DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 109



Susan membuka mata dan mendapati tubuhnya tergolek lemas di ranjang pasien. Ibu satu anak itu terlontang-lantung di jalanan mencari Elma hingga ia ambruk pingsan di tengah jalan.


Susan mengedarkan pandangan mencari tas besar yang ia bawa. Wanita itu nampak panik saat tidak mendapati tas miliknya yang berisi uang dari hasil penjualan pabrik dari ayah Thrisca.


"Kemana semua uangku?!" pekik Susan di ruangan kecil itu.


Seorang perawat menghampiri Susan dan mencoba menenangkan wanita yang mengamuk karena kehilangan uang serta anak itu.


"Dimana Elma?! Dimana anakku?" teriak Susan histeris.


"Tolong tenang, Bu. Silahkan kembali ke tempat tidur," bujuk seorang perawat.


"Dimana tas saya? Kenapa tidak ada apapun di ruangan ini? Dimana barang-barang saya?" tanya Susan dengan berurai air mata.


"Bu, tolong tenang dulu. Silahkan istirahat kembali," bujuk sang perawat lagi.


"Tolong carikan tas saya, dimana tas saya?" pinta Susan dengan wajah memelas.


Beberapa perawat ikut datang membantu menenangkan Susan yang terus meracau mencari benda yang tidak ada bersamanya. Para perawat itu mulai kewalahan mengurus ibu beranak satu yang membuat mereka kerepotan.


***


Thrisca duduk melamun di meja makan seraya memandangi ponselnya. Wanita itu mulai tak berselera makan karena ia belum juga mendapat satu pun pesan maupun panggilan dari sang suami.


"Telepon saja dulu," ujar Nyonya Aswinda menghampiri Thrisca di meja makan.


"Ehm, Nenek! A-aku tidak sedang memikirkan Ron!" elak Thrisca.


"Nenek tidak menyebut nama Ron," ledek Nyonya Aswinda.


Thrisca segera menyimpan ponselnya dan menikmati sarapan pagi bersama sang nenek. Wanita itu hanya memainkan sendok dan memakan beberapa suap hidangan yang tersaji di piringnya.


"Makanannya tidak enak?" tanya Nyonya Aswinda.


"Hm? Bukan begitu, Nek. Ini sangat enak,"


"Mana ponselmu?"


Thrisca merogoh kantong dan memberikan ponselnya pada sang nenek. Nyonya Aswinda mengotak-atik sebentar ponsel mahal cucu menantunya dan mengembalikan benda kecil itu pada sang pemilik dengan satu panggilan yang sudah terhubung dengan benda elektronik itu.


"Halo, Sayang?" suara pria mulai terdengar dari ponsel kecil itu.


"Ron? Nenek menelepon Ron?" bisik Thrisca pada Nyonya Aswinda.


"Nenek tidak akan mengganggu kalian," goda Nyonya Aswinda seraya berlalu meninggalkan meja makan besar itu.


"Halo, Ron? Maaf menelepon pagi-pagi. Kau tidak sedang sibuk bekerja, kan?" tanya Thrisca.


"Sayang, kenapa harus minta maaf? Aku menunggu telepon darimu semalaman. Aku sangat merindukanmu," rengek Ron manja. Suara pria itu terdengar parau dan tak bersemangat.


Pria itu masih terbaring di lantai dingin dengan rambut acak-acakan dan mata panda yang menghitam. Wajah Ron nampak pucat dan kusut karena begadang semalaman mencari cincin. Suami Thrisca itu bahkan tidak menyambangi kamarnya karena tidak ada sang istri yang menyambut di kamar surganya itu.


"Ron, kau benar-benar tidak ingat dimana meletakkan cincin itu? Kau tidak mungkin membuangnya, kan?" tanya Thrisca.


"Aku.. lupa. Sepertinya aku tidak membuangnya,"


"Sepertinya?!"


Thrisca mengerutkan keningnya mendengar jawaban abu-abu dari sang suami.


"Itu.. maaf. Aku benar-benar tidak ingat. Seharusnya aku belum membuangnya." ujar Ron lirih.


"Ron, kau pasti bisa menemukannya. Aku percaya padamu," ujar Thrisca menyemangati sang suami.


"Bisakah aku menjemputmu sekarang? Aku tetap akan mencari cincin itu. Tapi aku tidak bisa jika harus terus jauh darimu seperti ini.."


"Soal itu.. aku tidak tahu, Ron. Bagaimana kalau kau datang kemari? Mungkin nenek akan luluh jika kau datang membujuk," saran Thrisca.


"Bujukanku tidak akan mempan. Aku hanya akan semakin dihajar oleh nenek tua itu," ucap Ron memelas.


"Aku bisa menyelinap ke sana! Aku akan membawamu kabur malam ini! Bagaimana kalau kita pindah rumah saja?" ujar Ron dengan usulan-usulan gila.


