DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 95



Tengah malam, Thrisca duduk di toilet dalam kamarnya dengan tangan penuh jarum sulam dan benang wol.


Karena sang suami yang terus bersiaga di rumah, Thrisca jadi kesulitan mempersiapkan kejutan hadiah ulang tahun untuk suaminya.


Wanita itu hendak mempersiapkan syal rajutan hasil karyanya sendiri sebagai hadiah ulang tahun untuk Ron. Wanita berdompet tipis itu hanya bisa menyiapkan kado sederhana untuk sang suami sebagai bentuk ketulusan hatinya menyambut ulang tahun Ron yang ke dua puluh sembilan.


Tak seperti Thrisca yang harus bersusah payah, Ron sendiri juga sudah mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk sang istri yang lahir di tanggal yang sama dengannya itu. Berkat bantuan Han, Ron dapat leluasa menyiapkan kejutan penuh hadiah mewah tanpa takut diketahui oleh istrinya.


"Icha dimana?" gumam Ron pelan saat mengetahui sang istri yang sudah menghilang dari ranjang.


Pria itu terbangun tengah malam dan mencari-cari keberadaan sang istri yang sudah tidak terbaring di sampingnya.


"Icha.."


Ron berkeliling di sekitar kamar seraya memanggil-manggil wanita kesayangannya.


Thrisca yang sayup-sayup mendengar suara Ron, segera menyembunyikan alat jahitnya dengan panik dan menyimpan syal rajutannya yang belum jadi di dalam kamar mandi.


"Kenapa?"


Thrisca membuka sedikit pintu kamar mandi seraya menyembulkan kepalanya dari balik pintu.


"Sayang, apa yang kau lakukan di dalam sana?"


Ron menghampiri Thrisca dan menarik tangan wanita itu keluar dari kamar mandi.


"Me-melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun," jawab Thrisca agak panik.


"Kalau tidak melakukan apapun, untuk apa berdiam diri dalam kamar mandi?! Ini masih jam satu malam, kau tidak beristirahat?" selidik Ron.


"A-aku hanya--"


"Hanya apa? Kau muntah lagi?" tanya Ron cemas seraya mengusap lembut perut sang istri.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya.. hanya ingin mencuci muka saja," jawab Thrisca asal.


Wanita itu berjalan menuju ranjang dengan tergesa-gesa dan segera mengerubuti diri dengan selimutnya.


"Icha tidak mungkin melakukan hal aneh di dalam kamar mandi, kan?" batin Ron curiga.


Suami Thrisca itu memasuki kamar mandi dan memeriksa seluruh sudut ruangan yang harum penuh aroma sabun itu.


Ron meneliti dengan seksama ruangan yang baru saja dimasuki oleh sang istri. Beruntung syal yang dibuat Thrisca masih berupa gulungan wol panjang tak berbentuk, sehingga Ron tidak terlalu memperhatikan.


"Gulungan apa ini? Kenapa bisa ada sampah di sini?" gumam Ron seraya mengeluarkan benda yang disembunyikan Thrisca di dalam kamar mandi itu.


Dengan santainya Ron membuang benda buatan istrinya yang belum jadi itu. Thrisca yang berkerubut selimut, masih belum mengetahui kalau rajutan hasil karyanya telah masuk ke tempat sampah, dibuang oleh calon penerima hadiah dari gulungan wol itu.


***


"Ron.."


Genta menghampiri Ron yang terduduk pagi-pagi seorang diri di taman belakang rumah.


Dua pria dewasa itu sudah membuka mata menyambut sang fajar, sementara satu wanita hamil yang tinggal bersama mereka masih terlelap nyenyak di dalam dekapan selimut hangat.


"Apa kau sakit?!" tanya Ron keheranan melihat sang sepupu yang nampak seperti pria rajin yang selalu bangun pagi.


"Kau ingin meledekku?!" protes Gen menyipitkan kedua matanya.


"Besok ada pertemuan penting. Kakek ingin kau yang menangani pekerjaan ini," ujar Genta memulai percakapan.


"Pertemuan apa? Kau saja yang pergi," jawab Ron malas.


"Ron, ini tanggungjawabmu."


Ron menghela nafas dan menatap Genta dengan sorot mata tajam.


"Jadi, kakek tua itu ingin aku melakukan apa?!" tanya Ron.


"Kau harus berangkat sendiri. Hanya tiga hari."


"Berangkat kemana? Ke luar negeri?!" tanya Ron mengerutkan dahi.


"Hanya tiga hari sa--"


"Benar ke luar negeri?!" potong Ron cepat.


"Memangnya kenapa kalau ke luar negeri?!"


"Kau tidak lihat istriku sedang hamil?! Mana mungkin aku bisa meninggalkan istriku walaupun hanya satu hari?! Siapa yang akan menemani istriku?" omel Ron pada Genta.


"Ada banyak pelayan di sini, Ron. Kalau tidak, titipkan saja Thrisca pada ibumu." usul Genta enteng.


"Bilang pada kakek tua itu, aku tidak mau! Urus saja pekerjaannya sendiri!"


Ron beranjak meninggalkan Genta.


