
Begitu turun dari pesawat, Ron tak henti-hentinya memeriksa ponsel dan melirik ke arah arloji yang menempel di pergelangan tangannya.
Pria itu ingin sekali menghubungi sang istri, namun waktu masih menunjukkan pukul tiga dini hari di tempat sang istri tinggal.
"Masih terlalu pagi. Icha pasti masih tidur." gumam Ron kecewa.
"Sayang, aku sangat merindukanmu.." ujar Ron mengecupi foto Thrisca yang tersimpan di ponselnya.
Ron bergegas menuju hotel tempatnya menginap dan berbenah diri sebelum ia disibukkan dengan pekerjaan berat yang sudah menanti.
"Ron, kau hanya perlu mengurus satu investor. Investor ini adalah teman bisnis kakek sejak lama. Saat ini dia tengah terbaring di rumah sakit dan semua dana dikendalikan oleh istri dan anak tirinya." ujar Tuan Hasan berbicara dengan Ron melalui telepon.
"Lalu apa urusannya denganku?!"
"Istrinya dengan sengaja menarik semua dana dari perusahaan kita dan akan dialirkan ke salah satu perusahaan illegal. Tolong bantu teman kakek, Ron. Kita juga akan mendapat keuntungan. Kita bisa mendapat aliran dana, dan aset milik teman kakek bisa terselamatkan sebelum dialirkan ke bisnis illegal." terang Tuan Hasan panjang lebar.
"Kakek, itu urusan pribadinya! Tidak ada hubungannya denganku! Lebih baik kita cari investor baru!"
"Ron, kau juga tahu mencari investor tidak semudah itu! Perusahaan kakek akan gulung tikar sebelum kau mendapat aliran dana baru."
"Aku tidak mungkin ikut campur dalam urusan keluarga orang! Biar saja itu jadi urusan mereka!"
"Kau tidak kasihan pada teman kakek?! Teman kakek sudah sakit-sakitan sejak bulan lalu. Teman kakek sendiri yang menghubungi kakek dan meminta bantuan, Ron. Saat ini aliran dana kita juga sedang tersendat." bujuk Tuan Hasan.
"Lalu apa yang harus kulakukan?!"
"Tolong temui putri dari teman kakek. Dia akan membantumu mengembalikan investasi ke perusahaan kita."
"Aku hanya akan mencobanya sekali! Jangan salahkan aku jika aku tidak berhasil mendapatkan investasinya!"
"Jangan begitu, Ron! Perusahaan cabang itu adalah perusahaan impian kakek. Tolong jangan buat perusahaan itu gulung tikar selama kakek masih hidup," rengek Tuan Hasan.
"Dasar tua bangka menyebalkan!" pekik Ron seraya mematikan telepon dengan kasar.
***
Ron berjalan santai menyusuri koridor rumah sakit dan disuguhi dengan pemandangan yang menyakitkan mata sebelum ia tiba di ruangan yang ia tuju.
"Katrina, cepat tanda tangani semua berkas ini sebelum aku kehilangan kesabaran!" sentak seorang wanita paruh baya pada wanita muda bernama Katrina.
Wanita muda itu bersimpuh di lantai dengan wajah lebam penuh luka. Terdapat beberapa bodyguard yang mengelilingi kedua wanita yang tengah berseteru itu.
Tidak ada satupun yang berani melerai pertengkaran keluarga itu. Orang-orang hanya berlalu-lalang dengan santai dan mengabaikan ibu tiri dan anak yang membuat keributan di lorong rumah sakit mewah itu.
"Apa-apaan ini?!" gumam Ron berdecak kesal melihat drama yang tersaji di depan matanya.
"Ini semua adalah harta ayahku. Aku adalah pewaris yang sah! Putramu tidak akan mendapatkan apapun!" ujar Katrina seraya melotot pada sang ibu tiri.
"Katrina, keluarga kita tidak menerima pewaris perempuan! Tidak akan ada yang mendukungmu sebagai CEO yang baru! Kau ingin ditendang dengan cara yang tidak hormat?!" cibir ibu tiri dari wanita bernama Katrina itu.
"Kau juga belum menikah, jadi otomatis seluruh aset warisan harus jatuh ke tangan pria yang ada dalam keluarga kita yaitu putraku!" imbuh wanita paruh baya itu.
"Jangan harap!" cibir Katrina sinis.
"Atau kau lebih suka dikejar oleh paman-pamanmu?! Saat ini mereka pasti juga sedang menyusun rencana untuk mendapatkan harta ayahmu!" ejek ibu tiri dari Katrina.