"Ron, cari saja cincinnya! Jangan membuat nenek semakin marah!" omel Thrisca.


"Bagaimana aku bisa fokus mencari cincin kalau aku tidak bisa melihatmu?!" omel Ron balik.


"Ron, kau pasti bisa menemukannya. Makan teratur dan istirahat yang cukup, Sayang. Aku akan meneleponmu lagi nanti,"


"Tunggu! Jangan ditutup dulu!"


"Ron, kenapa akhir-akhir ini kau selalu saja merengek seperti bayi?!" sindir Thrisca mulai kesal.


"Aku? Merengek seperti bayi?! Kau yang sering bertingkah menyebalkan beberapa hari ini!" balas Ron.


"Ron, kau mengomel padaku?!"


"Kau juga mengomeliku, kan?! Aku sudah bersikap lembut padamu, tapi kau masih saja berteriak padaku!"


"Ron, kau jahat sekali! Aku sedang mengandung anakmu, tapi ini yang kudapatkan?!"


"Apa aku tidak menjagamu dengan baik? Apa aku tidak bersikap lembut padamu?! Aku selalu berusaha menyenangkanmu, tapi kau tidak mau memahamiku!" omel Ron lagi.


"Dasar pria menyebalkan!!" pekik Thrisca melalui telepon.


"Kau yang menyebalkan!"


"Dasar suami galak! Tidak pengertian! Setiap hari bisanya hanya mengomel!"


"Kau berani mengataiku?!"


Amarah Ron makin memuncak saat mendengar perkataan sang istri.


Pria yang sudah bersusah payah mengatur emosi selama beberapa minggu itu, akhirnya kembali meledak-ledak dengan mulut pedasnya.


"Terserah kau saja! Kalau kau tidak mau kujemput, ya sudah!" ujar Ron.


"Kau tidak mau menjemputku?! Ron, kau tega mengatakan hal itu padaku?!"


Thrisca menutup telepon dengan kesal. Sama halnya dengan Ron, pria itu bahkan membanting ponselnya ke lantai dengan kencang.


Acara melepas rindu yang mengharu biru, kini berubah menjadi pertengkaran kecil antara suami ngidam dan istri hamil yang sama-sama tengah sensitif.


***


"Thrisca.."


Nyonya Daisy masuk ke kamar sang menantu begitu wanita itu sampai ke rumah ibu mertuanya.


Thrisca yang tengah duduk melamun, langsung tersentak kaget begitu mendengar suara Nyonya Daisy.


"Ibu? Kapan ibu datang?"


Thrisca segera berdiri dengan gelagapan dan menyambut sang ibu mertua.


"Ibu akan membantumu bersiap. Ibu sudah membawakan pakaian untukmu,"


"Bersiap untuk apa?" tanya Thrisca bingung.


"Jadi, Ron juga akan datang?" tanya Thrisca.


"Tentu saja. Ron akan menjadi kepala keluarga selanjutnya di keluarga besar kita. Bocah nakal itu pasti datang. Kau sudah merindukan anak itu?" goda Nyonya Daisy.


"Me-merindukan apa? Ron baru saja mengomel padaku, Bu." ujar Thrisca lirih.


"Ada apa? Kalian bertengkar?" tanya ibu mertua Thrisca.


"Hanya pertengkaran kecil. Sepertinya Ron mulai kesal padaku.." ungkap Thrisca dengan wajah murung.


"Bocah bodoh itu benar-benar tidak bisa diandalkan!" gumam Nyonya Daisy kesal.


"Kau pulang saja ke rumah ibu. Ibu akan menjagamu," tawar Nyonya Daisy.


Thrisca hanya tersenyum tipis menanggapi tawaran ibu mertuanya. Wanita itu segera bersiap mengenakan gaun yang sudah disiapkan oleh Nyonya Daisy.


Wanita hamil itu masih nampak ramping dengan gaun sederhana berwarna putih yang dipilihkan oleh ibu Ron.


"Wah, Thrisca kau cantik sekali! Gaunnya tidak kekecilan, kan?" puji Nyonya Daisy.


"Gaunnya sangat pas," ujar Thrisca dengan senyum sumringah.


"Hari ini ibu akan mengenalkanmu pada keluarga inti." terang Nyonya Daisy.


"Keluarga inti?"


"Hanya ada keluarga dari tiga istri kakek yang belum kau temui. Tidak perlu gugup."


"Ba-bagaimana kalau mereka menanyakan tentang penampilanku? Tampilanku sangat berbeda dengan tampilan yang mereka lihat saat pernikahanku."


"Ibu akan menjelaskan pada mereka. Bagaimana dengan alasan diet ketat?" usul Nyonya Daisy.


