DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 79



Lilian membuka mata dan mendapati dirinya terbaring di ruangan kecil asing yang hanya berisi ranjang kecil.


Seorang wanita muda membuka pintu kamar kecil itu dan menyapa Lilian dengan ramah.


"Sudah bangun? Apa ada bagian tubuh yang terasa sakit?" tanya wanita muda itu pada Lilian.


"Aku baik-baik saja. Terimakasih," jawab Lilian sekenanya.


"Maaf, aku datang terlambat. Pria itu pasti sudah melakukan hal yang tidak-tidak padamu," sesal wanita muda itu.


"Tidak perlu meminta maaf. Jangan melihatku seperti korban pel*cehan seperti itu. Ini bukan pertama kalinya aku melakukan hal itu bersama pria tadi malam,"


"Jadi, pria itu mantan suamimu?"


"Bukan," jawab Lilian lirih.


"Kekasihmu?" tanya wanita itu lagi.


"Bukan,"


"Temanmu?"


"Em, bukan." jawab Lilian dengan wajah murung.


"Kau tidak ingin menuntutnya? Aku bersedia menjadi saksi--"


"Maaf, aku tidak ingin membicarakan hal ini." potong Lilian cepat.


"Kau seorang wanita! Jagalah kehormatanmu di luar sana. Jangan mau diperlakukan semena-mena--"


"Cukup!"


Lian tanpa sadar membentak wanita muda yang berdiri di hadapannya.


"Maaf, aku tidak bermaksud membentak. Terimakasih sudah membantuku. Aku tidak akan merepotkan lebih banyak lagi,"


Lilian bangkit dari ranjang kecil itu dan beranjak menuju pintu.


"Tunggu! Beristirahatlah dulu sejenak, kau tengah mengandung, kan?"


Lilian menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah wanita muda yang menolongnya.


"Dokter yang memeriksamu semalam mengatakan kau tengah mengandung dua minggu," ujar wanita muda itu.


"Mengandung? Mengandung apa? Aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk memiliki anak lagi! Tolong jangan ucapkan omong kosong padaku!"


"Aku hanya menyampaikan hasil pemeriksaan dokter. Kau bisa mengeceknya sendiri di rumah sakit,"


Lilian segera berlari keluar dari rumah kecil itu untuk mencari klinik terdekat. Wanita itu melakukan pemeriksaan ulang dan hasilnya sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh wanita muda yang menolongnya.


Wanita yang sempat divonis akan sulit hamil itu ternyata diberi kesempatan sekali lagi untuk menjaga janin yang mulai tumbuh dalam rahimnya.


"Anak siapa ini?! Aku tidak ingat dengan siapa aku menghabiskan malam dua minggu yang lalu," gumam Lilian gelisah.


"Bagaimana aku bisa mengurus bayi dengan keadaanku yang seperti ini? Jika aku menggugurkannya lagi, aku mungkin akan ikut kehilangan rahimku." batin Lilian berkecamuk.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?!" gumam Lilian semakin frustasi.


Wanita itu mengambil ponsel dan segera menghubungi Jane untuk meminta bantuan.


"Halo?"


"Siapa ini?" tanya Jane dengan ketus.


"Ini aku, Lian."


"Lian? Lian siapa?"


"Jane, kau sudah lupa padaku? Aku, Lian, temanmu?"


Lilian mulai panik saat mendapat perlakuan dingin dari teman yang sudah bersamanya selama bertahun-tahun itu.


"Aku tidak mengenal wanita menyedihkan sepertimu!" ujar Jane dengan angkuh dan langsung mematikan telepon.


"Astaga! Dasar teman tidak tahu diuntung!"


Wanita itu kembali melihat nomor-nomor yang tersimpan di ponselnya. Dari sekian banyak nomor, Lilian hanya berani menghubungi Jane.


Ia pikir, Jane masih tetap akan membantunya di saat seluruh dunia mengutuknya. Namun ternyata teman satu-satunya itu dengan mudahnya berpaling dan ikut meninggalkannya sendirian dalam lubang keterpurukan.


"Mana mungkin aku menghubungi Ron.." gumam Lilian lemas.


"Kemana semua orang saat aku sendirian seperti ini?!" oceh Lilian pada dirinya sendiri seraya mengusap air matanya yang mengalir deras.


***


"Gendut, kau sudah membaca berita ini?"


Genta menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan dengan jelas video perseteruan yang memanas antara Nyonya Daisy dan Lilian.


Meskipun wajah Nyonya Daisy tidak ditampilkan, namun Genta dapat mengenali dengan baik suara bibinya itu. Ditambah lagi wajah Lilian bahkan dimunculkan secara gamblang tanpa sensor.


"Kapan video ini diunggah?" tanya Thrisca dengan wajah tercengang.


"Sekitar 3-4 hari yang lalu,"


Thrisca mengamati pakaian yang dikenakan Nyonya Daisy dengan cermat. Wanita itu mulai menyadari kedatangan Nyonya Daisy beberapa hari yang lalu dengan mengenakan pakaian yang sama seperti terlihat dalam video.


