DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 28



Thrisca menyambut ciuman hangat dari suaminya. Ron menyelam semakin dalam dan menikmati bibir manis istrinya yang masih perawan itu.


Ron tidak sungkan lagi membiarkan tangannya berkeliaran menjamah tubuh sang istri. Thrisca yang sudah mulai terbiasa, hanya bisa membiarkan sang suami melakukan apapun padanya.


Ron mengangkat tubuh sang istri dengan bibir yang masih tertaut dan membaringkan gadis cantik itu di sofa. Suami Thrisca itu menikmati waktunya bersama sang istri hingga tidak sadar seseorang masuk ke ruangannya tanpa bersuara.


Genta berdiri mematung tak jauh dari sofa tempat Ron beserta istrinya bersenang-senang. Pria itu segera keluar dari ruangan sang sepupu saat mendapati adegan tak senonoh terpampang dihadapannya.


"Apa-apaan Ron itu! Bukankah ada si gendut disini?! Kenapa dia membawa wanita lain masuk ke ruangannya dan melakukan hal itu disaat istrinya masih berada disini?!!" gerutu Genta di luar ruangan Ron.


Sementara di dalam ruangan Ron, pria itu masih tidak melepas sang istri yang sudah berpenampilan acak-acakan dengan pakaian berantakan. Thrisca ingin sekali mendorong Ron yang masih menimpa tubuhnya, namun gadis itu khawatir Ron akan tersinggung dan marah kepadanya.


Ron berhenti memakan bibir sang istri dan beralih ke tubuh istri cantiknya. Thrisca yang sudah setengah telanjang, ingin sekali memukul suaminya yang terus sibuk menyentuhnya tanpa mengingat pekerjaan yang sudah menanti suaminya itu.


"Ron.. bukankah kau harus ke bandara?"


Thrisca mengusap kepala suaminya dengan lembut untuk menghentikan pria bernafsu besar itu.


"Sebentar lagi.. masih ada waktu," ujar Ron mulai bangkit dari sofa dan menarik tubuh istrinya untuk mendudukkan gadis itu.


Ron mengusap-usap rambut istrinya dengan lembut dan membantu Thrisca merapikan pakaiannya yang sudah compang-camping.


"Aku akan mengantarmu pulang lebih dulu," ujar Ron seraya menarik tangan sang istri untuk duduk dipangkuannya. Ron melingkarkan kedua tangannya di pinggang Thrisca dan menenggelamkan wajahnya di bahu mulus sang istri.


"Aku bisa pulang sendiri. Temani aku cari taksi saja," tolak Thrisca.


"Tidak bisa! Terlalu bahaya bagi wanita naik taksi sendirian. Aku akan mengantarmu,"


"Maaf sudah merepotkanmu. Aku tidak bisa menangani apapun sendirian," ujar Thrisca penuh sesal seraya meratapi kepayahan dirinya sendiri.


"Kenapa berbicara seperti itu? Hanya mengantar pulang, bukan suatu pekerjaan berat." ujar Ron dengan suara lembut.


Pria itu menikmati kebersamaannya bersama sang istri sebelum ia pergi meninggalkan gadisnya untuk beberapa hari. Ron mendekap sang istri semakin erat dan menciumi tangan lembut istrinya bertubi-tubi.


"Gendut, aku tidak suka melihatmu berada di luar. Kalau bisa, aku ingin terus menyimpanmu di dalam kamarku. Aku tidak suka pria lain melihat wajah cantik istriku. Kau sudah terbiasa jadi gadis rumahan kan? Aku ingin kau terus menjadi gadis rumahan yang tersimpan di rumahku. Boleh kan?" pinta Ron pada sang istri dengan manja.


"Kau sedang meminta pendapatku?"


Thrisca cukup terharu melihat sikap Ron yang begitu menghargainya dan mendiskusikan segala sesuatu dengannya tanpa memaksakan kehendak.


Thrisca mengusap-usap tangan sang suami dan melirik ke arah Ron sambil tersenyum kecil.


"Kenapa kau ingin menyimpanku? Sepertinya aku benar-benar mempermalukanmu sampai kau tidak mau menunjukkanku pada orang lain," gurau Thrisca.


"Benar, kau sangat jelek hingga aku tidak mau orang lain melihatmu! Hanya aku yang boleh melihatmu.."


