DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 48



Pagi-pagi sekali, Ron sudah kembali dari alam mimpi dan membuka mata melihat wajah sang istri.


Pria beralis tebal itu segera bangkit dengan panik saat melihat wajah pucat istri yang terbaring di sampingnya.


Ron segera menggendong sang istri memasuki mobil dan membawa gadis yang berkeringat banyak itu menuju rumah sakit.


"Badannya panas sekali," gumam Ron dengan panik saat menyentuh dahi Thrisca.


Ron menidurkan sang istri di kursi belakang dan membalut tubuh ramping gadis itu dengan banyak kain selimut.


Thrisca yang tergolek lemas, membuka matanya perlahan saat ia merasakan ada yang aneh dengan tempat tidurnya.


"Ron, kenapa kasurnya bergerak-gerak?!" tanya Thrisca dengan wajah lesu dan mata buram.


"Diam saja, gendut! Jangan banyak bicara!"


"Kenapa tempatnya jadi sempit?" tanya Thrisca lagi.


"Sudah kubilang diam saja! Suaramu sudah seperti kambing tercekik, tapi masih saja mengoceh!" omel Ron dengan wajah semakin panik mendengar suara yang tak bertenaga dari sang istri.


"Ron, aku haus." oceh Thrisca lagi.


Pria itu semakin kalang kabut mengendarai mobil dan melaju semakin cepat dengan kendaraan roda empat miliknya.


Tak berselang lama, akhirnya Ron menemukan rumah sakit yang terletak tak jauh dari rumah sang istri.


Pria itu segera menggendong tubuh istrinya dengan panik hingga membuat keributan di rumah sakit.


"Dokter, cepat tolong istriku sekarat!"


Ron berlari masuk ke rumah sakit dan berteriak kencang di tempat umum tersebut.


"Cepat kesini urus istriku! Kenapa perawat disini lamban sekali! Istriku hampir mati!!"


Amarah Ron meledak-ledak di tempat yang dipenuhi dengan pasien itu.


Beberapa perawat segera membantu Thrisca dan membawa gadis itu untuk mendapatkan perawatan.


***


Matahari semakin terik menyinari kota kecil tempat kelahiran Thrisca. Gadis itu terbangun dari mimpi panjangnya dan mendapati kepala sang suami terbaring lelap di tepi ranjangnya.


"Tempat apa ini?"


Thrisca mengamati selang infus yang sudah terpasang di tangannya.


"Tuan.." panggil Thrisca pada pria yang tertidur dengan posisi duduk di samping ranjang pasien itu.


Gadis itu mengusap kepala sang suami untuk membangunkan pria yang masih memejamkan mata itu.


Ron segera berdiri dengan gelagapan saat merasakan sentuhan tangan di kepalanya.


"Kau sudah sadar? Kau butuh sesuatu?"


Mata Ron langsung tertuju pada sang istri yang sudah membuka mata.


"Apa yang kau lakukan padaku? Kenapa ada selang di tanganku?!" gerutu Thrisca pada suaminya.


"Aku sudah menyelamatkan hidupmu, tapi ini yang kudapatkan? Mana rasa terimakasihmu padaku?!"


"Ron, aku baik-baik saja! Kenapa kau membawaku ke rumah sakit?!"


"Baik-baik saja apanya?! Kau hampir mati, gendut! Wajahmu sudah sepanas pantat wajan!" omel Ron seraya memeluk sang istri yang masih terbaring lemas.


"Wajan apanya? Kau berlebihan sekali," ujar Thrisca seraya mengusap-usap punggung sang suami.


"Aku takut kau tidak bangun lagi, gendut!" ujar Ron dengan suara bergetar.


Thrisca memeluk badan kekar sang suami semakin erat.


"Aku baik-baik saja. Kau sudah menjagaku dengan baik." ucap Thrisca dengan suara lembut di telinga suaminya.


Pelukan mereka pun berakhir saat seorang perawat masuk ke kamar Thrisca untuk mengantarkan makanan.


"Ayo, buka mulutmu!"


Ron duduk di samping Thrisca dan mengambil sendok untuk menyuapi sang istri.


"Aku akan makan kalau kau juga makan. Pesanlah beberapa makanan terlebih dulu. Kau pasti melewatkan sarapan karena aku, kan?" ujar Thrisca dengan wajah cemas.


"Aku bisa makan nanti setelah menyuapimu. Kau habiskan ini dulu,"


"Pesan dulu makanan untukmu baru aku akan makan," tolak Thrisca lagi.


Ron menyerah dan segera mengambil ponselnya untuk memesan makan siang. Pria itu menunjukkan layar ponselnya untuk memberi bukti pada sang istri kalau ia sudah benar-benar memesan makanan.


"Ron, aku sudah tidak apa-apa. Aku ingin pulang saja," ujar Thrisca seraya menikmati suapan makanan dari suaminya.


"Diam saja dan menurutlah padaku! Istirahatlah disini selama beberapa hari." perintah Ron.


"Aku hanya demam, Ron. Lihat, tubuhku sudah tidak panas!"


Thrisca meraih tangan sang suami dan menempelkan punggung tangan pria itu ke dahinya.


"Kau juga harus cepat kembali. Besok hari Senin, kan? Bagaimana dengan pekerjaaanmu?" tanya Thrisca.


