DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 113



Thrisca dan Genta asyik berbincang di kamar, membaca satu-persatu komentar untuk Thrisca di media online. Wanita itu tidak bisa berhenti tersenyum saat membaca tulisan-tulisan netizen yang mengomentari penampilan rupawannya dalam foto dirinya yang bersanding dengan sang suami.


"Mas Gen, sepertinya reaksi orang-orang terlalu berlebihan. Aku tidak secantik itu," ujar Thrisca.


"Kenapa? Kau memang cantik, tidak perlu merendah seperti itu. Kau lihat sendiri, kan? Banyak yang mengatakan kalau kau cantik seperti pemain film.." ledek Genta.


"Mas Gen, berhentilah mengejekku!" omel Thrisca seraya memukul-mukul lengan sepupu Ron itu.


"Bagaimana kalau kau ikut casting film? Mungkin saja kau memiliki bakat terpendam." ejek Genta lagi.


"Mas Gen!"


"Icha.."


Suara Ron menggema di luar pintu kamar sang istri.


Pria itu segera membuka pintu dan mendapati sang istri tengah duduk berdua bersama Genta di dalam kamar. Wajah Ron yang semula berseri, berubah menjadi muram seketika saat ia melihat istrinya tengah bersama dengan sepupunya.


"Ron, kapan kau datang? Kau sudah menemukan cincinnya?"


Thrisca menghampiri sang suami dengan girang.


"Sudah." jawab Ron singkat. Manik mata pria itu sibuk melotot ke arah Genta yang nampak santai duduk di ranjang sang istri.


"Kita bisa pulang sekarang," ujar Ron dengan tatapan dingin mengarah pada Genta.


"Mas Gen, ayo kita pulang!" ajak Thrisca dengan semangat.


Ron segera memeluk sang istri dan berlalu terlebih dulu meninggalkan Genta.


"Nenek, aku pulang!" pamit Ron singkat pada Nyonya rumah.


"Eh, Thrisca mau kemana?"


Nyonya Aswinda mengejar Thrisca yang sudah berjalan keluar dengan tergesa-gesa bersama sang suami.


"Ron, kita harus berpamitan baik-baik pada nenek."


Thrisca menarik lengan Ron untuk menghentikan langkah pria itu.


Ron hanya diam tanpa menjawab perkataan sang istri. Kepala pria itu sudah penuh dengan amarah yang siap meledak pada sang sepupu, Genta.


"Kau bisa berbicara dulu pada nenek. Aku tunggu di mobil." ujar Ron datar.


"Ron, kau marah? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Thrisca cemas.


"Aku tidak apa-apa. Kau boleh berpamitan dulu pada nenek." ujar Ron seraya mendorong pelan sang istri untuk kembali masuk ke kediaman Nyonya Aswinda.


"Gen, bisa bicara sebentar?"


Perhatian Ron beralih pada Genta yang sudah siap memasuki mobil.


"Bicara di rumah saja.." balas Genta malas.


Ron menghampiri Genta dengan sorot mata tajam dan melempar tatapan dingin ke arah pria jangkung itu.


"Gen, aku sudah pernah memperingatkanmu! Aku akan membunuhmu jika kau berani macam-macam pada istriku!"


Ron berbicara dengan sinis dan mengintimidasi.


Genta terdiam tanpa bisa menjawab kata-kata Ron. Meskipun ia mengelak, Ron tetap akan menyadari gelagatnya yang telah lama menaruh hati pada istri sepupunya itu.


"Aku akan menikah, Ron. Kau juga mendengarnya, kan? Aku tidak akan berani merebut Thrisca darimu."


"Kapan? Dengan siapa? Bagaimana aku bisa menjamin kalau kau tidak akan mengganggu istriku?!" cecar Ron.


"Ron, jangan keterlaluan! Aku sangat menghormati dan menghargai istrimu. Dia sudah seperti adik bagiku, Ron. Apa salahnya jika aku menaruh perhatian lebih padanya? Aku hanya menganggapnya sebagai keluarga."


"Apa aku bisa mempercayai kata-katamu?!"


"Aku sudah memiliki calon pengantinku sendiri. Aku tidak serendah itu, Ron! Berhenti memperlakukanku seperti pria penggoda!" hardik Genta.


Untuk pertama kalinya sepupu Ron itu berani membentak dan melotot ke arah Ron. Biasanya Ron yang selalu mengomel dan menganiaya Genta, namun kali ini Ron harus menerima teriakan amarah dari sepupunya itu.


***


Berlin menatap ponsel mahalnya dengan wajah geram. Ibu dari Genta itu terus berdecak kesal melihat pemberitaan Ron dan sang istri yang lebih menyita perhatian.


Berlin nampak makin kesal saat melihat pemberitaan pernikahan sang putra yang tidak mengundang perhatian sedikitpun.


"Bu, apakah aku harus diam saja diinjak-injak seperti ini?! Genta, putraku juga cucu dari kelurga Diez. Kenapa hanya Ron yang diperlakukan seperti putra mahkota?!" pekik Berlin pada Nyonya Dewi yang tengah bersantai di ruangan yang agak jauh dari tempatnya duduk.


"Berlin, kau boleh saja kesal. Tapi jangan lakukan hal bodoh hanya untuk menarik perhatian! Jangan berani sentuh cucu Aswinda kalau kau tidak mau diusir oleh wanita gila itu!" tutur Nyonya Dewi.


"Jangan bodoh, Berlin! Menyingkirkan wanita itu tidaklah mudah! Kau tidak akan bisa melawannya."


"Semua ini tidak akan terjadi kalau Ron tidak ada, kan?! Ditambah lagi istri Ron tengah mengandung. Posisi pewaris berikutnya pasti akan jatuh pada anak Ron! Anakku selamanya hanya akan menjadi figuran di keluarga ini!"


