
Cherry duduk lemas di samping Gen yang tengah tertidur pulas. Wanita itu tak henti-hentinya menangis selama semalaman masih dalam keadaan tubuh polos tak berbusana.
Genta yang merasa terusik karena suara tangisan lirih Cherry, mulai tersadar dan membuka mata perlahan.
Dalam ruangan remang-remang minim cahaya lampu, Gen bangkit dari sofa dan mencoba menyadarkan diri dari otak linglungnya.
Cherry langsung kelabakan mencari kain untuk menutupi tubuhnya begitu Genta membuka mata. Wanita itu berdiri tertatih turun dari sofa dan menjauh dari Genta.
"Ini dimana?" tanya Genta bingung.
Cherry berjalan pelan menuju tembok untuk menghidupkan lampu besar yang terpasang di ruangan kerja Genta. Wanita itu nampak berantakan dalam balutan kain sobek dan hanya menutupi bagian vital tubuhnya.
Teman Thrisca itu menghampiri Genta dengan wajah sendu dan mata memerah menahan amarah.
"C-cherry?"
Genta nampak terkejut melihat Cherry yang tak berbusana di hadapannya. Pria itu melirik ke arah tubuhnya dan mulai menyadari kalau dirinya juga tengah bertelanjang bulat.
"Nikahi aku sekarang juga!" ujar Cherry lirih dengan mata berkaca-kaca.
"A-apa yang sudah terjadi?" tanya Genta bingung.
Pria itu meraih celananya dan bergegas memakai beberapa kain untuk menutup tubuhnya.
"M-mana pakaianmu? Pakailah bajumu," ujar Genta penuh hati-hati.
"Kau sudah merobeknya.." jawab Cherry sinis.
Genta segera mengambil kemejanya dan menutupi tubuh Cherry dengan pakaian besar miliknya. Sepupu Ron itu nampak bingung bagaimana ia harus bereaksi saat melihat wanita yang dikenalnya nampak berantakan tanpa busana di depan matanya.
"Aku akan pulang hari ini." ucap Cherry dingin.
"Apa yang sudah kulakukan?!" jerit Genta dalam hati mencoba mengingat-ingat hal yang terjadi padanya dan juga Cherry.
"Aku tidak peduli kau mengingatnya atau tidak. Tapi aku akan tetap menuntut pertanggungjawabanmu. Kau.. kau yang sudah melakukan semua ini padaku! Aku akan menuntutmu jika kau tidak juga menikahiku." ujar Cherry seraya menyambar tasnya dan hendak keluar dari ruangan Genta hanya dengan mengenakan kemeja pria yang telah bercinta dengannya itu.
"Kau mau kemana?" cegah Genta seraya menarik tangan Cherry.
"Pulang!"
"Pulang kemana? Aku antar,"
Gen kelabakan mencari kunci mobilnya dan segera mengekori Cherry yang sudah berjalan terlebih dulu.
"Kau.. baik-baik saja?" tanya Gen melihat Cherry yang nampak kesulitan berjalan.
Cherry hanya diam, tak menghiraukan sedikitpun perkataan Genta.
Pria itu meraih pinggang Cherry dan segera membopong tubuh kurus wanita itu tanpa meminta persetujuan dari Cherry.
"Maafkan, aku. Aku benar-benar tidak ingat." ucap Genta penuh sesal.
"Aku tidak peduli." jawab Cherry dingin.
"Tolong beri aku waktu untuk memahami situasi terlebih dulu. Hal yang kuingat sekarang hanyalah aku pergi ke bar dan aku kembali ke kantor seorang diri. Aku tidak ingat bagaimana aku bisa bertemu denganmu. Aku bahkan.. bahkan tidak sengaja melakukan hal itu padamu."
"Kau tidak sengaja? Jadi ini bukan kesalahanmu, tapi kesalahanku begitu?" sanggah Cherry sinis.
"B-bukan seperti itu--"
"Aku bisa pulang sendiri." potong Cherry dengan suara lemas.
"Turunkan aku, Gen." pinta Cherry dengan mata menahan tangis.
"Aku akan mengantarmu pulang. Kau tidak memakai pakaian yang pantas. Hari juga masih gelap," tolak Genta dengan nada selembut mungkin.
"Jam tiga sore."
"Hm?"
"Aku akan berada di stasiun jam tiga sore nanti. Berikan jawabanmu padaku. Kau lebih memilih untuk menikahiku atau dituntut olehku." ujar Cherry.
"Aku benar-benar minta maaf sudah lancang menyentuhmu. Aku--"
"Aku tidak butuh permintaan maafmu, Gen. Permintaan maafmu tidak akan bisa mengembalikanku menjadi gadis perawann lagi! Anggap saja aku gadis desa yang kuno. Kau mungkin sudah meniduri banyak gadis, tapi aku hanya ingin disentuh oleh suamiku!" potong Cherry cepat.
Genta mengerjapkan mata dan menatap wanita yang ada di pelukannya lekat-lekat.
