
Cherry duduk di deretan bangku ruang tunggu sebuah bangunan kantor pemerintahan.
Wanita itu terus melirik arloji di tangannya dengan cemas dan menunggu Genta dengan kegelisahan luar biasa.
"Cherry!" panggil Genta akhirnya datang menghampiri Cherry.
"Sudah?" tanya Cherry gugup.
Genta mengangguk girang kemudian menunjukkan surat nikahnya bersama Cherry yang sudah selesai diurus.
"Kita ... benar-benar sudah menikah?" tanya Cherry tak percaya.
"Selamat Cherry, kau sudah mendapatkan suami tampan sepertiku." tukas Genta penuh percaya diri.
"Apa ini hal yang patut diselamati?" cibir Cherry.
"Selamat, Sayang. Sekarang kau resmi memiliki papa," ujar Genta sembari berjongkok dan memeluk perut Cherry.
"Bisa kita pulang sekarang? Aku ingin beristirahat," ajak Cherry.
"Tentu! Tapi, sebelum itu ... maukah kau menemaniku ke suatu tempat?" tanya Genta ragu-ragu.
"Kemana?"
"Hari ini kau resmi menjadi istriku. Aku hanya ingin ... membagi kebahagiaan dengan ... ibuku." ungkap Genta membahas sang ibu yang sudah lama tenggelam tanpa kabar.
"Ibumu? Ibumu ada di sini?"
"Ada ... di rumah sakit." jawab Genta lirih.
Genta segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit. Dengan langkah berat, pria itu membawa sang istri beserta calon anaknya untuk bertemu dengan ibunda tercinta.
"Di sini?" tanya Cherry.
Genta hanya mengangguk kecil, kemudian membuka handle pintu ruangan penuh obat itu.
Penampakan Berlin nampak menyedihkan. Wajah dan tubuhnya penuh luka perban dan kaki satunya telah menghilang.
Inilah keputusan yang diambil oleh wanita paruh baya itu. Saat Ron memberikannya pilihan antara tubuh sehat atau dunia bebasnya, Berlin lebih memilih mengorbankan tubuh sehatnya daripada harus menanggung malu dan terkurung di dalam jeruji besi selama hari tuanya.
Wanita itu mau tidak mau harus menerima persyaratan Ron yang meminta kakinya sebagai bentuk kompensasi untuk calon bayi Ron yang telah meninggal karena kecelakaan yang disebabkan oleh Berlin.
"Apa yang terjadi dengan ibumu?" tanya Cherry nampak terkejut melihat tampilan wanita paruh baya yang kini telah menjadi ibu mertuanya.
Genta menghela nafas sejenak dan mencoba merangkai kata yang pas untuk memberitahu Cherry. Bagaimanapun juga Cherry sudah menjadi bagian dari keluarganya. Sudah saatnya Genta memberitahukan segala tentang keluarganya pada Cherry.
Genta dan Cherry berbincang lama disamping brankar sang ibu. Pria itu menceritakan semua tentang kecelakaan disengaja yang dialami oleh Thrisca hingga istri Ron itu kehilangan calon anak mereka.
"Ron yang melakukan semua ini?" tanya Cherry tak percaya.
"Begitulah. Aku bisa memahami sikap Ron. Karena sekarang aku juga akan menjadi ayah. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika sesuatu yang buruk terjadi padamu dan anak kita," ungkap Genta sembari mengusap perut sang istri penuh kasih.
"Sudah berapa lama ibumu terbaring seperti ini?"
"Beberapa bulan terakhir. Kondisi ibu sudah jauh lebih baik sekarang." ujar Gen melempar senyum tipis pada sang ibu yang mulai terbangun dari tidur.
"Gen," panggil Berlin lirih pada putra semata wayangnya.
"Ibu, aku membawa seseorang yang ingin kukenalkan pada ibu." tukas Genta bersemangat.
"Siapa ini?" tanya Berlin dengan suara lemah.
"Ini istriku, Bu. Namanya Cherry," tukas Gen memperkenalkan sang istri.
"Selamat sore, Bu." sapa Cherry canggung.
"Istri? Kapan kau menikah? Kau tidak memberitahu ibu," protes Berlin.
"Aku belum membuat resepsi dengan Cherry. Aku baru selesai mengurus berkas pernikahan. Rencananya minggu ini aku akan membuat pesta kecil bersama Cherry," ungkap Gen.
"Pesta kecil?"
"Ibu tahu, nenek masih dalam masa berkabung. Aku akan membuat pesta kecil dulu untuk mengumumkan pernikahanku dengan Cherry pada keluarga." terang Gen.
"Dan ... aku juga ingin memperkenalkan ibu pada satu orang lagi." imbuh Genta. Pria itu meraih tangan sang ibu dan mendaratkan jemari wanita paruh baya itu di perut sang istri yang masih rata.
"Sapalah cucu ibu di perut istriku. Sebentar lagi aku akan menjadi ayah," ungkap Gen dengan senyum merekah.
"Benarkah? Ibu akan menjadi nenek?" tanya Berlin penuh haru.
"Aku akan segera mengurus administrasi rumah sakit. Ibu bisa keluar dari rumah sakit minggu ini," ucap Gen.
"Ibu harus hadir saat pernikahanku nanti," lanjut sepupu dari Ron itu.
***
Bersambung...