
Pagi-pagi sekali Ron sudah bersiap dengan kemeja rapi lengkap dengan dasi. Suami Thrisca itu nampak tampan dan semakin berwibawa menggunakan setelan jas dan rambut tertata rapi.
Thrisca membuka mata perlahan dan melihat sang suami tengah sibuk memakai setelan. Wajah gadis itu nampak berbinar saat melihat wajah tampan sang suami dalam balutan jas.
"Kau sudah bangun? Mandilah. Akan kuambilkan sarapan untukmu."
Ron membuyarkan lamunan istrinya yang masih serius menatap dirinya tanpa berkedip.
"Tuan, akan pergi?" tanya Thrisca.
"Hari ini aku mulai kembali ke kantor. Kakek tua itu tidak mengijinkanku untuk bermalas-malasan lagi," ujar Ron dengan wajah masam.
"Benarkah?"
Thrisca bangkit dari ranjang empuknya dan membantu suaminya memakai jas.
"Jangan keluar kamar! Aku akan menyuruh pelayan untuk mengantarkan makan siang nanti." ujar Ron.
"Itu.. aku.. aku ingin pulang," ujar Thrisca dengan takut-takut.
"Pulang kemana? Ini rumah kita! Kau tidak boleh pergi kemana-mana!"
Amarah Ron kembali terpancing saat mendengar ucapan sang istri.
"Aku bosan terus berada di kamar. Aku tidak mau terus-terusan dikurung di tempat ini sendirian,"
Thrisca mencoba mengungkapkan pendapatnya tanpa berteriak atau memarahi sang suami.
Ron menatap wajah memelas sang istri. Pria itu teringat kembali dengan rengekan sang istri yang merasa kesepian di rumah baru yang ia belikan untuk Thrisca setelah mereka menikah.
Gadis yang biasanya hanya menghabiskan waktu untuk mengurus rumah itu kini bahkan semakin tidak memiliki ruang untuk bergerak dan tidak memiliki kegiatan yang bisa dilakukan di kamar suaminya.
"Kau boleh lakukan apapun, kecuali pulang. Ini adalah rumah kita yang sebenarnya."
Ron masih mencoba bersikap lembut pada sang istri.
Thrisca tidak menjawab perkataan sang suami. Gadis itu hanya menampakkan wajah murungnya dengan kepala tertunduk.
"Jangan main curang! Kau berusaha meminta belas kasihan dariku?! Kau ingin membuatku merasa bersalah agar aku mengabulkan semua keinginanmu?!" sindir Ron.
"Hati-hati di jalan,"
Thrisca berhenti merapikan pakaian suaminya dan memberi ucapan untuk melepas suaminya pergi bekerja.
Ron berdecak kesal dan merasa kalah karena telah berhasil diperdaya oleh wajah murung sang istri.
"Ganti bajumu, ikut aku ke kantor.." ajak Ron kemudian.
"Ke kantor?"
"Kenapa? Kau ingin pergi ke tempat lain?! Aku akan menemanimu setelah aku selesai bekerja. Selama aku bekerja, ikut saja ke kantor. Setidaknya kau harus tahu tempat suamimu bekerja,"
Ron duduk di sofa kamar seraya menemani sang istri untuk bersiap.
"Pakaian apa yang harus kukenakan?" tanya Thrisca.
"Terserah! Kau boleh memakai apapun," jawab Ron cuek.
"Maksudku aku harus memakai baju tebal atau aku bisa menunjukkan penampilan asliku?"
Ron terdiam sejenak mendengar pertanyaan sang istri. Pria itu berniat muncul sebagai Ron Diez yang sempurna dan membuat cerita seolah ia sudah sembuh dari lumpuh.
Namun, hal itu mungkin hanya akan membuat ibunya semakin bersemangat untuk membuatnya bercerai dari Thrisca. Selain itu, Ron juga tidak rela menunjukkan wajah cantik istrinya pada orang-orang di luar sana.
