DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 41



Ron masuk ke dalam rumah dengan wajah muram karena pria itu tidak bisa menghubungi sang istri.


Pria itu makin mengamuk saat membaca pesan sang istri yang meminta ijin untuk berangkat ke acara reuni bersama seorang teman pria.


"Si gendut itu beraninya pergi bersama teman pria!"


Ron menatap foto cantik sang istri yang tersimpan di ponselnya dengan wajah penuh amarah.


Sementara sang istri yang sulit dihubungi itu, masih asyik berkumpul dengan teman lamanya hingga gadis itu tidak menghiraukan ponselnya.


"Sana temuilah suamimu," ujar Nadine menyenggol bahu Thrisca dan membujuk gadis itu untuk menghampiri Yovan.


"Sudah kubilang dia bukan suamiku," ujar Thrisca tanpa ekspresi.


"Tidak perlu malu begitu. Sana habiskan makan malammu dengan Yovan. Aku dan Cherry harus menghampiri yang lain," ujar Nadine seraya menyeret Cherry menjauh dari Thrisca.


Kini tinggallah gadis itu seorang diri tanpa teman di tengah keramaian. Thrisca tidak memiliki banyak teman untuk disapa. Jika Nadine dan Cherry pergi, tak ada lagi kawan yang bisa ia hampiri.


Yovan mengambil makanan ringan dan berjalan mendekati Thrisca yang duduk sendirian.


"Kenapa duduk sendiri disini? Sapalah yang lain. Kau sudah lama tidak bertemu dengan mereka, kan?"


"Aku tidak punya banyak teman yang bisa kusapa." ujar Thrisca dengan senyum kecut.


"Benarkah? Padahal banyak sekali teman-teman yang ingin menghampirimu. Tapi mereka tidak berani mengajakmu bicara lebih dulu,"


"Tidak berani? Apa wajahku menyeramkan?"


Thrisca mengerutkan dahinya seraya mengusap-usap wajahnya sendiri.


"Icha, apa yang kau katakan? Mereka takut kau akan menolak berbicara dengan mereka jika mereka menghampirimu lebih dulu," jelas Yovan diselingi tawa kecil.


"Mana pernah aku begitu? Apa wajahku tidak terlihat ramah?"


Thrisca tidak menyangka ternyata teman-temannya itu juga ingin dekat dengan dirinya.


"Icha, mereka sangat ingin menyapamu. Tapi kau hanya tersenyum pada Nadine dan Cherry. Mereka takut kau akan merasa terganggu karena sapaan mereka,"


"Benarkah? Kukira mereka sengaja mengabaikanku karena tidak menyukaiku," ujar Thrisca lirih.


Gadis itu selalu mengira teman-teman sekolahnya itu sengaja menghindarinya dan tidak ingin berteman dengannya.


Dengan kepribadian introvert dan rasa meander berlebihan karena pernah diejek saat sempat obesitas, Thrisca tumbuh menjadi gadis kikuk yang tidak pandai bersosialisasi.


"A-aku hanya tidak tahu apa yang harus kubicarakan jika aku menghampiri mereka. Aku akan senang sekali jika mereka mau menyapaku terlebih dulu," ujar Thrisca seraya tersenyum manis pada Yovan.


Mendapat senyuman manis dari Thrisca, Yovan menarik tangan Thrisca menuju ke salah satu kerumunan teman yang tidak dikenal oleh Thrisca.


Gadis itu nampak canggung dan bingung di hadapan orang-orang yang langsung diam memandangi Thrisca saat gadis itu mulai mendekat.


Thrisca hanya tersenyum seramah mungkin karena ia tidak tahu kata apa yang cocok diucapkan sebagai sapaan untuk teman-teman lamanya itu.


"Jangan memandangi Icha seperti itu! Kalian membuatnya takut!" omel Yovan pada gerombolan pria dewasa yang duduk di hadapan Thrisca itu.


"Van, kau tidak perlu pamer kemesraan disini kan? Kau ingin menunjukkan kalau Icha sudah menjadi milikmu?!" ledek salah satu teman Yovan dan disambut sorakan ramai dari teman-temannya yang lain.


Yovan segera melepas genggaman tangannya dari Thrisca. Gadis itu hanya bisa tersenyum menanggapi ocehan teman-temannya.