"Ron, aku mau saja tetap menjadi gadis rumahan seperti biasa. Tapi aku bosan terus berada di rumahmu tanpa melakukan apapun. Kau bisa menyimpanku di rumah, tapi kau harus menyingkirkan semua pelayanmu. Aku akan mengurus rumahmu dengan baik, aku juga akan belajar mengurus suamiku sendiri. Boleh kan?" pinta Thrisca.


"Gendut, rumah itu terlalu besar untuk kau bersihkan sendiri! Kau hanya akan kelelahan setiap hari mengerjakan pekerjaan rumah. Duduk saja dan bersantai. Biarkan mereka melayanimu," tolak Ron.


"Kau ingin aku duduk dan tidur seharian sambil menunggumu pulang setiap harinya? Aku akan jadi zombie, Ron!" protes Thrisca.


"Tidak ada penawaran lagi! Aku tidak mau kau kelelahan mengurus rumah. Aku tidak mau waktu istirahatmu berkurang. Kau akan kesulitan mengurus rumah sendirian, belum lagi saat kita memiliki anak nanti kau hanya akan semakin kerepotan. Aku tidak mau kau mati karena kelelahan," omel suami Thrisca itu.


Wajah Thrisca memerah seketika saat mendengar ucapan Ron yang membahas anak dengannya.


"Apa Ron sudah tidak waras? Pria itu pasti lupa kalau kita sudah beberapa kali membahas perceraian." batin Thrisca seraya mengerutkan keningnya.


Thrisca menyentuh dahi suaminya untuk memeriksa suhu tubuh pria berbadan kekar itu.


"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?!" tanya Ron dengan kesal.


"Aku tidak salah dengar kan? Baru saja kau menyebut-nyebut anak denganku? Apa kita benar-benar memiliki masa depan bersama?" tanya Thrisca dengan pesimis.


"Apa maksudmu, gendut?! Aku membahas anak dengan istriku. Ada yang salah dengan hal itu? Aku tidak berencana membuat anak dengan istri tetangga, kenapa kau menatapku dengan sorot mata menyebalkan seperti itu?!" gerutu Ron seraya mencubit pipi sang istri.


Semakin lama mereka bersama, semakin Ron melupakan rencana perceraian mereka. Sejak pria itu memboyong sang istri ke rumahnya yang sebenarnya, Ron benar-benar berniat membangun rumah tangga bersama istri yang ia nikahi karena perjodohan itu.


***


"Cepat masuk! Aku akan meneleponmu nanti. Jangan keluar kamar untuk hal yang tidak perlu. Pakai baju tebalmu di depan Gen," oceh Ron sebelum pria itu kembali masuk ke dalam mobil dan meninggalkan sang istri.


"Baiklah. Hati-hati di jalan, Tuan.."


"Peluk aku,"


Ron merentangkan tangannya lebar-lebar untuk menyambut pelukan dari sang istri.


Thrisca masuk ke dalam dekapan Ron dan memeluk tubuh suaminya itu dengan erat.


"Aku akan kembali secepatnya, Gendut. Hanya beberapa hari saja, tolong tunggu aku." ujar Ron seraya mengecup kening sang istri.


"Apa yang harus kulakukan selama beberapa hari ini? Ron bahkan tidak mengijinkanku mengurangi pelayan. Aku bisa mati bosan disini," gerutu Thrisca seraya masuk ke dalam rumah.


Sejak pulang dari kantor sang suami, Thrisca hanya duduk di kamar untuk mengikuti larangan Ron yang tidak memperbolehkannya keluar kamar. Mengetahui seorang pria lain tinggal satu atap dengannya saat sang suami tidak ada, membuat Thrisca menjadi waspada dan mencoba menjaga diri demi suaminya.


"Besok aku pergi saja seharian. Aku juga tidak nyaman berada di rumah bersama Genta," gumam Thrisca seraya memainkan ponselnya.


Gadis itu memeriksa pesan dari sang ayah yang memberi kabar padanya. Thrisca tersenyum senang saat mendapat pesan dari sosok ayah yang sangat ia rindukan itu. Sudah berbulan-bulan tidak bertemu, membuat gadis itu cukup khawatir dengan keadaan ayahnya yang saat ini masih berada di luar negeri.


"Ayah?"


Thrisca segera mengangkat telepon dengan girang saat mendapat panggilan dari sang ayah.


"Icha, bagaimana kabarmu nak? Maaf ayah sangat sibuk hingga tidak sempat memberi kabar padamu." ujar ayah gadis cantik itu dari kejauhan.