"Selama ini si gendut hanya menjadi gadis rumahan. Jika gendut bukan gadis rumahan, gadis itu mungkin sudah menjadi model atau mungkin simpanan sugar daddy kaya raya." batin Ron seraya mengaktifkan imajinasi liarnya.
"Jika gendut muncul tanpa kain tebalnya, apa gadis itu masih berniat mencari pria lain? Si gendut yang cantik dan baik.. Gadis itu pasti bisa mendapatkan penggantiku dengan mudah,"
Ron semakin tenggelam dalam pikirannya mengenai Thrisca.
"Tuan, pakaian apa yang harus kukenakan?!"
Thrisca membuyarkan lamunan sang suami dengan lemparan pertanyaan-pertanyaan.
"Menurutmu aku masih harus berpura-pura lumpuh atau tidak?" tanya Ron meminta pendapat Thrisca.
"Itu terserah, Tuan."
"Aku pakai kursi roda saja. Kau pakai baju tebalmu," ujar Ron kemudian.
***
Thrisca mendorong kursi roda sang suami memasuki gedung perusahaan. Genta tak henti-hentinya memandangi pasangan berpenampilan aneh itu dengan tatapan tidak suka.
"Jadi, ini tempat Ron bekerja? Gedungnya tinggi sekali.." gumam Thrisca dengan mata berkilauan.
"Gendut, bagaimana kantor suamimu? Kau yakin masih ingin mencari pria lain setelah kau melihat ini?" ujar Ron dengan berbangga.
"Tuan Ron sangat tampan dan kaya. Untuk apa aku mencari pria lain," puji Thrisca sekenanya hanya untuk menyenangkan suaminya.
"Kau sedang mengejekku?!"
Ron yang tidak mudah dibodohi, mendengar jelas pujian tidak ikhlas dari sang istri.
"Ron, untuk apa kau mengajak badan gempal ini ke kantor? Kau tidak takut akan diejek pangeran lumpuh yang menikahi putri kodok lagi?!" ujar Genta yang berjalan bersama pasangan suami-istri itu menuju ruangan Ron.
"Tuan Gen benar. Badan gempal ini hanya akan membuatmu malu. Biarkan aku pergi saja!" pinta Thrisca pada suaminya dengan wajah cemberut.
"Diam! Jangan dengarkan ucapan orang gila ini!" ujar Ron pada istrinya dengan nada kesal.
Beberapa karyawan perusahaan yang melihat Ron kembali masuk ke kantor, segera berlarian menyebarkan berita besar itu pada seluruh rekan kerja mereka.
"Pak Ron sudah kembali? Si mulut pedas tukang marah-marah itu sudah kembali ke kantor? Bukankah dia lumpuh? Seharusnya jabatannya dilepas, kenapa malah kembali kesini?" komentar salah seorang karyawan dengan wajah cemas.
"Sepertinya berita mengenai kelumpuhannya memang benar. Pak Ron tadi menggunakan kursi roda."
Karyawan yang menjadi informan nampak semakin antusias bergosip bersama rekan-rekannya.
"Tapi tadi ada gadis gemuk yang datang bersamanya," karyawan lain ikut bergabung dalam obrolan.
"Siapa? Istrinya? Dengar-dengar beberapa bulan lalu pernah ada artikel mengenai Pak Ron yang menikahi gadis gemuk berpenampilan aneh. Apa itu semua benar?"
Karyawan wanita tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut menggunjing.
"Mimpi apa wanita gendut itu bisa menjadi istri bos?! Meskipun lumpuh, Pak Ron tetap tampan dan kaya. Rasanya benar-benar tidak rela jika pria tampan itu menjadi milik wanita gendut yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kita,"
Para wanita nampak seru menggunjing istri Ron dengan wajah kesal.
"Kenapa Pak Ron mau menikah dengan gadis aneh seperti itu? Apa wanita cantik di dunia ini sudah punah?"
"Mungkin Pak Ron merasa tidak percaya diri karena sekarang bos hanyalah seorang pria cacat."
