DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 26



Thrisca membuka pintu kantor suaminya dengan penampilan basah. Saat gadis itu masuk, terlihat beberapa pegawai tengah berada di ruangan Ron untuk memberikan laporan.


"Gendut, kau kenapa?" tanya Ron yang mengalihkan perhatian ke istrinya dan mengabaikan pegawai yang masih membahas pekerjaan dengannya.


"Tidak apa-apa, lanjutkan saja. Maaf sudah mengganggu,"


Thrisca masuk ke dalam ruang istirahat sang suami.


Ron segera mengusir pegawainya keluar dari ruangannya dan melimpahkan seluruh pekerjaan pada Han.


Pria itu menyusul sang istri yang berpakaian basah ke dalam ruang istirahat. Terlihat Thrisca tengah melepas baju basahnya dan menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut.


"Kenapa bajumu basah?"


Ron membuka kemejanya dan memberikan baju berkancing banyak itu pada sang istri.


"Aku.. aku terpeleset di toilet. Hanya basah sedikit. Sebentar lagi juga kering," jawab Thrisca seraya memakai kemeja sang suami.


"Dasar ceroboh!" ujar Ron seraya mencubit pipi sang istri.


"Em, kau tidak mungkin berpenampilan seperti ini di hadapan karyawanmu kan? Kau mau bertelanjang dada di depan mereka?" ujar Thrisca pada suaminya yang sudah setengah telanjang itu.


"Aku akan meminta Han mengambilkan baju. Aku juga akan menyuruhnya mengambilkan untukmu,"


"Tidak perlu. Sebentar lagi juga kering,"


Thrisca dan Ron duduk berjauhan di ranjang dan saling diam selama beberapa saat. Suasana menjadi canggung saat keduanya diam tak bersuara.


"Lanjutkan saja pekerjaanmu," ujar Thrisca memecah keheningan.


"Aku akan membawa pekerjaanku kesini,"


Ron keluar dari kamar dan memindahkan seluruh berkas di mejanya ke ruang istirahat.


Sementara Thrisca duduk di tepi ranjang dan jauh dari sang suami yang tengah sibuk.


"Masa periodemu sudah berakhir?" tanya Ron membuka perbincangan. Ron hanya asal bicara untuk menghilangkan rasa bosan sang istri yang hanya diam saja sejak tadi.


"Sudah," jawab Thrisca cuek.


Mendengar jawaban dari sang istri, Ron segera menutup laptopnya dan menoleh ke arah sang istri.


Thrisca ikut melirik ke arah suami yang tiba-tiba menoleh padanya.


"Kenapa dengan Ron?" batin Thrisca risih terus dipandangi oleh sang suami.


Gadis itu menarik selimut dan menutup tubunya rapat-rapat, sementara Ron segera menyingkirkan berkas-berkas yang menyakiti matanya dan duduk mendekati sang istri.


"Pakaianku mungkin sudah kering!"


Thrisca segera kabur dari kasur saat sang suami duduk tepat disampingnya.


"Kau mau kabur kemana?!"


Pria yang masih bertelanjang dada itu menarik tangan sang istri yang hanya mengenakan kemeja kebesaran miliknya.


"Aku ingin memakai bajuku lagi. Pasti sudah kering, tadi hanya basah sedikit!"


Thrisca mengalihkan padangan dari sang suami yang kini sudah melingkarkan tangan di pinggang rampingnya.


"Tenang saja, tidak perlu panik seperti itu.." bisik Ron pelan di telinga sang istri. Pria itu bahkan menggigit telinga istri cantiknya untuk menggoda gadis yang tengah panik itu.


"Geli,"


Thrisca mendorong dada bidang suaminya.


"Wajahmu merah sekali," ujar Ron memperhatikan wajah malu istrinya. Thrisca mendongakkan kepalanya sedikit dan menatap wajah suaminya dari dekat.


Mendapat tatapan menggoda dari sang istri, Ron segera menyambar bibir manis istrinya dengan ganas. Pria itu mengangkat tubuh sang istri dan membaringkan gadisnya itu di ranjang.


Jantung Thrisca berdegup kencang dan tangannya mulai gemetar. Tubuhnya berkeringat semakin deras karena dilanda kegugupan.


Ron membuka kancing baju istrinya satu persatu dengan bibir yang masih menempel di wajah sang istri. Setelah puas menikmati bibir sang istri, pria itu beralih ke leher dan dada sang istri yang baru saja terlihat setelah ia membuka pakaian gadis berambut panjang itu.


Ron semakin antusias melucuti pakaian dalam sang istri dengan bibir yang masih tertaut di badan istri perawannya itu.


Thrisca mencengkeram bahu suaminya kuat-kuat dan berusaha melemaskan tubuhnya yang tegang.


