DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 90



Ron duduk di emperan rumahnya dengan wajah murung menanti kepulangan sang istri.


Pria yang masih mengalami morning sickness itu kembali merasa mual dan muntah parah setelah ia selesai menyiapkan tenda kecilnya di dalam rumah.


Ron terus menatap ke arah gerbangnya dengan wajah sendu dan menyedihkan. Pria itu nampak seperti anak terlantar yang menanti jemputan orang tua.


Wajahnya yang memucat dan tubuhnya yang lemas semakin membuatnya merindukan kepulangan sang istri dari dunia luar.


Setelah dua jam lamanya duduk mengenaskan di lantai depan rumah, akhirnya wanita yang ia tunggu-tunggu muncul dari dari dalam mobil sang ibunda yang sudah terparkir di area halaman rumah.


"Sayang.."


Ron berlari kecil menghampiri istrinya yang baru saja menapakkan kaki di area kediaman mewah itu.


"Ron, apa yang kau lakukan di luar?" tanya Thrisca heran.


"Aku menunggumu! Kenapa kau lama sekali perginya! Aku mual lagi! Aku muntah banyak tadi! Perutku seperti diaduk," rengek pria itu dengan wajah tidak tahu malu pada sang istri.


"Ron, kau memalukan sekali!"


Nyonya Daisy memukul bekalang kepala putranya dengan kencang untuk menyadarkan sang putra dari tingkah bodoh dan menjijikkan yang ditunjukkan oleh pria tampan itu.


"Ibu! Ibu jahat sekali padaku! Jangan lagi dekati istriku! Pergi yoga sendiri saja sana!" usir Ron dengan galak pada sang ibunda.


"Ron, kau masih memiliki tenaga untuk berteriak kencang seperti itu?!" sindir Thrisca.


"I-itu, itu semua gara-gara ibu! Ayo, Sayang.."


Ron memeluk pinggang sang istri dan mengajak permaisurinya itu masuk ke dalam.


"Ibu pulang sana!" teriak Ron pada Nyonya Daisy.


"Ibu memang mau pulang! Mata ibu jadi sakit karena terus melihatmu!"


"Ibu, hati-hati di jalan.."


Thrisca melambaikan tangan pada sang ibu mertua.


"Thrisca, hubungi ibu kalau terjadi sesuatu. Ibu pulang dulu. Besok ibu ke sini lagi," pamit Nyonya Daisy.


"Aku akan mengunci pintu gerbangnya! Jangan lagi usik istriku!"


Ron masih sibuk mengomel pada ibu kandungnya.


"Ron, jangan seperti itu!" tegur Thrisca seraya memukul lengan sang suami.


"Jangan terlalu menurut pada ibu! Kau bisa tertular sikap menyebalkan wanita tua itu!" seloroh Ron.


Thrisca hanya tersenyum kecil menanggapi ocehan suaminya. Wanita itu memeluk erat lengan sang suami dan berjalan masuk ke dalam istana mereka.


"Apa ini, Ron?"


Thrisca membelalakkan mata menatap rumahnya yang gelap gulita dan hanya tersinari lampu-lampu kecil penuh warna.


Wanita itu membulatkan matanya saat melihat tenda kecil yang berdiri di tengah-tengah ruangan menghalangi jalan.


"Ron, kau yang membuat semua ini?" tanya Thrisca dengan wajah haru.


"Kau bilang kau bosan terus berada di rumah. Jadi aku membuatkan suasana baru untukmu. Bagaimana? Kau suka?" tanya Ron dengan antusias.


Wanita hamil itu berjinjit dan melayangkan kecupan di pipi pria tercintanya itu.


Ron ikut mendekap sang istri dengan erat, menumpahkan semua kerinduannya pada wanita yang hanya pergi meninggalkannya selama beberapa jam itu.


"Ron, sebenarnya yang hamil itu aku atau kau? Kenapa kau jadi manja sekali?" ejek Thrisca.


