
"Ayo, Tuan Ron. Aku harus mengenalkanmu pada keluargaku. Aku juga harus menemui pengacara untuk mengurus seluruh aset ayahku." ajak Katrina pada Ron.
"Hari ini.. hari pemakaman ayahmu?" tanya Ron penuh hati-hati.
"Akan ada ibu tiriku dan paman-pamanku di sana. Aku akan mengumumkan pernikahanku tapi aku tidak akan mengeksposmu ke media." ungkap Katrina.
"Setelah ini aku harus kembali ke negaraku. Kau urus sendiri sisanya."
"Itu.. bolehkah aku ikut denganmu?" tanya Katrina takut-takut.
"Ck, apa lagi yang kau ingin--"
"Aku butuh perlindunganmu.." ujar Katrina lirih.
"Aku bukan satpam maupun petugas keamanan! Cari saja bodyguard! Kau mempunyai banyak uang, kan?!"
"Tolong, Tuan! Mereka bisa curiga jika kau meninggalkanku sendiri di sini," rengek Katrina.
Ron berdecak kesal tanpa bisa menghajar wanita menyebalkan yang kini berdiri di hadapannya.
"Hanya dua minggu! Dalam waktu dua minggu kau harus menemukan pria lain!"
"Tuan, bagaimana aku bisa mencari suami seumur hidup hanya dalam waktu dua minggu?! Apa kau juga bertemu secepat itu dengan istri yang kau cintai sekarang?!"
"Jangan berani menyebut-nyebut istriku! Lakukan saja apapun yang kau mau, tapi jangan berani sentuh istriku!" sentak Ron.
"Istrimu benar-benar wanita yang beruntung. Kau sekasar ini pada orang lain, tapi sikapmu benar-benar berbeda saat kau berhadapan dengan istrimu." ujar Katrina lirih.
"Jangan harap aku akan memperlakukanmu sama dengan istriku! Hanya wanita istimewa di hatiku yang akan kuperlakukan seperti ratu."
"Ron kau benar-benar suami idaman." batin Katrina.
"Cepatlah sedikit! Aku harus cepat-cepat pulang menemui istri dan anakku!" omel Ron seraya berjalan tergesa-gesa menuju kendaraannya.
***
Thrisca terus melirik ke arah arlojinya dan celingukan di sekitar bandara.
Setelah Ron memberikan kabar akan pulang, wanita itu dengan antusias menjemput sang suami meskipun waktu masih menunjukkan pukul dua dinihari.
"Nona, kita pulang saja. Tuan akan marah jika melihat Nona menunggu di sini," bujuk supir rumah Ron pada Thrisca.
"Sebentar lagi Ron pasti datang. Aku akan menjelaskan semuanya padanya."
"Tapi, Nona--"
"Itu Ron!" teriak Thrisca kegirangan begitu ia melihat sosok sang suami yang telah muncul.
Tak jauh dari Ron, nampak seorang wanita berjalan di belakang Ron seraya mendorong troli yang penuh dengan koper dan tas besar.
Suami Thrisca itu nampak tidak mempedulikan istri keduanya yang kelimpungan membawa banyak barang.
"Ron.." panggil Thrisca seraya berlari ke arah sang suami.
Ron mengerjapkan mata dan terkejut bukan main melihat kedatangan sang istri yang hadir untuk menjemputnya di tengah malam.
Pria itu berlari kencang menghampiri sang istri dan bersiap untuk menyemburkan omelan garangnya pada wanita hamil kesayangannya itu.
"Sayang, apa yang kau laku--"
Thrisca langsung membungkam mulut Ron dengan ciuman, sebelum pria itu mengomel panjang lebar padanya.
"Aku sangat merindukanmu, Ron." ujar Thrisca seraya mendekap erat tubuh sang suami.
Pria itu segera menoleh ke arah Katrina dan mengisyaratkan wanita itu untuk segera pergi menjauh darinya.