"Tapi Pak Ron masih tetap tampan dan mapan, aku tidak keberatan menjadi istri bos walaupun pria itu lumpuh.."
Han yang berjalan berkeliling perusahaan mulai sayup-sayup mendengar komentar tak sedap dari para karyawan. Pria itu hanya bisa menahan diri dan tidak membesar-besarkan ocehan tidak penting dari karyawan.
Han meluncur menuju rumah sakit untuk mengunjungi Lilian atas perintah dari Ron.
Wanita yang masih terbaring di ranjang rumah sakit itu menatap pintu kamarnya dengan mata sayu tak bersemangat saat melihat kemunculan Han.
"Sudah beberapa hari Ron tidak datang kembali mengunjungiku. Apa Ron sudah benar-benar membuangku?" ujar Lilian dengan senyum getir.
"Bos ingin menanyakan perihal kepulangan Nona. Nona bisa pulang ke rumah Nona Thrisca setelah keluar dari rumah sakit."
"Ron masih menerimaku di rumah itu?"
"Bos dan Nona Thrisca sudah pindah ke kediaman Bos. Nona boleh memakai rumah Nona Thrisca jika Nona tidak memiliki rencana lain," ujar Han dengan wajah datar.
"Apa?!"
Lilian nampak terkejut saat mendengar kabar mengenai kekasihnya yang membawa pulang sang istri ke kediamannya.
"Nona tidak salah dengar. Nona Thrisca sudah menjadi istrinya Bos, jadi wajar saja jika Bos membawa pulang istrinya."
Lilian mengepalkan tangan kuat-kuat dan berusaha membendung air mata yang hendak meluncur ke pipinya.
"Haruskah Ron bertindak sejauh ini hanya untuk membuatku marah? Aku bahkan tidak tahu dimana rumah Ron, tapi dia membawa wanita asing pulang ke rumahnya?!"
"Nona Thrisca adalah istri Bos yang sah. Tolong Nona tempatkan diri Nona di posisi yang seharusnya. Jangan coba melewati batas."
Han keluar dari ruangan Lilian tanpa meladeni kemarahan wanita itu.
Lilian mengambil gelas yang terletak tak jauh dari ranjangnya. Wanita itu membuang gelas dan bantal ke lantai disertai teriakan kencang.
"Apa ini caramu membalasku Ron?! Apa wanita yang tidak bisa memiliki anak, tidak pantas lagi mendapatkan perhatian dari pria manapun?!" teriak Lilian dengan histeris.
Han berdiri di luar ruangan Lilian dan mendengar seluruh keluh kesah dari mantan kekasih bosnya itu.
Han segera memanggil dokter dan perawat untuk menenangkan Lilian kemudian kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
***
Thrisca duduk di sofa ruangan Ron dengan mata mengantuk. Gadis itu menguap beberapa kali dan menatap Ron dengan mata yang semakin menyipit.
"Tidur saja di dalam. Ada ruang istirahat di balik pintu itu," ujar Ron dengan mata masih tertuju pada tumpukan kertas yang berserakan di mejanya.
"Bolehkan aku berjalan-jalan keluar?"
"Keluar kemana? Kau tidak boleh kemanapun!!"
Ron yang masih duduk di kursi roda, tiba-tiba berdiri dan membentak sang istri.
"Kau bisa ketahuan dengan mudah jika kau tidak bisa mengatur emosimu," ejek Thrisca.
"Aku tidak peduli! Tidur di kamar sekarang sebelum aku menguncimu lagi!" perintah Ron.
"Apa bedanya disini dengan di rumah? Kau selalu saja mengurungku," protes Thrisca.
"Baiklah, kalau begitu apa yang ingin kau lakukan? Aku bisa mengijinkan semuanya kecuali pergi dari kantor!"
Ron mulai melunak.
"Aku juga tidak meminta keluar gedung. Aku tidak tahu jalanan disini mana mungkin aku pergi keluar sendiri," gerutu Thrisca.