"Aku juga merasa aneh, rasanya aku ingin terus menempel padamu.."


"Sayangku, hari ini kau menggemaskan sekali.." ujar Thrisca seraya mencubiti pipi sang suami.


"Oh iya, Ron! Aku mempunyai hadiah untukmu,"


Thrisca membuka kantong kecil yang ada di tangannya dan memberikan isinya pada sang suami.


"Apa ini?"


Ron nampak bersemangat saat membuka bungkusan itu, namun wajah berserinya tiba-tiba menghilang saat ia mendapati sebuah *ho*odie kelinci lengkap dengan tudung yang tertempel telinga imut.


"Apa ini, Sayang?"


"Aku ingin sekali melihatmu memakai ini, Ron! Tolong pakai ya.." pinta Thrisca dengan mata berkilauan.


"Baju apa ini?" batin Ron dengan wajah jijik menatap pakaian imut nan cerah itu.


"Ayo, pakai! Aku akan mandi dan menyiapkan makan malam. Kau harus memakainya!"


Thrisca berlari girang menuju kamar dan segera bersiap untuk acara camping indoor bersama sang suami. Wanita itu memakai sweater imut berwarna senada dengan hoodie yang ia belikan untuk Ron serta mengenakan celana training hangat dilengkapi dengan kaos kaki berwarna cerah.


"Ron, kau ingin makan apa?"


Thrisca berlari girang menghampiri sang suami yang sudah bersiap di dalam tenda.


Wanita itu cukup puas melihat sang suami mau memakai hoodie imut berwarna peach yang ia berikan. Tak lupa istri Ron itu juga menutupkan tudung hoodie pada kepala sang suami dan menatap gemas telinga kelinci panjang yang tertempel di tudung itu.


"Ron, kau imut sekali! Aku benar-benar ingin membungkusmu sekarang!"


Thrisca menguyel-uyel pipi suaminya gemas, sementara Ron terus memasang tampang cemberut sebagai bentuk protesnya pada sang istri.


"Kenapa kau diam saja sejak tadi? Kau tidak suka hadiah dariku?" tanya Thrisca dengan wajah murung.


"M-mana mungkin?! Ini hadiah terbaik yang pernah kudapatkan sepanjang tahun ini," ujar Ron berusaha menghibur sang istri.


Pria itu mulai jengkel menanggapi ocehan tidak penting dari sang istri.


"Mana mungkin, Sayang! Kau dan baby kita adalah hadiah terindah dalam hidupku,"


Ron mengecupi kening sang istri bertubi-tubi.


Pria itu beralih ke perut sang istri dan menyingkap sweater tebal yang membalut tubuh Thrisca. Ron mendekap perut istrinya serta melayangkan ciuman bertubi-tubi pada perut rata itu.


"Bagaimana kalau malam ini kita makan daging? Aku yang akan memasak," ajak Ron seraya menggandeng tangan sang istri menuju taman rumahnya tempat ia menyiapkan pesta barbeque kecil bersama istrinya.


"Memangnya kau bisa memanggang daging?" ejek Thrisca.


"Tidak bisa.." jawab Ron disertai cengiran kuda.


"Ron, kau masih mual, kan? Tidak apa-apa kalau makan daging?" tanya Thrisca cemas.


"Lebih baik aku buatkan bubur atau sup hangat saja," imbuh Thrisca.


"Tidak perlu! Hari ini kau duduk saja! Aku yang akan memanggang sosis dan dagingnya!" jawab Ron penuh percaya diri.


"Ron, kalau dagingnya gosong kan sayang?" ujar Thrisca ragu-ragu.


"Kau meremehkanku?!" ujar Ron menyipitkan kedua matanya.


"Baiklah. Aku menunggu makanan lezat darimu," ujar Thrisca seraya menepuk-nepuk pundak Ron untuk menyemangati calon daddy yang banyak tingkah itu.


"Sayang, tolong siapkan sausnya. Pakai saus manis saja, jangan makan pedas!" ujar Ron dengan sok membagi tugas bersama istrinya.