"A-aku takut, Ron.. tolong pelan-pelan," ujar Thrisca selirih mungkin saat ia melihat sang suami yang akan melepas celana.


"Tenang saja, aku tidak akan kasar.." ujar Ron seraya mengecup pipi sang istri.


"Tenang saja, Icha! Ini hal yang wajar. Aku sudah bersuami dan tentu aku tidak bisa terus menjadi gadis perawan jika aku sudah menjadi istri seseorang. Ron punya hak untuk menyentuhku. Kau hanya melakukan hal ini dengan suamimu! Kau pasti bisa, Icha! Tahan saja sebentar.." Thrisca menyemangati dirinya sendiri dari dalam hati.


Melihat wajah tegang sang istri, Ron menjadi semakin gemas dan tidak bisa menahan diri.


Thrisca menutup matanya rapat-rapat dan mencengkeram sprei kasur kuat-kuat. Jantungnya kembali berdegup tak karuan saat ia merasakan adanya benda asing yang menempel di tubuhnya.


Ron yang sudah tidak tahan ingin menancapkan bendera, sudah bersiap menempelkan tongkat panjangnya di bibir gawang yang akan ia tembus.


"Ron, aku takut.."


Thrisca memberanikan diri merengek pada sang suami sebelum pria itu memasukkan tongkatnya.


Ron yang melihat tubuh gemetar istrinya, membiarkan gadis itu beristirahat sejenak sebelum ia mengakhiri hari-hari sang istri sebagai gadis perawan.


"Santai saja, kau hanya perlu menikmatinya. Aku yang akan melakukan semuanya,"


Ron mengusap wajah istrinya dengan lembut.


"Aku belum siap," rengek Thrisca lagi.


"Jangan begini, Gendut. Kau istriku. Ini hanya hal wajar yang dilakukan oleh pasangan suami-istri. Kau tidak boleh menolakku!"


"Bisa tidak kita lanjutkan di rumah saja nanti? Aku tidak bisa menahan suaraku. Banyak karyawanmu disini. Mereka akan berpikir macam-macam jika suaraku terdengar sampai keluar,"


Thrisca mencoba mencari-cari alasan untuk menolak suaminya.


"Gendut, kita sudah setengah jalan. Kau sudah terbaring di pelukanku. Tinggal satu langkah lagi dan kau akan menjadi milikku! Kenapa aku harus menunggu sampai di rumah nanti?!"


Ron kembali mengecup bibir sang istri untuk menghentikan ocehan gadis itu.


Saat hendak menuntaskan tugasnya, Han kembali mengganggu waktu bahagia Ron bersama sang istri sebelum pria itu menancapkan tiang benderanya dengan benar.


"Bos? Bos, pakaianmu sudah siap."


"I-itu Mas Han! Kau temui saja dulu.."


Thrisca mendorong tubuh suaminya yang masih menimpa badan langsing gadis itu.


"Tidak perlu pedulikan orang itu! Jangan membuat alasan lagi, tinggal sebentar lagi akan selesai!"


Ron masih menindih tubuh sang istri dan kembali bersiap melancarkan aksinya.


"Bos, rapat akan dimulai lima belas menit lagi.." sambung Han masih mengetuk pintu.


"Tuan, pekerjaanmu lebih penting. Kita bisa melanjutkannya nanti," ujar Thrisca.


Ron menghela nafas sejenak mencoba memendam amarahnya pada asisten setia yang sudah menghancurkan momen bahagianya bersama sang istri.


"Kau tidak akan kabur lagi? Setelah aku kembali, jangan harap kau bisa melarikan diri!"


Ron terpaksa bangkit dari ranjang dan mengambil selimut untuk sang istri.


Pria itu menutup tubuh sang istri dengan selimut dan segera mengambil celananya yang berhamburan di lantai.


Ron membuka sedikit pintu ruang istirahatnya untuk keluar dari surganya itu. Pria yang masih bertelanjang dada itu merebut kantong pakaian dari tangan Han dengan kasar.


"Ron benar-benar menyeramkan.." gumam Thrisca seraya memeluk selimutnya erat.


"Setidaknya aku masih punya waktu untuk mempersiapkan diri.." ujar Thrisca mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Setelah memakai setelan lengkap, Ron kembali ke ruang istirahat untuk melihat sang istri.


"K-kenapa lagi?" tanya Thrisca dengan tergagap.


"Jangan pergi kemana-mana! Jangan kenakan apapun! Saat aku kembali nanti, aku ingin melihatmu di ranjang ini tanpa sehelai kain pun!"


Ron mengecup bibir sang istri dengan antusias.


"Kau ingin aku tidak memakai baju sampai nanti? Aku bukan manusia goa! Aku bisa mati kedinginan di ruangan ber-AC ini!" protes Thrisca.