"Ijinkan aku berjalan berkeliling kantormu saja. Aku ingin membeli camilan atau melihat sesuatu yang bisa diamati," sambung Thrisca.
"Hanya berkeliling! Tidak boleh keluar! Jangan lama-lama," ujar Ron mengijinkan.
Thrisca segera bangkit dari sofa dengan susah payah. Bersama dengan baju tebalnya, Thrisca berjalan bak penguin keluar dari ruangan kerja sang suami.
Istri sang bos itu berjalan bak anak hilang di area kantor perusahaan sang suami. Gadis itu menoleh kesana-kemari mencoba menemukan hal menarik yang bisa ia lakukan.
Gadis itu pun memutuskan untuk berbelok ke toilet dengan niatan membasuh wajah mengantuknya agar ia bisa merasa segar kembali.
Namun saat memasuki toilet, ruangan kecil itu penuh dengan wanita yang tengah asyik berias di depan cermin besar.
Semua mata langsung tertuju pada Thrisca saat gadis berpakaian tebal itu masuk ke dalam ruangan sempit itu.
"Kenapa ramai sekali? Ini pasar apa toilet?" batin Thrisca.
Gadis itu berjalan mencari bilik kosong seraya menunggu wanita-wanita itu keluar dari toilet.
"Siapa gadis gendut aneh itu?"
Para wanita itu mulai bergosip saat Thrisca masuk ke dalam salah satu bilik.
Wanita-wanita itu bahkan sengaja berbicara dengan suara nyaring untuk mengejek Thrisca.
"Mungkin karyawan baru?" sahut wanita yang lain.
"Atau itu wanita gendut yang datang bersama Pak Ron?"
"Mana mungkin! Pak Ron datang bersama wanita berambut keriting aneh itu? Bos pasti sudah buta jika gadis aneh itu benar-benar istrinya," ujar salah satu wanita dengan nada meremehkan.
Thrisca mendengar dengan jelas setiap hinaan yang ditujukan padanya. Gadis itu hanya bisa menyobek tisu toilet untuk meredam kemarahannya.
"Lihat saja lemak gadis tadi, benar-benar mengerikan! Walau hanya melihatnya sekilas, tapi aku sudah muak. Penampilannya membuatku sakit mata,"
Kumpulan wanita itu masih terus bersemangat melontarkan ejekan untuk Thrisca.
"Wanita-wanita kota sangat menyeramkan.." ujar Thrisca dengan tangan gemetar.
Begitu tidak mendengar suara gosip lagi, Thrisca mengira para wanita itu sudah keluar dari toilet. Gadis itu membuka pintu perlahan dan segera keluar dari bilik toilet.
Namun, ternyata wanita-wanita itu masih berada di dalam toilet dan kembali memusatkan mata pada Thrisca.
Thrisca berusaha bersikap biasa dan mengabaikan tatapan mata tidak suka dari para wanita itu.
Brukk!!
Baru saja Thrisca melangkahkan kakinya, tiba-tiba gadis itu terhuyung dan tersungkur ke lantai yang basah. Gadis itu terjun bebas ke lantai licin yang membuatnya terpeleset.
Kumpulan wanita yang melihat kejadian itu menatap Thrisca dengan wajah senyum yang menertawakan. Beberapa menatap Thrisca dengan iba dan kasihan, dan beberapa dari mereka menertawakan Thrisca dengan kencang.
"Haruskah aku dipermalukan seperti ini?!" batin Thrisca geram.
Gadis itu segera keluar dari kamar mandi dan berjalan cepat meninggalkan tempat berisi wanita-wanita jahat itu. Begitu Thrisca meninggalkan toilet, tawa para wanita itu semakin meledak dan mereka kembali mengejek penampilan konyol Thrisca saat gadis itu terpeleset di lantai.
"Sial sekali! Seharusnya aku duduk diam saja di rumah!" sesal Thrisca seraya menutup wajahnya yang malu.
***
Bersambung..