"Sebagai tikus yang terpojok, masih beranikah kau bersikap angkuh di depanku?!" sentak wanita paruh baya itu seraya bersiap menampar wajah Katrina.
Ron hanya diam mematung, menyaksikan drama pertikaian antara seorang ibu dengan sang anak tiri.
Pria itu sesekali menguap dan mulai tidak sabaran menanti perkelahian dua wanita itu usai.
"Kau urus wanita itu. Beritahu padanya untuk menemuiku dua jam lagi di kantor." ujar Ron meninggalkan pekerjaan pada asisten yang menemaninya.
"Tapi, Tuan.."
"Tidak apa tapi! Aku sibuk! Aku tidak mau ikut campur dalam perkelahian wanita!" ujar Ron seraya berlenggang keluar dari rumah sakit.
***
"Sayang, kau sudah bangun? Jam berapa sekarang di sana?" tanya Ron pada sang istri melalui panggilan video.
"Di sini masih pagi, Ron. Baru jam sepuluh. Bagaimana pekerjaanmu, Ron? Apa kau mengalami kesulitan?"
"Tidak ada banyak pekerjaan di sini. Aku akan pulang lebih cepat,"
"Benarkah? Tidak perlu buru-buru, Ron. Kau juga harus istirahat."
"Mana bisa aku beristirahat dengan tenang kalau aku jauh darimu.." rengek Ron manja.
Tok..tok..
Panggilan mesranya bersama sang istri terpaksa terhenti karena suara ketukan pintu.
"Sial! Mengganggu saja," gerutu Ron kesal.
"Kenapa, Ron? Ada yang harus kau urus? Kalau begitu aku akan menelepon lagi nanti. Bye, Sayang.." ujar Thrisca seraya melayangkan kecupan ke layar ponselnya.
"Bye, honey.."
Ron membalas kecupan Thrisca dan segera memutuskan sambungan video.
"Masuk,"
Seorang wanita bernama Katrina memasuki ruangan Ron dan duduk dengan wajah muram.
"Kau sudah membaca surat dari kakekku, kan? Jadi, aku tidak perlu repot lagi--"
"Nikahi aku!" potong Katrina cepat.
"Apa?"
"Kau ingin mendapatkan kembali investasi untuk perusahaan ini, kan? Aset keluargaku hanya akan diwariskan pada anggota keluarga pria dan menantu pria. Aku satu-satunya putri kandung ayahku, tapi aku belum menikah. Hanya ada satu cara untuk mendapatkan kembali hak warisku, yaitu menikah dengan secepatnya." ujar Katrina.
"Kau sudah gila?! Cari saja pria lain di luar sana!"
"Aku membutuhkan pria yang memiliki kuasa. Jika kau menikah denganku, seluruh aset keluargaku akan jatuh ke tanganmu. Kau bisa kembali mengalirkan dana ke perusahaan ini dan aset keluargaku bisa terselamatkan dari ibu tiriku."
"Pergi dari kantorku sekarang juga! Aku tidak membutuhkan uangmu!" usir Ron dengan tatapan wajah dingin nan menyeramkan.
"Hanya untuk sementara! Setelah aku menemukan kekasihku, kita bisa bercerai." bujuk Katrina.
"Pergi dan kunjungilah rumah sakit jiwa! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!"
"Tolong bantu aku! Aku bisa saja mencari sembarang pria, tapi jika itu hanya pria lemah yang tidak berkuasa maka aset keluargaku tetap saja akan direbut paksa! Kau Tuan Muda dari keluarga terpandang di negaramu, kan? Aku juga seorang Nona Muda keluarga terpandang. Kita pasangan yang serasi bukan? Aku hanya membutuhkanmu untuk menyelamatkan asetku, dan aku akan membantumu menyelamatkan perusahaanmu! Kita semua sama-sama untu--"
"Berhentilah mengoceh sebelum aku menghajarmu!" potong Ron dengan sorot mata tajam.
"Pikirkanlah baik-baik! Aku juga mengenal Tuan Hasan. Dia pasti akan mendukungku demi perusahaan ini." ujar Katrina masih bersikeras.
"Baik! Aku akan menghubungi kakekku sekarang juga dan mengatakan kalau perusahaan cabangnya sudah bangkrut!"
Ron mengambil ponselnya dan segera menghubungi sang kakek. Setelah berkali-kali gagal menghubungi Tuan Hasan, akhirnya seseorang mengangkat panggilan telepon dari Ron.
"Halo, Kakek--"
"Maaf, Tuan Muda. Tuan Besar sedang beristirahat setelah menerima perawatan dari dokter." jawab seseorang yang ternyata adalah asisten dari kakek Ron.
