
Ron duduk di tepi ranjang pasien tempat sang istri berbaring seraya mengusap-usap lembut perut wanita hamil itu.
Ron yang sudah berpakaian serba hitam, masih duduk termenung di ruangan pasien untuk menemani sang istri beristirahat.
"Maaf, aku tidak ikut ke pemakaman kakek. Cepatlah pergi, Ron. Nanti kau terlambat," ujar Thrisca.
"Nanti saja tidak apa-apa. Aku bisa menemanimu--"
"Ada perawat yang akan menemaniku." potong Thrisca.
"Maaf, aku tidak bisa melakukan apapun untuk menghiburmu.." sesal Thrisca seraya mengusap punggung tangan sang suami.
"Aku baik-baik saja, Sa--"
"Kau tidak baik-baik saja, Ron." sergah Thrisca.
"Kemarilah.."
Thrisca merentangkan tangannya lebar-lebar, bersiap merengkuh tubuh kekar sang suami yang menyelinap masuk ke dalam pelukannya.
Air mata Ron mulai jatuh perlahan menetes membasahi rambut sang istri.
"Tidak apa-apa, Ron. Kau akan mulai terbiasa setelah beberapa bulan berlalu." hibur Thrisca seraya menepuk-nepuk punggung sang suami.
"Aku cucu yang buruk. Bahkan di saat terakhir kakek pun, aku masih membentak dan berteriak pada pria tua itu.." sesal Ron.
"Kau sudah melakukan yang terbaik, Ron. Kakek sangat bangga padamu." ujar Thrisca mulai ikut banjir dengan air mata.
"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa mengurus semuanya tanpa kakek.." ujar Ron dengan tangis pilu.
"Kau pasti bisa, Ron. Kau sudah bekerja keras selama ini demi Diez Group. Hanya kau harapan kakek satu-satunya.."
"Aku tidak yakin aku bisa menjaga perusahaan sendirian. Aku tidak yakin aku bisa merawat nenek sendirian.. aku tidak yakin aku bisa menjagamu dengan baik."
"Siapa yang bilang kau sendirian, Ron?"
Thrisca menangkupkan kedua tangan di wajah Ron seraya menatap pria itu lekat-lekat.
"Kau memiliki aku, Ron. Kau memiliki keluarga kita." ujar Thrisca mengecup lembut kening sang suami.
"Aku.. memang tidak terlalu berguna dan tidak bisa membantu banyak. Tapi aku akan selalu mendukungmu, Ron." hibur Thrisca.
***
Genta dan Cherry duduk taman yang terletak tak jauh dari makam.
Pria berpakaian serba hitam itu hanya terdiam dengan pandangan kosong menatap rumput liar yang bergoyang diterpa hembusan angin.
"Masih ada banyak hal yang kau sesali?" tanya Cherry memecah keheningan.
"Banyak."
"Seperti?"
"Kakek bahkan belum melihat cucunya yang tampan ini menikah.." ujar Genta lirih.
"Em, soal itu--"
"Cherry, maafkan aku. Seharusnya beberapa hari lagi akan menjadi hari bahagia kita. Tapi aku tidak mungkin tetap melanjutkan pernikahan di tengah-tengah suasana berkabung seperti ini."
"Aku mengerti, Gen. Aku juga tidak akan menuntut pesta pernikahan itu harus diselenggarakan secepatnya."
"Terima kasih."
"Terima kasih untuk apa? Kau sebaiknya melakukan sesuatu untuk menghibur diri daripada duduk termenung seperti ini." omel Cherry.
"Menghibur diri apanya?!"
"Aku tidak pandai menghibur pria. Kakek nenekku juga masih lengkap. Aku tidak tahu bagaimana perasaanmu sekarang. Kuharap kau tidak terus berlarut-larut dalam kesedihan." ujar Cherry.
"Aku baik-baik saja. Orang yang paling terluka atas kepergian kakek bukanlah aku. Cucu kakek yang paling terluka saat ini.. pastilah Ron." gumam Genta lirih.
"Kau sudah lama tidak saling bertegur sapa dengan Ron, kan? Cobalah hibur dia kali ini, Gen." usul Cherry.
"Aku ingin sekali menyapanya. Tapi aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku takut.. aku akan kehilangan kendali dan merebut Thrisca darinya. Aku tidak percaya dia benar-benar menerima permintaan kakek untuk menikah lagi. Aku cukup yakin, Ron tidak sama dengan paman dan kakek. Tapi ternyata aku salah,"
"Ron tidak memiliki pilihan lain, kan? Aku yakin Ron hanya melakukan itu karena terpaksa." sanggah Cherry.
"Kenapa kau yakin sekali?"
"Kau tidak lihat perangai kasarnya?! Dia terus melempar tatapan dingin dan sinis pada semua wanita. Kau pikir wanita waras mana yang mau mendekatinya?" ungkap Cherry bergidik ngeri membayangkan wajah menyeramkan Ron.
Genta tertawa kecil melihat Cherry yang nampak tidak nyaman dengan sikap dingin Ron pada orang luar.
"Kau benar! Jika bukan karena terpaksa, Ron tidak mungkin menikah lagi."
***
"Aku sudah diperbolehkan pulang hari ini, Ron. Pulanglah lebih dulu untuk beristirahat. Ibu akan menjemputku." ujar Thrisca.
"Kau akan pulang ke rumah ibu?"
"Memangnya kenapa?" potong Ron.
"Hem?"
"Aku masih sanggup menjaga istri dan anakku. Pulang saja bersamaku."
