
Lilian duduk bersama Jane di kediaman Ron yang pernah ditempati oleh Thrisca. Wanita itu terjebak di rumah yang pernah ditinggali oleh istri dari mantan kekasihnya, tanpa berani datang berkunjung ke istana sebenarnya dari sang mantan kekasih.
"Jadi, ini bukan rumah Ron?" tanya Jane seraya berjalan berkeliling rumah yang lebih kecil dari rumah utama Ron itu.
"Ini juga rumah Ron. Rumah ini pernah ditempati oleh istrinya." jawab Lian lirih.
"Lalu kemana sekarang istrinya? Apa sudah diceraikan? Siapa memangnya pria yang tahan berlama-lama dengan gadis gendut itu?!" ungkap Jane dengan nada meremehkan.
"Kau salah, Jane! Ron membawa gadis gendut itu ke rumah utamanya."
Lian tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya saat membahas mengenai Thrisca dan Ron.
"Apa maksudmu?!" tanya Jane dengan wajah terkejut.
"Ron sudah membawa gadis itu ke istananya. Aku tidak bisa lagi meremehkan kehadiran gadis itu."
"Mungkin saja Ron membawa gadis itu karena didesak oleh kakeknya. Kakek Ron sangat menyukai si gendut itu, kan?" hibur Jane.
"Semoga saja seperti itu," ujar Lilian dengan senyum kecut.
"Kalau kau kesulitan kembali bersama Ron, kejar saja Genta! Dia juga anggota keluarga Diez. Memang tidak menjanjikan seperti Ron, tapi Genta masih dapat menunjang hidupmu dengan baik." usul Jane.
"Kau pikir aku mengejar Ron hanya untuk uang?"
"Memang alasan apalagi yang dibutuhkan oleh seorang wanita cantik yang mengejar pria lumpuh kaya?" sindir Jane.
"Ya, kau benar. Uang dan kekuasaan Ron memang menyilaukan. Tapi, meskipun Ron seorang pria cacat yang tidak memiliki apapun. Mungkin aku masih tetap akan mempertimbangkannya," ujar Lian dengan senyum tipis.
"Cih, apa kau sudah gila?! Kau sudah mulai buta karena pria cacat itu?"
"Mungkin.." tukas Lilian.
"Ron sudah mulai kembali ke kantor. Aku jadi bisa lebih leluasa untuk menemuinya. Aku akan mencoba mengajak Ron berbicara lagi," sambung Lian dengan antusias.
"Lian, jangan sia-siakan waktumu untuk pria cacat yang sudah beristri. Kalau aku jadi kau, tentu aku sudah memilih Tuan Derry sejak dulu untuk menjadi nyonya di keluarga Diez."
***
Thrisca mengurung diri di dalam kamar begitu jenazah ayahnya tiba di rumah kecilnya. Bukan hanya raga sang ayah, namun tubuh kaku kakeknya juga hadir menyambangi rumahnya.
Gadis itu tak sanggup melihat kedua orang kesayangannya yang terbaring kaku di rumah yang pernah mereka tinggali bersama.
Tidak banyak tamu yang hadir memenuhi rumah peninggalan ayah Thrisca. Hanya beberapa tetangga dan kakek Ron yang duduk memenuhi ruang tamu kecil rumahnya.
Ron dapat menemukan rumah Thrisca dengan mudah saat melihat satu bangunan rumah yang nampak ramai dengan orang-orang. Pria itu segera berlari masuk ke dalam rumah sang mertua dan melihat sang kakek yang sudah berada di tempat itu terlebih dulu.
"Ron!"
panggil Tuan Hasan yang melihat sang cucu sudah berdiri di ambang pintu.
Pria tua itu menghampiri cucunya dan mengajak Ron berbincang di luar. Ron dan sang kakek duduk di bangku kecil bawah pohon yang tidak jauh dari rumah Thrisca.
"Mana kursi rodamu?" sindir Tuan Hasan pada Ron.
"Aku sudah berhasil menipumu selama beberapa bulan ini," ucap Ron datar.
"Menipu apa, bodoh?! Tipuanmu tidak berhasil sama sekali! Aktingmu sangat buruk!" ujar Tuan Hasan seraya memukul belakang kepala cucunya.
"Ah, sial! Kupikir aku berhasil membodohi orang-orang." gumam Ron kesal seraya memegangi kepalanya yang dipukul oleh sang kakek.
"Kau sudah lihat tadi? Ada dua ambulan dan dua peti di rumah Icha."
Mata Tuan Hasan mulai memerah.
"Siapa yang satu lagi? Bukan si gendut, kan? Aku tidak bisa menghubunginya semalaman! Gendut baik-baik saja, kan?"
Ron mulai panik mengira satu jenazah lain yang ia lihat tadi adalah Thrisca.
"Bagaimana mungkin gadis rapuh itu baik-baik saja? Dunianya sudah runtuh." tutur Tuan Hasan dengan wajah muram.
"Jadi, siapa yang berada dalam peti satunya?"
"Orang yang membawa Icha padamu. Kakek Icha, sahabat lama kakek."
