DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 110



Ron membuka pintu kamarnya dan mendapati satu kotak kecil terdampar di depan pintu. Pria itu berjongkok dan mengamati sejenak kotak yang hampir terinjak oleh kakinya.


"Kotak apa ini?" gumam Ron heran.


"Bi Inah!"


Pria itu berjalan mencari asisten rumah tangganya seraya membawa kotak dengan motif bunga itu.


"Iya, Tuan.."


"Ini kotak apa?"


"Tadi ada kurir yang mengantar. Saya sudah menyuruh asisten baru untuk memberikannya pada Tuan Muda,"


"Memberikan apanya? Kotak ini tergeletak di lantai dan hampir saja terinjak olehku! Bagaimana kalau isinya penting?! Sebenarnya bagaimana caramu mencari asisten baru?!" omel Ron pada wanita paruh baya yang sudah mengasuhnya sejak kecil itu.


Ron kembali mengamuk tidak jelas dan memarahi semua orang yang ia lihat di rumahnya.


Amarah suami Thrisca itu makin tak terkendali karena perdebatan kecilnya bersama sang istri. Ron yang tengah dilanda rindu dan kesal itu akhirnya hanya bisa melampiaskan kemarahannya pada orang-orang tak bersalah yang ada di istana besarnya.


Tuan rumah itu duduk di ruang tamu seraya membuka kotak kecil yang ia temukan di rumahnya. Dalam kotak itu, terdapat sebuah dasi yang terlipat rapi beserta sepucuk kertas yang berisi pesan singkat.


"Selamat ulang tahun mantan kekasihku.." tulis Lilian dalam kertas kecil itu.


Ron segera merobek-robek kertas kecil itu dan melempar kotak hadiah dari Lilian ke lantai.


"Dasar wanita gila!! Dari mana dia tahu rumahku?!"


Kemarahan Ron makin memuncak saat ia mendapat kejutan tak terduga dari mantan kekasihnya.


Pria itu melompat-lompat dengan geram di atas dasi pemberian mantan kekasihnya dan menginjak-injak hadiah dari Lilian itu dengan wajah penuh amarah.


***


Thrisca menatap ke arah jendela kamarnya, menunggu kedatangan sang suami ke kediaman Nyonya Besar keluarga Diez. Semua anggota keluarga yang diundang sudah mulai berdatangan, namun batang hidung Ron tak juga muncul di halaman luas kediaman Nyonya Aswinda.


"Thrisca, ibuku sudah datang. Aku ke bawah dulu. Kau mau ikut? Atau mau menunggu Bibi Daisy dulu?" tawar Genta.


"Mas Gen turun saja dulu. Nanti aku menyusul," ujar Thrisca.


Genta segera melesat keluar dari kamar Thrisca untuk menyambut keluarganya yang sudah datang.


Meskipun hanya keluarga inti, namun rumah Nyonya Aswinda nampak penuh dan sesak dengan puluhan orang yang terdiri dari istri-istri Tuan Hasan, anak Tuan Hasan hingga cucu dan cucu menantu Tuan Hasan dari seluruh istri sahnya.


"Thrisca, ayo keluar.." ajak Nyonya Daisy menghampiri Thrisca.


"Ron tidak datang?" tanya Thrisca agak kecewa.


"Ron pasti datang. Bocah itu tidak pernah hadir di pertemuan keluarga sebelumnya. Tapi kali ini dia pasti datang karena ada kau di sini,"


"Aku tidak sepenting itu untuk Ron, mana mungkin dia akan datang hanya karena aku--"


Belum sempat Thrisca melanjutkan kalimatnya, sebuah mobil mewah yang nampak familiar mulai memasuki pekarangan rumah Nyonya Aswinda.


Thrisca yang mendengar suara klakson mobil dari luar, segera berlari melihat dari jendela dan mendapati mobil suaminya sudah terparkir mulus di area halaman rumah sang nenek.


"Ron sudah datang.." ujar Thrisca dengan girang pada ibu mertuanya.


Meskipun wanita itu tengah bersitegang dengan sang suami, namun Thrisca tetap tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau ia benar-benar merindukan suaminya.


Rasa kesal dan amarah Thrisca pada Ron tidak bisa dibandingkan dengan rasa rindunya yang begitu besar pada suami tercintanya itu.


Nyonya Daisy menggandeng Thrisca keluar kamar, menuju tempat seluruh keluarga berkumpul.


Wanita cantik bergaun putih itu sukses menjadi pusat perhatian di acara kecil keluarga Diez. Beberapa kerabat yang belum pernah bertemu Thrisca, nampak terpana dengan kemunculan wanita asing itu di kediaman Nyonya Aswinda.


"Itu siapa?" bisik beberapa bibi Ron yang sempat hadir di pernikahan Ron. Mereka tahu betul bahwa menantu Nyonya Daisy adalah wanita gendut berambut keriting. Namun tidak disangka, istri Tuan Derry itu menggandeng wanita muda nan cantik di acara keluarga mereka.


Ron yang sudah berdiri di ambang pintu, nampak tercengang melihat sang istri yang berias cantik di acara keluarganya. Pria itu segera menghampiri sang istri dengan semangat dan langsung melingkarkan tangan di pinggang ramping istri kesayangannya itu.