"Mas Gen, ibunya Ron datang kemari beberapa hari yang lalu memakai pakaian ini.." ungkap Thrisca dengan suara bergetar.


"Jadi, setelah membuat keributan dengan Lilian, Bibi datang membuat keributan di--"


"Kenapa aku bodoh sekali?! Aku sama sekali tidak tahu apapun mengenai hal ini! Ron pasti sangat kacau selama beberapa hari ini,"


Thrisca berlari menuju kamar untuk menghampiri sang suami.


Wanita itu membuka pintu dengan kasar hingga membuat Ron terkejut bukan main. Pria yang tengah menyeruput kopi paginya itu langsung menyemburkan air yang belum sempat membasahi kerongkongannya.


"Ron, maaf aku tidak memperhatikanmu selama beberapa hari ini. Aku tidak membaca surat kabar. Aku juga belum membeli ponsel baru. Aku tidak melihat TV. Aku tidak tahu mengenai kabar buruk yang menimpa keluargamu."


Thrisca langsung mengoceh panjang lebar tanpa jeda.


Ron tidak menghiraukan ocehan sang istri dan kembali mengangkat cangkirnya untuk menikmati kopinya.


Namun lagi-lagi sang istri mengejutkannya dengan tepukan keras di bahunya hingga membuat pria yang tengah menyeruput kopi itu tersedak.


"Ron, kau baik-baik saja, kan?! Maaf aku tidak perhatian padamu! Aku istri dan menantu yang buruk! Aku--"


"Gendut, diamlah! Aku ingin minum kopiku!" potong Ron dengan suara meninggi.


"Maaf, Ron. Aku memang istri yang payah," ujar Thrisca lirih.


Wanita itu berjalan perlahan menuju pintu meninggalkan sang suami yang ingin menikmati waktu santai di pagi hari.


Melihat sang istri yang menampakkan wajah murung, Ron segera bangkit dari ranjang dan mengangkat tubuh langsing istrinya itu.


"Ron, aku--"


Belum sempat Thrisca melanjutkan kalimatnya, Ron sudah menghujani kecupan di bibir lembut sang istri untuk membungkam mulut cerewet wanita itu.


"Sayang, kau ini sedang membicarakan apa?"


"Itu.. Ron, soal ayahmu dan.."


"Lilian?"


"Kau baik-baik saja, kan? Bagaimana pun juga Lilian pernah menjadi orang terkasihmu. Aku tidak menyangka ternyata dia.."


"Kenapa aku harus tidak baik-baik saja hanya karena Lilian? Lilian bukan siapa-siapa lagi bagiku." ujar Ron tegas.


"Ibu pasti tengah bersedih, Ron. Bagaimana kalau kau mengunjungi ibumu?"


"Bersedih apanya? Hal seperti ini sudah biasa dialami oleh ibuku. Ini bukan pertama kalinya ibuku memergoki ayahku dan selingkuhannya." ujar Ron cuek.


"Kau tidak kecewa melihat Lilian? Kau tidak marah pada ayahmu?"


"Sayang, duniaku sudah dipenuhi olehmu. Aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk membenci orang yang tidak berarti dalam hidupku,"


Ron mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pucuk kepala sang istri.


"Ron, lain kali tolong ceritakan padaku jika terjadi sesuatu padamu. Aku memang lamban dan tidak peka, tapi aku juga ingin menghiburmu. Aku juga ingin menjadi bagian dari rasa sedihmu.."


"Aku akan mengatakannya padamu jika itu hal yang penting. Hal tidak penting seperti ini, untuk apa harus repot-repot dibahas denganmu?"


"Ron, biarkan aku menghiburmu. Bagaimana kalau kita pergi berkencan hari ini?" ajak Thrisca.


"Berkencan apanya? Aku tidak mau berkeliaran dengan masker dan topi lagi di luar sana," sindir Ron.


"Aku juga ada urusan sebentar di luar. Besok aku akan mengajakmu kencan seharian," ujar Ron seraya mengusap rambut sang istri.


"Ini akhir pekan, Ron. Kau mau kemana?"


"Ada sesuatu yang harus kuurus hari ini juga. Maaf ya, Sayang."


Ron beranjak dari ranjang dan segera bersiap untuk berganti pakaian.


"Kalau begitu, aku boleh pergi bersama Nadine? Beberapa hari yang lalu Nadine menghubungiku. Dia mendapat pekerjaan di kota ini,"


"Pergi saja. Aku akan menyuruh Han menjemputmu nanti,"


"Tidak perlu, Ron. Aku bisa pergi--"


"Ikuti saja semua perkataanku!" potong Ron cepat.


"Hm.." jawab Thrisca singkat.


"Aku pergi dulu, Sayang.."


Ron melayangkan kecupan di bibir sang istri dan berlalu menuju pintu keluar rumah.


***


Bersambung...