DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 139



Jam tiga sore, Cherry sudah bersiap di stasiun seraya membawa tas besar.


Wanita itu berniat pulang ke kampung halamannya sejenak untuk menenangkan pikiran sekaligus mengutarakan rencana pernikahannya dengan Genta jika pria itu mau bertanggungjawab padanya.


Wanita itu terus melirik ke arah arloji yang tertempel di tangannya dengan gelisah.


Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit berlalu. Pria yang ia tunggu-tunggu tak juga hadir menemuinya.


"Gen, hanya karena kau memiliki uang, kau pikir aku tidak bisa melawanmu di meja hijau? Tunggu saja tuntutan dariku!" gumam Cherry geram.


Wanita itu merogoh wadah obat kecil di kantongnya seraya menyiapkan air untuk menenggaknya.


"Aku hanya melakukannya sekali dengan Gen. Tidak mungkin aku langsung bisa hamil, kan?" gumam Cherry sembari menatap pil kontrasepsi yang hendak ia konsumsi.


"Untuk berjaga-jaga saja." gumam Cherry mulai membuka botol minum dan siap untuk menelan pil kecil itu.


Namun, belum sempat wanita itu memasukkan pil kecil itu ke mulutnya, tangan seseorang sudah terlebih dulu menahannya.


Cherry menoleh ke arah sang pemilik tangan itu dan mendapati Genta yang sudah berdiri tepat di depan matanya.



"Obat apa itu?!"


"Gen, kau datang?" ujar Cherry dengan ekspresi haru.


"Tentu saja aku datang! Aku sudah bilang padamu, kan?" jawab Genta seraya menggenggam erat tangan Cherry.


"Aku.. memeriksa CCTV kantor. Kita bertemu di depan lift dan.."


Genta tidak melanjutkan kalimatnya.


"Tidak perlu diteruskan." ujar Cherry menunduk muram.


"Aku akan bertanggungjawab, Cherry."


"Kau yakin?"


"Aku.. akan berusaha sebaik mungkin untukmu. Tolong beri aku kesempatan," pinta Genta.


"Bagaimana dengan Thrisca? Kau masih mencintainya, kan?"


"Aku tahu aku tidak bisa berbohong padamu. Aku masih sangat mencintai Thrisca. Karena itu, tolong bantu aku untuk melupakannya.."


Cherry tersenyum tipis seraya mengangguk pelan menanggapi ocehan Genta. Tanpa ia sadari, air mata mengucur deras dari pelupuk mata wanita berambut hitam itu.


"Maafkan aku, Cherry. Aku akan memperbaiki semuanya." ujar Genta seraya mengusap pipi Cherry lembut.


"Aku akan memberitahu orang tuaku. Tolong segera beritahu orang tuamu juga." ujar Cherry.


"Tentu."


"Sebentar lagi keretaku akan berangkat. Sampai ketemu lagi, Kak Gen." pamit Cherry.


"Kau.. memanggilku apa?"


"Maaf, aku sudah bersikap tidak sopan padamu. Kau bukan lagi atasanku. Aku tidak perlu lagi memanggilmu Pak, kan?" ujar Cherry ragu.


"Kak Gen.. terdengar aneh," gumam Genta seraya tersenyum geli.


"Aku hanya ingin menghormatimu sebagai orang yang lebih tua dariku! Kalau kau risih dengan panggilan itu, ya sudah!" omel Cherry.


"Aku berangkat sekarang!" ujar Cherry seraya membawa tas besarnya menuju kereta.


Genta tiba-tiba merebut tas milik Cherry dan berjalan berdampingan bersama Cherry menuju kendaraan jarak jauh itu.


"Keretanya sudah mau berangkat! Berikan tasnya padaku!" pinta Cherry.


"Aku tahu! Keretanya akan berangkat sebentar lagi. Cepatlah sedikit!" omel Genta seraya menarik tangan Cherry.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Cherry bingung melihat Genta yang ikut menaiki kereta dan duduk di samping Cherry.


"Naik kereta. Apa lagi?" jawab Genta cuek.


