
"Mas Han, ayo ikut saja ke dalam.." ajak Thrisca pada Han yang masih mematung di dalam kendaraan roda empat yang dikendarainya.
"Tidak perlu, Nona.." tolak Han halus.
"Ini bukan acara formal. Aku hanya akan menemui teman-teman lamaku,"
Han menyerah dan mengikuti ajakan istri majikannya. Pria itu mengekor di belakang Thrisca, memasuki kafe kecil yang tidak jauh dari kediaman bosnya.
"Nadine!" teriak Thrisca kegirangan seraya melambaikan tangan pada sahabatnya.
"Icha!"
Nadine dan Cherry langsung menyambut girang sapaan dari teman yang sudah ditunggu-tunggunya itu.
Mata Nadine mulai tertuju pada sosok pria yang berjalan di belakang Thrisca. Kedua bola mata wanita itu langsung membulat lebar saat melihat wajah pria yang berdiri di balik tubuh mungil temannya itu.
Tak jauh berbeda dari Nadine, Han pun ikut tercengang saat melihat sosok wanita yang telah membuatnya mendapat lemparan sandal dari sang bos karena masalah restoran tempo hari.
"Jadi, teman yang dimaksud Nona adalah pegawai magang itu?!" batin Han tak percaya.
"Kenapa orang itu datang bersama Icha?" batin Nadine penasaran.
Nadine dan Han saling membuang muka dalam suasana canggung.
Thrisca asyik berbincang dengan Cherry, sementara Han dan Nadine diam tak bersuara dan sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Nadine! Kenapa kau menatap ponselmu terus sejak tadi?!" protes Thrisca.
"Em, Icha.. kau belum mengenalkan pria di sebelahmu," bisik Cherry.
"Eh, iya. Mas Han, ini temanku Cherry dan Nadine." ujar Thrisca mengenalkan kedua temannya.
"Dan ini Han. Em, temanku.."
"Teman? Icha bisa berteman dengan asisten Bos perusahaan tempatku bekerja?" batin Nadine tak percaya.
"Nadine, kenapa kau terus menatap Mas Han sejak tadi?" goda Thrisca.
"S-siapa yang menatap?!"
Nadine segera mengalihkan pandangannya dari Han.
Pria yang diakui sebagai teman oleh Thrisca itu tersenyum tipis sebagai bentuk sapaan pada teman-teman istri majikannya.
"Mas Han, mau minum apa?" tanya Thrisca seraya hendak membolak-balikkan buku menu.
"Apa saja, Nona."
"Nona?" sahut Nadine dan Cherry bersamaan.
Thrisca melirik ke arah teman-temannya yang sudah melempar tatapan tajam padanya.
"Em, n-nona apanya? Mas Han, kau ini sering sekali bercanda.. haha,"
Thrisca mulai panik saat teman-temannya mendengar panggilan "nona" keluar dari mulut Han.
Wanita itu tidak ingin terlihat pamer dengan memberitahukan bahwa Ron suaminya adalah Ron Diez, pewaris keluarga terpandang di kota itu.
Thrisca juga tidak ingin terlihat seperti nyonya bangsawan yang bepergian ditemani oleh asisten pribadi seperti Han.
"Em, mau minum apa? Biar kupesankan," tawar Han pada Thrisca.
Han mencoba bersikap senatural mungkin layaknya teman saat mengetahui sikap istri bosnya yang tidak ingin terlihat seperti nona muda.
"Aku teh saja, Mas Han."
Han segera berdiri memesankan makanan dan minuman untuk istri bosnya tanpa menghiraukan pesanan makanan Cherry dan Nadine.
"Em, Mas Han.. temanku bel--"
"Sudahlah, Icha. Nanti aku pesan sendiri," cegah Nadine.
"Dari mana kau mendapatkan teman setampan itu? Apa dia masih lajang?" tanya Cherry centil.
"Apa yang kau pikirkan? Selera Mas Han itu tinggi," ejek Thrisca.
"Cih, tinggi apanya? Siapa juga wanita yang mau dengannya?" cibir Nadine.
"Hei, memangnya kau kenal Mas Han? Dia benar-benar pria yang baik dan rajin." puji Thrisca.
"Baik apanya? Orang itu adalah atasanku di perusahaan baru tempatku bekerja, dia--"
"Apa kau bilang?" potong Thrisca cepat.
"Orang itu adalah atasanku." ujar Nadine datar.
"Benarkah? Aku belum pernah melihatnya," sahut Cherry antusias.
"Maksudmu, kalian bekerja di--"
"Kantor pusat Diez Group. Keren, kan?" ujar Nadine dan Cherry sesumbar.
"Astaga! Mereka bekerja di kantor Ron?!" jerit Thrisca dalam hati.
"I-itu benar.. keren sekali," komentar Thrisca sekenanya.
Beruntung panggilan telepon menyelamatkannya dari suasana canggung wanita itu bersama teman-temannya.
"Bibi Susan lagi?!" gerutu Thrisca dalam hati.
"Sebentar, aku harus mengangkat telepon." pamit Thrisca segera menjauh dari bangkunya.
"Halo, Bi." sapa Thrisca malas.
"Halo, Icha. Bagaimana kabarmu?"
"Bibi hanya ingin menanyakan kabar saja. Elma sebentar lagi masuk ke taman kanak-kanak," ujar Susan.
"Benarkah? Apa tidak terlalu dini, Bi? Elma masih sangat kecil,"
"Bibi harus mengurus pabrik dan tidak ada yang menemani Elma di rumah. Jadi, Bibi berencana untuk menitipkan Elma di taman kanak-kanak."