"Kau pikir siapa orang yang memberikan Icha padamu?!" Tuan Hasan kembali memukul kepala sang cucu.
Ron berusaha keras menahan diri dan mencoba bersabar menghadapi pria tua yang tengah bersedih itu.
"Ron, bagaimana hubunganmu yang sebenarnya dengan Icha? Kakek tahu seharusnya kakek memberikan waktu kalian untuk saling mengenal terlebih dulu sebelum menikah. Tapi cinta setelah menikah juga bukan ide yang buruk. Kakek hanya ingin menuruti permintaan terakhir dari ayah mertuamu,"
"Hubunganku yang sebenarnya bagaimana? Si gendut sudah menjadi istriku. Apalagi yang harus kujelaskan?" jawab Ron malas.
"Kau sudah tahu penampilan asli Icha? Apa Icha juga sudah tahu tentang sandiwara konyolmu ini?"
"Baru beberapa hari bersama, kami langsung ketahuan." ujar Ron dengan ekspresi datar.
"Ron, apa Icha bahagia bersamamu?" tanya Tuan Hasan dengan wajah serius.
"Pembahasan basi macam apa ini?" ujar Ron dengan ekspresi tak peduli.
"Kakek tidak sedang bergurau. Jika Icha memang tidak bahagia bersamamu, kakek akan mencarikan kebahagiaan lain untuk Icha."
"Apa maksud kakek?!"
Ron berdiri dan melirik sang kakek dengan tatapan dingin.
"Ron, kau tidak kasihan melihat gadis malang itu sudah hancur dan hidup sebatang kara? Meskipun kau tidak menyukainya, tapi apakah kau tidak bisa menaruh rasa iba sedikitpun padanya?"
"Aku tahu aku memang tidak selalu bersikap baik padanya. Tapi aku tidak pernah berniat menyakiti gendut! Kakek tidak tahu apapun mengenai pernikahan kami, jadi jangan ikut campur!" ujar Ron dengan tegas.
"Aku tanya apa Icha bahagia bersamamu?!" bentak Tuan Hasan.
"Mana kutahu! Tanya saja pada si gendut!"
"Baiklah! Sepertinya aku telah salah memilihkan pria untuk Icha. Gadis itu terlalu berharga untuk bocah konyol sepertimu!"
Tuan Hasan berdiri dan berbalik badan hendak meninggalkan cucunya.
"Aku akan mengabulkan keinginanmu. Kau bisa mencari istri baru sesuai keinginanmu dalam waktu dekat," sambung Tuan Hasan.
Ron segera berlari dan menghadang jalan sang kakek.
"Kakek tidak berhak mengatur urusan rumah tanggaku! Aku sudah menuruti keinginanmu dan menikah dengan gadis pilihanmu! Sekarang kakek juga ingin seenaknya mengurus perceraianku?!" teriak Ron pada kakeknya sendiri.
"Untuk apa aku mendukung pernikahan yang tidak membuat Icha bahagia?! Bagi kakek kebahagiaan Icha saat ini lebih penting dari seribu cucu bodoh sepertimu! Lakukan saja yang kau inginkan. Terimakasih kau sudah memenuhi keinginan pria tua ini,"
"Aku tidak akan menuruti keinginanmu! Aku tidak akan membiarkanmu mengambil istriku!" ujar Ron lantang.
"Bagaimana bisa aku mempercayakan Icha pada bocah payah sepertimu?!" omel Kakek dari Ron itu.
"Ron, apa kau cukup percaya diri untuk bisa membahagiakan istrimu?" tanya Tuan Hasan dengan pandangan remeh pada sang cucu.
Ron termenung sejenak mendengar pertanyaan dari kakeknya. Pria itu tidak cukup percaya diri untuk bisa memberikan kehidupan yang diinginkan oleh istrinya. Tapi Ron tidak bisa merelakan istrinya diambil begitu saja oleh sang kakek.
"Apa kau sedang mencoba meminta kesempatan dariku?" tanya Tuan Hasan.
"Aku tidak ingin kesempatan. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan istriku!"
"Keputusan itu tidak berada di tanganmu! Aku akan mendukungmu jika Icha juga ingin bersamamu. Tapi jika Icha tidak ingin bertahan denganmu, aku akan melakukan segala cara untuk mengambil Icha darimu!" tukas Kakek Ron.
Pria tua itu mendorong tubuh cucunya yang menghalangi jalan. Tuan Hasan melangkah meninggalkan Ron yang masih berdiri mematung di bawah pohon.
Cucu Tuan Hasan itu mengepalkan tangannya kuat-kuat dan segera berbalik melihat sang kakek.
"Aku akan membuat si gendut tidak bisa hidup tanpaku!" teriak Ron pada kakeknya yang sudah berjalan menjauh dari pria jangkung itu.
"Teruslah bermimpi, bocah payah!" ejek Tuan Hasan tanpa menoleh ke arah sang cucu.
Pria tua itu tersenyum kecil menanggapi perkataan cucunya.
***
Bersambung..