
Thrisca membuka pintu kamar seraya membawa minuman manis untuk menghibur Ron.
Pria yang berjongkok di lantai itu segera mengusap matanya yang masih memerah dan melempar senyum pada istri tercintanya.
"Sudah kau baca semua? Apa kakek meninggalkan berkas-berkas penting padamu?" tanya Thrisca.
"Tidak ada yang penting!" jawab Ron cuek.
Wanita itu segera meletakkan cangkir minuman ke atas nakas dan berhambur masuk ke dalam pelukan Ron.
"Kau masih memiliki aku, Ron." ujar Thrisca lirih.
"Kenapa kau tiba-tiba--"
"Kami bertiga akan selalu mendukungmu.." potong Thrisca.
Ron membalas pelukan sang istri dengan dekapan erat. Pria itu mengecupi pucuk kepala sang istri bertubi-tubi seraya mengusap lembut perut Thrisca yang berisi calon anak kembar mereka.
"Aku sangat beruntung memiliki kalian bertiga." gumam Ron penuh haru.
"Kami mencintaimu, Ron. Jangan simpan semua beban sendiri!"
"Aku tidak menyimpan apapun." kilah Ron.
"Baiklah, kau memang hebat dan tidak butuh bantuan siapapun." sindir Thrisca.
"Aku memang tidak bisa membantu. Tapi.. bisakah kau sedikit mengandalkanku? Aku juga ingin menjadi pelipur lara bagimu, Ron." ujar Thrisca.
"Aku selalu mengandalkanmu, Sayang. Kau pikir siapa yang membuatku terus bertahan hingga hari ini? Aku hanya membutuhkan kehadiranmu. Keberadaanmu saja sudah cukup membantuku."
"Benarkah aku sepenting itu?"
"Kau lebih dari penting.."
Ron mengecup lembut bibir sang istri dan beralih mengecupi perut istri hamilnya itu.
***
"Ron, kau akan membawaku kemana? Bagaimana dengan Katrina? Kau benar-benar sudah menyuruh orang untuk mencarinya, kan?"
"Tidak perlu mencemaskan Katrina. Aku ingin kau menghabiskan waktu hanya dengan melihatku hari ini." ujar Ron seraya mengecupi tangan sang istri.
Mobil yang ditumpangi pasangan suami-istri itu berhenti di salah satu butik terkenal pusat kota.
"Kenapa kita ke sini, Ron?"
"Maaf aku terlambat. Setelah satu tahun menikah, aku baru membelikan gaun pengantin yang layak untukmu." ungkap Ron.
"Apa?"
"Kemarilah, Sayang. Kau akan menjadi pengantin paling cantik hari ini.."
Ron menggandeng tangan sang istri masuk ke dalam bangunan butik.
Suami Thrisca itu berencana mengajak sang istri berfoto pasca wedding karena mereka tidak memiliki foto pernikahan.
Mereka hanya memiliki beberapa foto, itu pun ketika Thrisca mengenakan baju pengantin disaat ia masih berpura-pura menjadi gadis gemuk dan Ron masih berpura-pura lumpuh.
Pasangan suami-istri itu belum memiliki satupun foto pernikahan yang layak setelah satu tahun pernikahan mereka.
Thrisca mulai bersiap dengan gaun dan riasan pengantin.
Ron pun ikut memilih setelan jas dan mempersiapkan diri untuk berfoto bersama sang istri.
Begitu Thrisca selesai berias, Ron yang juga sudah siap mengenakan jas langsung menoleh dengan antusias ke arah sang istri.
"Kenapa menatap seperti itu, Ron? Apa aku terlihat gendut? Perutku memang mulai membuncit sedikit karena ada dua bayi di sini." gerutu Thrisca.
Ron masih tetap diam tak menanggapi ocehan Thrisca. Pria itu terus memandangi sang istri yang sudah terbalut gaun pengantin putih nan seksi.
"Ron, aku tidak cocok memakai gaun ini? Aku terlalu gemuk kan untuk gaun ini?! Aku lepas sa--"
Pria itu menarik tangan sang istri sembari menempelkan jari telunjuk ke bibir merona Thrisca yang sudah terpoles lipstik merah.
