DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 102



"Sayang, bangun! Ini sudah siang,"


Ron mengguncang-guncangkan tubuh sang istri pelan.


Wanita hamil itu masih menggeliat di kasur tanpa menghiraukan suara sang suami.


"Sayang.. ada banyak hal yang harus kita lakukan hari ini! Jangan habiskan waktumu untuk tidur seharian!"


Ron masih berusaha membangunkan wanita hamil malas itu.


"Melakukan apa, Ron? Aku lelah. Biarkan aku istirahat,"


"Sayang, hari ini hari ulang tahun kita. Kau tidak ingin membuat hari ini menjadi sedikit istimewa?" bujuk Ron.


Thrisca terpaksa membuka mata dan mencoba menyadarkan diri dari alam mimpi.


"Maaf, Sayang. Aku agak lelah," ujar Thrisca seraya mengucek kedua matanya.


Ron segera meraih tangan sang istri dan mengusap lembut mata cantik wanita hamil yang tengah terbangun dari tidur itu.


Suami Thrisca itu menarik tubuh sang istri yang masih polos tak berbusana dan mendekap erat wanita hamil yang sudah terduduk di pangkuannya.


Thrisca bergelayut manja di pangkuan sang suami dan kembali memejamkan mata.


"Tidur terus-terusan tidak baik untuk kesehatan. Kau sendiri yang bilang begitu, kan?" tegur Ron.


"Kau ingin sarapan apa?" tanya Thrisca masih dengan mata terpejam.


"Aku membangunkanmu bukan untuk melakukan pekerjaan rumah!" omel Ron.


"Memangnya kau mau mengajakku kemana? Kau tidak ingin melarangku pergi lagi? Bukankah kau tidak suka aku bepergian ke luar rumah?"


"Aku hanya tidak suka kalau kau pergi tanpaku," ujar Ron lirih.


"Baiklah, aku akan segera bersiap.."


Thrisca membuka mata dan melayangkan kecupan singkat ke bibir sang suami sebelum ia menanggalkan selimut untuk beranjak menuju kamar mandi.


"Biar aku membantumu membersihkan diri.." ujar Ron dengan senyum licik.


"Ron, aku sedang hamil! Jangan macam-macam!" omel Thrisca seraya memukul-mukul dada bidang sang suami yang sudah membopong tubuh moleknya menuju kamar mandi.


***


"Nadine!"


Han berjalan santai ke arah Nadine yang masih sibuk dengan kertas-kertas di mejanya.


"Iya, Pak?"


"Ini sudah pukul berapa?! Kau lupa dengan tugas barumu?" sindir Han.


"Hm?"


"Kau ini benar-benar! Kita harus ke rumah bos sekarang!" ujar Han seraya menjitak pelan dahi teman Thrisca itu.


"Auww!"


Nadine mengusap dahinya yang terkena sentilan tangan Han.


"Wanita itu siapanya asisten Han? Terlihat akrab sekali," bisik beberapa pegawai wanita yang nampak iri melihat keakraban Nadine dan Han.


"Bukankah wanita itu hanya pegawai magang? Belum lama ini dia masuk. Dengan cara apa dia bisa mendekati asisten Han?" sahut pegawai wanita lain.


Cherry yang ikut mendengarkan bisikan wanita-wanita itu, hanya bisa diam tanpa berani menimpali.


"Wanita-wanita di sini sangat menyeramkan.." batin Cherry bergidik ngeri.


"Apa saja yang harus disiapkan, Pak?" tanya Nadine.


"Pesan kue dulu. Setelah itu beli hiasan. Lalu setelah makan siang, kita harus ke bandara." terang Han.


"Kita?" tanya Nadine mengerutkan keningnya.


"Ehem.. maksudku aku dan kau harus ke bandara untuk menjemput nyonya besar." ujar Han mencoba tenang.


"Sial! Kenapa mulutku berbicara seperti itu?! Kita apanya?!" omel Han pada dirinya sendiri dalam hati.


"Baik, Pak."


Beberapa pegawai yang berlalu-lalang di gedung perusahaan, terus menatap ke arah Nadine dan Han hingga kedua orang itu pergi meninggalkan perusahaan.


"Asisten Han tidak mungkin benar-benar dekat dengan wanita magang itu, kan?" ejek salah satu pegawai wanita.


"Mana mungkin! Mantan kekasih asisten Han sebelumnya adalah model. Wajahnya juga sangat cantik. Aku pernah memergoki asisten Han dan pacarnya sedang berkencan di salah satu restoran mewah," sahut pegawai lain.


"Siapa yang sedang dekat dengan Han?!" tanya Jane yang tiba-tiba ikut menyahut pembicaraan para wanita yang tengah asyik menggosipkan Han.


"Siapa wanita ini? Mengganggu saja," bisik para karyawan pada Jane yang tiba-tiba ikut menyahut obrolan mereka.


Jane berjalan tergesa-gesa menuju tempat parkir dan mendapati Han serta Nadine yang tengah membuka pintu mobil untuk masuk ke dalam kendaraan yang sama.


Wanita itu berbalik dengan wajah muram dan bergegas menuju ruangan Ron. Jane membuka pintu ruangan Ron dengan santai tanpa menghiraukan beberapa pegawai yang menegur wanita tidak tahu malu itu.


"Gen? Mana Ron?"


Jane hanya mendapati Genta yang terduduk manis di kursi bos. Wanita itu menelisik ke seluruh ruangan, namun ia tidak menemukan sang pemilik di ruangan besar itu.