"Icha, kau sangat manis saat tersenyum. Senyumlah juga pada kami, kami juga merindukanmu." tutur salah seorang gadis yang duduk tidak jauh dari Thrisca berdiri.


"Tentu." sambut Thrisca mencoba berbaur dengan sekumpulan teman yang tidak kenalnya itu.


Ucapan Thrisca disambut sorakan meriah oleh gerombolan teman-teman Yovan. Thrisca duduk bergabung dengan mereka dan semakin tenggelam dengan cerita nostalgia bersama teman-teman sekolahnya itu.


***


"Terimakasih sudah mengundangku datang ke reuni. Aku sangat senang berkumpul lagi bersama kalian," ujar Thrisca dengan senyum sumringah seraya menyerahkan helm pada Yovan.


"Syukurlah acara ini tidak terlalu membosankan untukmu," sambut Yovan dengan balasan senyuman pula.


"Membosankan apanya? Aku jadi menyesal tidak mencoba mengenal mereka lebih awal. Masa sekolahku hanya kuhabiskan bersama Nadine dan Cherry. Aku sangat menyesal tidak mengenalmu lebih awal,"


Perkataan Thrisca sukses membuat pria lajang itu berbunga-bunga. Yovan hanya bisa tersenyum malu mendengar ucapan teman gadisnya itu.


"Kau tidak marah mengenai ucapan teman-teman tadi, kan? Mereka hanya bercanda."


Yovan mencoba meminta maaf atas ulah teman-temannya yang meledek Thrisca dan dirinya serta mengira mereka berdua sebagai pasangan.


"Kenapa aku harus marah? Bukan salah mereka jika mereka salah paham mengenai hubungan kita. Ini bukan hal besar, tidak perlu dipikirkan."


"Benarkah? Baguslah kalau hal itu tidak mengganggumu." ujar Yovan lega.


"Aku tidak melihat ayahmu sejak tadi. Kau di rumah sendiri?" tanya Yovan mengubah topik pembahasan.


"Ayahku sedang ada urusan di luar negeri. Beberapa hari lagi ayah akan pulang," ujar Thrisca dengan semangat.


"Jadi, kau akan berada disini? Kau sempat bilang sedang mengambil cuti kuliah, kan? Apa itu karena kau harus pergi keluar kota untuk urusan lain?" tanya Yovan mulai penasaran dengan alasan kepergian Thrisca.


Thrisca terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat. Gadis itu ingin sekali mengatakan kalau dia sudah menikah. Tapi sayangnya, Ron bukanlah suami yang ia nikahi karena cinta. Thrisca juga tidak yakin apa dia bisa memamerkan Ron sebagai suaminya di depan orang lain.


"Aku sedang ada urusan mendesak di luar kota. Aku akan berada disini agak lama untuk menemani ayah,"


"Jadi, kau akan pergi lagi?"


"Tentu. Aku harus kembali."


"Jadi, aku tidak akan memiliki banyak kesempatan untuk melihat Icha?" batin Yovan kecewa.


"Hari sudah cukup larut, masuklah."


Yovan mulai berpamitan dan menyalakan motor untuk kembali ke rumah.


Thrisca melambaikan tangan pada pria yang tinggal di rumah yang tak jauh dari kediaman ayahnya.


Hanya dalam sekejap, Yovan sampai di rumahnya dan melambaikan tangan pada Thrisca dari rumahnya.


Gadis itu mencari kunci dari dalam tasnya, namun ternyata pintu yang seharusnya terkunci rapat itu dapat terbuka dengan mudah.


"Jelas-jelas aku mengunci pintunya saat pergi tadi. Kenapa bisa terbuka?" gumam Thrisca mulai waspada.


Gadis itu terlalu takut untuk masuk ke dalam rumah karena khawatir ada pencuri yang membawa senjata tajam masuk ke rumahnya.


Thrisca berbalik badan dan berlari menuju rumah Yovan untuk meminta bantuan.


Tok..tok..


"Yovan," panggil Thrisca lirih saat mengetuk pintu rumah tetangganya itu.


Klek!


"Icha, kenapa? Apa ada barang yang ketinggalan di cafe tadi?" tanya Yovan.