Wanita yang sudah terbangun dari tidur panjang itu berdiri di depan sang suami masih dengan gaun tidur dan muka bantal.


"Pergi saja, Ron.." ujar Thrisca lirih.


"Pe-pergi ke mana? Aku tidak tahu apa--"


"Aku sudah mendengar semuanya." potong Thrisca.


"Mendengar apa, Sayang? Aku hanya membahas hal tidak pen--"


"Ron, kau harus bertanggungjawab pada tugasmu. Selesaikan pekerjaanmu. Tidak perlu mencemaskan aku," ujar Thrisca.


"Aku tidak akan kemanapun,"


Ron mendekap sang istri dan menggandeng wanita hamil itu kembali ke kamar.


"Ron, kau tidak boleh begitu. Kau kepala keluarga di keluarga kecil kita. Kau ingin mengabaikan tugasmu mencari nafkah?"


"Aku juga tidak hanya duduk di rumah, Sayang. Aku juga berusaha menyelesaikan pekerjaanku setiap hari meskipun aku mengerjakannya dari rumah. Kalau aku bisa bekerja menafkahimu sekaligus menjagamu dari dekat, untuk apa aku memilih jalan sulit dan pergi kesana-kemari meninggalkanmu hanya demi mengurus pekerjaan?"


Thrisca terdiam sejenak mencerna setiap kata yang diucapkan sang suami. Wanita itu memang tidak bisa berdebat melawan pria pemarah yang sudah menjadi suaminya itu.


Namun, Thrisca juga tidak bisa tinggal diam melihat pekerjaan suaminya terbengkalai. Wanita itu tidak ingin menjadi penghalang bagi pekerjaan dan karir suaminya.


Meskipun sebenarnya ia juga tidak rela ditinggal oleh Ron, tapi ia tidak boleh menjadi istri manja yang mengganggu pekerjaan sang suami.


"Aku akan baik-baik saja. Hanya tiga hari, kan?" bujuk Thrisca.


"Tidak perlu dipikirkan lagi. Aku tidak akan pergi,"


"Bagaimana kalau kakek marah? Bagaimana kalau ini berpengaruh besar pada perusahaanmu?" tanya Thrisca cemas.


"Icha.."


Ron menatap sang istri lurus-lurus dengan sorot mata tajam.


Pria itu menepuk pundak sang istri dengan lembut dan memandangi wanita hamil itu tanpa berkedip.


"Kau tidak bisa hidup tanpaku, atau tanpa uang?" tanya Ron dengan wajah serius.


"Apa maksudmu--"


"Jawab dulu! Lebih penting aku atau uang?!" potong Ron.


"Tentu saja kau lebih penting, Ron.."


"Kau akan tetap bersamaku meskipun aku tidak memiliki uang?"


"Apa aku pernah menuntut uang padamu?" tanya Thrisca balik.


"Ron, ini bukan hanya tentang uang. Ini tentang kewajibanmu dalam menjalankan tugasmu memimpin perusahaan. Aku tahu kau pria yang bertanggungjawab. Selesaikan pekerjaanmu, Sayang. Aku janji aku akan menjaga diri dengan baik,"


Thrisca masih mencoba membujuk sang suami.


Ron menghela nafas tanpa menjawab ucapan istrinya. Meskipun Ron membenarkan perkataan Thrisca dalam hati, namun pria itu masih enggan meninggalkan sang istri di rumah tanpa pengawasan.


Pria pemarah itu memeluk Thrisca erat seraya mengusap perut istrinya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Kapan kau akan pergi? Aku akan membantumu bersiap. Kau akan membelikanku oleh-oleh, kan?" tanya Thrisca dengan mata berkaca-kaca.


Wanita hamil itu berbicara pada sang suami dengan mata memerah menahan tangis. Thrisca mengingat kembali sang ayah dan kakeknya yang bepergian jauh, namun pulang dalam keadaan terbujur kaku.


Ibu hamil itu semakin sering menangis tanpa sadar semenjak awal kehamilannya. Walaupun mulut wanita itu berkata akan mendukung sang suami, namun hatinya tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau Thrisca sebenarnya tidak ingin ditinggal jauh oleh Ron.


Wanita itu mulai diliputi kecemasan mengenai suaminya yang akan bepergian jauh mengingat kemalangan yang menimpa ayah dan kakeknya.


"Kau benar-benar akan mengurus pekerjaan, kan? Hanya mengurus pekerjaan? Tidak ada hal lain yang kau sembunyikan dariku, kan? Kau tidak sakit atau semacamnya kan, Ron?" tanya Thrisca beruntun pada Ron.


"Sakit apa, Sayang? Kau dengar sendiri, kan? Genta hanya membahas pekerjaan." ujar Ron seraya menyeka air mata sang istri.


"Kenapa kau malah menangis begini.."


Ron memeluk sang istri dengan wajah cemas.


"Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan kemanapun,"


Ron mendekap erat istrinya yang sudah bercucuran air mata.


Kehamilan sang istri membuat calon daddy itu diliputi penuh kebahagiaan sekaligus kecemasan luar biasa.


***


Bersambung...