"Em, itu--"
"Kau masih marah padaku mengenai pernikahan itu? Tolong dengarkan penjelasanku dulu, Sayang. Kakek yang memaksaku. Pria tua itu memperlakukanku seperti badan amal. Aku tidak bermaksud menyembunyikan wanita itu darimu. Aku hampir saja menghajarnya jika wanita itu bukan yatim piatu! Aku--"
"Sudahlah, Ron. Aku tidak ingin mendengar hal itu lagi." ujar Thrisca seraya menutup mulut sang suami dengan jari menempelkan jari telunjuknya ke bibir Ron.
"Sayang, tolong percaya padaku. Aku tidak pernah berniat sekalipun untuk mencari istri baru!" ungkap Ron makin panik menjelaskan.
Sementara, Thrisca yang mengetahui sesuatu mengenai pernikahan kedua Ron, hanya bisa menahan tawa melihat suaminya yang merengek memberi penjelasan padanya.
"Boleh aku pulang ke rumah ibu?" pinta Thrisca.
"Sayang, tolong jangan pergi ke rumah ibu.."
Ron berjongkok di hadapan Thrisca seraya memeluk erat perut wanita hamil itu.
"Ron, aku--"
"Tolong beri aku kesempatan sekali lagi! Aku tidak benar-benar berniat untuk mengkhianatimu. Aku akan segera menendang gadis itu keluar dari hidupku--"
"Ron, apa kau selalu sejahat ini pada orang lain?" tegur Thrisca.
"Aku tidak peduli dengan orang lain. Aku hanya peduli padamu.." ungkap Ron memeluk perut sang istri semakin erat.
Sementara di rumah Ron, terdapat penghuni asing yang tiba-tiba muncul berkeliling di kediaman yang ditinggali oleh Ron dan Thrisca.
"Kenapa sepi sekali?" tanya Katrina pada pelayan.
"Anu, Nona. Tuan Muda berada di rumah sakit menunggu Nyonya." jelas Bi Inah.
"Hm? Di rumah sakit? Jadi, Ron tidak mengunjungiku selama aku dirawat karena istrinya juga sakit?" gumam Katrina.
"Pukul berapa biasanya Ron kembali ke rumah?"
"Itu.. tidak dapat dipastikan, Nona. Keluarga besar Tuan saat ini tengah berkabung. Tuan tidak pulang ke rumah selama beberapa--"
"Berkabung? Siapa yang meninggal?" tanya Katrina bingung.
"Tuan Hasan, Nona. Kakek dari Tuan Muda."
"Apa?"
Katrina membulatkan mata lebar-lebar begitu ia mendengar kabar tak terduga mengenai kakek dari Ron.
"Tuan Hasan meninggal dunia?" tanya Katrina mencoba memastikan.
"Benar, Nona." jawab Bi Inah lirih.
Katrina mengambil ponsel dan segera menghubungi Ron, namun lagi-lagi panggilan telepon darinya diabaikan begitu saja oleh sang penerima.
"Ck, kenapa sulit sekali menghubungi Ron?!"
Katrina berdecak kesal dan kembali menyimpan ponsel dalam tas kecilnya.
"Apa Tuan Hasan sudah memberitahu Ron kalau pernikahan yang aku umumkan dengannya hanyalah pernikahan palsu untuk mengecoh paman-pamanku? Apa dia sudah tahu kalau sebenarnya aku dan dia tidak pernah menikah? Apa dia akan membuangku sekarang karena aku tidak benar-benar menjadi istrinya?" batin Katrina kacau.
"Aku harus memastikannya." gumam wanita itu seraya berjalan ke arah pintu.
Ron dan Thrisca yang berdiri di ambang pintu, nampak terkejut dengan kemunculan tamu tak diundang yang tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam rumah mereka.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Ron dengan suara tertahan, mencoba menahan amarah.
"Apa ini nona muda itu? Cantik sekali. Untung saja Ron tidak benar-benar menikah dengannya. Kalau istri kedua Ron secantik ini, aku pasti kalah telak bersaing dengannya." batin Thrisca seraya menatap Katrina dengan intens.
"Pergi dari rumahku sekarang!" usir Ron pada Katrina.
"Apa dia sudah tahu kalau aku dan Tuan Hasan berbohong mengenai pernikahanku dengannya?" batin Katrina panik.
"Bagaimana kalau dia mengusirku sekarang? Aku masih membutuhkan perlindungannya." keluh Katrina dalam hati.
"Ron, biarkan saja dia duduk." ujar Thrisca menyambut Katrina.
Sama seperti Tuan Hasan, Thrisca juga ingin menguji sikap suaminya. Meskipun di hadapan orang lain, Ron nampak menolak pernikahan dengan Katrina, namun tidak ada yang tahu bagaimana sikap Ron pada Katrina saat pria itu hanya berdua saja dengan sang nona muda.
"Ini.. istri keduamu?" tanya Thrisca memulai drama sandiwaranya.
"I-istri kedua apa, Sayang? Istriku hanya dirimu." jawab Ron seraya melempar tatapan sinis pada Katrina.
"Jadi, mereka masih mengira aku adalah istri kedua Ron?!" jerit Katrina dalam hati kegirangan.
"Hanya aku, pengacaraku dan Tuan Hasan yang mengetahui rahasia ini. Jika Tuan Hasan tidak mengatakan yang sebenarnya pada Ron sebelum meninggal, berarti tidak ada yang tahu kalau aku sebenarnya tidak pernah mendaftarkan pernikahan dengan Ron!" batin Katrina bersorak riang tanpa tahu jika Thrisca sudah mengetahui semua kebohongan yang dirancang sang kakek untuk Ron.
"Karena sudah tidak ada Tuan Hasan lagi.. apa sebaiknya aku benar-benar mengajak Ron mendaftarkan pernikahan saja? Aku rela meskipun hanya menjadi istri kedua dari suami idaman seperti Ron.." batin Katrina seraya menatap Ron penuh arti.
***
Bersambung...