Pria itu tak berani lagi bercicit di depan Cherry setelah ia tahu bahwa wanita yang ditidurinya ternyata wanita lugu yang masih bersegel.
"Jam tiga sore. Aku akan menemuimu." ujar Genta seraya memasangkan sabuk pengaman pada wanita cantik yang susah duduk manis di sampingnya.
***
"Ron, kau libur tidak hari ini?" tanya Thrisca seraya memeluk manja sang suami dari belakang.
"Kenapa?"
Pria yang tengah duduk santai memainkan ponsel itu, segera mengalihkan pandangan pada wanita cantik yang tengah memeluknya.
"Aku.. bosan di rumah. Ayo kita pergi ke pantai." ajak Thrisca takut-takut.
"Pantai?"
"Aku ingin melihat air, Ron. Boleh, kan?" pinta Thrisca.
"Lihat saja air di bak mandi! Untuk apa jauh-jauh pergi ke pantai?!" cibir Ron sinis.
"Ron, kau ini benar-benar tidak romantis!"
Thrisca melepas pelukannya pada sang suami seraya mendengus kesal, meninggalkan pria itu di dalam kamar.
"Memang apa bagusnya pantai? Wajah cantikmu lebih indah dari pantai.." ujar Ron seraya merengkuh tubuh sang istri dari belakang sembari meremass perlahan buah besar sang istri.
"Ron, aku ingin suasana baru! Kepalaku pusing terus berada di dalam rumah.." rengek Thrisca.
"Kita pergi makan malam di luar nanti. Bagaimana?" ajak Ron.
"Aku ingin pantai, Ron. Hanya sebentar saja. Kalau kau tidak mau mengantar, aku akan mengajak Mas Han."
"Han banyak pekerjaan!" sergah Ron cepat.
"Ya sudah."
Thrisca menepis tangan sang suami yang masih menempel di dadanya. Wanita itu menginjak kaki suaminya kuat-kuat sebelum ia berlalu meninggalkan Ron.
"Aww.."
Ron meringis kesakitan seraya memegangi kakinya yang diinjak dengan sengaja oleh sang istri.
"Maaf, aku sengaja!" ujar Thrisca dengan wajah cemberut dan segera berlari melarikan diri.
"Icha! Sejak kapan kau mulai bersikap tidak sopan seperti ini pada suamimu?!" omel Ron seraya mengejar sang istri yang sudah kabur menuju dapur.
Pasangan suami-istri itu duduk di meja makan tanpa bersuara sedikitpun. Thrisca terus memainkan sendoknya tanpa menikmati sarapan pagi yang sudah tersedia di meja makan besar itu.
"Sayang, habiskan makananmu!" tegur Ron melihat Thrisca yang hanya memainkan makanannya.
"Sayang, aku ada rapat pagi ini. Kau tidak apa-apa kutinggal sebentar, kan? Bi Inah juga sudah kembali. Kau tidak sendirian lagi di rumah."
"Hem."
"Icha, suamimu sedang berbicara. Lihat aku dan jawab dengan benar!" omel Ron seraya merebut sendok sang istri.
"Iya."
Thrisca melirik sebentar ke arah sang suami dan kembali memandangi piring sarapannya.
"Baiklah! Kau menang! Setelah aku kembali dari kantor, aku akan mengajakmu ke pantai." ujar Ron memenuhi keinginan sang istri.
"Tidak perlu." jawab Thrisca dingin.
"Ayolah, kau semarah itu hanya karena pantai?! Kau tidak sedang datang bulan, kan?"
Thrisca mengerjapkan mata begitu sang suami membahas mengenai siklus periode bulanannya.
"Kenapa kau diam?" tanya Ron mulai tidak sabaran.
"Aku baru telat beberapa hari. Tidak mungkin aku hamil lagi secepat ini, kan? Pasti ini hanya telat biasa." batin Thrisca.
"Kenapa, Sayang? Kau baik-baik saja, kan?"
Ron berdiri dari bangkunya untuk menghampiri Thrisca dan memeriksa dahi sang istri.
"Hm? Aku-- aku baik-baik saja, Ron." ujar Thrisca seraya menepis tangan sang suami.
"Aku akan mengajakmu ke pantai, Sayang. Maaf, aku hanya menggodamu. Hanya permintaan kecil seperti ini mana mungkin tidak kuturuti," ungkap Ron seraya mengecupi kening sang istri.
"Tidak apa-apa kalau kau memang sedang ada banyak pekerjaan, Ron. Kita bisa ke pantai lain kali." sanggah Thrisca.
"Kau masih marah padaku?"
"Aku tidak bermaksud begitu. Aku juga tidak tahu kenapa aku tiba-tiba ingin sekali pergi ke pantai." ujar Thrisca.
"Segeralah bersiap, Ron. Aku akan mengambilkan pakaianmu," imbuhnya.
"Aku tidak akan pergi ke kantor. Kita pergi ke pantai sekarang juga," ajak Ron seraya menarik tangan sang istri.