Pria paruh baya itu duduk di ruang tamu di rumah kecilnya seraya memangku seorang anak perempuan yang masih kecil. Muncul pula seorang wanita muda yang berlalu lalang di rumah pria duda beranak satu itu.


"Tidak apa. Ayah pasti sibuk. Apa ayah punya rencana untuk pulang dalam waktu dekat?" tanya Thrisca.


"Secepatnya ayah akan pulang. Kau baik-baik saja kan? Bagaimana pernikahanmu dengan Ron? Tidak ada masalah besar antara kalian kan? Maaf ayah tidak hadir di pernikahan kalian.." sesal pria tua yang sudah hampir beruban itu.


"Aku baik-baik saja. Ron sangat baik padaku. Dia merawatku dengan baik, ayah tidak perlu khawatir. Bagaimana dengan keadaan ayah? Tinggal sendirian disana pasti merepotkan." ujar Thrisca dengan wajah murung.


"Ayah baik-baik saja. Dan itu.. ayah tidak tinggal sendiri. Ada seseorang yang menemani ayah disini,"


"Apa maksud ayah?!"


"Ayah akan memberimu kejutan saat pulang nanti." ujar ayah Thrisca kemudian mengakhiri panggilan dengan sang putri.


"Ayah tidak mungkin menikah lagi kan?" gumam Thrisca menerka-nerka.


Tok..tok..


Lamunan Thrisca buyar seketika saat ada suara ketukan pintu dari luar kamarnya.


Thrisca membuka kunci pintu dan mendapati Bi Inah yang datang membawa makan malam untuk majikannya.


"Terimakasih, Bi. Tapi aku bisa mengurus makananku sendiri. Tidak perlu repot mengantar kesini," ujar Thrisca.


"Tuan sudah berpesan untuk menyiapkan makanan nyonya di kamar."


"Ron berlebihan sekali," gumam Thrisca.


"Terimakasih."


Gadis itu menerima nampan dari sang pelayan dan segera mengunci pintu kamarnya lagi.


"Apa penerbangannya masih lama? Ron belum juga menghubungiku,"


Thrisca mengaduk-aduk makanannya seraya melirik ke arah ponselnya menunggu kabar dari sang suami.


Selesai menyantap makan malam, Thrisca segera memakai baju tebalnya dan keluar untuk mencuci piring makanannya.


Saat tiba di ruang makan, terlihat Genta tengah duduk menyeruput kopi di meja besar itu. Pria itu melirik ke arah Thrisca dengan tatapan iba.


"Gendut, kau di rumah?" sapa Genta.


"Tuan Gen juga sudah pulang? Sudah makan malam?" tanya Thrisca mencoba berbasa-basi.


"Kasihan sekali si gendut. Siang tadi Ron membawa gadis cantik ke ruangannya, dan sekarang pria itu meninggalkan si gendut sendirian di rumah." batin Genta iba.


"Bukan salah gendut kalau dia terlahir tidak menarik bukan? Gendut pasti juga sudah lelah diejek oleh wanita yang lebih cantik darinya. Ron benar-benar keterlaluan!" Pria itu sibuk memaki-maki sepupunya saat ia mengingat Ron yang bermesraan dengan gadis cantik di ruangan kerjanya siang tadi yang sebenarnya gadis itu tidak lain ialah istri Ron sendiri, Thrisca.


"Tuan Gen? Kau baik-baik saja?"


"Hem, apa? Aku baik-baik saja!" Genta mulai tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Thrisca.


"Tidak perlu memanggilku Tuan. Kita keluarga kan? Kau juga sudah menjadi sepupuku sekarang." ujar Genta sok ramah.


"Ada apa dengan pria dingin ini? Pagi tadi dia masih mengejekku. Kenapa sekarang sok akrab sekali?!" batin Thrisca.


"Aku belum makan. Kau sudah makan? Bagaimana kalau kupesankan makanan? Kau pasti butuh banyak makanan kan? Aku akan memesan makanan porsi besar untukmu." tawar Genta tanpa maksud buruk.


Tapi di telinga Thrisca, kata-kata tulus dari Genta itu masih terdengar seperti sindiran yang mengatakan kalau gadis gendut sepertinya hanyalah sebuah mesin penyedot makanan.


"Kupikir dia berusaha bersikap baik padaku. Ternyata dia masih saja bersemangat memberi ejekan-ejekan padaku," gerutu Thrisca dalam hati.


***


Bersambung..