"Keretanya akan segera berangkat. Keluar sana!" usir Cherry.


"Aku juga penumpang di sini! Kenapa kau mengusirku?!" protes Genta.


"Penumpang apanya?!"


Genta mengeluarkan lembar tiket yang ada di kantongnya dan menunjukkannya pada Cherry.


"Gen, kau--"


"Aku akan melamarmu hari ini juga." ujar Genta seraya menatap mata Cherry lekat-lekat.


"M-melamar?"


"Maaf, aku tidak bisa membawa siapapun. Ayahku dan nenekku berada di luar negeri. Ibuku-- em, aku akan mengenalkanmu pada nenek kesayanganku nanti." ujar Genta melewatkan pembicaraan mengenai ibunya. Pria itu belum siap mengumbar aib keluarganya pada calon istrinya itu.


"Kau akan menemui kedua orang tuaku saat ini juga?" tanya Cherry tak percaya.


"Kau tidak keberatan, kan? Kita akan menikah bulan depan, bersamaan dengan pesta pernikahan Ron dan Thrisca."


"Kau yakin ingin mengadakan acara di hari yang sama dengan mereka?" tanya Cherry penuh hati-hati.


"Cherry.. dulu Ron dan Thrisca juga menjalani pernikahan tanpa saling mencintai. Kedua orang bodoh itu bahkan tidak saling mengenal dan langsung bertemu di pelaminan. Tapi, lihat mereka sekarang! Ron sudah menjadi pria yang paling bahagia dengan mendapatkan Thrisca." celoteh Genta panjang lebar.


"Menurutmu, apa kita juga bisa berakhir seperti mereka?" imbuh Genta.


"Hem?"


"Saat ini kita memang belum memiliki perasaan satu sama lain. Tapi tidak tahu bagaimana jadinya kita dua hingga tiga tahun ke depan. Kau percaya kalau kita bisa hidup bahagia bersama, kan?"


"Gen, aku--"


"Cinta setelah menikah juga tidak buruk. Aku yakin kau pasti akan jatuh hati padaku setelah mengenalku lebih dalam.." ujar Genta dengan bangga.


"Percaya diri sekali!" cibir Cherry.


"Berani taruhan denganku?! Ku pastikan kau akan jatuh cinta padaku setelah satu bulan kita menikah!"


"Maaf sekali, Gen. Tapi seleraku tinggi!" cibir Cherry.


***


"Halo?"


Han duduk di meja kerjanya seraya menempelkan ponsel di telinga. Asisten Ron itu tengah menghubungi seorang wanita dengan wajah girang.


"Halo, Pak? Ada yang bisa kubantu?" jawab Nadine.


"Nadine, kenapa kau kaku sekali? Panggil namaku saja." pinta Han.


"Bukankah itu terdengar tidak sopan?"


"Kita bukan rekan kerja lagi sekarang. Kau bisa bersikap santai padaku."


"B-baiklah." jawab Nadine ragu.


"Kapan kau akan pulang?" tanya Han penasaran.


"Besok pagi." jawab Nadine.


"Besok? Jangan besok! Tunggu akhir pekan saja!" tukas Han.


"Hem? Kenapa harus akhir pekan?" tanya Nadine bingung.


"Besok aku ada banyak pekerjaan. Gen sedang keluar kota. Bos pemalas itu juga datang seenaknya. Aku masih harus mengurus--"


"Itu tidak ada hubungannya dengan kepulanganku.." potong Nadine.


"Tentu saja ada! Aku tidak bisa mengantarmu pulang kalau kau berangkat besok!" protes Han.


"Kenapa kau perlu mengantarku pulang?" tanya Nadine makin bingung.


"Kenapa? Memangnya tidak boleh? Pulang akhir pekan saja naik pesawat denganku." titah Han.


Nadine mendengus kesal mendengar perintah dari Han.


"Aku yang pulang, kenapa jadi kau yang repot! Itu terserah padaku kapan aku pulang dan kendaraan apa yang ingin kupakai! Tidak ada urusannya denganmu!" gerutu Nadine.


