DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 30



📞 Tring.. Tring..


Bunyi ponsel yang berdering berhasil membangunkan sang pemilik yang masih ingin menikmati waktu bermalas-malasan di pagi yang cerah itu.


Genta mengusap wajahnya dan berusaha membuka lebar-lebar matanya untuk meraih ponsel yang berbunyi kencang di dekat pria itu.


"Halo?"


Genta mengangkat telepon dengan suara serak dan mata masih tertutup.


"Dimana istriku?! Aku sudah menghubungi Thrisca puluhan kali, tapi kenapa si gendut itu tidak menjawab juga? Apa gendut ada di rumah? Apa dia pingsan? Gendut tidak mungkin mati kan?!"


Ron berteriak kencang dan mencecar rentetan pertanyaan pada sepupunya yang baru saja kembali dari alam mimpi itu.


"Ron, kau membuat kepalaku sakit! Gendut tidak mati!"


Genta segera bangkit dari karpet dan mencari sosok Thrisca.


Gadis yang dicari-cari Ron itu masih tertidur lelap di atas sofa. Karena kekenyangan dan kelelahan menangis semalaman, gadis itu pun tertidur pulas bak gajah terdampar.


"Gendut tidak mungkin mati kan?" gumam Genta.


Pria itu nampak khawatir saat melihat Thrisca yang tidur bak orang mati dan tidak menunjukkan gerakan sedikitpun.


"Ron, aku tidak yakin si gendut masih hidup.." ujar Genta lirih.


"Apa maksudmu?! Cepat cari si gendut sebelum aku menguburmu!!" teriak Ron dengan garang.


Genta menjauhkan ponsel kecil miliknya dari telinga sebelum suara kencang Ron membuat telinga pria itu tuli.


Sepupu Ron itu merayap menuju tempat Thrisca berbaring, dan mengguncang-guncangkan badan kecil penuh sumpalan kain itu.


"Gendut, ba--" belum sempat Genta menyelesaikan kalimatnya, pria itu merasa ada yang aneh dengan badan Thrisca.


Genta sudah mempersiapkan tenaga besar untuk membangunkan badan anak gajah itu, namun tak disangka ternyata tubuh gadis itu tidak seberat yang Genta kira.


"Kenapa dengan badan si gendut? Harusnya sekarang aku sedang mengguncangkan tubuh anak gajah bukan? Tapi kenapa tubuh si gendut ringan sekali?!" gumam Genta keheranan.


Pria itu mencoba untuk tidak berpikir berlebihan dan kembali membangunkan gadis malas itu dengan guncangan semakin kencang.


"Gendut!"


Genta menepuk-nepuk lengan Thrisca pelan.


"Gendut masih tidur?" tanya Ron melalui telepon.


"Iya. Gendut tidur seperti orang mati. Dia tidak bergerak sedikitpun," jawab Genta lemas.


"Darimana kau tahu gendut tidak bergerak? Kau melihatnya sendiri? Kau masuk ke kamarku dan membangunkan si gendut?!!"


Amarah Ron kembali meledak.


"Jangan salah paham dulu! Aku tidak masuk ke kamarmu. Si gendut berbaring di sebelahku, untuk apa aku pergi ke kamarmu?!" ujar Genta semakin memperburuk kesalahpahaman mereka.


"Gen, apa mulutmu tidak salah bicara?! Siapa yang berbaring di sebelahmu? Kau ingin bilang kalau kau tidur bersama istriku?!"


Ron semakin mengamuk saat mendengar perkataan Genta.


"Bukan begitu! Si gendut memang berbaring di sebelahku, tapi aku di lantai dan si gendut di sofa! Aku tidak melakukan apapun pada istrimu!!" bela Genta mulai panik.


Thrisca mulai terbangun karena kebisingan yang dibuat oleh Genta beserta suaminya. Gadis itu membuka mata dengan kepala pening karena terbangun dengan cara yang tidak menyenangkan.


"Apa kau bilang?! Kau ingin pamer kalau kau begadang bersama istriku semalaman?!! Tunggu aku kembali, aku akan menjebloskan perebut istri orang sepertimu ke penjara!" omel Ron semakin parah.


"Memangnya apa yang kulakukan?! Aku tidak membunuh si gendut! Kenapa kau jadi berlebihan sekali?!"


"Ck, mereka berisik sekali!" gerutu Thrisca dalam hati.


"Gendut! Bagus kau sudah bangun! Bilang pada suamimu yang gila itu aku tidak macam-macam padamu! Aku juga akan pilih-pilih jika ingin berbuat macam-macam dengan seorang gadis. Mana mungkin aku-- aku--"


Genta tergagap sebelum pria itu berhasil menyelesaikan kalimatnya. Hampir saja pria itu mengucapkan kata-kata menyakitkan yang menjurus pada ejekan untuk penampilan gendut istri dari sepupunya.


