DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 89



"Mas, kenapa kita ke sini?" tanya Lian nampak tidak puas dengan istana yang ditunjukkan oleh Tuan Derry untuknya.


Tuan Derry tidak berani memboyong Lilian ke salah satu villanya karena takut ketahuan oleh Nyonya Daisy.


Pria tua beristri banyak itu hanya menyiapkan satu rumah di pinggir kota yang agak jauh dari rumah utama.


"Hubunganmu dengan Daisy sedang memburuk, kan? Kau ingin masuk surat kabar lagi dan dimaki-maki oleh seluruh negeri?"


"Masalah sekecil itu saja kau tidak bisa menanganinya?! Itu hanya berita! Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghentikan goresan tinta wartawan itu?!" omel Lilian.


"Kau bilang kau orang yang berpengaruh di kota ini, tapi mana?! Mengurus berita kecil seperti itu saja kau tidak bisa!" imbuh Lilian.


"Kau semakin cantik saat sedang marah,"


Tuan Derry mengecup lembut bibir mantan model itu dengan penuh gairah.


Lilian benar-benar jijik dan ingin mendorong pria tua itu menjauh darinya, tapi saat ini ia tidak memiliki pendukung lain yang bisa membantunya.


Hanya Tuan Derry yang bisa membantu Lilian kembali menata hidup dan tidak terlantar dengan menyedihkan di jalanan.


***


Selama sang istri pergi bersama ibunda, Ron memutuskan untuk menghias rumah menjadi tempat camping dadakan dengan memasang banyak lampu warna-warni serta mendirikan tenda kecil di tengah-tengah ruangan untuk menghibur sang istri yang bosan terus berada di rumah.


Pria itu ingin sekali mengajak sang istri pergi camping di rumah pohon yang baru saja ia buat untuk Thrisca, namun mengingat istrinya yang tengah mengandung, Ron pun berinisiatif membuat acara camping di dalam rumah.


"Ron, kenapa kau memasang tenda di tengah jalan seperti ini?!" omel Genta yang pulang sejenak untuk mengambil berkas di ruang kerja Ron.


"Kenapa kau pulang?! Ini masih jam berapa? Memangnya kau tidak bekerja?!" omel Ron balik saat melihat sepupunya yang sudah menampakkan batang hidung di rumah saat siang bolong.


"Aku pulang untuk mengambil beberapa laporan. Sudah kau tanda tangani semua, kan?" tanya Genta.


"Ambil saja di ruanganku! Malam ini jangan pulang, Gen! Tidur saja di hotel!" usir Ron pada sang sepupu.


"Hotel apanya?! Kau pikir aku punya uang untuk menginap di hotel?!" protes Genta.


"Kalau begitu tidur saja di motel!" cibir Ron.


"Ron, kau kejam sekali! Kau seenaknya sendiri menyuruhku mengurus seluruh pekerjaanmu, sekarang kau masih mengusirku?!"


"Hei, aku juga sudah membayarmu dengan mahal untuk semua pekerjaan yang kau lakukan! Kenapa kau masih mengeluh tidak mempunyai uang?! Kau kemanakan saja uang bayaran dariku?!" sanggah Ron.


Nyali Genta menciut seketika setelah mendapat bentakan dari sepupunya. Pria malang itu segera melarikan diri menyelesaikan pekerjaannya sebelum Ron makin mengamuk padanya.


Suami Thrisca itu kembali sibuk dengan kegiatannya menghias rumah sebelum sang istri pulang kembali ke istana mereka.


Pria itu menyambangi telepon rumah yang terletak tak jauh dari tempatnya menyibukkan diri dan menghubungi sang istri untuk memastikan kepulangan wanita hamil itu.


"Halo, Sayang? Kau ada di mana sekarang?" tanya Ron dengan sorot mata penuh kerinduan.


"Aku sedang berada di salon dengan ibu. Kau sudah makan siang, Ron?"


"Aku tidak selera makan. Aku ingin makan bersamamu," rengek Ron pada sang istri.


"Ron, kau ini! Cepat makan sebelum mualmu kambuh lagi!" omel Thrisca.


"Kapan kau pulang?" tanya Ron dengan wajah memelas.


"Sepertinya masih agak lama. Setelah ini ibu akan mengajakku mengikuti kelas yoga,"


"Yoga apanya? Kau sudah pergi sejak tadi! Memangnya kau tidak lelah?!"


"Ibu mengajakku bersantai di sini, Ron. Tubuhku terasa sangat segar," ungkap Thrisca dengan girang.


"Kau lebih senang menghabiskan waktu bersama ibuku? Apa kau tidak senang menikmati waktu bersamaku? Kau lebih senang berada di luar sana daripada menemani suamimu?" ujar Ron mendramatisir.


