DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 147



Tring..Tring..


Mimpi indah Ron terganggu oleh dering ponselnya yang bersuara nyaring di atas nakas kamar hotel yang ditempati oleh Ron dan sang istri.


Pria itu mengambil ponselnya dengan cepat dan langsung mematikan benda bising itu sebelum sang istri terbangun.


"Sial! Kenapa Ron mematikan ponselnya?!" gerutu Katrina kesal ia tak dapat menghubungi sang suami.


Sementara, Ron yang masih memasang mata ngantuk, berusaha keras membuka mata lebar-lebar dan membangunkan istri kesayangannya dengan lembut.


"Sayang, sudah pagi. Ayo, bangun! Waktunya bayi kita untuk makan.." ujar Ron lembut di telinga sang istri. Pria itu menguyel-uyel pipi sang istri dengan ciuman bertubi-tubi hingga wanita itu mulai menggeliat dan sadar dari alam mimpi.


"Sudah pagi?" tanya Thrisca dengan suara parau.


"Bangun, Sayang! Jangan sampai telat sarapan." ujar Ron seraya menarik lembut tangan sang istri dan mendudukkan wanita tak berbusana itu dalam pangkuannya.


"Ingin mandi sekarang?" tawar Ron pada sang istri yang masih menunjukkan muka bantal.


"Nanti saja bagaimana? Kepalaku pusing," ujar Thrisca seraya memegangi perutnya.


"Kau mual lagi?"


Thrisca tak menjawab ocehan Ron dan segera berdiri kelimpungan menuju kamar mandi.


Ron ikut menyusul sang istri seraya melilitkan handuk di tubuh polos istri Ron itu.


"Bagaimana kalau periksa ke dokter?" tawar Ron dengan wajah cemas.


"Aku tidak apa-apa, Ron. Ini hal biasa untuk wanita hamil. Tidak perlu ke dokter."


"Kalau begitu cuci muka dan gosok gigi saja. Kita sarapan sebentar lalu pulang. Kau pasti kelelahan karena menungguku semalam."


"Boleh aku beristirahat sebentar di sini, Ron? Apa kau memiliki pekerjaan mendesak di kantor?"


"Tidak perlu memikirkan pekerjaan. Istirahatlah di sini sampai kau merasa baikan, setelah itu baru kita pulang."


***


"Ini rumah, Ron?" tanya Katrina pada supir yang mengantarnya.


Supir kediaman Ron itu mengantar istri kedua dari tuannya ke rumah yang dulu pernah dipakai oleh Thrisca.


Pria itu tidak mungkin memberitahukan rumah utamanya pada Katrina. Ron juga berniat menyembunyikan wanita itu dari Thrisca hingga ia dapat lepas dari nona muda kaya yang kini hidup sebatang kara itu.


"Iya, Nyonya." jawab Pak Yoyo sekenanya.


"Kenapa terlihat kosong?" gumam Katrina.


"Cih, kenapa aku bodoh sekali?! Pria itu mana mungkin mengundangku ke rumahnya." gumam wanita itu lagi.


"Apa Ron tinggal bersama istrinya? Atau dia membelikan rumah baru untuk ditempati istri pertamanya?" tanya Katrina pada supir kediaman Ron.


"Tuan hanya memiliki satu kediaman utama. Dan rumah itu ditempati oleh Tuan Ron dan Nyonya Thrisca."


"Jadi, Ron membawa istrinya tinggal bersamanya dan mengasingkanku di sini?" gumam Katrina dengan senyum kecut.


"Boleh aku tahu alamat rumah Ron?" tanya Nona Muda itu lagi pada Pak Yoyo.


"Maaf, Nona. Kediaman Tuan hanya diketahui oleh keluarga inti dan saudara dekat." jawab Pak Yoyo takut-takut.


"Maksudmu, aku orang luar? Jadi, aku tidak berhak mendapatkan alamat rumah Ron? Begitu?" sentak Katrina mulai kesal.


"Maaf, Nona. Silahkan tanyakan sendiri pada Tuan Muda."


Supir kediaman Ron itu pamit undur diri meninggalkan Katrina di rumah yang pernah ditinggali oleh Thrisca.


Wanita itu mengambil ponsel dan mencoba menghubungi sang suami berkali-kali, namun Ron tak juga menggubris panggilan telepon darinya.


Pria beristri dua itu kini tengah menghabiskan waktu bersama sang istri pertama dengan memanjakan wanita kesayangannya yang tengah mengandung buah hatinya.


"Sayang, aku ada urusan sebentar di rumah kakek. Kau mau ikut atau menunggu di rumah?" tanya Ron.


"Boleh aku ikut?" pinta Thrisca.


"Tentu boleh, Sayang."


Pasangan suami-istri itu segera berlenggang menuju kediaman Tuan Hasan untuk menjenguk pria tua yang tengah sakit itu.


Thrisca masuk ke kamar sang kakek bersama dengan Ron seraya membawakan buah tangan untuk kakek tua yang terbaring lemas di ranjang itu.


"Kakek.." sapa Thrisca pada Tuan Hasan.


"Icha? Kau ke sini?" sambut Tuan Hasan girang.


"Tidak apa-apa, Sayang. Nenekmu bilang Ron sedang pergi berdinas keluar negeri. Kau baik-baik saja di rumah, kan?" tanya Tuan Hasan.


"Aku baik-baik saja, Kek. Nenek mengunjungiku setiap hari." ujar Thrisca.