"Jadi, itu istri Ron? Terlihat biasa saja. Kupikir wanita seperti apa yang begitu dicintai oleh pria perfeksionis seperti Ron. Ternyata hanya wanita berwajah standar." batin Katrina meremehkan.
"Aku juga sangat.. sangat merindukanmu." balas Ron seraya memagut mesra bibir sang istri.
Katrina yang berdiri mematung agak jauh dari Ron, mulai risih melihat pasangan suami-istri itu berpagut mesra.
"Istri pertama Ron sepertinya tidak ada apa-apanya. Kenapa Ron begitu tergila-gila pada wanita itu?" batin Nona Muda keluarga kaya itu.
Tanpa mempedulikan Katrina, Ron langsung pergi meninggalkan bandara bersama sang istri.
Ron sendiri yang menyetir kendaraannya untuk pulang bersama istrinya, sementara pria itu hanya meninggalkan supir untuk membawa Katrina mencari penginapan.
"Ron, kenapa kau meninggalkan Pak Yoyo di bandara? Kau pasti lelah, kan? Biarkan saja Pak Yoyo yang menyetir." tegur Thrisca.
"Aku, em.. aku hanya ingin berkendara bersamamu. Bagaimana kalau kita menginap di hotel dekat sini?" ajak Ron.
"Lalu bagaimana dengan Pak Yoyo? Bagaimana Pak Yoyo bisa pulang?"
"Ada mobilku di bandara, Sayang. Tidak perlu khawatir.
"Baiklah, kita menginap saja dulu. Kau harus istirahat."
***
Ron membeku seketika saat ia berpapasan dengan Katrina. Pria beristri dua itu secara kebetulan bertemu dengan sang istri kedua di hotel yang sama.
Aww!
"Sayang, apa yang--"
"Jadi, ini alasanmu mengajakku ke hotel? Agar kau bisa tebar pesona dengan wanita-wanita cantik di sini?!" gerutu Thrisca dengan wajah cemberut.
"T-tebar pesona apanya? Aku hanya.. hanya melihat pintu itu." elak Ron.
"Alasanmu jelek sekali! Aku tidak mau menginap di sini!"
"Sayang, jangan marah.. kita pindah ke hotel lain saja," bujuk Ron pada istri hamilnya yang tengah merajuk.
"Padahal aku hanya istri yang tidak diakui. Kenapa rasanya tidak nyaman sekali melihat Ron bersama dengan wanita lain?" gumam Katrina.
"Sayang, aku tidak melihat wanita itu tadi! Aku bahkan melempar tatapan sinis padanya. Tapi dia sendiri yang tersenyum-senyum seperti orang gila padaku!" ujar Ron masih mencoba membujuk sang istri.
Thrisca masih diam tanpa menanggapi ucapan sang suami. Suasana hati wanita itu semakin mudah berubah-ubah semenjak masa kehamilannya.
Ron terus saja mengoceh selama mereka mencari hotel baru. Pria itu bahkan masih diabaikan oleh sang istri hingga mereka terbaring di ranjang hotel.
"Sayang, sampai kapan kau akan mendiamkanku?" rengek Ron dengan wajah memelas.
"Hanya bertatapan dengan wanita gila itu saja, Icha sudah semarah ini. Bagaimana kalau Icha tahu wanita itu sudah mendaftarkan pernikahan denganku?" batin Ron kacau.
"Ya sudah, istirahat saja. Aku tidak akan mengganggu,"
Ron mendekap erat sang istri yang memunggunginya dan mengecup tengan sang istri bertubi-tubi sebelum memejamkan mata.
Thrisca melirik ke arah sang suami dan memandangi wajah Ron yang sudah memejamkan mata.
Wanita itu mengusap lembut wajah Ron yang hanya berpura-pura tidur.
