
Thrisca duduk di ranjang kamarnya seraya melipat pakaian sang suami dengan rapi. Wanita itu hanya bisa menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah selama masa pemulihannya ditemani oleh Ron yang mengerjakan pekerjaan dari rumah.
Ron yang juga tengah bersantai di kamar, ikut membantu sang istri melipat baju dan menyimpan rapi kain-kain itu di dalam lemarinya.
Pasangan suami-istri itu tak saling bicara setelah Nyonya Daisy berkunjung ke kediaman mereka.
Pertengkaran yang terjadi antara Ron dan ibunya membuat Thrisca merasa canggung untuk berbicara dengan sang suami yang masih diliputi suasana hati yang buruk.
"Sayang, bagaimana kalau kita membeli camilan di luar?" ajak Ron.
"Di luar? Di luar mana? Maksudmu kau akan membawaku keluar rumah?" tanya Thrisca sedikit terkejut dengan ajakan sang suami.
"Bagaimana kalau kita mengunjungi rumah pohon kita?" tawar Ron.
"Rumah pohon?"
"Kau tidak ingat? Aku membuatkan rumah pohon untukmu saat aku memberitahukan kehamilanmu du--"
Ron langsung menutup mulut begitu ia membahas kenangan menyakitkan itu.
Rumah pohon itu seharusnya menjadi hadiah lamarannya sekaligus hadiah untuk kehadiran jabang bayi mereka. Sayangnya taman bermain kecil itu tidak akan terpakai dalam waktu dekat karena Thrisca yang mengalami keguguran.
"Kita ke taman dekat sini saja bagaimana? Atau kita naik sepeda di dekat sini? Atau kita jalan-jalan ke danau?"
Ron segera mengubah topik pembahasan sebelum perkataannya menyakiti sang istri.
"Baiklah. Aku akan bersiap-siap.." ujar Thrisca seraya tersenyum manis.
Tak berselang lama kemudian, Thrisca sudah siap dengan pakaian kasualnya dan hendak berkencan sore bersama sang suami.
Kali ini Ron kembali mengajak sang istri bersepeda di sore yang cerah itu. Ron memboncengkan Thrisca dengan girang dan membawa wanita cantik itu berkeliling kompleks menikmati udara sore yang sejuk.
"Biasanya kau tidak sebaik ini memperbolehkanku keluar," ujar Thrisca memulai percakapan.
"Maaf.." sahut Ron lirih.
Wajah girang pria itu berubah muram seketika, diliputi dengan perasaan bersalah pada sang istri.
"Maaf untuk apa, Ron?"
"Apa bersamaku begitu menyulitkanmu?" tanya Ron murung.
"Apa maksudmu?"
"Kalau saja aku hanya seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan kecil, apa itu akan membuatmu merasa lebih bebas?"
"Kenapa kau menanyakan hal seperti ini?" tanya Thrisca balik.
"Aku terlalu posesif, kan? Kehidupanku juga terlalu menuntutmu. Semua yang ibuku katakan memang benar, tapi aku tidak mau mengakuinya. Aku sudah merepotkanmu dengan memaksamu untuk berusaha lebih keras demi bersamaku.."
Thrisca diam sejenak dan mendengarkan dengan seksama semua perkataan sang suami. Wanita itu memang merasa Ron terlalu mengekangnya, tapi perhatian yang diberikan oleh sang suami juga tak kalah besar.
Thrisca masih bisa memaklumi semua sikap suaminya selama itu tidak merugikan mereka berdua.
"Ron, berhenti!" ujar Thrisca meminta Ron memberhentikan sepeda.
"Kenapa--"
"Kubilang berhenti!" ujar Thrisca lagi.
Ron segera mengerem sepeda roda duanya di pinggir taman. Thrisca bergegas turun dari bangku penumpang dan berdiri tepat di depan sang suami yang masih duduk di atas sepeda.
"Kau butuh sesu--"
Belum sempat Ron menyelesaikan kalimatnya, Thrisca sudah membungkam mulut suaminya dengan kecupan hangat.
"Kenapa dengan wajah murungmu ini?! Ron yang kukenal adalah Ron yang menyebalkan. Ron yang berwajah dingin. Ron yang bermulut pedas. Kau tidak perlu meminta maaf padaku untuk hal yang tidak perlu." ujar Thrisca seraya mengusap lembut pipi sang suami.