"Nenekmu menginap beberapa hari di sini menemani kakek. Temuilah wanita tua kesepian itu. Dia pasti sedang menyibukkan diri di taman belakang," ujar Tuan Hasan.


"Kalau begitu aku pergi dulu, Ron.."


Thrisca keluar dari kamar Tuan Hasan dan berjalan menghampiri Nyonya Aswinda.


Begitu Thrisca keluar kamar, raut wajah Tuan Hasan langsung menegang saat beliau mendapat tatapan tajam dari sang cucu.


Ron diam tak bersuara seraya berjalan mengelilingi kamar dan menyentuh beberapa vas dan guci kecil yang terpajang di kamar sang kakek.


PRANGG!


Dengan santai, Ron membantingi benda-benda dari keramik itu hingga hancur lebur.


Tak cukup memecahkan vas, Ron meraih benda rapuh lain dan membanting benda milik kakeknya itu dengan kencang hingga terpecah belah di lantai.


PRANGG!!


"Apa yang kau lakukan, Ron?" tanya Tuan Hasan mulai kesal.


"Kenapa? Aku hanya menghancurkan benda murahan ini saja kakek sudah tidak terima?" cibir Ron.


"Bagaimana denganku?! Menurut kakek, apa yang kurasakan sekarang setelah kakek menghancurkan pernikahanku?!" sentak Ron geram.


"Ron, setiap pria di keluarga kita memiliki istri lebih dari satu. Kenapa kau begitu mengambil pusing--"


"Cih, jadi bagi kakek mengoleksi istri itu adalah hal yang biasa dan aku harus memakluminya?" sindir Ron sinis.


"Bukan begitu, Ron--"


"Apa kakek lupa, kalau Icha adalah cucu dari teman dekat kakek?!"


"Aku sudah menjadikan Icha sebagai istri pertamamu, Ron. Dialah Nyonya Keluarga Diez yang sebenarnya. Ichalah yang nantinya akan melahirkan pewaris keluarga kita. Aku sudah memberikan--"


"Memberikan apa?! Memberikan pangkat yang istimewa?! Menurut kakek istri pertama itu adalah pangkat yang membanggakan?" sinis Ron.


"Kau belum memberitahu Icha?"


"Bagaimana aku bisa memberitahunya, Kek?! Seminggu lagi pesta pernikahanku dan Icha akan digelar! Istriku juga sedang mengandung anakku! Bagaimana perasaan Icha kalau dia tahu aku menikah lagi di saat dia tengah mengandung anakku?! Apa kakek tidak pernah memikirkan perasaan istri-istri kakek?!"


"Ron, kakek tidak berniat menyakiti siapapun."


"Kakek sudah menyakitiku dan istriku!" sanggah Ron berang.


"Aku sudah menyelamatkan perusahaan impian kakek. Aku tidak mau terlibat lagi. Cari saja CEO baru. Setelah pesta pernikahanku nanti, aku dan Icha akan pergi dari kehidupan kakek. Aku juga bisa hidup tanpa uang kakek!" imbuh Ron.


"Ron, jangan seperti itu pada kakek! Kau sebentar lagi akan menjadi kepala keluarga besar kita. Kaulah satu-satunya penerus kakek."


"Ayah memiliki banyak istri dan anak! Pilih saja anak ayah yang lain," sindir Ron.


"Kakek akan membantumu menjelaskan semuanya pada Icha. Kau tidak perlu--"


"Jangan berani-beraninya mengatakan sepatah katapun pada istriku! Aku akan segera menceraikan Katrina begitu wanita itu mendapatkan pria baru yang bisa dia manfaatkan!" potong Ron.


"Kau tidak merasa kasihan sedikitpun pada Katrina? Dia hidup sebatang kara, Ron. Terlebih lagi nyawanya terancam karena paman-pamannya sendiri. Dia hanya meminta perlindunganmu."


"Aku bukan badan amal! Aku juga bukan penjaga keamanan!" sergah Ron semakin sebal mendengar ucapan sang kakek.


"Tolong jaga wanita itu untuk kakek, Ron. Bagaimanapun juga, ayahnya sudah berperan banyak dalam membesarkan bisnis keluarga kita--"


"Berapa hutang kita padanya?!" potong Ron cepat.


"Ron, kau--"


"Berapa?! Aku akan membayar lunas semua uang yang sudah disumbangkan keluarganya pada kita. Aku tidak mau terus-terusan diperbudak oleh rasa hutang budi!"


"Dulu kakek menikahkanmu dengan Thrisca juga karena hutang budi. Dan lihat kau sekarang! Kau hidup bahagia karena keputusan kakek. Mungkin saja Katrina juga bisa membawa kebahagiaan padamu, Ron." bujuk Tuan Hasan.


"Situasinya sudah berbeda, Kek. Aku sangat berterimakasih pada kakek yang sudah memaksaku menikah dengan Icha. Tapi untuk kali ini, aku tidak bisa lagi! Keputusan kakek akan menyakiti istriku. Kakek ingin aku bahagia di atas penderitaan istriku?" racau Ron.


Tuan Hasan menghela nafas sejenak dan mulai memejamkan mata.


"Umur kakek mungkin tidak akan lama lagi, Ron.. tolong urus keluarga kita dengan baik. Hanya kau satu-satunya orang yang bisa kakek harapkan." ujar Tuan Hasan lirih.


***


Bersambung...