"Kau memang pandai membantah!"


Ron mengusap rambut sang istri dan berjalan keluar dari ruangan kecil itu.


Ron terus memasang wajah masam dan tidak mengatakan sepatah katapun pada asisten yang telah membuatnya kesal itu.


"Bos, pakaian Nona sudah kuletakkan di ruanganmu."


Han membuka pembicaraan dengan sang Bos saat mereka tengah berjalan bersama menuju ruang rapat.


"Kenapa kau mengambilkan pakaian untuk gadis itu juga?!!"


Ron hampir saja berdiri dari kursi rodanya dan ingin menjambak Han hingga asistennya itu menjadi botak.


***


Thrisca berkeliling di kantor suaminya dengan memakai pakaian yang diambilkan oleh Han. Gadis itu berkeliling di sekitar kantor suaminya tanpa memakai bantalan lemak dan baju tebal.


Thrisca memberanikan diri keluar dari ruangan Ron sebagai Thrisca yang langsing dan cantik.


Gadis itu sudah terlalu lelah untuk menyulap dirinya menjadi Thrisca gendut dan ia sudah semakin lemas karena terlalu lapar.


Thrisca berjalan kesana-kemari dan melihat orang-orang dengan tatapan waspada.


"Entah menjadi Thrisca gendut, atau Thrisca langsing.. kenapa orang-orang itu selalu saja menatapku?! Membuatku risih saja!" gerutu Thrisca dalam hati.


Gadis itu tidak berani menanyakan dimana tempat kantin berada pada karyawan yang ia temui karena gadis berparas cantik itu masih ketakutan dengan olok-olokan yang diterimanya di toilet tadi.


"Daripada dibuat malu lagi, lebih baik aku cari sendiri saja kantinnya." batin Thrisca.


Setelah berputar-putar tidak jelas tanpa hasil, Thrisca mulai menyerah dan mencoba mencari bantuan. Gadis kelaparan itu hampir pingsan karena terus berkeliling naik turun dari lantai satu ke lantai lain hanya untuk mencari makanan.


Thrisca mengambil ponsel dan hendak menghubungi seseorang. Namun ia baru sadar, gadis itu tidak pernah memakai benda kecil canggih yang dimilikinya. Ia bahkan tidak memiliki nomor ponsel suaminya sendiri.


"Yang benar saja?! Aku bahkan tidak bisa menghubungi suamiku sendiri?!"


Thrisca berdecak kesal dan hampir membanting benda kotak yang tidak bisa menyelamatkannya itu.


"Aku tanya satpam saja. Satpam seharusnya ramah pada siapapun kan? Sejelek apapun aku, satpam disini tidak akan bersikap ketus padaku kan?" gumam Thrisca pelan.


Gadis itu mencari petugas keamanan dan memberanikan diri untuk bertanya mengenai lokasi kantin.


"Permisi.."


Thrisca mendekati dua pria berbadan kekar yang berjalan melewatinya. Gadis itu berbicara dengan takut-takut dan tidak berani menatap wajah garang petugas keamanan itu.


"Iya, ada yang bisa kami bantu?"


Dua pria muda petugas keamanan itu tersenyum ramah pada Thrisca dengan wajah merah malu telah disapa oleh wanita cantik yang belum pernah mereka lihat di area perusahaan itu.


"Mereka ramah sekali. Beda sekali dengan wanita menyeramkan di toilet,"


Thrisca memberanikan diri mengangkat wajahnya dan membalas senyuman ramah petugas keamanan.


Mendapat senyuman manis dari wanita cantik, dua petugas keamanan itu semakin terpesona dengan istri bos perusahaan itu.


"Boleh aku tahu dimana letak kantin?" tanya Thrisca.


"Tentu! Kantin ada di bawah. Turun saja satu lantai lagi dan cari pintu besar di dekat pintu keluar." jelas salah satu petugas keamanan.


"Terimakasih,"


"Kami bisa mengantar kalau Nona kesulitan menemukan kantin," tawar petugas keamanan itu.


"Tidak perlu," tolak Thrisca halus seraya meninggalkan petugas keamanan itu.


Baru beberapa langkah berjalan menuju kantin, Thrisca berjumpa dengan sosok yang cukup familiar. Di tempat asing yang membuat sang istri bos tersesat itu, Thrisca akhirnya menemukan kawan yang dapat ia mintai pertolongan.


"Tuan Gen!"


Thrisca mempercepat langkahnya mencoba mengejar Genta yang berjalan tidak jauh darinya.


Gadis itu menghampiri Genta dengan girang tanpa mengingat bahwa saat ini gadis yang seharusnya berpenampilan gendut itu tidak mengenakan kostum yang tepat dihadapan Genta.


***


Bersambung..