"Perhatian semuanya.. hari ini aku ingin memperkenalkan anggota keluarga Diez yang akan menjadi nyonya keluarga kita. Wenthrisca, istri dari cucuku Ron." ujar Nyonya Aswinda memperkenalkan Thrisca.


"Kalian semua pasti bingung melihat wanita cantik yang berdiri di sampingku. Ini adalah menantuku. Satu-satunya istri Ron, putraku. Sudah hampir satu tahun semenjak pesta pernikahan putraku, tidak aneh jika menantuku bertambah cantik." jelas Nyonya Daisy.


"Aku juga ingin mengumumkan kehamilan cucu menantuku. Sebentar lagi aku akan menyambut cicit pertamaku dari cucuku satu-satunya." tambah Nyonya Aswinda.


Thrisca hanya bisa tersenyum tanpa berani mengambil panggung ibu mertua dan juga nenek dari suaminya.


"Duduk, Sayang.."


Nyonya Daisy menuntun tangan Thrisca dan mendudukkan menantunya di bangku yang tak jauh darinya. Ron mengekori sang istri dan duduk menempel pada wanita hamil itu.


Ron merayapkan tangannya ke telapak tangan sang istri dan menggenggam erat tangan cantik wanita hamil itu. Meskipun pria itu masih membuang muka dari sang istri dan diam tak bersuara pada Thrisca, namun Ron masih saja mencari kesempatan untuk dapat menyentuh istri kesayangannya.


Tak jauh berbeda dari Ron, Thrisca juga ikut membuang muka pada suami yang sangat ia rindukan itu. Namun tangan wanita itu ikut mengaitkan jari jemarinya di telapak tangan lebar sang suami.


Pasangan suami-istri itu nampak membuang muka satu sama lain, namun tangan-tangan mereka saling mengait erat, tak seirama dengan wajah mereka yang saling membelakangi.


"Aku akan mengumumkan kehamilan Thrisca dan menunjukkan penampilan baru cucu menantuku.." ujar Nyonya Aswinda.


"Aku juga memiliki pengumuman penting."


Nyonya Dewi berdiri dan mulai mengambil alih panggung sang nyonya rumah.


Nyonya Aswinda melirik kesal pada istri kedua suaminya, yang seenaknya memotong pembicaraannya.


"Aki juga ingin mengumumkan pernikahan cucuku, Genta.." ungkap Nyonya Dewi.


Genta yang mendengar ucapan sang nenek, langsung menyerbu Berlin agar menghentikan ucapan sang nenek di hadapan seluruh keluarga.


"Ibu, cepat hentikan wanita tua itu!" rengek Genta dengan suara lirih pada sang ibu.


"Kau ini kenapa, Gen?! Kau sudah punya pacar, kan? Terserah kau ingin menikah dengan siapa! Yang penting hadiah saham dari kakekmu harus cepat kita dapatkan," bisik Berlin.


"Ibu, aku belum melamar Cherry! Tolong tunda dulu pernikahan ini! Masih banyak hal yang harus kupertimbangkan!" protes Genta lagi.


"Diam! Ibu dan nenek akan mengurus segalanya. Kau hanya perlu hadir sebagai calon pengantin! Mengerti?!"


Genta segera pamit undur diri dan mengamuk di halaman belakang kediaman Nyonya Aswinda. Pria itu menendangi kerikil-kerikil di taman dan memukul-mukul pohon mangga yang berdiri kokoh di taman penuh bunga itu.


***


"Mas Derry, kenapa tidak mengunjungiku? Kapan Mas pulang ke sini?" tanya Lilian dengan manja pada Tuan Derry melalui telepon.


"Aku sudah bilang, ibuku pulang. Aku juga sedang ada banyak pekerjaan,"


"Aku sedang hamil anakmu, Mas. Kau tidak mau menemaniku?" rengek Lilian.


"Besok aku akan mengunjungimu.."


"Kapan kau akan mengenalkanku pada keluargamu? Perutku sebentar lagi membesar. Aku tidak ingin anakku lahir tanpa ayah yang sah!"


"Sabar dulu, Sayang. Menantuku juga sedang hamil. Ibuku sedang sibuk mengurus cucu menantunya."


"Lalu aku? Bagaimana denganku? Aku juga sedang hamil. Apa aku tidak pantas mendapatkan perhatian dari keluargamu?!"


"Tunggu sampai menantuku mengumumkan kehamilannya. Setelah itu aku baru akan mengurusmu. Aku sedang ada banyak pekerjaan. Aku akan menghubungimu lagi nanti,"


Tuan Derry memutus sambungan telepon dari Lilian.


Simpanan Tuan Derry itu membanting telepon ke lantai dengan geram setelah ayah dari Ron itu menutup panggilan telepon darinya.


"Ternyata uang saja tidak cukup.." gumam Lilian dengan wajah murung.


Mantan model yang sudah terbiasa menjadi sorotan banyak orang itu, mulai merindukan perhatian orang-orang. Sudah beberapa minggu terakhir Lilian hidup tersembunyi dan tidak berani menampakkan diri di hadapan orang banyak.


Wanita itu mulai jenuh dengan masker dan kacamata hitam yang selalu menghiasi wajahnya untuk menyembunyikan diri dari hujatan publik.


***


Bersambung...