
Thrisca berjalan dengan senyum tersungging di bibirnya hingga ia sampai di ruangan sang suami. Suara riuh sambutan mulai berdengung memenuhi telinga cantiknya saat memasuki gedung pencakar langit milik keluarga suami tercinta.
Selain suara ramai sambutan, kedatangan Thrisca juga diiringi dengan kasak-kusuk pegawai yang sibuk berbisik membicarakan dirinya yang muncul di gedung itu dengan penampilan yang mengundang perhatian.
"Siapa wanita itu? Bukankah istri bos adalah seorang wanita gendut? Apa bos sudah menikah lagi?!" bisik beberapa karyawan wanita yang sempat melihat kedatangan Thrisca.
"Tidak ada berita apapun mengenai bos, mana mungkin bos menikah lagi?!" sahut pegawai lain.
"Wanita itu sangat cantik. Mungkin saja benar dia istri bos,"
"Lalu bagaimana dengan wanita gendut yang sudah dinikahi oleh bos? Kasihan sekali wanita gendut itu.."
"Bos benar-benar memperlakukan istrinya seperti ratu. Wanita itu bahkan membuat bos sendiri yang berlarian membukakan pintu mobil,"
"Benarkah? Bos galak itu membukakan pintu untuk wanita itu?"
Thrisca sukses menjadi buah bibir oleh seluruh karyawan Diez Group dalam waktu sekejap. Wanita hamil itu berhasil menyita seluruh perhatian penghuni gedung perusahaan yang dipimpin oleh sang suami.
"Duduk di sini, Sayang. Aku akan menyiapkan minum untukmu,"
Ron mendudukkan Thrisca di sofa empuk ruangannya dan berlarian kesana-kemari menyediakan banyak benda untuk sang istri yang kembali berkunjung ke ruangan kantornya setelah sekian lama.
"Ron, tidak perlu repot. Aku tidak haus," cegah Thrisca pada sang suami yang sibuk berkeliling ruangan mencari barang-barang tidak penting.
"Duduk saja di sini, Sayang. Aku akan mengambilkan camilan untukmu,"
Thrisca tersenyum kecil memandangi Ron yang sibuk sendiri dengan cangkir minuman dan makanan ringan. Wanita itu mendekati sang suami dan memeluk erat tubuh Ron dari belakang.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Ron yang terkejut merasakan tangan yang melingkar di tubuhnya.
"Terima kasih, Ron. Aku akan melakukan yang terbaik agar tidak membuatmu malu."
Wajah Ron nampak memerah tersipu malu karena dekapan sang istri. Pria itu menggenggam erat pergelangan tangan Thrisca dan menikmati pelukan hangat dari wanita yang ia cintai itu.
"Aku mencintaimu, Ron.." ujar Thrisca lirih.
Ron langsung menoleh ke arah sang istri begitu ia mendengar pernyataan cinta dari wanita idamannya itu. Pipi Ron semakin memerah dan lidahnya menjadi kelu seketika. Jantung Ron ikut berdegup kencang tak karuan karena ucapan Thrisca.
"Sial! Wanita ini sudah membuat otakku semakin kacau!" racau Ron dalam hati.
Ron berbalik badan dan segera menyambar bibir lembut milik sang istri. Pria itu mulai menikmati bibir manis Thrisca dengan lumatann liar dan sesapan dalam ke rongga mulut wanita hamil itu.
Ciuman panas pasangan suami-istri itu berlangsung lama hingga akhirnya pagutan mereka harus berhenti saat Han mengetuk pintu ruangan sang bos.
"Bos, wartawan sudah datang.." ujar Han dari luar.
Thrisca yang masih mengalungkan tangan ke leher sang suami, segera menurunkan lengannya dan melepas tautan bibirnya dari Ron.
"Han ini benar-benar tahu cara merusak kebahagiaan orang!" gumam Ron kesal.
"Ayo, Sayang.."