"Sudah kubilang, kau akan menjadi pengantin paling cantik." ujar Ron seraya mengecup punggung tangan sang istri.
Thrisca langsung mendorong tubuh Ron begitu pria itu mulai mendekat dan hendak mengecup bibirnya.
"Ron, lipstikku bisa menempel di bibirmu.." tolak Thrisca halus dengan suara lirih berbisik. Bagaimanapun juga Thrisca tidak ingin menjadi tontonan di tempat yang penuh dengan pegawai butik itu.
Ron mendengus kesal dan beralih pada perut sang istri. Karena tak dapat mengecup sang mommy, Ron pun memilih untuk mengecupi perut sang istri yang kini berisi malaikat kembarnya.
"Sayang, mommy kalian benar-benar pengantin yang cantik." puji Ron sembari berbicara pada perut Thrisca.
"Ron, jangan bertingkah konyol! Kau tidak malu menjadi bahan tontonan orang," bisik Thrisca.
"Kenapa kau masih saja malu-malu?"
Ron tak segan-segan melayangkan kecupan ke leher jenjang Thrisca tanpa menghiraukan ocehan protes istrinya itu.
"Ron!" sentak Thrisca mencubit pinggang Ron.
"Aku hanya bercanda," rengek Ron seraya mengusap-usap pinggangnya.
Pasangan suami-istri itu pun melanjutkan sesi kencan mereka dengan berfoto bersama.
"Kau suka gaunnya?" bisik Ron sembari berpose bersama sang istri.
"Suka. Tapi sepertinya gaun ini hanya cocok untuk wanita cantik," jawab Thrisca.
"Kau benar. Itik jelek sepertimu tidak perlu membutuhkan gaun seperti ini," cibir Ron.
"Kau mengakui kalau seleramu jelek?"
"Aku juga tidak tahu sejak kapan seleraku menjadi sejelek ini,"
"Ron, kau jujur sekali." ujar Thrisca dengan wajah manyun.
"Senyum, Sayang. Kau akan membuat foto kita menjadi tambah jelek," ledek Ron.
"Aku juga tidak mengharapkan foto bagus, modelnya terlalu jelek jadi--"
Ron langsung membungkam mulut ibu hamil itu dengan ciuman sebagai pose terakhir untuk sesi foto mereka.
***
Thrisca berbaring di ranjang seraya memainkan ponselnya dengan antusias untuk melihat hasil fotonya bersama Ron mengenakan gaun pengantin.
Wanita itu tak henti-hentinya tersenyum menatap foto-fotonya bersama sang suami dengan busana yang sudah ia impi-impikan.
"Apa semua wanita benar-benar sesuka itu dengan gaun pengantin?" ledek Ron melihat sang istri yang terus memandangi ponsel.
"Bagimu mungkin ini hanya foto, tapi untukku ini adalah kenangan sekali seumur hidup." balas Thrisca.
"Kau sudah memiliki model aslinya di sini, kenapa masih saja menatap foto?!" omel Ron merebut benda kotak itu dari tangan Thrisca.
"Ron! Aku belum selesai melihat!" protes Thrisca.
"Sudah malam, Sayang. Waktunya istirahat," tegur Ron.
Thrisca mendengus kesal dan segera merapikan bantalnya. Wanita itu menarik selimut tebalnya dan mulai bersiap berkelana ke alam mimpi.
"Ron, tolong usap perutku.." rengek Thrisca seraya memeluk manja sang suami yang terbaring di sampingnya.
"Kenapa? Kau masih mual?" tanya Ron mulai mengusap lembut perut wanita hamil itu.
"Tidak. Mualku sudah mulai berkurang," ujar Thrisca.
"Sepertinya berat badanku bertambah banyak." gerutu Thrisca.
"Memangnya kenapa?"
"Bagaimana kalau aku obesitas lagi seperti saat aku remaja?" rengek Thrisca.
"Sayang, beratmu hanya akan naik sewajarnya seperti ibu hamil lainnya. Untuk apa mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu,"
"Sayang, apa menurutmu Katrina cantik?" tanya Thrisca.
"Apa?"
"Ron, aku hampir lupa dengan Katrina! Bagaimana Katrina sekarang, Ron?!"