"Ron, jangan bersikap menyebalkan seperti ini! Aku akan pulang sebelum makan malam."


"Kenapa tidak sekalian saja makan malam di luar?! Makan malam saja di luar! Biarkan aku kelaparan sendirian di sini," sindir pria yang tengah merajuk pada sang istri itu.


"Ron, kau kekanakan sekali! Aku akan pulang sebentar lagi. Bye, Sayang.."


Sama halnya seperti Thrisca, Ron juga mencium bertubi-tubi telepon yang ada di genggamannya dan memeluk erat benda elektronik itu.


"Sayang, aku sangat merindukanmu. Cepatlah pulang," gumam Ron pada gagang telepon yang masih berada di tangannya.


"Ibu, untuk kelas yoga.. bagaimana kalau besok saja? Aku agak khawatir Ron akan mual dan muntah lagi di rumah," ujar Thrisca pada ibu mertuanya.


"Bocah itu banyak sekali triknya! Sejak kapan dia menjadi manja seperti ini," ujar Nyonya Daisy seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mengetahui kelakuan sang putra.


"Ron memang sedang tidak enak badan, Bu."


"Bocah itu masih juga dilanda morning sickness?"


"Sepertinya begitu, tapi Ron sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Mualnya sudah tidak terlalu parah dan selera makannya juga sudah kembali,"


"Thrisca, sepertinya kau mengurus bayi besar yang menjengkelkan.." ujar Nyonya Daisy dengan wajah iba melihat sang menantu.


"Tidak juga. Aku sangat senang Ron mau bermanja padaku,"


***


Lilian berjalan dengan santai di pusat perbelanjaan mewah dengan mengenakan masker serta kacamata hitam yang mencolok di dalam ruangan.


Wanita itu berlenggang dengan angkuh bersama dua bodyguard bertubuh besar yang membawakan kantong belanjaannya.


Saat tengah sibuk memilih pakaian, mata Lilian terpaku pada sesosok wanita yang nampak familiar berdiri tak jauh darinya.


"Jane?"


Lilian mendekati "teman" seperjuangannya itu dan memanggil nama sang kawan dengan wajah angkuh.


Jane menoleh dan mendapati Lilian sudah berdiri di hadapannya dengan mengenakan gaun mewah nan mahal dan dandanan ala sosialita elit.


"Lian? Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya Jane dengan nada meremehkan.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang dilakukan model miskin sepertimu di sini?!" sindir Lilian.


"Jaga mulutmu!"


"Kau yang seharusnya jaga mulut di sini! Kupikir kau mendadak amnesia dan tidak akan mengenaliku dalam balutan masker. Tapi sepertinya kau masih mengenaliku dengan baik," sindir Lilian lagi.


"Aku tidak ingin mendengar ocehan orang gagal sepertimu! Carilah teman lain yang mau membantumu!" usir Jane.


"Cih, sombong sekali! Kau pikir aku membutuhkan bantuan dari model pendukung sepertimu?!"


"Kau masih berani berlagak?! Setelah semua orang memakimu?!"


"Kenapa?! Aku tidak boleh berlagak? Hidupku jauh lebih sejahtera darimu, tentu saja aku berani berlagak!" ujar Lilian dengan congkak.


"Kau hanya simpanan pria tua, berani sekali kau bersikap angkuh di depanku?!" Jane semakin meninggikan suaranya di hadapan Lilian.


"Apa bedanya denganmu?! Setidaknya pria yang kukencani adalah pria yang berkelas dan berdompet tebal. Tidak seperti incaranmu," ejek Lilian.


"Kau kembali lagi bersama Tuan Derry?!" selidik Jane.


"Itu bukan urusanmu!"


"Tentu saja itu akan menjadi urusanku! Kau akan tamat di tangan Nyonya Daisy jika ibu Ron itu tahu kau kembali bersama dengan suaminya!"


"Kau berani mengancamku?!" hardik Lilian.


"Kenapa tidak?! Kau juga sama rendahnya denganku! Kenapa harus berbangga diri dengan merebut suami orang lain?! Setidaknya sekarang aku lebih memilih mengejar pria muda lajang yang masih bertenaga daripada harus membuang waktuku pada pria tua!"


"Memangnya siapa pria muda lajang yang mau menyewamu?! Kau hanya ingin mengejar uang recehan sekarang?!" ejek Lilian disertai gelak tawa.


"Kita lihat saja siapa yang akan lebih beruntung di antara kita! Kau bukan lagi sainganku di industri ini! Kau tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk kembali," balas Jane.


***


Bersambung...