Ron menggandeng tangan sang istri dan mulai bersiap dengan wawancara kecil yang hendak mereka lakukan.
Ron dan Thrisca duduk manis di sofa, menyambut dua orang jurnalis yang tengah bersiap sebelum melakukan wawancara.
"Selamat pagi, Tuan.." sapa jurnalis yang diundang ke kantor Ron.
"Selamat pagi.."
Thrisca tersenyum ramah membalas sapaan dua pegawai dari perusahaan media tersebut.
"Nyonya terlihat cantik sekali. Bagaimana kalau kita lakukan sesi foto terlebih dahulu?" tanya salah seorang jurnalis meminta ijin.
"Tentu."
Thrisca menarik tangan Ron dan mulai berpose mengikuti arahan dari fotografer.
Istri Ron itu duduk manis di samping Ron seraya menampilkan senyuman lebar ke arah kamera, sementara Ron berpose dengan wajah angkuh dan tangan yang melingkar di pinggang sang istri.
"Tuan dan Nyonya benar-benar serasi. Hasil fotonya sangat bagus," puji fotografer.
"Terima kasih.."
Thrisca tak henti-hentinya menebar senyuman hangat untuk menutupi rasa gugupnya.
"Kami hanya akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan ringan. Mohon koreksinya kalau Tuan dan Nyonya agak tersinggung dengan pertanyaan kami." ujar jurnalis siap memulai wawancara.
"Sebelumnya, kami ucapkan selamat atas kehamilan Nyonya. Kami ingin mengonfirmasi sekali lagi, apakah benar Nyonya saat ini tengah hamil? Dan berapa usia kandungan Nyonya?" tanya jurnalis masuk ke sesi wawancara.
"Benar, istriku sedang hamil muda. Usia kandungannya baru lima minggu," jawab Ron cepat.
"Lalu kami juga ingin mengonfirmasi, apakah Nyonya Thrisca adalah mempelai yang sama dengan wanita yang ada di acara pernikahan ini?" tanya jurnalis seraya menunjukkan lembar foto pernikahan Thrisca dan Ron beberapa bulan lalu.
"Benar, itu istriku. Mereka adalah orang yang sama. Aku harap kalian tidak menyimpulkan hal yang tidak berdasar hanya karena penampilan istriku yang terlihat agak berbeda dari tampilannya beberapa bulan yang lalu."
"Tentu, kami tidak akan menyimpulkan sembarangan tanpa meminta konfirmasi dari pihak terkait. Kalau boleh tahu, apa yang terjadi selama beberapa bulan ini hingga penampilan Nyonya bisa berubah drastis?"
"Ehm--"
Belum sempat Thrisca menjawab, Ron lagi-lagi menyerobot panggung miliknya.
Ron terus saja mengoceh selama wawancara berlangsung dan tidak membiarkan Thrisca menjawab satu pertanyaan pun. Ron bahkan tega mengusir jurnalis itu karena merasa pertanyaan yang diajukan terlalu banyak dan membuatnya pusing.
Setelah satu jam lamanya mulut Ron sibuk mengoceh, akhirnya hari mendebarkan Thrisca selesai dengan mulus. Meskipun Thrisca agak kecewa, Ron tidak mengijinkannya berbicara sepatah kata pun, namun ia mencoba memahami kalau Ron melakukan semua ini untuk membantunya dan demi dirinya.
"Ron, apa aku terlihat payah?" tanya Thrisca dengan wajah muram.
"Payah apanya?"
"Kau tidak membiarkanku berbicara. Apa aku begitu bodoh?"
"Sayang, aku tidak bermaksud begitu." ujar Ron seraya menciumi punggung tangan sang istri.
"Aku.. aku juga ingin terlihat mandiri, Ron. Meskipun aku tidak berpendidikan ting--"
"Sayang, para jurnalis itu akan menjebakmu dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan untuk membuatmu malu." potong Ron cepat.
"Apa?"
