DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 78



Tok..tok..


Thrisca mengetuk pintu kamar Genta dengan antusias.


Hari sudah gelap dan Ron sudah berangkat menemani ibunya menghadiri acara undangan dari relasi bisnis.


Thrisca yang bosan, segera menghampiri Genta agar ia tidak terlalu kesepian saat menunggu kepulangan sang suami.


"Kenapa?"


Genta membuka pintu kamarnya dengan malas.


"Aku membuat banyak kue tadi siang. Ayo, kita makan bersama!" ajak Thrisca.


"Ajak saja suamimu!" tolak Genta sinis.


"Mas Gen, aku membuatkannya untukmu. Ayolah, cicipi sedikit saja!" bujuk Thrisca.


"Membuatkan untukku? Dalam rangka apa?" selidik Genta dengan wajah curiga.


"Mas Gen baru kembali dari dinas luar kota, kan? Aku hanya ingin mengobati penatmu dengan makanan manis,"


"Kau tahu aku pergi ke luar beberapa hari ini?"


"Tentu saja aku tahu! Aku tidak melihat Mas Gen selama beberapa hari, mana mungkin aku tidak menyadari kepergianmu."


"Em, aku mengurus pekerjaan Ron di luar kota. Pria manja itu tidak ingin meninggalkanmu sendirian di rumah," gerutu Genta dengan wajah cemberut.


"Aku tahu,"


"Jadi, kau repot-repot membuatkanku kue sebagai bayaran karena aku sudah membantu pekerjaan suamimu?!" sindir Genta.


"Bukan bayaran, Mas Gen. Anggap saja sebagai ucapan terimakasih,"


"Cepat kesini,"


Thrisca mendorong tubuh lunglai Genta menuju ruang tengah.


"Gendut, kau ingin berdagang kue?" tanya Genta dengan wajah tercengang saat melihat meja kecil di hadapannya penuh dengan berbagai macam kue.


"Aku mencoba banyak resep tadi. Hasilnya lumayan, tidak gosong seperti sebelumnya." ujar Thrisca dengan bangga.


"Cobalah,"


Thrisca menarik tangan Genta untuk segera duduk dan menyiapkan beberapa potong kue untuk sepupu suaminya itu.


Genta memandangi tampilan kue di depannya dengan tatapan penuh curiga. Sementara, Thrisca duduk disamping Genta dengan senyum sumringah menunggu komentar dari pelanggan pertama yang mencicipi kue buatannya itu.


Pria jangkung itu menyendokkan potongan kue kecil ke mulutnya dengan wajah ragu-ragu.


"Ya, Tuhan! Rasa apa ini?! Bentuknya memang tidak aneh dan tidak gosong, tapi kenapa rasanya seperti ini?! Ini makanan terburuk yang pernah masuk ke perutku sepanjang tahun ini!" batin Genta seraya menahan muntah.


Ingin sekali pria itu menyemburkan kue dengan rasa aneh itu keluar dari mulutnya, namun ia tidak mau menyinggung perasaan Thrisca yang sudah bersusah payah membuatkan makanan untuknya.


"Bagaimana? Enak?" tanya Thrisca dengan antusias.


"Em,"


Genta mengangguk seraya melempar senyum paksa pada Thrisca.


"Aku ingin muntah!" batin Genta dengan wajah pucat.


"Mas Gen, ada apa denganmu? Kuenya tidak enak?"


"I-ini sangat enak, Gendut. Terimakasih," sahut Genta cepat.


"Benarkah? Kalau begitu habiskan semuanya.." oceh Thrisca penuh semangat.


"Em, Gendut.. bagaimana kalau kita menonton film? Aku akan pesankan ayam dan soda! Dan popcorn juga!" usul Genta mencoba menyingkirkan makanan mengerikan itu dengan cara halus.


"Aku sudah membuat banyak kue, Mas Gen!" protes Thrisca.


"Tapi menonton film lebih cocok dengan memakan popcorn dan soda, kan? Ayolah, temani aku menonton film!" bujuk Genta.


"Aku akan memakan semua kue ini nanti!" imbuh Genta.


"Baiklah," jawab Thrisca menyerah.


"Film apa yang kau suka?" tanya Genta seraya beranjak mengambil laptop.


"Aku.. tidak suka."


"Apa? Kau tidak pernah menonton film?" tanya Genta dengan wajah iba.


"Kasihan sekali gadis rumahan ini," batin Genta.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menonton film horor saja?" ajak Genta dengan tawa jahat.


"Terserah," jawab Thrisca datar.


"Kau tidak takut hantu, kan?" ejek Genta.


"Hanya hantu palsu di dalam layar, kenapa harus takut?"


"Sok sekali! Kalau kau takut dan menangis nanti, kau harus mentraktirku makan!"


"Mentraktir apanya," gumam Thrisca tak peduli.


"Lihat, kau tidak berani, kan?!" ejek Genta lagi.


"Baiklah! Tapi bagaimana jika aku tidak takut dan tidak menangis?!"


"Aku akan menggendongmu keliling taman hiburan! Aku akan menemanimu menaiki semua wahana di taman hiburan!"


"Baiklah! Kita lihat nanti siapa diantara kita yang akan membuat kehebohan!" tantang Thrisca.


Tiga puluh menit kemudian, begitu makanan cepat saji pesanan Genta datang, dua manusia itu segera memulai acara menonton mereka.


Genta bahkan mematikan lampu untuk membuat suasana seram di dalam rumah. Pria itu bahkan memasang speaker suara untuk meramaikan bioskop gadungan mereka.


"Mas Gen, volumenya jangan keras-keras! Kau bisa tuli," nasihat Thrisca.