Merasakan sentuhan hangat dari tangan sang istri, Ron pun segera membuka mata dan mendapati sang istri tengah mengecup keningnya.
Thrisca yang ketahuan mengecup kening sang suami, segera menyingkirkan bibirnya dari wajah Ron dan mencoba membuat-buat alasan tidak masuk akal.
"Em, t-tadi ada nyamuk di keningmu! A-aku hanya ingin memukulnya!" jelas Thrisca dengan terbata-bata.
Ron tersenyum kecil melihat sang istri yang salah tingkah. Pria itu memeluk erat pinggang sang istri seraya membalas kecupan Thrisca di bibir ranum wanita hamil itu.
"Kau mengerjaiku?!" tanya Ron seraya merayapkan tangan, masuk ke dalam kemeja sang istri.
"M-mengerjai apa? Aku benar-benar kesal padamu! Aku tidak suka kau menatap wanita lain seperti itu." ujar Thrisca seraya menepis tangan sang suami yang tengah menjamah tubuhnya.
"Menatap apanya? Satu-satunya wanita yang ingin kutatap hanyalah dirimu." bujuk Ron seraya menenggelamkan kepala ke leher jenjang sang istri.
"Aku.. tidak suka kau menghabiskan waktu terlalu lama di luar rumah. Terlalu banyak wanita cantik yang berlalu-lalang di dekatmu." gerutu Thrisca lirih.
"Jarang sekali kau mengatakan hal seperti ini padaku.. sayang sekali, Nyonya Ron. Suamimu adalah pria tampan yang menawan. Jangan salahkan aku kalau para wanita terpesona padaku.." ujar Ron membanggakan diri.
"Aku dulu juga primadona di kampusku. Kau tidak ingat berapa banyak pria yang meminta foto padaku waktu itu?" balas Thrisca tak mau kalah.
"Kau sengaja ingin memancing amarahku?!" omel Ron seraya melayangkan pagutan liar ke bibir merah sang istri.
Suami Thrisca itu membuka kancing kemeja sang istri seraya meremass kasar buah ranum milik sang istri dan menggigiti pucuk gunung kembar wanita itu dengan rakus.
"Sshhh.. Ron, sakit.." ujar Thrisca dengan suara bergetar.
Pria itu melepas gigitannya dan mengubahnya menjadi jilatan serta isapan lembut.
"A-aku tidak akan berkata seperti itu lagi.." sesal Thrisca.
"Kau masih kesal karena wanita tadi? Maaf, Sayang.. jangan marah lagi padaku." rengek Ron seraya mendekap erat tubuh mungil wanita hamil itu.
"Aku.. tidak benar-benar marah, Ron. Rasa rinduku lebih besar daripada rasa kesalku. Aku benar-benar merindukanmu, Ron. Aku tidak bisa tidur tanpamu beberapa hari ini.." ujar Thrisca dengan wajah memerah.
"Benarkah? Seharusnya aku yang bilang begitu padamu. Aku yang tidak bisa tidur beberapa hari ini tanpamu.." ujar Ron seraya melucuti pakaian sang istri.
"Ron, aku sedang hamil. Jangan terlalu sering melakukannya.." tegur Thrisca seraya mencubiti pinggang sang suami.
"Hanya main satu kali saja. Aku akan melakukannya selembut mungkin. Aku ingin mengunjungi biji kacangku. Boleh, kan?" pinta Ron seraya melempar senyum nakal.
***
Bersambung...
...TERIMA KASIH UNTUK LIKE, VOTE, FAVORIT DAN KOMENTARNYA...
...CERITA INI CUMA BAKAL JADI PAJANGAN TANPA KALIAN ❤️❤️❤️...
...Mau sekalian promo, kali aja ada yang baca komik di Mangatoon. Melipir dong ke komik receh author MY CHARMING DADDY masih dengan genre romance comedy....
ditunggu jejaknya 🤗
SALAM HANGAT,
KINOSANN