"Aku hanya ingin melindungimu dari lidah tajam mereka. Lain kali aku akan mengundang jurnalis pilihanku dan melakukan wawancara melalui telepon. Aku benar-benar tidak ada waktu untuk meladeni tikus-tikus menyebalkan seperti mereka," terang Ron geram.
Thrisca yang semula kesal dengan Ron, kini berubah menjadi terharu dengan sikap suaminya yang semakin hari semakin bertambah perhatian pada dirinya.
***
Beberapa jam setelah berita rilis, kemunculan Thrisca ternyata membuat kehebohan di dunia maya. Judul artikel "Istri cantik Bos Diez Group tengah berbadan dua" berhasil menyita perhatian publik dan membuat wajah cantik istri bos itu mendadak viral.
Foto-foto Thrisca dan Ron yang terpampang di artikel berita, menyebar luas ke seluruh media sosial dan menarik respon yang beragam dari masyarakat.
Banyak dari mereka yang memuji kecantikan Nyonya Muda itu, namun ada juga beberapa komentar menggunjing yang menuduh wajah rupawan Thrisca adalah hasil dari jarum dokter kecantikan.
Thrisca mendadak terkenal karena wajah rupawannya yang memenuhi artikel berita di seluruh penjuru kota.
Namun, wanita yang tengah panen pujian itu justru tak tahu apapun mengenai dirinya yang sedang menjadi topik pembicaraan hangat.
Thrisca asyik berguling-guling di kasur, menunggu kabar dari sang suami yang masih berusaha mencari cincin Nyonya Aswinda.
"Kenapa Ron belum juga menghubungiku? Kalau Ron tidak menemukan cincin itu hari ini, aku akan semakin lama tertahan di rumah nenek.." gumam Thrisca kesal.
Tring..Tring..
Thrisca segera melompat girang saat ia mendengar ponselnya berdering. Namun wajah girangnya berubah muram seketika saat ia membaca nama yang tertera di layar.
"Halo, Mas Gen.."
Thrisca menjawab telepon dari Genta dengan lemas tak bersemangat.
"Kenapa suaramu lesu sekali? Kau sedang menunggu telepon orang lain dan itu bukan aku? Kau kecewa karena aku yang menelepon?!" cecar Genta.
"Bukan begitu, Mas Gen.."
"Biar kutebak. Kau pasti tidak melihat berita!"
"Memangnya ada berita apa?!"
"Benar, kan? Kau ini payah sekali! Apa gunanya memiliki ponsel canggih kalau kau tidak pernah menggunakannya?!" omel Genta.
"Kau masih di rumah nenek, kan? Aku akan ke sana sekarang." imbuh Genta.
"Memangnya berita apa? Bukan berita buruk, kan?"
"Kau lihat saja sendiri nanti! Atau kau bisa memeriksanya sendiri kalau kau memiliki media sosial."
"Aku gagap teknologi.." ujar Thrisca lirih.
"Kau ini sebenarnya orang planet mana?!"
Genta semakin gemas melihat tingkah polos Thrisca yang tidak mengetahui apapun mengenai dunia luar.
Dalam waktu sekejap, sepupu Ron itu tiba dengan selamat di istana Nyonya Aswinda.
Genta segera berlari menuju kamar Thrisca dengan antusias begitu ia membuka pintu kediaman nenek Ron itu.
"Mas Gen, kau cepat sekali sampainya.." ujar Thrisca takjub.
Pria itu segera menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan layar besar ponsel mahal itu pada Thrisca.
"Apa ini?" tanya Thrisca bingung.
"Kau masuk pemberitaan online yang sedang memanas saat ini."
"Apa?!"
"Kau sedang menjadi topik perbincangan hangat di dunia maya. Semua orang memuji kecantikanmu dan mengucapkan selamat atas kehamilanmu." jelas Genta seraya melempar senyuman manis pada Thrisca.
"Memangnya aku artis?!"
***
Bersambung...