"Tentu,"


"Sayang, tolong buatkan minuman hangat. Jangan minum-minuman bersoda atau minuman dingin! Teh hangat saja," perintah Ron lagi.


"Baik.."


"Sayang, tolong ambilkan sayur lagi di kulkas. Cuci bersih sekalian,"


"Siap!"


"Sayang, tolong--"


Ron yang tadinya berkata ingin membiarkan sang istri duduk santai, justru membuat wanita itu terus bolak-balik dari taman ke dapur dan melakukan ini-itu untuk menyiapkan acara makan malam mereka.


Pria jangkung itu tidak sadar dirinya sudah membuat sang istri kelelahan karena terus berjalan kesana-kemari melakukan banyak hal hanya untuk memenuhi perintah darinya.


Thrisca yang masih sibuk dengan sayuran, menghentikan aktivitasnya sejenak karena merasakan nyeri di perutnya. Wanita itu meringis kesakitan seraya memegangi perutnya yang masih rata.


"Sayang, duduklah! Makanan sudah hampir--"


Ron langsung menjatuhkan piring makanannya dan berlari menghampiri sang istri yang meringis kesakitan.


"Sayang, apa yang terjadi? Kau baik-baik saja? Icha, jangan menakutiku!"


Pria itu menggendong sang istri dengan panik dan segera memasukkan tubuh mungil itu ke dalam mobilnya.


"Kita mau kemana, Ron?" tanya Thrisca dengan suara parau.


"Sayang, maaf.. apa aku terlalu sering menyuruhmu? Kau bisa menolaknya, kenapa kau terus saja menanggapi ocehanku?!" omel Ron seraya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Aku sudah tidak apa-apa, Ron.." ujar Thrisca.


Wanita yang tergeletak di bangku belakang itu, bangun perlahan dan mendudukkan badan rampingnya.


"Berbaring saja, Sayang!"


Pria itu berkendara dengan panik dan sesekali melirik sang istri yang terduduk lemah di kursi belakang.


"Ron, hati-hati! Jangan berkendara dengan ceroboh seperti itu!" tegur Thrisca dengan suara lirih.


Tak butuh waktu lama, akhirnya pasangan suami-istri itu tiba di rumah sakit terdekat.


"Ron, aku baik-baik saja. Tadi hanya sakit perut biasa. Bukan hal yang serius," ujar Thrisca.


"Baik-baik saja apanya? Kau meringis kesakitan! Kita harus periksa untuk memastikan keadaanmu," paksa Ron.


"Ron, aku baik-baik saja. Sudah, ya? Kita pulang saja, ya? Kau belum makan malam, kan?" ajak Thrisca.


"Aku tidak peduli lagi dengan makan malam! Aku tidak peduli pada potongan daging itu! Aku seharusnya lebih memperhatikanmu.."


Ron mendekap sang istri dengan erat dan menempel.


Pria itu membenamkan kepala di tengkuk sang istri dengan air mata mengucur deras.


"Ron, kau menangis?" tanya Thrisca saat ia merasakan tetesan air membasahi tengkuknya.


Ron tidak menjawab namun hanya mengeratkan pelukannya. Pria itu menangis tanpa bersuara dalam dekapan sang istri dengan sesekali mengusap ingus yang hampir meluncur bebas dari hidungnya.


"Maafkan aku.. aku suami yang buruk," ujar Ron dengan tangis sesenggukan.


"Mana mungkin, Ron! Kau suami terbaik yang pernah ada! Kau suami tercintaku,"


Thrisca menepuk-nepuk punggung sang suami untuk menenangkan pria kesayangannya itu.


Pasangan suami-istri itu berpelukan lama diiringi dengan isak tangis dari keduanya. Ron benar-benar diliputi rasa sesal dan bersalah pada istri serta buah hatinya.


Pria tampan itu hampir menggila karena ringisan sakit dari sang istri yang tengah berbadan dua.


***


Bersambung...