"Maaf, Pak. Saya sudah berusaha mencegah Nona ini, tapi Nona ini tetap memaksa masuk.." terang seorang pegawai dengan wajah takut-takut pada Genta.


"Tidak apa. Biarkan saja," ujar Genta datar tanpa menoleh sedikitpun ke arah Jane.


Pegawai itu pamit undur diri dari ruangan Ron dan segera menutup pintu rapat-rapat.


"Ron tidak ada. Kau bisa pergi sekarang!" tutur Genta sinis.


"Dimana Ron? Aku harus bertemu dengannya sekarang!" paksa Jane.


"Memangnya kau masih ada urusan apa dengan Ron?!"


"Aku harus bertemu Ron hari ini!"


"Jane! Berhentilah menganggu pekerjaanku! Silahkan keluar sekarang jika tidak ada hal penting yang ingin kau sampaikan--"


"Lilian kembali bersama ayah Ron!" potong Jane cepat.


"Apa?"


Genta mengerutkan kening begitu mendengar ucapan Jane.


"Apa ini masih bukan sesuatu yang penting?"


"Apa maksudmu? Kau datang ke sini hanya untuk mengadu?!"


"Mengadu atau tidak, aku hanya ingin memberitahukan pada Ron kalau mantan kekasihnya yang tidak tahu malu itu masih berkeliaran di sekitarnya."


"Kau ingin imbalan apa? Memangnya apa untungnya bagimu dengan memberitahukan hal ini pada Ron?" selidik Genta.


"Keuntungan? Benar sekali, aku memang tidak mendapatkan keuntungan secara langsung. Tapi aku juga tidak ingin melihat wanita tidak tahu malu itu berakhir bahagia sebagai nyonya,"


"Apa yang terjadi denganmu? Kalian bertengkar?" ledek Genta.


"Aku tidak mempunyai urusan lagi dengan wanita menyebalkan itu. Kau bisa memberitahu Bibi Daisy jika kau mau."


"Aku bukan tukang mengadu sepertimu! Berikan aku bukti kalau Paman masih bersama Lilian. Aku yang akan mengurus sisanya,"


"Kau yang akan mengurusnya? Memangnya apa yang bisa kau lakukan?!" ujar Jane dengan nada meremehkan.


"Ini bukan urusanmu! Kau tidak perlu ikut campur! Bawa saja bukti ke sini. Aku juga tidak akan membiarkan Lilian mengacak-acak keluarga besarku," tukas Genta tegas.


***


"Mas, kau tidak akan kembali malam ini?" tanya Lilian melalui telepon pada Tuan Derry.


"Malam ini ada pesta kecil di rumah Ron. Ibuku juga kembali dari luar negeri. Mungkin aku tidak akan mengunjungimu untuk beberapa hari ke depan," jawab Tuan Derry.


"Pesta? Mungkinkah itu pesta ulang tahun Ron?"


"Kau masih mengingat dengan baik ulang tahun mantan kekasihmu itu?" sindir Tuan Derry.


"B-bukan begitu, Mas. Hanya kebetulan masih teringat saja,"


"Menantuku juga berulang tahun ini. Mereka benar-benar serasi, kan?" ujar Tuan Derry sengaja membuat Lilian kesal.


"Menantu? Menantu apa? Kalian begitu menyukai wanita gendut itu?" tanya Lilian kesal.


Wanita yang belum mengetahui sosok asli Thrisca itu, masih mengira kalau istri dari mantan kekasihnya adalah wanita gendut yang pernah ia lihat saat dirinya berkunjung ke rumah tempat Ron tinggal beberapa bulan lalu.


"Wanita gendut apa?" tanya Tuan Derry bingung.


Ayah mertua Thrisca itu benar-benar lupa kalau menantunya belum mempublikasikan penampilan aslinya sebagai istri Ron. Thrisca, istri Ron masihlah wanita gendut berambut keriting di dalam artikel.


"Siapa lagi kalau bukan istri Ron?! Aku pernah bertemu langsung dengannya. Benar-benar wanita berpenampilan aneh. Bagaimana bisa keluarga kalian menerima wanita tidak menarik itu sebagai menantu?"


"Lalu siapa yang pantas menjadi menantu di keluargaku? Kau? Kau masih berharap bisa mendapatkan posisi menantu dengan menjadi istri Ron?" sindir Tuan Derry.


"Bukan itu maksudku. Ron sekarang sudah sembuh. Dia bukan pria lumpuh lagi. Apa kalian tidak malu membiarkan Ron yang sempurna, mendapatkan wanita gendut itu?"


"Lian, ada banyak hal yang tidak kau tahu mengenai keluargaku dan aku juga tidak berharap kau mengetahuinya. Jadi, lain kali jangan asal bicara! Jangan ikut campur urusan keluargaku! Kau mengerti?" bentak Tuan Derry.


"Apa aku bukan keluargamu? Sebentar lagi aku akan menjadi istrimu." rengek Lilian.


"Berdoa saja semoga bayi dalam kandunganmu itu benar milikku. Jika tidak, aku akan langsung menendangmu keluar dari kota ini tanpa membawa apapun!"


Tenggorokan Lilian tercekat seketika begitu mendengar kalimat ancaman dari Tuan Derry. Wanita itu menggigit bibir dengan tampang gusar nan cemas.


***


Bersambung..