"Kau ingin pulang bersamaku sekarang?"


Thrisca terdiam dan berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang suami. Gadis itu masih ingin menghabiskan waktu di rumah peninggalan sang ayah dan tidak akan kembali ke rumah suaminya dalam waktu dekat.


"Aku masih ingin berada disini. Boleh, kan?" pinta Thrisca dengan takut-takut.


"Aku sudah lama tidak pulang kesini. Aku juga masih merindukan ayahku. Aku ingin tinggal lebih lama disini." sambung Thrisca.


"Kalau begitu aku juga tidak akan pulang,"


"Ron, kau tidak boleh begitu. Aku akan pulang secepatnya. Aku janji. Kau pulanglah terlebih dahulu."


"Gendut, jika aku tidak mengurus pekerjaan, aku hanya akan kehilangan uang yang tidak seberapa. Tapi jika aku tidak mengurusmu, aku akan kehilangan istri. Kau pikir kertas-kertas itu lebih berharga daripada dirimu?!" omel suami Thrisca itu.


Tanpa sadar, air mata Thrisca mulai mengalir membasahi pipi merahnya. Gadis itu tak bisa lagi menahan tangis harunya mendengar ucapan dari sang suami.


"Kau ini kenapa?! Matamu akan mengembang sebesar kacang kenari jika kau terus-terusan menangis," ujar Ron seraya mengusap lembut pipi gadisnya itu.


Thrisca benar-benar berterimakasih atas kehadiran Ron yang sudah membantunya melenyapkan kesedihannya.


***


"Kau yakin ingin pulang sekarang?" tanya Ron seraya menuntun sang istri keluar dari kamar pasien.


"Tidur disini sehari semalam sudah cukup untukku, Ron. Aku hanya demam biasa. Tidak perlu sampai dirawat di rumah sakit," ujar Thrisca.


"Kalau badanmu terasa kurang sehat, cepat beritahu aku!"


"Iya," jawab Thrisca seraya tersenyum manis pada sang suami.


"Ron, apa kau sempat pamit pada Bibi Susan? Bibi Susan pasti khawatir aku tidak pulang semalaman,"


"Aku tidak melihat wanita itu. Untuk apa aku berpamitan pada wanita asing itu?!" ujar Ron cuek.


"Kenapa aku bisa mengenal makhluk kasar seperti ini?!" rengek Thrisca dalam hati.


Ron berkendara mengitari pusat kota dan terus berkeliling tanpa tujuan. Thrisca mulai tersadar mereka hanya berputar-putar tidak jelas saat suaminya terus melewati jalan yang sama dan memperlihatkan gedung yang sama.


"Ron, apa kau lupa jalan menuju rumahku? Kenapa kita terus berputar-putar disini?!" protes Thrisca.


"Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan." jawab Ron singkat.


"Aku sedang tidak ingin jalan-jalan," tukas Thrisca dengan wajah malas.


"Bagaimana kalau kita berkencan di taman?" ajak Ron penuh semangat.


Pria itu sudah melakukan penelitian semalaman mencari ide-ide bagus untuk berkencan bersama sang istri. Ron sudah membulatkan tekad akan menghibur istrinya selama seharian ini.


"Kau tunggu disini,"


Ron memarkirkan mobilnya di dekat taman yang ada di pusat kota.


Pria itu berlari keluar meninggalkan sang istri dan masuk ke dalam salah satu toko yang berada di seberang jalan.


"Apa yang direncanakan oleh Ron?" gumam Thrisca penasaran.


Beberapa menit kemudian, Ron keluar dari salah satu toko dengan pakaian yang berbeda.


Pria itu nampak terlihat awet muda dan tampan dalam balutan seragam sekolah menengah.


Thrisca yang melihat suaminya memakai seragam sekolah, menatap Ron tanpa berkedip dari jendela mobil.



Ron berjalan dengan senyum sumringah menghampiri sang istri seraya menenteng satu kantong kecil berisi pakaian.


"Gendut, bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat seperti kakak kelas yang tampan?" tanya Ron dengan narsis pada sang istri.


Thrisca membulatkan matanya lebar-lebar dan memandangi sang suami dari kepala hingga ujung kaki.


"Ron, apa kau akan menyusup ke sekolah dan menculik anak-anak?! Kenapa berpakaian seperti ini?" tanya Thrisca dengan wajah depresi.


"Memangnya kenapa? Aku terlihat tua dengan baju ini?!"


"Sial! Ron benar-benar tampan mengenakan seragam sekolah! Tenanglah wahai hatiku! Jangan tertipu penampilan pria jahat itu!" batin Thrisca mengutuk dirinya sendiri yang hampir tersihir oleh paras tampan suaminya.


"Ini untukmu! Cepat ganti!"


Ron juga memberikan seragam sekolah menengah pada sang istri.


"Ron, untuk apa kita memakai pakaian seperti ini? Kau tidak malu pada umurmu," protes Thrisca.


"Gendut, bukankah kau datang ke kota ini karena reuni sialmu itu? Aku tidak bisa menemanimu ke reuni, tapi kau malah pergi bersama pria lain!" tukas Ron kesal.


"Aku juga ingin jadi bagian dari nostalgiamu.." sambung Ron seraya menatap sang istri tanpa berkedip.


***


Bersambung..