
Genta dan Nadine duduk bersama di atap gedung perusahaan Diez Group. Kedua manusia itu menikmati kopi panas di malam yang berhembuskan angin dingin seraya menatap indahnya kelap-kelip lampu dari ketinggian.
Bukannya menatap indahnya cahaya lampu kota, Nadine justru sibuk memandangi wajah tampan Genta yang tengah menyeruput kopi panas.
"Nadine.." panggil Genta dengan suara lirih.
"Iya, Pak?" jawab Nadine dengan mata berbinar.
"Nadine.." panggil Genta lagi.
"Kenapa, Pak?"
Nadine menggeser tubuhnya mendekat ke arah Genta yang duduk tak jauh darinya.
"Na..dine." panggil Genta lagi makin gugup.
"Ada apa dengan Genta?!" batin Nadine bingung.
"Pak Gen sakit?" tanya Nadine seraya memeriksa dahi Genta.
Tak ingin wajah gugupnya terlihat, Genta langsung berdiri dengan gelagapan menjauh dari Nadine.
"Aku.. ingin ke toilet!" ujar Genta melarikan diri dari Nadine.
Pria itu mulai bernafas lega begitu ia lepas dari pandangan Nadine. Genta mengeluarkan kotak cincin dari kantongnya dan menatap benda bulat itu dengan wajah muram.
"Bagaimana bisa aku melamar gadis yang bahkan hanya mengetahui namaku?!" gumam Genta frustasi.
"Dimana aku bisa mendapatkan gadis yang bisa menjadi mempelai wanita di pernikahanku nanti?!"
Genta menjambak rambutnya sendiri dengan wajah depresi.
Setelah satu jam lamanya melamun di toilet, akhirnya Genta keluar dari tempat persembunyiannya. Pria itu kembali ke atap gedung dan mendapati Nadine yang masih setia menunggunya, meskipun ia sudah pergi satu jam yang lalu.
"Kau masih di sini?!" tanya Genta mengerjapkan mata tak percaya.
"Pak, Gen! Pak Gen baik-baik saja?"
Nadine menoleh dan menyambut kedatangan Genta yang kembali menyambangi rooftop.
"Ini sudah malam dan udaranya sangat dingin. Kenapa kau masih di sini?" tanya Genta lagi.
"Aku.. aku menunggumu." ujar Nadine lirih.
"Apa?"
Genta membulatkan mata tak percaya.
"Ma-maksudku, Pak Gen mungkin masih butuh aku untuk melakukan sesuatu. Jadi, aku belum berani pulang." ujar Nadine gagap.
"Kalau begitu, selamat malam Pak Gen." pamit Nadine.
"Tunggu sebentar.." cegah Genta.
Pria itu berdiri membelakangi Nadine, tanpa menoleh ke arah Nadine yang sudah berada di depan pintu.
"Kau punya pacar?" tanya Genta tiba-tiba.
"A-apa?"
"Apa kau punya calon suami?" tanya Genta lagi.
"Kenapa Genta menanyakan hal ini padaku?" batin Nadine bingung sekaligus senang.
"Apa kau.. berencana untuk menikah dalam waktu dekat?"
"Aku tidak mempunyai pacar apalagi calon suami! Aku masih lajang dan tidak mempunyai rencana untuk menikah dalam waktu dekat!" balas Nadine cepat.
"Kalau begitu.."
Genta merogoh kantongnya dan mengeluarkan kotak cincin yang selalu ia bawa.
"Maukah kau memakai cincin ini?" tanya Genta seraya menatap lekat wajah Nadine.
Jantung Nadine langsung berdesir begitu Genta menyodorkan kotak cincin padanya. Wanita itu mematung dengan lidah Kelu tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun untuk menanggapi ocehan Genta.
Degup jantung wanita lajang itu langsung berdisko tak karuan. Hati dan pikiran Nadine mulai kacau mendengar perkataan Genta yang benar-benar mengguncang otak.
"Maukah kau menjadi pengantinku?"
Genta membuka kotak cincinnya dan mengeluarkan benda bulat bersinar itu dari dalam wadah perhiasan kecil itu.
"Kau bisa menganggapku pria gila. Aku memang sedang tidak waras saat ini. Aku.. aku harus segera menikah dan mendapatkan seorang mempelai pengantin wanita. Aku akan membuatmu mencintaiku setelah kita menikah! Aku--"
"Pak Gen, kau hanya sembarang memberikan cincin ini padaku?" potong Nadine dengan ekspresi kecewa.
"Aku tidak sembarangan memilih gadis. Kau gadis yang baik dan kau juga bukan istri orang. Aku--"
"Kau memberiku cincin ini bukan karena kau menyukaiku dan ingin menikahiku?" potong Nadine lagi.
"Aku.. benar-benar ingin menikahimu. Kau juga belum mempunyai calon suami, kan? Aku juga belum memiliki calon istri. Kita pasangan yang sempurna, kan?"
"Bukankah Pak Gen sudah melamar Cherry?" tanya Nadine bingung.
"Cherry menolakku." jawab Genta dengan wajah murung.
"Lalu?"
"Lalu apa? Aku baru saja ditolak. Tentu saja aku harus mencari pengantin wanita lain."
Nadine mendengus kesal mendengar jawaban tak memuaskan dari Genta. Pikiran wanita itu sudah diliputi dengan kekecewaan pada pria yang ia puja-puja itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Nadine menahan amarah.
"Apanya?!"
"Pak Gen tidak ingin menikah, kan? Kenapa memaksakan diri mencari calon istri? Pak Gen pikir pernikahan itu hal yang mudah?!" omel Nadine.