"Sebenarnya apa hal lain yang kau tahu selain mengejekku?!" sindir Thrisca mulai jengkel.


Genta hanya menampilkan cengiran kuda, memamerkan gigi putihnya yang terselip cabai.


"Mas Gen, gigimu ada cabai.." ujar Thrisca seraya menahan tawa.


Genta segera menutup mulutnya rapat-rapat dan berbalik badan mencari cermin kecil untuk mempermudahnya membersihkan cabai yang terselip diantara gigi putihnya.


Tawa Thrisca langsung meledak seketika saat melihat Genta yang kalang kabut mencari cermin kecil.


"Gendut, awas saja kalau kau menangis saat filmnya dimulai nanti!" omel Genta kesal dirinya sudah dipermalukan oleh cabai.


Setelah melewati beberapa keributan kecil, akhirnya acara nonton film mereka pun dimulai.


Thrisca terus sibuk mengunyah ayam di mulutnya seraya memperhatikan layar laptop dengan wajah datar.


Sementara, Genta yang memeluk bantal karakter patrick di tangannya, tak henti-hentinya menaikkan bantal itu untuk menutupi wajahnya saat hantu di film muncul.


"Apa-apaan itu? Memakai boneka sebagai penutup mata?" ejek Thrisca.


"A-apanya aku tidak--"


Dug, duarr!!


Belum sempat Genta menyelesaikan kalimatnya, Genta sudah dikejutkan dengan suara bervolume kencang dari speaker.


Aaaakkh!!


Pria itu berteriak dan memeluk Thrisca dengan erat.


Genta segera mendorong Thrisca menjauh darinya begitu ia tersadar sudah melompat ke pelukan wanita cantik disampingnya.


Genta segera merapikan pakaiannya dan bertingkah sok keren, seolah tidak terjadi apapun padanya.


"Lihat, siapa di sini yang membuat kehebohan?!" sindir Thrisca.


"Aku hanya terkejut karena suara speaker yang terlalu kencang!" bela Genta.


"Ya, ya.." jawab Thrisca malas.


"Itu benar, Gendut!"


Thrisca tidak menanggapi ocehan Genta dan kembali fokus pada film.


Sama seperti sebelumnya, Genta terus menerus berteriak dan membuat alasan sok keren setiap kali Thrisca melempar ejekan.


Wajah pria itu semakin pucat karena terlalu sering terkejut heboh sepanjang film berlangsung.


"Mas Gen, kau baik-baik saja?" tanya Thrisca seraya melirik ke arah Genta.


"Gendut, aku bisa terkena serangan jantung.." rengek Genta dengan mata berkaca-kaca.


"Mas Gen, kau payah sekali!!"


Thrisca memukul-mukul lengan kekar pria itu dengan kencang.


Wanita itu mematikan laptop dan mengakhiri acara nonton film mereka karena Genta yang sudah mengibarkan bendera putih.


"Kau harus menggendongku keliling taman hiburan!" tagih Thrisca.


"Aku tidak pernah ingkar janji," jawab Genta lemas.


"Kau mengajakku menonton film horor hanya untuk mengerjaiku, kan?" tuduh Thrisca.


"Aku tahu, aku sudah terkena karma.." ujar Genta dengan wajah memelas.


***


"Lian, aku mencarimu kemana-mana. Ternyata kau di sini,"


Seorang pria menghampiri Lilian dan menggerayangi tubuh seksi wanita yang berpakaian minim itu dengan liar.


Lilian duduk termenung sendirian di sebuah bar kecil yang jauh dari pusat kota.


"Singkirkan tanganmu!" bentak Lilian dengan wajah dingin pada pria yang menghampirinya itu.


"Kenapa sok jual mahal begitu sekarang? Bukankah kau bukan lagi Lilian sang model terkenal?" ejek pria itu seraya mendaratkan kecupan di leher jenjang Lilian.


Video pertengkaran Lilian dan Nyonya Daisy menjadi pemberitaan panas selama beberapa hari terakhir.


Lilian mendapat banyak gunjingan dan hujatan dari setiap orang yang ditemuinya. Wanita malang itu bahkan dikeluarkan dari perusahaan agensi yang menaungi karir modelnya dan ia harus kehilangan semua job yang sudah didapatnya dengan susah payah.


Tidak hanya itu, berita Lilian yang hanya seorang anak adopsi juga ikut mencuat ke publik. Orang tua angkatnya yang termasuk dalam lingkup keluarga terpandang, langsung melakukan pembatalan adopsi dan mengusir Lilian dari rumah.


Saat ini wanita itu terlontang-lantung di jalan sendirian tanpa arah dan tujuan.


"Kembalilah bersamaku! Aku akan mencarikan mangsa baru untukmu," ujar pria itu semakin bersemangat melucuti pakaian Lilian di dalam bar yang sepi.


"Aku ingin berhenti!"


Lilian menyingkirkan tangan pria yang hendak menelanjanginya itu.


Wanita itu keluar dari bar dengan pakaian compang-camping dan wajah linglung.


"Kau mau kemana?"


Pria itu menarik paksa tangan Lilian dan bermain dengan gadis itu di lantai bar yang dingin.


Lilian yang sudah mabuk berat hanya bisa pasrah saja membiarkan pria itu menancapkan bendera di lembah surga miliknya.


Wanita itu sudah tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang tergolek lemas di tempat terbuka tanpa tertutup sehelai kain pun.


Wanita malang itu hanya bisa menangis setiap kali merasakan sentuhan tangan liar pria yang tengah memainkan tubuhnya.


"Aku sudah lelah.." gumam Lilian lirih.


***


Bersambung...