
Ron membaringkan tubuhnya di ranjang seraya mendekap istri cantiknya dalam pelukannya.
Pria itu ingin sekali melakukan hal "itu" bersama sang istri, namun sayang ia terlalu lelah untuk menggerakkan tubuhnya. Lagi-lagi Ron harus merelakan malam pertamanya bersama sang istri kembali tertunda.
Sebelum kembali, Ron bergegas menyelesaikan pekerjaan dan langsung terbang pulang ke negara tempat tinggal sang istri. Setelah melakukan perjalanan selama berjam-jam, Ron masih harus berdiri di depan pintu kamarnya sendiri sejak dini hari hingga pagi menjelang karena ia takut akan mengganggu istirahat sang istri jika ia masuk ke dalam kamar.
"Ron, kenapa kau berdiri di depan pintu? Ini kamarmu, kan? Masuk saja! Kau jadi kelelahan sendiri seperti ini, kan?!" omel Thrisca seraya mengusap-usap rambut sang suami yang terbaring disampingnya.
"Kau masih marah padaku. Mana mungkin aku berani masuk ke kamar," jawab Ron lemas.
"Kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Istirahatlah. Akan kubuatkan makan siang untukmu,"
Thrisca hendak bangkit dari ranjang namun Ron masih melilit tubuh sang istri dengan erat.
"Ron, ayolah! Sudah kelelahan seperti ini kau masih saja menahanku," protes Thrisca.
"Temani aku disini, gendut. Aku pulang lebih cepat karena aku merindukanmu. Jangan tinggalkan aku," ujar Ron masih dengan suara lemas.
"Baiklah. Berhentilah berbicara dengan suara menyedihkan seperti itu."
Thrisca menepuk-nepuk punggung sang suami untuk menidurkan bayi besar itu.
"Wajah Ron terlihat pucat. Dia pasti sangat kelelahan," gumam Thrisca.
***
Lilian mengemasi barangnya dan bersiap meninggalkan rumah sakit. Setelah berbaring selama berhari-hari di rumah penuh obat itu, akhirnya wanita itu bisa menghirup udara segar kembali.
"Sudah siap?" tanya Nyonya Daisy yang setia menemani Lilian.
"Bibi, aku menginap di hotel saja. Ron pasti akan marah padaku jika aku muncul di rumahnya," ujar Lian.
"Anak nakal itu sudah berani membawa wanita tinggal di rumahnya! Kalau Thrisca bisa masuk ke rumah Ron, maka kau juga berhak berkunjung kesana."
Ibu mertua Thrisca itu sudah membulatkan tekad membawa Lilian untuk tinggal di rumah sang putra yang sebenarnya. Nyonya Daisy masih kesal dengan sikap Ron yang membawa Thrisca masuk ke dalam rumah yang tidak pernah menerima tamu wanita dari luar itu.
"Bibi, aku tidak ingin memancing pertengkaran dengan Ron. Ron benar-benar tidak mengijinkan sembarang orang masuk ke rumahnya." Lilian masih mencoba menolak.
Wanita itu memang kesal dan kecewa pada Ron yang membawa Thrisca ke rumahnya. Namun jika ia ikut hadir di rumah kesayangan Ron tanpa seijin sang pemilik, pria itu hanya akan semakin membencinya.
"Kalau begitu kembalilah ke rumah yang ditempati Thrisca sebelumnya. Bibi akan menyuruh Ron untuk mengunjungimu," ujar Nyonya Daisy menyerah.
"Tidak perlu memaksa Ron, Bibi. Aku sendiri yang akan mencari cara untuk menghubungi Ron," cegah Lilian.
"Lian, terimakasih kau masih mau menunggu Ron. Aku tahu putraku sekarang hanya pria lumpuh yang angkuh. Aku akan membujuk Ron untuk berobat secepatnya agar kakinya bisa berjalan normal kembali," ujar Nyonya Daisy.
Wanita paruh baya itu sudah tidak tahan lagi melihat putranya yang lumpuh ditambah lagi dengan menantu yang berpenampilan aneh.
Bagaimanapun juga Daisy adalah nyonya dari keluarga terpandang di kota itu. Wanita itu tidak bisa terus menundukkan kepalanya karena malu memiliki putra yang cacat serta menantu berbadan gempal.
