
Ron membolak-balikkan kertas di meja kerjanya dengan kesal. Pria itu terus-menerus memarahi Han hanya karena hal yang sepele dan tidak penting. Sementara Genta hanya bisa duduk manis menyaksikan aksi uring-uringan sepupunya yang tidak jelas.
"Han, apa tulang kakimu patah?! Kenapa jalanmu lambat sekali seperti keong!" bentak Ron dengan suara nyaring.
Han hanya diam tak berani bersuara dihadapan sang bos.
"Belikan makan siang untuk istriku! Cari makan siang yang bisa membuat para wanita senang! Makanan mewah yang bisa membuat mata wanita terpesona! Makanan yang bisa membuat istriku memaafkanku!"
"Dimana aku harus mencari makanan seperti itu?!" batin Han frustasi.
"Jadi kau uring-uringan sejak tadi hanya karena istri gendutmu itu?!" ujar Genta dengan mata terbelalak.
"Diam kau pengungsi miskin!"
Ron melempar sandalnya tepat ke arah wajah sepupunya.
"Ron, berhentilah mengamuk seperti anak kecil. Jika ada masalah dengan wanita, selesaikan saja di ranjang," usul Genta dengan senyum jahat.
"Istriku masih berhalangan," jawab Ron dengan wajah suram.
"Kau benar-benar ingin menghabiskan waktu dengan si gendut itu? Aku bisa mencarikan puluhan wanita cantik untuk menemanimu! Lupakan saja si rambut aneh itu,"
"Kau bisa membawakanku gadis cantik yang masih perawan sekarang juga?" tanya Ron dengan tatapan dingin.
"Ayolah, mana mungkin aku bisa mendapatkan wanita penghibur yang masih perawan," ujar Genta cuek.
"Kalau begitu pergi saja sana! Melihatmu hanya membuatku semakin kesal!" usir Ron pada sepupunya.
Pria itu memijat-mijat kepalanya yang pening. Ron tidak menyangka Thrisca bisa memporak-porandakan hatinya sampai seperti ini.
***
Thrisca berjalan menuju jendela besar yang ada di kamar Ron. Gadis itu menatap keluar jendela dengan wajah murung.
Dengan pakaian serba putih yang tipis dan terbuka, gadis itu mencoba mencari angin segar dengan membuka jendela besar di kamar suaminya itu.
"Dibawah sana ada penjaga keamanan.. tidak ada penjaga keamanan pun, aku juga tidak akan berani melompat." gumam Thrisca.
Ron masuk ke kamar sambil membawa nampan berisi makan siang untuk sang istri. Melihat istrinya tengah bersandar di jendela yang terbuka, pria itu nampak khawatir jika gadisnya akan nekad melompat hanya demi melarikan diri dari kurungannya.
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin lompat? Lompat saja kalau berani!" ujar pria itu mencoba menantang.
Thrisca melirik ke arah suaminya dengan cuek. Gadis itu mengabaikan sang suami dan kembali sibuk menatap keluar jendela.
"Apa aku sedang berbicara dengan tembok?!" bentak Ron kesal karena sang istri tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Habiskan makananmu agar kau terus memiliki tenaga untuk merajuk padaku!"
Pria itu meletakkan nampan dengan kesal dan kembali mengunci pintu.
"Ron benar-benar keterlaluan! Aku sudah menjadi hewan peliharaan pria gila itu," gumam Thrisca lemas.
Tak berselang lama kemudian, Ron kembali masuk ke kamar dan melihat nampan makanan sang istri masih utuh.
"Kau boleh saja membenciku, tapi makanan ini tidak memiliki kesalahan apapun padamu kan?!" ujar Ron dengan wajah sinis.
Thrisca hanya diam dan terus menatap langit cerah yang terlihat dari jendela kamar.
"Lompat saja kalau berani! Untuk apa mencoba menarik perhatian dengan trik murahan seperti ini?!"
Ron semakin kesal terus diabaikan oleh sang istri.
Gadis itu naik ke atas jendela dan menatap lurus ke arah suaminya.
"Pemandangan ini yang ingin kau lihat?" ujar Thrisca dengan wajah datar.
Ron berusaha keras menyembunyikan wajah paniknya saat melihat sang istri yang berada di bibir jendela kamarnya.
"Kau hanya ingin mengujiku kan? Kau tidak berani melompat! Lihat kakimu yang gemetar itu!"
Pria itu ingin sekali menarik tangan sang istri menjauh dari jendela, namun ia masih terus menunggu saat yang tepat.
"Tinggi sekali.. padahal ini hanya lantai tiga."
Thrisca menoleh ke bawah dengan takut-takut.
"Jangan lihat ke bawah!" ujar Ron dengan panik hingga mengejutkan Thrisca.
Kaki gadis itu tergelincir dan membuatnya meluncur dari bibir jendela. Seketika jantung Ron terasa rontok saat melihat sang istri terjun ke bawah.
Pria itu segera berlari ke arah jendela dan mendapati sang istri masih bergelantungan di jendela besar itu. Ron segera menarik tangan sang istri yang sudah menangis sesenggukan itu.
"Tenanglah! Aku akan menarikmu ke atas, jangan banyak bergerak!"
Ron menarik tangan gadisnya ke atas dengan perlahan.
Thrisca mulai lemas dan berkeringat dingin saat melihat ke lantai keras di halaman rumah suaminya itu.