"Mana mungkin kau berbuat macam-macam dengan gadis jelek dan gendut sepertiku. Itu yang ingin kau katakan?" tanya Thrisca dengan wajah datar.


"Gendut, bukan begitu.."


Genta mulai merasa tidak enak melontarkan ejekan untuk si gendut Thrisca.


Thrisca mengambil ponsel dari tangan Genta dan berbicara dengan sang suami.


"Ron, kau sudah dengar? Genta tidak mungkin berbuat macam-macam pada gadis jelek dan gendut sepertiku. Selera sepupumu itu sangat tinggi. Sama sepertimu bukan? Kau lebih senang mengundang wanita cantik nan langsing datang ke kantormu daripada harus menemani istri gendutmu ini di rumah!" sindir Thrisca.


"Gendut, apa yang kau bicarakan? Mengundang siapa?" tanya Ron dengan wajah bingung.


"Tidak perlu berpura-pura lagi! Untuk apa menghubungiku sepagi ini? Apa simpananmu belum datang, jadi kau ingin mencari kegiatan lain selagi menunggu kekasihmu?" sindir Thrisca lagi.


"Gendut, kau baru bangun tidur. Sepertinya kau belum sadar sepenuhnya. Mandilah lebih dulu, aku akan menghubungimu lagi nanti." ujar Ron tidak menanggapi sindiran sang istri.


Thrisca yang kesal tidak mendapatkan tanggapan serius dari suaminya, segera mematikan telepon tanpa mengucapkan apapun lagi pada sang suami.


"Gendut, aku tidak bermaksud mengejekmu--"


Genta mencoba menghibur Thrisca namun pria malang itu hanya mendapat tatapan sinis dari istri Ron itu.


"Gadis gendut ini tidak perlu dihibur dengan kata-kata manis! Cari saja wanita menarik yang ingin kau hibur," ujar Thrisca seraya berjalan meninggalkan Genta.


"Kenapa aku merasa seperti sedang dicampakkan begini.." gumam Genta dengan wajah memelas.


***


Thrisca mengurung diri di kamar seharian tanpa melakukan apapun. Genta yang terus bolak-balik mengantar makanan untuk Thrisca, tidak mendapatkan sambutan sedikitpun dari istri sepupunya itu. Pintu kamar tempat Thrisca berdiam diri tetap terkunci rapat hingga sore hari.


Istri Ron itu juga mematikan ponselnya karena ia masih kesal dengan sang suami. Gadis itu membolak-balikkan halaman majalah dengan kasar dan terus menghela nafas karena merasa bosan dan suntuk.


Sementara Ron yang tidak bisa menghubungi sang istri, hanya bisa uring-uringan sedirian tanpa bisa melakukan apapun untuk bisa mendengar suara istrinya.


Ron tidak memiliki cara lain lagi untuk membujuk sang istri jika ia tengah berjauhan dengan gadisnya itu. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan Ron hanyalah mengirimkan banyak hadiah untuk melunakkan hati sang istri.


Tok..tok..


Bi Inah menghampiri kamar Thrisca dengan membawa keranjang yang penuh dengan buket bunga dan coklat.


Thrisca yang tidak memakai baju tebal itu tidak perlu panik menyulap penampilan saat mendengar suara orang yang mengetuk pintu kamarnya hanya sang pelayan yang sudah mengetahui penampilan aslinya.


Gadis itu menatap kumpulan bunga serta kotak coklat yang sudah memenuhi pintu kamarnya dengan wajah bingung.


"Ini apa? Aku tidak memesan bunga," tanya Thrisca keheranan.


"Silahkan Nyonya buka kartu ucapannya. Bunga-bunga ini baru saja diantar oleh kurir,"


Bi Inah membantu Thrisca memasukkan seluruh bunga dan hadiah itu ke dalam kamar.


Thrisca kembali mengunci pintu rapat-rapat setelah memasukkan semua benda bernuansa romantis itu.


"Lain kali akan kubelikan kebun bunganya untukmu.." baca Thrisca pada kartu ucapan yang tertempel di salah satu bunga.


"Kartu ucapan macam apa ini?!" gumam Thrisca dengan ekspresi datar.


"Lain kali akan kubawakan koki pembuat coklatnya untukmu.." baca Thrisca lagi pada tulisan di kertas yang menempel pada salah satu kotak coklat.


"Ron senggang sekali sampai bisa meluangkan waktu untuk hal tidak penting seperti ini," ujar Thrisca berbicara sendiri.


Gadis itu mengambil ponsel dan menghidupkan benda usang miliknya itu. Thrisca sibuk memotret hadiah kiriman sang suami dengan kamera buram milik ponselnya.


Thrisca membaca puluhan pesan dari suaminya sebelum ia mengirimkan balasan untuk pria yang terus menerornya dengan pesan dan panggilan sejak pagi.


