
Thrisca menutup pintu rumah rapat-rapat begitu Ron pergi bersama Han.
Wanita itu asyik bermalas-malasan sendirian di ruang tamu istana suaminya.
"Gendut!"
Genta keluar dari kamarnya dan menghampiri Thrisca seraya membawa banyak camilan di tangannya.
"Mas Gen, kau di rumah?" sapa Thrisca.
"Aku sudah di rumah sejak pagi tadi. Kau pergi kemana saja?"
"Aku hanya keluar untuk makan siang. Mas Gen pergi kemana? Aku tidak melihatmu sejak kemarin,"
"Aku pergi berlibur.." ujar Genta pamer.
"Berlibur apanya?"
"Aku camping di gunung sendirian semalam." ungkap Genta.
"Camping di gunung?"
"Aku sudah pernah mengajakmu, kan? Tapi melihat sikap Ron padamu, sepertinya dia tidak akan rela melihat wanitanya lecet sedikit saja." cibir Genta.
"Kau tidak memiliki kegiatan faedah lain yang bisa kau lakukan?" tanya Thrisca dengan wajah frustasi.
"Camping juga termasuk kegiatan yang sangat bermanfaat. Gadis rumahan sepertimu tidak akan pernah tahu serunya dunia luar!" ejek Genta.
"Kau ini benar-benar menyebalkan!"
Thrisca melempar bantal tepat mengenai wajah Genta.
"Aku sudah membawakanmu banyak makanan, tapi ini yang kudapatkan?!"
Genta balik menyerang Thrisca dengan melempari gadis itu menggunakan bungkus makanan ringan yang dibawanya.
"Mas Gen! Kasihan makanannya!" omel Thrisca seraya memunguti camilan yang berceceran di lantai.
"Ibumu sudah pergi?" tanya Genta seraya celingukan mencari sosok Susan.
"Sudah,"
"Cepat sekali perginya,"
"Aku tidak memiliki urusan dengan wanita itu." balas Thrisca malas.
"Mas Gen, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Thrisca dengan wajah serius.
"Jangan bertanya yang aneh-aneh!"
"Tidak akan!" sanggah Thrisca cepat.
"Mantan pacarmu kebanyakan model, kan? Kegiatan apa saja yang biasa dilakukan oleh mantan kekasihmu? Maksudku, kegiatan sebagai wanita modern, wanita berkelas, wanita karir.." tanya Thrisca penuh antusias.
"Kegiatan apa?"
"Kau tidak tahu?!" tanya Thrisca mulai jengkel.
"Heh, Gendut! Wanita-wanita itu hanya melakukan hal yang membosankan setiap harinya. Kegiatan mereka hanyalah menghabiskan uang di tempat yang tidak terkena cahaya matahari. Kau juga ingin meniru wanita-wanita membosankan itu?!"
"Memangnya apa yang mereka lakukan?!"
"Mereka hanya mau mengunjungi tempat-tempat yang bisa menguras dompetmu! Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merawat kulit dan rambut! Saat mereka bertemu dengan teman-teman satu geng, wanita-wanita itu hanya akan memamerkan barang mahal yang mereka beli!" ujar Genta penuh dengki.
"Mas Gen, sepertinya kau masih menaruh dendam pada mantan kekasihmu." komentar Thrisca menyipitkan kedua matanya.
"Aku bahkan tidak bisa mengacak-acak rambut kekasihku sendiri seperti ini!" ujar Genta seraya mengacak-acak rambut Thrisca.
"Mas Gen, apa yang kau lakukan?!"
Thrisca segera menepis tangan Genta.
"Mereka hanya bisa mengomel jika aku tidak mau menemani perawatan ke salon! Bahkan untuk olahraga saja aku harus membayari tempat fitness yang mahal untuk mereka! Mereka bahkan tidak mau mengikuti gaya liburan yang kusukai, tapi kenapa mereka selalu saja menuntutku untuk menuruti wanita-wanita menyebalkan itu?!" omel Genta seraya memukul-mukul bantal yang ada di dekapannya.