"Bibi akan mencoba menghubungi Ron. Mungkin anak itu akan pulang dalam beberapa hari. Coba kau bujuk Ron dengan hadiah atau sesuatu yang ia suka. Jika kau menghabiskan waktu sesering mungkin bersama Ron, bocah itu pasti akan segera memaafkanmu," hibur Nyonya Daisy.
"Baik, Bi. Terimakasih atas perhatian Bibi."
"Bibi akan memastikan lagi mengenai perceraian Ron dengan Thrisca. Kau tidak perlu cemas. Mereka akan bercerai secepatnya," ujar Nyonya Daisy.
***
Thrisca sibuk memotong-motong sayur di dapur ditemani Genta yang mengelap piring di meja makan. Sepupu Ron itu terus mengekor sang ipar yang tengah menyibukkan diri dengan bahan makanan.
"Mas Gen, kau senggang sekali. Apa kau tidak punya pacar yang bisa dikunjungi?" sindir Thrisca.
"Tidak usah mengejekku! Aku memang hanya seorang pengangguran yang hidup menumpang. Kau puas?!" gerutu Genta.
"Aku hanya bertanya," ujar Thrisca seraya tertawa kecil.
"Gendut, mana pakaian tebalmu itu? Rasanya aneh sekali melihat badan rampingmu. Aku lebih suka Thrisca gendut!" protes Genta.
"Aku akan memakainya sesekali untukmu," ujar Thrisca seraya melempar senyum manis ke arah Genta.
Wajah pria lajang itu langsung memerah saat mendapat senyuman manis dari seorang gadis cantik yang berdiri tak jauh darinya.
"Gendut, jangan tersenyum seperti itu! Karena wajah cantikmu itu aku jadi tidak bisa mengejekmu lagi! Aku sudah kehilangan hiburanku! Kembalilah menjadi Thrisca gendutku!" Genta mengguncang-guncangkan bahu mulus Thrisca seraya merengek bak anak kecil yang meminta mainannya dikembalikan.
"Mas Gen, menyingkirlah dariku! Jangan ganggu pekerjaanku!"
Thrisca mencoba menyingkirkan tangan Genta darinya.
Namun sebelum gadis itu berhasil menjauh dari Genta, Ron yang sudah bangun dari tidur segera menarik kerah baju Genta hingga pria itu tercekik.
"Apa yang kau lakukan pada istriku?!"
Ron menatap Genta dengan mata garang.
"A-aku tidak melakukan apapun!"
Genta segera menjauh dari Thrisca begitu sang pemilik gadis itu muncul.
"I-itu, Mas Gen sudah tahu yang sebenarnya." jawab Thrisca takut-takut.
"Benarkah?! Apa dia mengintipmu di dalam kamar? Karena itu kau bisa ketahuan secepat ini?!" selidik Ron seraya melotot ke arah Genta.
"Bukan seperti itu Ron. Sebenarnya ada sedikit kesalahpahaman antara kita bertiga," Thrisca hendak menceritakan mengenai dirinya yang kesal pada Ron karena mengira suaminya itu memiliki simpanan.
"Memangnya ada masalah apa antara kau dan Gen?" tanya Ron seraya mengerutkan keningnya.
"Mas Gen bilang padaku kalau dia melihat seorang wanita masuk ke ruangan kerjamu di kantor." ujar Thrisca memulai cerita.
"Kapan aku melakukan hal itu! Gen kau jangan berbicara macam-macam pada istriku!"
Ron sudah siap menghajar sepupunya itu namun Thrisca segera menahan sang suami dengan memeluk erat tubuh pria yang tengah dilanda kemarahan itu.
"Ron, dengarkan dulu sampai selesai!" ujar Thrisca dongkol.
Genta hanya bisa memasang wajah penuh cengiran kuda menanggapi cerita dari Thrisca.
"Kukira kau benar-benar membawa simpananmu ke kantor. Jadi aku agak kesal dan mengabaikanmu selama beberapa hari kemarin. Maafkan aku," lanjut Thrisca.
"Simpanan apanya?! Aku terus menemanimu di rumah dan aku baru saja kembali ke kantor selama satu hari!" bela Ron.
"Iya, aku tahu. Aku sudah meminta maaf kan? Ceritaku belum selesai," ujar Thrisca yang masih melilitkan tangan di tubuh suaminya.
"Ternyata wanita yang dilihat Mas Gen itu adalah aku. Mas Gen mengira aku wanita lain karena dia tidak tahu penampilan asliku. Aku seharusnya bertanya dulu padamu sebelum merajuk tidak jelas. Maaf ya, Tuan.."