"Ehem.. maksudku-- kebetulan aku ada urusan di kotamu. Boleh aku pulang bersamamu? Aku tidak tahu daerah itu. Kalau aku berangkat bersamamu, aku bisa lebih mudah meminta bantuanmu. Tolong temani aku," pinta Han membuat-buat alasan.


"Begitu? Baiklah." jawab Nadine pasrah.


"Terima kasih, Nadine. Aku akan menyiapkan tiket untukmu." ujar Han bersemangat.


"Tidak per--"


"Aku akan mengurus semuanya! Aku akan menjemputmu nanti!" pungkas Han seraya menutup telepon.


Pria itu bersorak kegirangan seraya menciumi layar ponselnya.


"Han, sudah waktunya mengakhiri masa lajangmu!" ujar Han berpidato pada dirinya sendiri.


Sementara sang pujaan hati Han, Nadine kini tengah menatap layar ponselnya dengan perasaan kalut.


Wanita itu mulai merasakan gelagat Han yang mencoba untuk mendekatinya. Namun apa daya, wanita itu masih terjerat oleh pesona Genta dan belum bisa melupakan sepupu tampan Ron itu.


"Mungkinkah Han sedang mencoba untuk mengejarku?" gumam Nadine.


***


"Ron, besok ibu memintaku untuk--"


"Tidak boleh!" jawab Ron sebelum sang istri menyelesaikan kalimatnya.


"Aku belum mengatakan apapun." gerutu Thrisca.


"Ibu pasti akan menyuruh hal yang aneh-aneh, kan? Duduk saja di rumah. Besok malam aku akan mengajakmu makan di luar," ujar Ron seraya membolak-balikkan berkas-berkas di meja kerjanya tanpa melirik sedikitpun ke arah Thrisca.


"Baiklah." jawab Thrisca lirih.


"Jawaban macam apa itu?! Kau kecewa karena laranganku?!" cibir Ron.


"Tidak, Sayang.."


Thrisca menghampiri Ron dan duduk di pangkuan sang suami. Wanita itu mengecup sekilas bibir Ron dan mengusap lembut rambut pria berkulit putih itu.


"Kau sudah pintar merayu sekarang.." ujar Ron seraya memasukkan tangan ke dalam rok sang istri yang terduduk di pangkuannya.


"Sayang, kau telat datang bulan?" tanya Ron tiba-tiba saat ia tengah menjamah bagian vital sang istri.


"Kau tahu aku terlambat datang bulan?"


"Tentu saja aku tahu! Aku menyentuhmu setiap hari." ujar Ron.


"Mungkinkah kau--"


"Pasti bukan Ron!" sanggah Thrisca sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.


"Kenapa kau yakin sekali?! Sudah berminggu-minggu sejak kau keguguran. Aku juga sudah kembali menyentuhmu. Mungkin saja kau benar-benar hamil," terka Ron.


"Kita tunggu saja dulu beberapa hari lagi."


"Kau tidak ingin periksa ke dokter?" tawar Ron.


"Nanti saja, Ron. Aku.. aku masih belum siap." tolak Thrisca dengan wajah muram.


"Kenapa, Sayang?"


"Aku takut, Ron. Bagaimana kalau aku tidak bisa menjaga calon anak kita lagi?" rengek Thrisca dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, apa yang kau katakan? Itu semua adalah kegagalanku. Bukan kegagalanmu! Aku yang bodoh dan tidak bisa menjaga kalian berdua." ungkap Ron seraya mendekap erat sang istri.


"Aku ibu yang buruk, Ron. Aku takut aku tidak bisa--"


"Sstt! Sudah, Sayang! Aku yakin kehamilanmu kali ini akan baik-baik saja. Aku akan menjagamu dengan lebih baik lagi." ujar Ron dengan nada lembut.


"Aku juga akan berusaha sebaik mungkin, Ron. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi.." ujar Thrisca seraya memeluk erat suami tercintanya.


***


Bersambung...