"Mas Gen, sepertinya kau melalui masa-masa yang sulit bersama wanita-wanita itu."
"Gendut, jangan coba-coba meniru gaya hidup mereka! Mereka hanyalah wanita kurang gizi yang hanya memakan daun-daunan setiap hari! Kau bisa mati jika kau tidak makan nasi!"
Genta mulai bersikap berlebihan saat membahas mengenai diet ketat yang dijalani wanita-wanita yang pernah dikencaninya dulu.
"Mas Gen, apa yang kau bicarakan?!"
Thrisca menggeleng-gelengkan kepalanya pelan melihat sikap Genta yang terlalu berlebihan.
"Mas Gen tahu perawatan apa saja yang mereka lakukan? Apa itu akan memakan biaya yang besar?" tanya Thrisca.
"Tergantung, Gendut. Kalau kau memilih tempat terkenal, tentu saja mahal. Tapi hasilnya memang bagus. Bagi model seperti mereka, tubuh mereka adalah aset utama. Jadi mereka sangat berhati-hati dalam melakukan perawatan tubuh,"
"Bagaimana dengan olahraga? Apa harus di tempat fitness yang mahal agar aku bisa mempunyai tubuh seksi seperti mereka?"
"Kau benar-benar ingin meniru wanita-wanita itu?" tanya Genta tak percaya.
"Setidaknya aku ingin merawat diri untuk suamiku. Aku juga tidak ingin kalah dari mantan-mantan kekasih Ron yang berasal dari kalangan model." tukas Thrisca.
"Wanita rumahan sepertimu? Ingin bersaing dengan mantan kekasih Ron?!" cibir Genta dengan nada meremehkan.
"Memangnya kenapa? Kalau aku mau berdandan dan merawat diri, aku pasti bisa secantik mereka, kan?!"
"Tidak perlu membuang-buang uang untuk hal yang tidak penting, Gendut!" ujar Genta seraya mencubit pipi Thrisca.
"Kau sudah cantik," gumam pria itu pelan.
Thrisca hanya samar-samar mendengar ucapan pelan Genta. Wanita itu menoleh ke arah Genta yang berjalan menjauh darinya.
"Gendut, kau mau minum apa?!" teriak Genta dari dapur.
Sepupu Ron itu kembali menghampiri Thrisca seraya membawa dua gelas susu coklat panas.
Kedua orang itu kembali bersantai bersama di ruang tengah kediaman Ron seraya menikmati camilan yang dibawa oleh Genta.
"Biasanya aku selalu memakan makanan ini sendirian. Pacar-pacarku selalu saja membuat alasan jika aku mengajak mereka makan bersama atau sekedar menikmati camilan," keluh Genta.
"Jadi, kau selalu kesana-kemari sendirian itu juga karena pacar-pacarmu tidak mau menemani liburanmu?"
"Mereka hanya mau berada di ruangan megah dengan barang-barang mewah.."
"Bukankah memang begitu gaya kencan pria kaya? Bar mahal dan hotel mewah sudah menjadi tempat langganan kalian, kan?" sindir Thrisca.
"Aku mana mungkin sanggup mengunjungi hotel mewah setiap saat?!" ujar Genta memelas.
"Jadi, kau memilih pantai dan gunung karena kau tidak memiliki banyak uang untuk menyewa kamar di hotel mewah?!" tukas Thrisca frustasi.
"Gendut, pantai dan gunung memang tidak mahal. Tapi kau benar-benar bisa menghilangkan penatmu hanya dengan melihat pemandangan alam," pamer Genta.
"Mas Gen, kau benar-benar pandai membual," ejek Thrisca.
"Mas Gen, apa kau punya janji besok?" tanya Thrisca.
"Kenapa?"
"Em, apa Mas Gen sering berolahraga pagi?"
"Kenapa? Kau ingin ditemani olahraga pagi?!"
"Kalau Mas Gen tidak keberatan.." pinta Thrisca.
"Gendut, tidak perlu berusaha terlalu keras hanya untuk pria konyol seperti Ron!"