Terlalu bahagia dengan sesi foto bersama sang suami, hampir saja membuat Thrisca lupa bahwa saat ini ia dan Ron memiliki nona muda yang harus mereka jaga.
"Sudahlah, aku sudah menyuruh orang untuk mengurus gadis itu. Lagipula dia bukan anak-anak lagi." ujar Ron cuek.
"Kau sudah menemukan gadis itu? Bagaimana kalau terjadi--"
Ron langsung membekap mulut sang istrinya dengan tangan untuk menghentikan ocehan ibu hamil itu.
"Katrina akan baik-baik saja. Aku akan mengurusnya,"
"Kemarin malam Katrina menangis sendirian di kamar, Ron." ungkap Thrisca.
"Hem." jawab Ron singkat dengan mata sudah tertutup.
"Jangan terlalu ketus padanya, Ron. Kasihan Katrina. Dia pasti sangat merindukan ayah dan keluarganya."
"Hem."
"Sebenarnya aku juga kesal pada Katrina. Terkadang dia sangat menyebalkan hingga aku ingin sekali memukulnya. Aku benar-benar menyesal sudah menampar Katrina. Dia pasti sangat marah padaku," ujar Thrisca dengan wajah muram.
"Hem."
Ron mulai terlelap mendengarkan ocehan sang istri. Tangannya berangsur-angsur menyingkir dari perut Thrisca dan pria itu mulai berkelana ke alam mimpi.
"Aku benar-benar tahu bagaimana perasaan Katrina sekarang. Hanya saja aku lebih beruntung. Katrina mungkin seorang nona muda yang memiliki banyak uang, tapi dia tidak seberuntung aku yang memilikimu disaat duniaku runtuh." ujar Thrisca panjang lebar.
"..."
"Ron?"
Thrisca mendongakkan wajah dan melihat suaminya sudah tertidur pulas.
"Ron, usap perutku lagi!" rengek Thrisca seraya mengguncang-guncangkan tubuh pria yang sudah terlelap itu.
"Hm? Em, iya iya.." racau Ron terbangun dan kembali mengusap perut sang istri.
"Ron, bagaimana kalau kau carikan calon suami saja untuk Katrina? Teman-temanmu masih ada yang lajang, kan?" ujar Thrisca mengajak Ron kembali berbincang.
"Hem,"
Tangan Ron kembali berhenti mengusap perut Thrisca dan matanya kembali terpejam pulas.
"Ron, usap perutku.. anakmu ingin disentuh olehmu, Ron." rengek Thrisca lagi.
"Iya iya, Sayang."
Tidur Ron kembali kacau karena rengekan sang istri. Kepala pria itu mulai pening mendengar ocehan Thrisca yang terus saja mengganggu tidurnya.
"Ron, bagaimana kalau besok kita mengunjungi nenek dan ibu? Sudah beberapa hari ibu tidak mengunjungiku." ujar Thrisca.
"..."
"Ron! Usap perutku lagi! Kenapa kau tega sekali tidur lebih dulu?! Aku tidak bisa tidur, Ron!" omel Thrisca.
"Iya iya, Sayang. Maaf, ya?" racau Ron dengan mata tertutup.
"Kalau begitu aku tidur sendiri saja di kamar lain!" ujar Thrisca mulai merajuk.
Ron langsung mendekap erat tubuh sang istri meskipun mata pria itu masih terpejam. Pria itu nampak memaksakan diri menggerakkan tubuhnya meskipun rasa kantuk sudah hampir menguasai otak dan badannya.
"Di sini saja, Sayang. Maaf, ya? Aku usap lagi perutnya," bujuk Ron kembali mengusap perut sang istri meskipun pria itu masih menutup mata.
"Aku tidak bisa tidur, Ron. Jangan tidur dulu,"
"Iya iya, Sayang. Aku tidak tidur," jawab Ron asal dengan suara lirih.
Sepanjang malam Thrisca terus merengek hingga membuat Ron tidak mendapat istirahat yang tenang.
Calon daddy itu terus terbangun berkali-kali dan harus mengusap perut sang istri hingga Thrisca akhirnya bisa terlelap saat hari sudah menjelang pagi.
"Sudah jam tiga pagi.. kalau setiap hari seperti ini, aku akan berubah menjadi zombie." rengek Ron pelan.
***
Bersambung...