"Maaf, Bu. Sikap konyolku dulu membuat ibu kerepotan.." sesal Thrisca.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ibu akan memikirkan alasan yang bagus." ujar Nyonya Daisy mencoba menenangkan sang menantu yang tengah berbadan dua itu.


***


Kediaman Nyonya Aswinda nampak ramai dengan anggota keluarga yang mulai berdatangan.


Genta yang sudah tiba di rumah nenek Ron, langsung masuk dengan santai mencari kamar yang ditempati oleh Thrisca.


"Gendut!"


Genta berkeliling kediaman Nyonya Aswinda tanpa rasa sungkan.


Sepupu Ron itu mengetuk setiap kamar yang ia lihat untuk menemukan keberadaan Thrisca.


"Mas Gen.." panggil Thrisca seraya membuka pintu kamarnya begitu ia mendengar suara Genta.


Genta langsung berlari girang menghampiri Thrisca dan masuk ke dalam kamar istri sepupunya itu.


"Gendut, Ron sudah gila! Aku ingin menginap di sini saja! Suamimu menyuruhku kerja rodi semalaman mencari cincin!" rengek Genta seraya memeluk erat Thrisca.


Thrisca hanya tertawa kecil seraya menepuk-nepuk punggung Genta untuk menghibur iparnya yang merana itu.


"Ron memang gila, kan?" komentar Thrisca diselingi gelak tawa.


"Aku merindukanmu, Gendut! Rumah sepi tanpamu. Ron terus mengomel dan membuat kepalaku pusing," rengek Genta lagi.


Genta nampak seperti bayi besar yang tengah mengadu pada sang ibu yang tidak ada di rumah. Thrisca tidak bisa berhenti tertawa melihat wajah merana Genta.


"Kau baik-baik saja kan, Thrisca?"


Genta menarik tangan Thrisca dan mendudukkan wanita itu di ranjang kamar yang ditempati oleh iparnya itu.


"Aku baik. Nenek Ron sangat baik padaku," ujar Thrisca.


"Bagaimana dengan Ron? Dia tidak berencana membawamu kabur dari sini?"


"Mas Gen, kau dan Ron benar-benar sehati. Ron hampir saja menyusup kemari untuk membawaku pergi,"


"Benarkah? Dasar bocah bodoh,"


Genta tertawa geli mendengar sang sepupu yang berencana menculik istrinya sendiri dari sang nenek.


"Gendut, ayo besok kita ke taman bermain.." ajak Genta.


"Taman bermain?"


"Kau sendiri yang memintanya sebagai hadiah ulang tahun, kan? Aku akan menggendongmu keliling taman.." ujar Genta seraya mengacak-acak rambut Thrisca.


"Benarkah?" sambut Thrisca dengan mata berbinar.


"Gendut, maukah kau berkencan denganku? Sekali saja." pinta Genta.


"Kau tidak malu pergi bersama wanita norak sepertiku?!" sindir Thrisca.


"Aku.. aku mungkin akan pulang." ungkap Genta dengan senyum kecut.


"Pulang? Pulang kemana?" tanya Thrisca.


"Pulang ke negaraku. Ke rumah nenekku. Ibuku mendesakku untuk pulang,"


"Bukankah ibu Mas Gen juga punya rumah di sini? Kenapa harus pulang ke luar negeri?" tanya Thrisca dengan wajah tak rela.


"Kenapa? Kau tidak rela aku pulang?" goda Genta.


"Mas Gen, aku tidak sedang bercanda--"


"Ibuku ingin aku segera menikah." potong Genta.


"Menikah? Itu berita yang bagus, Mas Gen.." sambut Thrisca dengan girang.


Genta nampak kecewa melihat wajah berseri Thrisca yang nampak senang mendengar berita pernikahannya.


"Sepertinya aku memang tidak memiliki kesan apapun di hatinya.." batin Genta kecewa.


"Kau.. sesenang itu mendengar berita pernikahanku? Kau tidak kesal, aku akan direbut wanita lain?" goda Genta dengan candaan untuk menutupi wajah pilunya.


"Kesal! Sangat kesal! Aku tidak akan bisa berkencan dengan bebas bersama Mas Gen lagi," balas Thrisca dengan gurauan.


"Boleh aku memelukmu lagi?" pinta Genta.


Tanpa menunggu jawaban dari Thrisca, Genta langsung mendekap erat istri dari sepupunya itu. Thrisca ikut membalas pelukan Genta tak kalah erat.


"Mas Gen, aku selalu mendoakan kebahagiaanmu. Kau adalah kakak impianku. Semoga kau bahagia dengan pernikahanmu," ujar Thrisca.


Genta menenggelamkan wajahnya pada tengkuk Thrisca. Dekapan erat Thrisca bagai pelukan perpisahan bagi cinta Genta yang tak terbalas pada istri sepupunya itu.


"Selamat tinggal cintaku.." batin Genta dengan wajah muram.


***


Bersambung...