"Kalau aku tidak berusaha keras, aku akan kehilangan Ron." ucap Thrisca tegas.
"Kau sudah benar-benar membuka hati pada Ron?"
"Sepertinya begitu. Ron akan menjadi suami pertama sekaligus suami terakhirku. Aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidupku dan aku hanya ingin Ron yang menjadi satu-satunya suamiku." ujar Thrisca.
"Kau sudah berpikir sejauh itu?" komentar Genta dengan wajah kecewa.
"Mas Gen, aku takut Ron yang tidak akan mempertahankanku.. aku akan melakukan apapun untuk tetap bisa bersama Ron, tapi aku tidak yakin Ron juga akan melakukan hal yang sama untukku. Aku bukan wanita idaman yang pantas untuk diperjuangkan.." keluh Thrisca.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?!"
"Aku.. mungkin tidak bisa memberikan keturunan untuk Ron."
"Apa maksudmu?"
"Aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Dokter bilang kemungkinan aku memiliki masalah kesuburan." ungkap Thrisca lirih.
"Lalu?"
"Lalu apa lagi? Ron mungkin akan meninggalkanku jika aku tidak bisa memberikan anak untuknya," ujar Thrisca seraya menutup wajah dengan kedua tangannya. Tanpa sadar air mata mulai mengalir deras membasahi wajah istri Ron itu.
Genta menepuk-nepuk pundak Thrisca perlahan tanpa berani mengucapkan satu patah katapun.
"Karena itu, tolong bantu aku! Aku tetap akan mencoba segala cara untuk membuat Ron terus bersamaku. Aku akan berusaha menjadi istri yang cantik dan menarik. Aku ingin menjadi istri yang cerdas dan terpelajar. Aku ingin Ron tidak malu saat mengakuiku sebagai istrinya,"
Genta hanya diam menanggapi ocehan Thrisca tanpa menimpali satu katapun. Hati pria itu ikut teriris saat melihat wanita pujaannya menangis untuk pria lain.
***
Ron yang hadir di acara elit kalangan atas itu sukses menarik perhatian saat ia muncul dengan kaki sehatnya.
Wajah Nyonya Daisy pun ikut berseri saat melihat sang putra kembali bersinar di tengah-tengah hiruk pikuk pesta mewah yang sudah dilewatkan oleh putranya selama berbulan-bulan.
"Nyonya Daisy, lama tidak bertemu."
Para Nyonya Pejabat mendatangi Ibu Ron dengan pujian-pujian yang menjilat.
Setelah berbulan-bulan harus menerima ejekan karena keadaan sang putra, kini Nyonya Daisy bisa kembali menunjukkan wajah angkuhnya pada seluruh tamu undangan di acara besar itu.
Namun senyum bahagia Nyonya Daisy menghilang dalam sekejap saat mata wanita paruh baya itu menatap ke arah wanita muda yang berdiri tidak jauh darinya.
"Lilian!" batin Nyonya Daisy geram.
Wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Lilian seraya membawa satu gelas minuman.
Nyonya Daisy sengaja menumpahkan minuman ke gaun Lilian dengan menampakkan wajah tak berdosa.
"Bisakah kau tidak berdiri di tengah jalan?" usir Nyonya Daisy pada Lilian.
Lilian yang masih terkejut karena siraman minuman, segera menoleh ke asal suara untuk melihat wajah orang yang menumpahkan minuman padanya.
"Bibi," sapa Lilian dengan senyuman ramah.
"Minggir!" ujar Nyonya Daisy dengan sinis.
"Ada apa dengan wanita tua itu? Menyebalkan sekali!" omel Jane geram.
"Aku juga tidak tahu. Bibi Daisy tidak seperti biasanya.." gumam Lilian dengan wajah kecewa.
Wanita itu melirik ke arah Ron dari kejauhan. Dilihatnya wajah mantan kekasih yang masih bersemayam di lubuk hatinya itu.
"Ron yang sempurna sudah kembali.." gumam Lilian pelan.
***
Bersambung...