"Em, iya."
"Em, itu.. bolehkan Bibi meminta bantuan lagi?" tanya Susan.
"Astaga! Baru saja minggu lalu aku meminjam lima puluh juta dari Ron. Mana mungkin aku meminta uang lagi padanya?!" batin Thrisca kesal.
"Bantuan apa?" tanya Thrisca malas.
"Boleh Bibi meminjam dua puluh juta lagi? Pabrik masih belum stabil dan Bibi juga harus menitipkan Elma di sekolah. Hanya sekolah kecil di dekat rumah. Bibi tidak sanggup membayar pengasuh, ditambah lagi pabrik juga masih kacau." jelas Susan panjang lebar.
"Kacau apanya? Sebenarnya apa yang terjadi di pabrik?!" tanya Thrisca dengan nada curiga.
"Kau tidak percaya pada Bibi? Bibi hanya meminjam sejumlah uang kecil dan kau sudah mencurigai Bibi?" ujar Susan penuh drama.
Wanita itu melirik ke arah surat kabar yang ada di tangannya. Dalam surat kabar itu terpampang jelas artikel berita mengenai Ron yang sudah kembali bertugas tanpa kursi roda.
"Suaminya adalah bos dari perusahaan besar, kan? Hanya uang beberapa juta saja, kenapa sudah dipermasalahkan?!" gerutu Susan dalam hati.
"Apa Bibi sudah tahu kalau Ron suamiku adalah Ron Diez dari keluarga terpandang?" batin Thrisca cemas.
"Bi, aku baru saja meminjamkan Bibi uang dari Ron minggu lalu. Aku tidak berani meminta uang lagi pada, Ron. Apalagi dengan jumlah sebesar itu," tolak Thrisca.
"Suamimu tidak kekurangan uang, kan? Kau ingin menutup-nutupi apalagi dari Bibi? Suamiku adalah pria kaya yang mempunyai perusahaan besar. Benar, kan?"
"Bi, berapapun uang yang dimiliki oleh suamiku itu bukan urusan Bibi. Tolong jangan bahas uang lagi denganku!" ujar Thrisca tegas.
"Dua puluh juta bukan angka yang besar bagi suamimu! Kenapa kau pelit sekali pada adikmu?!" omel Susan melalui telepon.
Thrisca yang kesal, segera mematikan telepon tanpa membalas ucapan Susan.
"Beraninya wanita sombong itu mematikan telepon!" ujar Susan geram seraya menyobek-nyobek surat kabar yang tertempel wajah Ron.
"Aku akan memberitahukan pada semua orang kalau menantu keluarga Diez hanyalah seorang wanita sombong yang menelantarkan keluarganya! Awas saja kau gadis kecil!"
Susan mengepalkan tangan kuat-kuat dengan sorot mata penuh amarah.
***
"Bagaimana hasilnya?"
Ron menyambangi salah satu rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan sang istri.
Pria itu duduk cemas di salah satu ruangan dokter dan menunggu hasil pemeriksaan dengan gugup.
"Sudah dipastikan dari hasil pemeriksaan, Tuan Ron sangat sehat." ujar sang dokter mulai membacakan hasil pemeriksaan.
"Untuk Nyonya Thrisca--"
"Istriku baik-baik saja, kan?" tanya Ron mulai tak sabar.
Dokter itu tersenyum tipis melihat Ron yang nampak gelisah.
"Hasil pemeriksaan Nyonya Thrisca sangat baik. Nyonya Thrisca sangat sehat,"
Ron tersenyum girang begitu mendengar ucapan dokter. Akhirnya ia dapat pulang dengan membawa kabar gembira untuk sang istri.
"Dan.." sang dokter kembali melanjutkan kalimatnya.
"Selamat, Tuan Ron." imbuh sang dokter.
"Hm?"
"Tuan Ron akan menjadi seorang ayah. Nyonya Thrisca tengah mengandung." ujar sang dokter dengan senyum sumringah.
Ron mematung seketika saat mendengar perkataan pria berjas putih itu. Hati dan pikirannya dipenuhi dengan perasaan kaget, girang dan haru secara bersamaan.
"Istriku hamil?" tanya Ron tak percaya.
"Benar, Tuan."
Tanpa sadar air mata lolos begitu saja, membasahi pipi pria galak itu. Rasa senang yang mengharu biru di hatinya tak lagi dapat membendung air mata bahagianya.
Pria itu bergegas keluar dari rumah sakit dan mengendarai mobilnya pulang ke istananya dengan tergesa-gesa.
Suami Thrisca itu segera berlari masuk ke dalam rumah, mencari sosok sang istri yang tengah sibuk mengotak-atik ponsel tuanya.
Dengan nafas terengah-engah, Ron membuka pintu kamarnya penuh semangat.
Wajah pria tampan itu semakin berseri saat ia melihat rupa cantik sang istri yang tengah duduk santai di dalam kamarnya.
"Ron, kau sudah kem--"
Ron langsung berlari dan melayangkan ciuman hangat di bibir sang istri. Pria itu memeluk istrinya dengan erat dan mengecupi pucuk kepala wanita cantik itu bertubi-tubi.
"Kenapa, Ron? Kau menang lotre?" tanya Thrisca bingung.
"Benar. Aku menang lotre," ujar Ron kembali mengecupi bibir sang istri.
Pria itu sudah tak sabar ingin membagi kebahagiaannya dengan sang istri.
Malaikat kecil yang sudah dinanti-nanti olehnya, akhirnya akan hadir meramaikan istana megahnya.
***
Bersambung...