Thrisca tak lagi mempedulikan pantai yang sangat ingin ia kunjungi. Pikiran wanita itu kini melayang, menerka-nerka apakah keterlambatan periodenya kali ini karena ia tengah mengandung, atau hanya keterlambatan datang bulan biasa.
"Sayang, kenapa kau diam saja sejak tadi? Maaf, aku tak langsung mengiyakan permintaanmu. Aku tidak bermaksud membuatmu kesal." ujar Ron seraya mengecupi punggung tangan sang istri yang sudah duduk manis di dalam mobil bersamanya.
"M-maaf, Ron. Aku terlalu banyak melamun. Kita bisa ke pantai nanti setelah rapatmu selesai." ucap Thrisca seraya membuka pintu kendaraan roda empat milik sang suami.
"Kau mau kemana, Sayang? Duduk diam di sini! Aku akan meminta Han mengurus semua pekerjaan hari ini." cegah Ron seraya kembali menarik tangan sang istri.
***
Setelah beberapa jam lamanya berkendara, akhirnya Thrisca dan Ron tiba di pantai yang sepi.
Ron sengaja memilih pantai yang tidak ramai dikunjungi agar ia bisa menghabiskan waktu berdua dengan sang istri.
"Sayang, kenapa wajahmu masih saja cemberut?!" protes Ron seraya mencubit pipi sang istri.
"Hem? Aku-- aku tidak cemberut." balas Thrisca dengan menampakkan senyum paksa.
"Senyummu jelek sekali!" ujar Ron menoyor kepala sang istri.
"Berdirilah di sana! Biar aku memotretmu," ujar Ron seraya mengeluarkan kamera.
"Aku tidak suka di foto, Ron. Kita foto bersama saja."
"Kita bisa berfoto bersama nanti. Aku ingin mengambil fotomu dulu. Cepat berdirilah di sana.."
"Ron, aku tidak mau berfoto! Sini biar aku saja yang memotretmu,"
"Aku akan memotretmu terlebih dulu! Cepatlah, sebelum pantai ini penuh dengan orang!"
"Aku tidak mau, Ron. Fotoku pasti jelek. Biar aku saja yang memotretmu!"
Thrisca mencoba merebut kamera sang suami. Pasangan suami-istri itu saling berebut kamera bak anak kecil yang tengah memperebutkan mainan.
"Berikan kameranya!" sentak Ron kesal.
"Aku tidak mau difoto!" rengek Thrisca.
Ron menarik kameranya dengan kasar hingga terlepas dari pegangan Thrisca. Namun karena terlalu kuat menariknya, benda itu pun ikut terlepas dari tangan Ron dan melayang masuk ke dalam air laut.
"Kameraku!!" pekik Ron seraya berlari mengejar kameranya yang sudah masuk ke dalam air.
Thrisca ikut berlari menghampiri sang suami yang tengah berduka melihat kameranya yang basah.
"Kenapa kau selalu saja berulah?!" omel Ron seraya menoyor kepala sang istri.
"Kau sendiri yang suka memaksa! Rasakan akibatnya!" ledek Thrisca.
Wanita itu beranjak menjauh dari Ron dan berjalan perlahan menikmati angin sejuk pantai.
"Kau mau kemana?!"
"Hanya berjalan-jalan sebentar. Aku tidak akan pergi jauh.." ujar Thrisca melangkah semakin menjauh.
Ron segera berlari menyusul sang istri dengan wajah masam. Pria itu ingin sekali menambah koleksi foto cantik istrinya, namun sang model justru sulit untuk diajak bekerja sama.
Tak ingin lagi menggunakan kamera, Ron pun mengambil ponselnya dan memotret sang istri secara diam-diam dari belakang menggunakan kamera ponsel.
"Wajahnya tidak terlihat.." batin Ron kesal.
"Sayang.." panggil Ron pada sang istri seraya mengarahkan kamera pada wanita cantik yang berdiri di hadapannya itu.
Thrisca yang tengah menenangkan diri menghirup udara segar pantai, segera menoleh begitu ia mendengar suara suaminya.
Ron langsung bersiap memotret wajah cantik Thrisca, begitu istri kesayangannya itu berbalik badan. Wanita cantik itu tersenyum tipis pada sang suami dan berhasil terpotret dengan jelas oleh kamera ponsel Ron.
Ron menatap lekat netra cantik sang istri yang kini tengah melempar senyum padanya. Pria itu nampak terpesona dengan senyum manis Thrisca yang membuat otaknya terguncang.
"Cantik.." gumam Ron dengan pipi memerah.
"Ron, lagi-lagi kau memotretku secara diam-diam?" tegur Thrisca.
Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu masih mematung memandangi Thrisca dan tak menanggapi ocehan sang istri. Ron langsung berjalan cepat menghampiri Thrisca dan mengecup lembut bibir wanita tercintanya itu di tengah-tengah pantai yang indah.
"Ron, ini tempat umum.." protes Thrisca seraya memukul lengan sang suami.
"Memangnya kenapa?" ujar Ron cuek seraya kembali memagut bibir sang istri dan mencumbu mesra wanita kesayangannya itu di alam terbuka.
***
Bersambung...