Gadis itu mengirimkan foto bunga dan hadiah yang telah diterima olehnya kepada sang pengirim.


"Aku tidak suka bunga. Bunga tidak bisa membuatku kenyang." tulis Thrisca pada pesan singkat yang hendak ia kirim pada suaminya.


Satu jam berlalu, Ron tidak juga membalas pesan dari sang istri. Dua jam hingga tiga jam berikutnya masih tidak ada balasan suami tampan gadis berambut panjang itu.


"Mungkin Ron sibuk,"


Thrisca menyimpan kembali ponselnya dan mencari udara segar keluar kamar.


Gadis itu terpaksa harus mengubah pakaiannya karena keberadaan Genta. Thrisca keluar dari kamar Ron dengan baju semakin tebal dengan beberapa lapisan jaket.


"Gendut, kau mau kemana?" tanya Genta saat melihat Thrisca membuka pintu keluar.


"Mencari udara segar! Tidak hanya makanan, tapi gadis gembul sepertiku juga butuh lebih banyak udara untuk bernafas!" jawab Thrisca dengan nada sarkas.


"Aku tidak mengejekmu. Kenapa kau kasar sekali padaku?" protes Genta dengan wajah memelas.


"Aku pergi dulu. Terlalu lama melihatku bisa merusak matamu," ujar Thrisca seraya berjalan keluar dari rumah.


Genta segera berlari mencari jaket dan mengekor Thrisca dari belakang.


"Gendut, kau mau kemana? Biar kuantar." tawar Genta dengan senyum ramah.


"Pergilah cari kesibukanmu sendiri!" usir Thrisca dengan ketus.


"Gendut, aku sudah bersikap baik padamu. Kenapa kau jahat sekali pada niat baikku? Kalau kau marah pada Ron, jangan lampiaskan padaku!" rengek Genta.


Thrisca menghentikan langkahnya dan termenung sejenak. Gadis itu mulai menyadari sikapnya yang kurang menyenangkan sepanjang hari itu.


"Benar juga. Kenapa aku mendadak jadi kesal seperti ini?! Aku dan Ron juga bukan pasangan sungguhan. Kenapa aku harus marah pada Ron yang mempunyai kekasih baru?!" batin Thrisca.


Gadis itu mulai melunak dan mencoba melupakan segala kekesalannya pada Ron.


"Maaf, aku tidak bermaksud melampiaskan kekesalanku padamu. Aku tidak tahu ada apa denganku hari ini. Biasanya aku bisa menahan kecemburuanku pada Ron.." ujar Thrisca lemas.


"Gendut, lupakan saja Ron. Pria itu terlalu sulit kau gapai. Nikmati saja statusmu sebagai Nyonya Diez sekarang dan mintalah kompensasi perceraian yang besar pada Ron nanti. Aku akan mengenalkan puluhan pria yang lebih tampan dari Ron," hibur Genta.


"Mas Gen, kau baik sekali.."


Thrisca menanggapi ucapan Genta dengan senyuman kecut.


"Bagaimana kalau kau ikut kencan buta? Aku bisa mengaturkan kencan buta untukmu. Ron juga tidak ada disini, jadi kau bisa bebas keluar rumah kan?" usul Genta disambut dengan ekspresi datar dari Thrisca.


"Aku tahu Ron melarangmu keluar rumah dan kau terus dikurung di dalam kamar karena pria itu malu memperlihatkanmu pada orang lain kan? Pria jahat itu benar-benar tidak punya hati!"


Genta semakin sok tahu bahkan mengatai sepupunya sendiri dihadapan Thrisca.


"Kenapa pria ini seenaknya membuat kesimpulan sendiri?" ujar Thrisca dalam hati seraya menatap Genta dengan kening berkerut.


"Katakan saja tipe pria seperti apa yang kau suka! Sebelum Ron pulang, aku akan mengatur kencan untukmu."


Genta masih mengoceh dengan semangat.


Kedua manusia itu berjalan bersama menikmati udara malam sekitar rumah Ron seraya membahas rencana kencan buta yang terus diocehkan oleh Genta.


Sebuah mobil melaju perlahan melewati Genta dan Thrisca yang asyik berjalan perlahan di jalanan perumahan. Mobil itu berhenti di depan gerbang rumah Ron dan berhasil lolos masuk dengan mulus ke area rumah suami Thrisca itu.


"Gendut, kita harus kembali sekarang." ajak Genta.


"Memangnya itu mobil siapa?"


"Bibi Daisy.." jawab Genta.


Bulu kuduk Thrisca langsung berdiri saat mendengar nama ibu mertuanya. Gadis itu mendadak berkeringat dingin dan dilanda kegugupan luar biasa.


"Bagaimana bisa aku tidak mengenali mobil ibunya Ron?!!" teriak Thrisca dalam hati.


***


Bersambung..