"Aku akan mendukung karirmu. Aku tidak akan membiarkan orang-orang mencibirmu. Aku juga akan membantumu menyelesaikan pendidikanmu. Bagaimana kalau kau mengambil kelas memasak? Atau kelas kecantikan? Aku bisa membangunkan restoran yang bisa kau kelola. Aku juga bisa membangunkan salon kecantikan untukmu. Apapun itu asal jangan ambil tawaran model itu.. aku tidak ingin kau menjadi tontonan para pria." ujar Ron lirih.
"Ron.. kau masih memikirkan ini? Bukankah kau sudah mengambil keputusan untuk tidak mengijinkanku?"
"Itu hanya kemauanku. Aku ingin hal ini menjadi keputusan kita bersama. Aku.. tidak ingin egois lagi. Aku juga akan menghargai pendapatmu." ujar Ron seraya menggenggam erat tangan sang istri.
"Kau yakin akan menerima pendapatku?" tanya Thrisca seraya menyipitkan mata.
"Aku.. akan berusaha mempertimbangkan."
"Mempertimbangkan?! Pada akhirnya aku harus tetap mengikuti keputusanmu, kan?" cibir Thrisca.
"Ayolah, Sayang! Aku sudah berusaha bersabar demi dirimu. Tapi kau selalu saja memancing kemarahanku!"
"Jadi, semua sumber masalah di sini adalah aku? Bukan kau dan sifat posesifmu itu?!" sindir Thrisca.
"Baiklah, semua salahku! Aku posesif dan menyebalkan! Kau puas?!" omel Ron kesal.
Thrisca tertawa kecil melihat wajah cemberut sang suami yang mengomel padanya. Wanita itu mengacak-acak rambut Ron seraya mengusap lembut pipi pria galak itu.
"Ron, kau terlihat menggemaskan sekali saat marah.." ledek Thrisca.
"Jadi, bagaimana? Kau juga tidak mau menerima tawaran itu, kan?" tanya Ron kembali membahas tentang karir model.
"Em, soal itu.."
"Kau benar-benar ingin mempertimbangkan tawaran itu? Kau ingin mencoba karir sebagai model?!" seloroh Ron.
"Jadi, kau kecewa aku tidak memberimu ijin?" tanya Ron penuh hati-hati.
Thrisca kembali duduk di bangku penumpang dan memeluk erat pinggang suaminya dari belakang. Wanita itu menyandarkan kepala di punggung lebar Ron dan berbicara dengan manja pada sang suami.
"Apa aku tidak boleh mendapat kesempatan?" tanya Thrisca.
"Tidak boleh! Kau akan memakai pakaian terbuka dan menjadi manekin yang dipamerkan di atas panggung! Kau mau memakai pakaian ketat di hadapan banyak pria--"
"Aku mengerti, Ron." potong Thrisca cepat.
"Aku akan menurut mulai sekarang. Aku hanya akan melakukan segala sesuatu dengan ijinmu." imbuhnya.
Ron menyambut girang sekaligus pilu mendengarkan perkataan sang istri. Ingin sekali pria itu mengabulkan segala keinginan istrinya dan mendukung penuh kebahagiaan sang istri, namun ada banyak hal yang tidak bisa ia berikan pada istri tercintanya itu. Salah satunya ialah kebebasan untuk bisa lepas dari aturannya.
"Maaf, Sayang. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu. Aku akan mendukungmu, tapi bukan untuk hal yang satu ini. Aku akan mendukung karir apapun yang kau mau, namun aku tidak akan membiarkanmu menjual wajah cantikmu."
Ron meraih tangan sang istri yang melingkar di pinggangnya dan mengecupi telapak tangan wanita itu bertubi-tubi.
"Aku tahu, Ron. Semua yang kau lakukan untukku juga demi kebaikanku, kan? Aku benar-benar beruntung bisa mendapatkan perhatianmu," ujar Thrisca seraya bangkit dari sepeda dan memeluk erat tubuh kekar sang suami.
Ron membalas pelukan sang istri dengan menenggelamkan tubuh mungil wanita itu ke dalam dekapannya.