Thrisca mencoba membujuk sang suami.
"Sudah kubilang menjauhlah dari Gen! Kebodohannya jadi tertular kepadamu kan!" tukas Ron seraya mencubit pipi sang istri.
"Itu bukan sepenuhnya salahku! Jika aku tahu penampilan asli si gendut, aku juga tidak akan salah paham seperti ini!"
Genta mencoba membela diri.
"Dasar kau mulut ember! Tukang mengadu! Jangan berbicara omong kosong lagi pada istriku!"
Ron kembali mengamuk dan hendak mengejar Genta untuk memberi pelajaran pada sepupunya itu.
"Ron, sudahlah! Sudah tidak ada kesalahpahaman lagi. Kita juga sudah berbaikan,"
Thrisca memeluk lengan sang suami untuk mencegah pria itu mengejar Genta. Sementara sang pelaku yang menjadi target, sudah melarikan diri dan bersembunyi di kamar kecilnya.
"Kau pergi kemana saja dengan Gen?! Apa saja yang kau lakukan bersama Gen selama aku tidak ada?!" omelan Ron kini beralih pada Thrisca.
"Aku tidak melakukan apapun. Mas Gen membelikanku banyak makanan dan mengajakku berlibur ke pantai," ujar Thrisca dengan suara lirih.
"Kau seharusnya berkaca, siapa diantara kita yang memiliki simpanan! Kau menuduhku memiliki wanita lain, sedangkan kau sendiri bersenang-senang bersama pria lain!"
"Mas Gen bukan orang lain. Dia sepupumu kan? Keluargaku juga. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai pria," bela Thrisca.
"Gen tetaplah pria asing! Gendut, apa kau tidak tahu banyak pernikahan yang berakhir karena perselingkuhan dengan saudara ipar? Gen memang sepupuku tapi dia tetap pria lain bagimu."
"Kau pikir akan terjadi sesuatu antara aku dan Gen? Kau terlalu banyak menonton film,"
"Gendut, kau yang tidak tahu dunia luar! Jangan berpikir naif seperti itu! Gen tetap seorang pria! Aku tidak mengijinkanmu dekat-dekat dengan pengungsi itu!" larang Ron seraya menatap tajam ke arah sang istri.
"Baiklah. Aku mengerti. Maaf," ujar Thrisca lirih.
Ron mengusap rambut istrinya yang menampilkan wajah cemberut. Pria itu menghela nafas sejenak untuk menghilangkan kemarahannya dan berusaha berbicara dengan lembut pada sang istri.
"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud memarahimu," ujar Ron seraya mengusap lembut pipi halus istrinya.
"Ron, apa aku masih gadis menyebalkan yang hanya bisa membuatmu pusing?" tanya Thrisca dengan wajah murung.
"Apa maksudmu? Maaf aku tidak benar-benar ingin mengatakan hal itu. Aku hanya terlalu lelah saat itu. Maaf, Gendut.."
Ron tidak menyangka kemarahannya beberapa hari yang lalu masih membekas di pikiran sang istri.
"Kau tidak akan mencari istri baru dalam waktu dekat kan? Aku tidak akan bersikap menyebalkan seperti itu lagi," bujuk Thrisca.
"Istri apa? Untuk apa aku memiliki istri baru?!" tanya Ron bingung.
"Tidak usah berpura-pura lagi. Kakek dan ayahmu memiliki banyak istri, kan? Kau pasti tidak akan jauh berbeda dari mereka. Tolong beritahu aku dari jauh-jauh hari jika kau ingin menikah lagi, agar aku memiliki waktu untuk bersiap-siap." ujar Thrisca.
"Kau tahu dari mana ayahku memiliki banyak istri? Bersiap-siap untuk apa?"
"Mas Gen yang bilang. Aku sudah tahu sedikit tentang keluargamu. Saat kau sudah bertemu wanita idaman lain nanti, tentu saja aku harus bersiap-siap memulai lembaran hidup baru tanpamu. Aku tidak mau berbagi suami dengan siapapun. Kita bisa berpisah secara baik-baik setelah kau menemukan wanita lain yang ingin kau jadikan istri."
"Sayang, omong kosong apa yang kau bicarakan?! Kau pikir aku berniat menambah istri? Mengurus satu istri sepertimu saja sudah melelahkan," ujar Ron seraya memeluk erat tubuh langsing sang istri.
***
Bersambung..