menyender terlalu lama,"


Thrisca memijat bahu Ron yang ia gunakan untuk bersandar.


"Aku tidak apa-apa. Tidur lagi saja."


Ron menarik pinggang sang istri dan menenggelamkan badan wanita hamil itu dalam dekapannya, seraya berbicara kembali dengan Genta.


"Sebentar lagi aku sampai." ujar Ron kemudian menutup panggilan telepon dari sang sepupu.


"Dasar! Aku sudah lelah mengurus pesta untuknya, tapi dia masih saja mengomel!" gerutu Genta pada ponsel kecil yang ada di tangannya.


Cherry dan Nadine yang sudah datang ke rumah Ron, menatap Genta bersamaan secara intens dengan pandangan yang berbeda.


Cherry melirik Genta dengan wajah manyun, sementara Nadine melihat Genta dengan mata berbinar.


"Cherry, bisa bantu aku sebentar?"


Genta melambaikan tangan pada Cherry dan menyuruh wanita itu untuk mendekat.


Cherry berlari kecil menghampiri Genta yang masih sibuk memainkan ponsel, menghubungi orang-orang yang akan menjadi tamu undangan pesta kecil sang sepupu.


"Dari mana Cherry mengenal Genta?" batin Nadine penuh iri.


"Nanti kalau ibuku datang, tolong sapa ibuku sebentar." pinta Genta.


"Hem.." jawab Cherry singkat.


"Aku akan membuatkan alasan yang bagus agar ibuku tidak bisa mengobrol banyak denganmu. Kau bisa menghampiri Thrisca dan menggunakan wanita itu sebagai alasan. Ibuku tidak akan berani mendekati Thrisca karena hari ini ibu Ron dan nenek Ron juga akan datang." ungkap Genta panjang lebar.


"Hem." jawab Cherry malas.


"Kau mengerti tidak?! Kau tidak ingin naik jabatan?!" omel Genta seraya menoyor kepala Cherry pelan.


"Ish! Jangan sentuh kepalaku!" protes Cherry sembari melayangkan pukulan ke lengan besar Genta.


Nadine yang melihat Cherry dan Genta nampak akrab, hanya bisa menatap mereka dari kejauhan dengan penuh rasa iri dan cemburu.


"Cherry!"


Nadine sengaja memanggil Cherry untuk menghentikan pertunjukan menyebalkan antara Cherry dan Genta.


Cherry meninggalkan Genta dan beralih pada Nadine.


"Cherry, jangan lupa!" teriak Genta pada Cherry.


"Sejak kapan kau kenal Genta?" selidik Nadine pada temannya itu.


"Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa. Hanya penasaran saja."


"Aku hanya tidak sengaja bertemu dengannya di kantor. Aku tidak mengenalnya," jawab Cherry cuek.


"Benarkah?" tanya Nadine curiga.


"Kau ini kenapa?!"


Cherry memukul belakang kepala Nadine dengan kesal. Suasana hati wanita itu mendadak menjadi buruk karena Genta.


Cherry nampak tak semangat dan menampakkan wajah manyun, diliputi kecemasan dan kegugupan karena memikirkan ibunya Genta.


"Padahal bukan calon mertuaku, kenapa aku harus secemas ini?!" gerutu Cherry dalam hati.


***


Ron dan Thrisca membuka pintu rumah dan mendapat sambutan meriah dari anggota keluarga yang sudah berkumpul.


Nampak mulai dari Tuan Hasan, Nyonya Aswinda, Tuan Derry hingga Nyonya Daisy sudah berdiri di ruang tamu penuh hiasan dengan senyum sumringah menyambut sang bintang acara.


Nadine, Cherry, Han, dan Genta juga berdiri mengelilingi Ron serta Thrisca seraya membawa confetti.


Ibu dari Genta juga turut serta hadir dalam pesta kecil itu bersama istri kedua Tuan Hasan, Nyonya Dewi.


"Ada acara apa ini, Ron?" bisik Thrisca pada sang suami.


"Ini pesta untukmu, Sayang. Selamat ulang tahun,"


Ron mengecup kening sang istri di depan seluruh keluarganya.


Thrisca mengedarkan pandangan dan melempar senyum kepada seluruh anggota keluarga suaminya. Manik mata wanita hamil itu mulai tertuju ke wajah asing yang belum pernah ia lihat.


Nyonya Aswinda mendekati Thrisca seraya membawa kue beserta lilin yang sudah menyala. Nenek dari Ron itu nampak awet muda dengan dandanan modern, mengenakan gaun selutut berwarna cerah hingga heels tinggi yang membuat tubuh Nyonya besar keluarga Diez itu nampak tinggi menjulang.


Kecantikan Nyonya Aswinda masih terpancar jelas di usianya yang sudah menginjak tujuh puluh tahun.


"Ini nenek, Sayang." ujar Ron memperkenalkan sang nenek pada Thrisca.


Istri Ron itu segera mendekati sang nenek dan mencium tangan istri dari Tuan Hasan itu.


"Jadi, ini yang namanya Thrisca. Cantik sekali," puji Nyonya Aswinda pada Thrisca.


"Thrisca sedang hamil lima minggu, Bu." sahut Nyonya Daisy ikut mendekati sang menantu.


"Wah, jadi di perut kecil ini sudah ada calon cicitku.." ujar Nyonya Aswinda seraya melirik ke arah perut rata Thrisca. Wanita tua itu beralih melirik ke jari jemari Thrisca.


Nyonya Besar keluarga Diez itu nampak mencari-cari sesuatu yang sudah hilang dari jari cucu menantunya.


Nyonya Aswinda menoleh ke arah Tuan Hasan dengan wajah cemberut. Wanita tua itu mencari cincin kecil pemberiannya yang seharusnya tersemat di jari Thrisca.


"Ayo, Sayang.. tiup lilinnya,"


Nyonya Aswinda kembali ke acara ulang tahun kecil Thrisca.


Thrisca tidak bisa berhenti tersenyum selama perayaan kecil itu berlangsung. Wajah wanita hamil itu nampak berseri, bak anak kecil yang sangat antusias menyambut pesta ulang tahun.


Suasana rumahnya tidak pernah seramai dan sehangat ini sebelum Ron hadir dalam hidupnya.


Bahkan Thrisca tidak pernah memimpikan akan mendapatkan pesta perayaan ulang tahun seumur hidupnya.


Thrisca berlalu menuju kamar mandi, meninggalkan para tamu yang masih ramai berbincang dan menikmati waktu berkumpul bersama keluarga.


Wanita itu membasuh wajahnya berkali-kali, mencoba menghilangkan mata sendunya yang sudah dipenuhi air mata.


Istri Ron itu menangis sendirian di kamar mandi tanpa bersuara. Semua rasa iri, haru dan bahagia bercampur menjadi satu dalam hati wanita yang sudah tidak memiliki keluarga itu.


Thrisca tak henti-hentinya bersyukur, ia bisa mendapatkan keluarga baru sempurna yang sudah lama ia impikan.


***


Bersambung...