"Sudahlah, Berlin. Tidak perlu membuang tenaga hanya untuk memperebutkan hak waris. Kita sudah hidup berkecukupan." nasihat Nyonya Dewi.


"Fokus saja persiapkan pernikahan Genta. Kita memerlukan saham tambahan dari pria tua itu secepatnya." tambah nenek dari Genta itu.


***


Ron dan Thrisca tengah bersiap di kediaman mereka untuk menghadiri acara relasi bisnis.


Thrisca membantu sang suami berdandan dengan mengenakan setelan jas. Istri Ron itu memasangkan dasi dengan telaten dan merapikan kembali rambut sang suami yang sudah tertata.


"Kau juga harus bersiap," ujar Ron pada sang istri yang masih mengenakan gaun rumahan.


"Aku masih menunggu penata rias yang diundang ibu. Mungkin sebentar lagi orangnya datang," jawab Thrisca mulai beralih mempersiapkan pakaian untuk dirinya.


"Kalau begitu, aku tunggu di luar."


"Ron.."


Thrisca menangkap pergelangan tangan sang suami sebelum pria itu berlenggang keluar dari kamar.


Ron menoleh ke arah sang istri, menatap manik mata bulat yang bersinar dari wanita tercintanya itu.


"Kau marah padaku? Kau mendiamkanku sejak aku pulang dari rumah nenek. Apa aku membuatmu kesal?" tanya Thrisca dengan wajah memelas.


Ron yang masih dilanda amarah pada Genta, tidak menyadari kalau dirinya juga mengabaikan sang istri. Rasa kesalnya pada Genta ikut berimbas pada Thrisca yang tidak tahu menahu mengenai pertengkarannya dengan sang sepupu.


"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu.."


Ron mendekap tubuh mungil sang istri seraya mengusap lembut rambut wanita cantik itu.


"Kalau aku salah, aku minta maaf, Ron. Tapi tolong jangan abaikan aku.."


"Bukan begitu. Aku yang salah. Maaf, aku benar-benar tidak sadar sudah mendiamkanmu.."


Thrisca melingkarkan kedua tangannya ke tubuh sang suami dan mendekap erat pria jangkung kesayangannya itu.


"Kau baik-baik saja kan, Ron? Kalau ada sesuatu yang mengusikmu, katakanlah padaku. Meskipun tidak bisa membantumu, aku bisa menemanimu berkeluh kesah.."


Ron menciumi kening sang istri bertubi-tubi. Betapa bahagianya pria galak itu bisa mendapat perhatian yang besar dari sang istri. Suasana hati pria tampan itu kini mulai bergantung pada istri cantiknya.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih, Sayang."


Ron melayangkan kecupan singkat ke bibir sang istri.


Pria itu berangsur-angsur lupa dengan rasa kesalnya pada Genta yang terus menempel pada istrinya. Wajah suram sang istri dan permintaan maaf dari istri hamilnya itu berhasil membuat amarahnya luluh, berganti dengan perasaan senang karena perhatian dari Thrisca.


"Kau tidak menutupi apapun dariku, kan? Atau kau kesal karena aku menjadi perbincangan media online beberapa hari ini? Apa aku membuatmu malu?" tanya Thrisca lirih.


"Mana mungkin kau membuatku malu? Semua orang memujimu, Sayang. Kau sudah menjadi ibu hamil paling cantik di kota ini.."


Senyum Thrisca mulai mengembang begitu ia melihat wajah berseri dari sang suami. Pasangan suami-istri itu saling bermesraan sembari bersiap untuk menghadiri acara pertama yang akan menampilkan wajah Thrisca di depan publik.


"Kau terlihat sangat cantik. Malam ini kau akan kembali menjadi pusat perhatian," puji Ron pada Thrisca.


"Ron, kau tidak akan meninggalkanku, kan? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan di acara seperti itu.." ujar Thrisca cemas.


"Tenang saja. Tidak akan ada yang berani mempermalukanmu."


Ron turun dari mobil terlebih dulu dan membukakan pintu untuk sang istri. Pasangan suami-istri itu nampak serasi bersanding bersama di acara kalangan elit itu. Para wartawan yang hadir, tak henti-hentinya memainkan kamera untuk mengumpulkan jepretan-jepretan momen manis antara pasangan suami-istri yang tengah viral itu.


"Hei, lihat! Itu istri bos Diez Group yang sempat viral beberapa hari yang lalu."


Beberapa tamu undangan yang hadir, terus berbisik membicarakan kedatangan Thrisca bersama sang suami.


Wanita hamil itu kembali menjadi sorotan dan buah bibir para tamu undangan yang sudah memenuhi gedung acara itu.


"Wajahnya memang cantik, tapi kudengar dia hanya putri seorang pengusaha kecil. Wanita itu juga tidak berpendidikan tinggi," bisik tamu lain mulai melayangkan komentar buruk mengenai Thrisca.


"Wanita itu tidak memiliki apapun selain wajah cantik. Bahkan saat menikah dengan cucu Tuan Hasan pun, dulu wajahnya sangat udik dan badannya sangat gemuk. Mungkin saja dia melakukan operasi plastik," cibir tamu-tamu lain.


Meskipun banyak pujian yang terlontar pada Thrisca, namun wanita itu juga tidak bisa menghindar dari komentar-komentar negatif dari publik.


Hal yang bisa dilakukan Thrisca saat ini hanyalah berusaha sebaik mungkin untuk menjaga nama baik keluarga suaminya, yang kini juga sudah menjadi bagian dari keluarganya.


***


Bersambung..