"Terima kasih, Sayang."
***
"Nadine!"
Genta berlari kecil menghampiri Nadine saat ia mendapat kesempatan bagus untuk menyapa wanita itu.
Setelah beberapa hari ini hanya bisa mengawasi Nadine dari jauh, akhirnya Genta memberanikan diri untuk mengajak Nadine berbicara.
"I-iya, Pak?" jawab Nadine tergagap.
Wanita itu merasa terkejut sekaligus terharu menerima sapaan dari pria pujaannya.
"Kau mau pulang?" tanya Genta ramah.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nadine balik.
Cherry yang tengah berjalan hendak keluar gedung kantor, tiba-tiba berhenti dan langsung bersembunyi begitu ia melihat Nadine tengah berbincang dengan Genta.
Tak jauh berbeda dengan Cherry, Han yang tengah mencari Genta juga mendadak berhenti dan bersembunyi di balik tembok untuk mengamati Nadine dan Genta dari jauh.
"Genta benar-benar mendekati Nadine?! Baru saja dia menawarkan cincin padaku beberapa hari yang lalu, tapi sekarang dia sudah mencari mempelai wanita lain?!" gumam Cherry kesal.
Sama halnya dengan Cherry, Han yang juga bersembunyi di balik tembok lain, sibuk mengumpati Genta yang berani tebar pesona pada Nadine.
"Apa sebenarnya maunya Gen?! Bukankah dia sebentar lagi akan menikah?! Apa dia berniat mempermainkan Nadine?" gumam Han geram.
"Em, itu.. apa kau sibuk? Boleh aku minta waktumu sebentar?" tanya Genta.
"Apa ini? Aku memiliki kesempatan untuk berbincang berdua dengan Gen?" sorak Nadine dalam hati.
"Saya tidak sibuk, Pak." jawab Nadine bersemangat.
"Kalau begitu, bisa temani aku sebentar? Aku akan mentraktirmu makan malam dan mengantarmu pulang." ujar Genta.
"Mimpi apa aku bisa berkencan dengan Gen?!" batin Nadine kegirangan.
Nadine dan Genta segera berlalu menuju tempat parkir seraya mengobrol ringan. Begitu kedua orang itu pergi, Cherry dan Han ikut bergerak dari tempat persembunyian.
Karena terlalu fokus membuntuti Nadine dan Genta, Han dan Cherry tidak sengaja bertabrakan saat tengah terburu-buru mengejar kedua orang itu.
Brukk!
Tubuh kurus Cherry langsung terpental begitu badannya menubruk tubuh jangkung Han.
"M-maaf, Pak." ujar Cherry terbata-bata dan segera berlalu mengejar Genta kembali.
"Maaf, aku juga tidak sengaja!" ujar Han tanpa melirik sedikitpun ke arah Cherry.
Kedua orang bodoh itu berlari bersamaan menuju tempat parkir, namun mereka kehilangan jejak Nadine dan Genta. Nampak kendaraan Genta sudah tidak terlihat lagi di tempat parkir, dan sosok Nadine juga sudah menghilang dari gedung kantor itu.
"Sial!" umpat Cherry dan Han bersamaan.
Kedua orang itu langsung saling menoleh satu sama lain begitu mereka tersadar sudah berada di tempat parkir secara bersamaan. Cherry langsung menundukkan kepala mencoba menunjukkan rasa hormat pada Han, dan Han juga langsung membenarkan jasnya seraya memasang tampang dingin.
"Em, sial! Dompetku tertinggal!" gumam Han mulai salah tingkah.
"Emm.. sial, untuk apa aku berlari kemari? Aku kan tidak punya mobil.." gumam Cherry tak ingin ketahuan tengah mengejar Genta.
"Apa dia juga melihat Gen dan Nadine? Mungkinkah Han juga sedang mengejar Nadine?" batin Cherry seraya melirik ke arah Han.
"Kenapa ada teman Nadine di sini? Dia sendiri tidak punya mobil, kan?!" batin Han ikut melirik ke arah Cherry.
Saat tengah saling melirik, pandangan mata Han dan Cherry bertemu tanpa sengaja. Kedua orang itu langsung kabur seketika saat ketahuan saling melirik satu sama lain.
***
Bersambung..