"Ada apa dengan kakek?!"
"Tuan Besar sempat pingsan dan kini masih dalam penanganan dokter."
"Sial, tidak biasanya kakek tua itu sakit-sakitan!" gerutu Ron.
"Aku tidak bisa lagi mempertahankan perusahaan ini. Tutup saja," ujar Ron datar.
"Tapi, Tuan--"
"Tapi apa lagi?!"
"Kantor pusat Diez juga sedang dalam masalah. Jika kantor cabang tutup, maka pendapatan perusahaan akan semakin berkurang."
"Astaga, apa kita hanya ada satu investor?! Kenapa hanya karena kehilangan satu investor saja kita bisa bangkrut?!" omel Ron geram.
"Maaf, Tuan Muda. Situasinya sedang kacau dan kita sangat memerlukan suntikan dana." jawab asisten itu takut-takut.
"Apa kakek meninggalkan pesan?"
"Tuan Besar hanya ingin mendapatkan kembali investor yang sudah menarik diri. Investor yang Tuan Muda tangani ini adalah investor lama yang sudah mendanai banyak proyek perusahaan."
"Maksud kakek, apapun caranya aku harus mendapatkan investor ini?!"
"Begitulah, Tuan."
"Bagaimana kalau aku gagal?" tanya Ron dengan wajah mulai panik.
"Kantor pusat akan ikut menerima dampaknya, Tuan."
Ron mengusap wajahnya kasar dan mulai diliputi perasaan kalut. Meskipun hanya demi bisnis, namun Ron benar-benar tidak ingin mengkhianati kepercayaan yang sudah diberikan oleh istrinya kepadanya.
Bagaimanapun juga, pria yang sudah berkeluarga itu tak ingin lagi bermain-main dengan pernikahan.
"Apa tidak ada cara lain lagi untuk bisa merebut aset keluargamu?" tanya Ron pada Katrina.
"Aku hanya membutuhkan seorang pria. Pewaris wanita tidak pernah diakui di keluargaku. Semua aset akan dilimpahkan pada suamiku jika aku sudah menikah. Sayangnya aku masih lajang." ungkap Katrina dengan wajah murung.
"Dimana kekasihmu? Aku akan membantumu mencarinya,"
"Aku.. tidak tahu. Aku sudah lama berpisah darinya." jawab Katrina.
"Bagaimana dengan teman atau mantan pacar?! Mantan pacarmu pasti Tuan Muda juga, kan? Minta saja untuk dinikahi mantanmu. Kau bisa memberikan pria itu imbalan setelah aset keluargamu jatuh ke tanganmu dan suamimu."
"Aku.. tidak punya mantan pacar. Aku hanya memiliki satu kekasih." tukas Katrina.
"Bagaimana dengan teman?! Kau tidak memiliki satu pun teman pria dari kalangan elit?"
"Kebanyakan dari mereka sudah dijodohkan.."
"Lalu bagaimana denganmu? Tidak ada pria yang dijodohkan denganmu?!" cecar Ron lagi.
"Kau saja yang menikahiku! Kita tidak punya banyak waktu lagi! Paman-pamanku juga akan menargetkanku! Kondisi kesehatan ayahku semakin memburuk. Musuhku akan semakin banyak jika aku tak juga menikah!" rengek Katrina.
"Aku sudah memiliki istri. Dan aku tidak mau mengecewakan istriku meskipun ini hanya pernikahan bisnis."
"Kau tidak kasihan pada istrimu jika perusahaanmu bangkrut?! Bagaimana kalau istrimu meninggalkanmu setelah kau jatuh miskin?!"
"Istriku akan meninggalkanku jika aku mempunyai istri lain!"
"Hanya untuk beberapa bulan saja, tolong aku! Aku akan secepatnya mencari pria lain. Kau bisa merahasiakan hal ini dari istrimu." bujuk Katrina.
"Kau masih saja ingin menikah denganku meskipun aku seorang pria beristri?!" cibir Ron sinis.
"Aku tidak benar-benar menikahimu. Ini semua hanya demi keuntungan kita masing-masing."
Ron mulai memijat keningnya yang pening tanpa menanggapi ocehan Katrina. Pria itu keluar dari ruangannya dan membanting pintu dengan kasar hingga membuat jantung Katrina hampir rontok.
"Pria itu menyeramkan sekali.. apa aku sejelek itu sampai dia menolakku mentah-mentah?" gumam Katrina merinding ketakutan.
***
Bersambung...