"Aku belum mau mati, Ron! Maaf sudah membuatmu kesal, maafkan aku!" teriak Thrisca dengan tangis sesenggukan.
"Gendut, jangan berbicara seperti itu! Kau tidak akan mati dengan mudah!" ujar Ron seraya menarik tangan sang istri perlahan.
"Tolong sampaikan permohonan maaf ku pada ayah dan juga kakek. Maaf aku tidak bisa menjadi istri yang baik untukmu, Ron."
"Gendut, kau terlalu berlebihan! Jangan berpikir macam-macam!" omel Ron mulai kesal mendengar ocehan tidak jelas dari sang istri.
Beruntung badan atletis Ron mampu menarik istrinya yang langsing naik ke atas dengan mudah.
Thrisca langsung memeluk sang suami dengan erat saat gadis itu bisa kembali ke atas dengan selamat.
"Maaf, Tuan. Maafkan aku,"
Thrisca menangis sendu seraya memeluk sang suami.
Ron memeluk istrinya tak kalah erat. Pria itu mencium kening sang istri bertubi-tubi dan mendekap gadis kesayangannya itu hingga istrinya tenggelam dalam bahu lebarnya.
"Jangan lakukan itu lagi, sayang.. kau membuatku takut."
"Maaf, aku sudah membuat keributan. Aku takut tidak sempat meminta maaf padamu. Maafkan aku,"
Gadis itu terus meminta maaf pada suaminya disertai isak tangis.
Ron mengusap air mata istrinya dengan lembut. Thrisca menangis makin kencang saat suaminya itu mengusap pipi halusnya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Terlalu banyak menangis akan membuatmu semakin lapar."
Ron menarik tangan istrinya yang bersimpuh di lantai dan mendudukkan gadis itu di sofa.
"Maaf, Tuan. Kau boleh menghukumku. Aku sudah membuatmu kesal dan kerepotan," sesal Thrisca.
"Memangnya hukuman apa yang pantas untukmu?"
"Kau bisa menyuruhku apa saja. Aku bisa membersihkan taman atau kolam renang. Kau juga bisa menyuruhku berbelanja bahan yang sulit ke tempat yang jauh," ujar Thrisca lirih.
"Hukuman macam apa itu? Yang seperti itu mana mungkin bisa membuatmu jera?!" ujar Ron sinis.
Pria itu menatap istrinya yang masih menundukkan kepala. Ron menatap tubuh sang istri disertai dengan senyuman licik.
"Aku ingin makan buah.." ujar Ron seraya melirik dada sang istri.
Thrisca menoleh ke arah sang suami dan segera membalikkan badan untuk menutupi tubuhnya setelah tahu maksud perkataan sang suami.
"Pria ini benar-benar!!" batin Thrisca kesal menanggapi keinginan pria bernafsu besar itu.
Ron segera mengangkat tubuh sang istri menuju ranjang dan menindih badan mungil gadisnya itu.
"Ron, jangan keterlaluan!"
Thrisca mulai berteriak pada sang suami.
Omelan dan teriakan sang istri tidak dapat menghentikan aksi pria berdada bidang itu. Thrisca hanya bisa menahan kesal karena ulah Ron yang sudah tidak sungkan lagi padanya.
"Kapan masa periodemu selesai?" tanya suami Thrisca seraya mengelus buah sang istri yang sudah penuh dengan tanda cinta darinya itu.
"S-sebentar lagi.."
"Jangan membohongiku!" bentak Ron dengan nada kesal.
"Benar, sebentar lagi."
Ron mengecup buah mulus milik istrinya dan segera bangkit dari ranjang. Pria itu mengusap sudut bibirnya dengan senyum penuh kepuasan.
"Buahnya sangat segar dan manis.." ujar Ron seraya keluar dari kamar.
"Aku menyesal sudah meminta maaf pada pria liar itu!" gerutu Thrisca.
Gadis yang sudah setengah telanjang itu segera membenarkan pakaiannya yang acak-acakan. Gadis itu segera merapikan rambutnya dan menikmati makan siang yang diantar oleh suaminya.
Sementara sang suami tengah dalam suasana hati yang bagus. Pria itu berjalan riang menuju ruang kerjanya dengan wajah penuh senyum.
"Ada apa dengan senyuman bodoh itu?" tanya Genta pada Ron.
"Aku hanya senang.."
"Memang hal menyenangkan apa yang terjadi padamu?"
"Aku baru saja mencicipi buah besar yang manis dan menyegarkan," ujar Ron berusaha pamer pada Genta.
"Buah apa itu?"
"Buah yang tidak akan terbayang dalam benakmu," jawab Ron seraya berlalu meninggalkan si sepupu untuk kembali melanjutkan pekerjaan.
Thrisca nampak semakin lesu dilanda kebosanan karena terus dikurung di dalam kamar sang suami. Gadis itu hanya bisa melamun dan berbaring di ranjang tanpa bisa melakukan apapun.
Tengah malam Ron masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri sudah tertidur lelap. Pria itu masuk ke dalam kamar dengan penuh hati-hati agar tidak menggangu tidur istri cantiknya.
"Gendut pasti makin kesal jika aku terus mengurungnya di dalam kamar.." gumam Ron seraya mengusap rambut sang istri.
"Tapi bagaimana lagi.. semakin hari, aku semakin ingin menyimpan gadis cantik ini di dalam kamarku hanya untuk diriku sendiri."
Ron mengecup kening sang istri dan memeluk erat tubuh wangi gadisnya itu.
***
Bersambung..