"Tidak, bukan itu. Tadi saat berangkat aku yakin sudah mengunci pintu. Tapi saat aku membuka pintu rumahku tadi, pintunya tidak terkunci." ungkap Thrisca.


"Aku takut ada pencuri masuk ke rumah. Bisa tolong temani aku memeriksa rumahku?" pinta Thrisca.


"Tentu. Tunggulah disini."


Yovan menarik tangan Thrisca masuk ke dalam rumahnya dan mendudukkan gadis itu di ruang tamu.


"Mau kupanggilkan ibuku untuk menemanimu?" tawar Yovan.


"Tidak perlu. Aku ikut saja denganmu,"


"Kau tunggu saja disini. Bisa saja penyusupnya masih ada disana. Terlalu bahaya jika kau ikut kesana," cegah Yovan.


"Tapi bagaimana denganmu? Bagaimana kalau orang itu membawa senjata?" ujar Thrisca cemas.


"Tidak perlu khawatir. Aku akan segera kembali. Duduklah disini. Kalau terjadi apa-apa, ayah dan ibuku ada di kamar. Bangunkan saja mereka,"


"Van, aku ikut saja."


"Tidak akan terjadi apa-apa. Tenang saja,"


Yovan menutup pintu rumahnya dan berjalan perlahan menuju rumah Thrisca dengan waspada.


Thrisca terus menatap jendela dan melihat Yovan yang sudah masuk ke dalam rumahnya.


Gadis itu semakin cemas dan mulai gemetar ketakutan karena Yovan yang tak kunjung kembali.


Thrisca membuka ponsel kecilnya dan melihat banyak panggilan serta pesan masuk dari sang suami. Gadis cantik itu ingin sekali menghubungi suaminya, namun tetap saja ia tidak bisa meminta bantuan pada suami yang tengah jauh darinya itu.


Setengah jam berlalu, Yovan akhirnya kembali ke rumahnya dengan selamat.


"Bagaimana, Van? Tidak terjadi apapun di rumahku, kan?"


Thrisca segera menghampiri temannya yang sudah kembali itu.


Wajah pria itu nampak muram dan sedikit pucat. Yovan membawa amplop di tangannya dan memberikan benda dari kertas itu pada Thrisca.


"Apa ini?" tanya Thrisca kebingungan.


"Ini bukan surat tagihan hutang, kan?" tanya Thrisca lagi.


Yovan masih diam dan mencoba merangkai kata-kata. Pria itu langsung merebut amplop dari Thrisca saat gadis itu hendak membukanya.


"Jangan sekarang! Tunggu sebentar!" cegah Yovan.


"Memangnya kenapa? Kau tahu surat apa itu? Kau tahu siapa pengirimnya?"


"Bagaimana kalau kita cari tempat yang nyaman untuk membacanya?" tawar Yovan.


"Memangnya itu surat apa? Jangan membuatku makin penasaran!"


"Kita cari tempat yang tenang untuk membacanya. Ayo!"


Yovan menarik tangan Thrisca keluar dari rumahnya.


Pikirian pria itu nampak kalut dan penuh dengan kecemasan pada Thrisca.


Yovan mengendarai motornya dan membawa Thrisca menuju taman sepi di sekitar kompleks rumahnya.


"Baca disini saja. Disini cukup tenang. Tidak banyak orang berlalu-lalang. Lampunya juga bagus," ujar Yovan asal.


"Hanya untuk membaca surat, untuk apa sampai jauh-jauh kemari? Apa ini surat penyitaan rumah? Apa aku sudah diusir dari rumah?" cecar Thrisca dengan pertanyaan beruntun.


"Icha, dengarkan aku. Tidak peduli apapun isi surat itu. Semuanya akan baik-baik saja." ujar Yovan dengan lembut seraya menepuk bahu Thrisca pelan.


Thrisca semakin penasaran dengan isi amplop yang dibawa oleh temannya itu. Yovan menyerahkan kembali amplop berisi surat itu pada Thrisca.


Gadis itu menatap amplop putih tebal itu sejenak.


"Untuk Ichaku.."


Tertera nama Thrisca di amplop yang masih putih bersih itu.


***


Bersambung...