"Dasar pria brengsekk!"
Nadine melayangkan tas selempangnya tepat mengarah ke wajah Genta.
"Aku menyesal sudah menyukai pria sepertimu!" ujar Nadine seraya menendang kaki Genta.
"Aduh.. duh,"
Genta memegangi lututnya tanpa berani memanggil Nadine kembali.
"Gagal lagi.." rengek Genta seraya berguling-guling di lantai atap yang dingin.
Nadine berjalan cepat meninggalkan gedung dengan berurai air mata. Wanita itu benar-benar kesal pada lamaran Genta yang mengecewakan.
Seharusnya saat ini Nadine menjadi wanita paling bahagia disaat pria pujaannya datang membawakan cincin berlian untuknya. Namun fantasi indah itu tak lagi menjadi impian menyenangkan begitu Genta datang mencarinya bukan karena cinta, namun hanya demi kepentingan pria itu semata.
"Nadine!" panggil Han pada Nadine yang berjalan tergesa-gesa keluar dari gedung.
Pikiran Nadine yang sedang kacau, tak lagi menghiraukan Han yang berkali-kali memanggil namanya dari kejauhan.
"Nadine!"
Han berlari mengejar Nadine dan menangkap tangan mungil wanita yang tengah menangis itu.
"P-pak Han!"
Nadine menoleh pada Han dan nampak terkejut melihat pria itu sudah berdiri di hadapannya seraya menggenggam tangannya.
"Kau kenapa? Kau menangis?" selidik Han.
"T-tidak! Aku tidak apa-apa."
Nadine segera menepis tangan Han dan mengusap kasar pipinya yang sudah basah.
"Kenapa kau masih ada di sini malam-malam begini? Apa Gen memberimu banyak pekerjaan?"
"Pe-pekerjaanku sudah selesai. Permisi, Pak.."
"Nadine, kau masih saja mengejar-ngejar Gen?! Pria itu sebentar lagi akan menikah. Berhentilah berharap pada pria payah itu," ujar Han kembali menggenggam pergelangan tangan Nadine.
"B-bukan seperti itu, Pak. Aku tidak mengejar-ngejar siapapun. Tolong lepaskan aku, aku ingin pulang."
"Apa yang kau lakukan bersama Gen malam-malam seperti ini?! Kenapa kau menangis? Apa Gen melakukan sesuatu padamu?!" cecar Han dengan pertanyaan beruntun.
"Tidak, Pak. Tidak terjadi apapun--"
"Kau menangis! Ini semua karena Gen--"
"Memang apa urusanmu kalau aku menangis?!" pekik Nadine geram.
Wanita itu ingin sekali segera pulang dan menenangkan pikiran, namun Han justru semakin mengacaukan suasana hatinya.
Air mata wanita itu kembali mengucur deras membasahi pipi Nadine.
"Ish, sial! Urus saja urusanmu sendiri!" sentak Nadine pada Han.
"K-kau baik-baik saja?" tanya Han lirih.
"Aku tidak baik-baik saja! Kau puas sekarang?!" bentak Nadine makin kesal.
"Kenapa kau berteriak padaku?!" balas Han mulai kesal mendapat teriakan dari Nadine.
"Kau yang memulai lebih dulu!" teriak Nadine dengan isak tangis.
"Berhentilah menangis! Ingusmu keluar kemana-mana! Dasar wanita jorok!" omel Han seraya mengeluarkan sapu tangan dan mengusap kasar hidung Nadine.
"Dasar pria brengsekk! Semua pria di sini hanyalah pria brengsekk!" racau Nadine seraya mengelap ingusnya.
"Kau ini salah makan atau kenapa?" gumam Han lirih sembari mengerutkan keningnya.
"Aku tidak baik-baik saja, pria brengsekk! Genta, dasar pria gila!" teriak Nadine melampiaskan kekesalannya di depan Han.
Han langsung membekap mulut Nadine begitu wanita itu terus berteriak tidak jelas di gedung kantor yang sepi.
"Jangan berteriak di sini, bodoh! Orang-orang bisa mengira aku melakukan sesuatu padamu!" omel Han seraya menyeret Nadine menuju mobilnya.
Wanita itu menangis sesenggukan di dalam mobil Han hingga ia merasa lega. Han yang kesal melihat mobilnya penuh dengan tisu yang berserakan, mencoba sebaik mungkin untuk tidak mengomel dan menunggu sampai Nadine merasa lebih baik.
"Sudah puas?" tanya Han datar setelah melihat Nadine yang sudah terlihat tenang dengan air mata yang sudah mengering.
"Sudah, Pak. Terima kasih." jawab Nadine dengan wajah cemberut.
"Terjadi sesuatu antara kau dan Gen?"
"Bukan hal yang penting." sahut Nadine cepat.
"Gen sudah mempunyai calon istri. Lupakan saja pria bodoh itu--"
"Aku tidak ingin mendengar nama itu lagi. Aku tidak mempunyai hubungan yang seperti itu dengan Pak Genta. Maaf sudah mengotori mobilmu, Pak. Aku akan mencucikan mobilmu saat aku gajian nanti. Kirim saja tagihannya padaku." ujar Nadine seraya membuka pintu kendaraan roda empat milik Han.
"Kau mau kemana?"
"Pulang." jawab Nadine datar.
"Aku antar."
Han menarik tangan Nadine dan memakaikan sabuk pengaman pada wanita itu.
Han mencoba memasang wajah sedatar mungkin untuk menutupi rasa girangnya. Pria itu sibuk bersorak dalam hati menyambut Nadine yang tengah patah hati karena Genta.
***
Bersambung...