
Tuan Derry duduk santai di kediamannya tanpa melakukan apapun. Pria paruh baya itu kembali kehilangan simpanannya yang tiba-tiba tenggelam entah kemana. Setelah ditinggal pergi oleh Lilian, kini pria itu kembali ditinggalkan oleh simpanan barunya, Susan.
"Kenapa kau ada di rumah?! Simpanan barumu kabur?" sindir Nyonya Daisy.
"Diamlah! Jangan merusak suasana hatiku!" jawab Tuan Derry.
"Pergilah memancing ikan asin! Mataku sakit melihatmu di sini!" usir Nyonya Daisy.
"Ini juga rumahku! Punya hak apa kau mengusirku?!"
"Ini rumah yang diberikan ayah untukku! Pergi saja sana ke rumah istri keduamu!"
"Hei, itu ayahku bukan ayahmu!" protes Tuan Derry.
Kedua orang tua Ron itu nampak kekanakan-kanakan meributkan hal yang tidak penting.
Pertikaian kecil antara pasangan suami-istri itu berhenti begitu mereka mendengar suara pintu yang terbuka.
"Ibu.." sapa Thrisca pada sang ibu mertua.
"Sayang, kenapa tidak bilang akan kemari?" ujar Nyonya Daisy menyambut sang menantu yang datang bersama putranya.
"Ron yang mengajakku ke sini, Bu." ujar Thrisca.
"Ron? Mana mungkin bocah ini berinisiatif mengunjungi orang tuanya?!" cibir Nyonya Daisy.
"Aku sudah berusaha menjadi anak yang berbakti, tapi ini yang kudapatkan?!" protes Ron.
"Ayo, Thrisca! Biarkan saja priamu ini mengomel hingga lelah. Mendengar suara Ron hanya membuat telinga ibu sakit," cibir Nyonya Daisy seraya menarik tangan sang menantu menuju kamar.
"Ibu, jangan berbicara macam-macam pada istriku! Aku akan membawa Icha pulang sebentar lagi! Ibu tidak boleh lagi menemui istriku! Aku akan mengunci pintu gerbangku--"
"Sudahlah, Ron! Suaramu membuat ayah pusing!" gerutu Tuan Derry seraya menyumpalkan pisang ke mulut Ron untuk menghentikan ocehan sang putra.
"Apa yang ayah lakukan akhir-akhir ini?" tanya Ron dingin.
"Tidak banyak. Hanya mengunjungi istri--"
"Mengunjungi simpanan barumu. Iya, kan?" potong Ron cepat.
"Ehem. Simpanan apa, Ron?" elak Tuan Derry.
"Ayah, lain kali tolong selidiki dulu latar belakang wanita yang akan ayah jadikan simpanan!" ujar Ron seraya menatap tajam ke arah sang ayahanda.
"Kau ini kena--"
"Aku sudah membuang Susan. Jangan harap ayah bisa menghubungi wanita itu lagi!" ungkap Ron membuat Tuan Derry terbelalak kaget.
"Darimana kau tahu tentang Susan?!"
"Ayah tidak perlu tahu! Tolong berhentilah bertingkah! Ayah sebentar lagi akan menjadi kakek. Bisakah ayah memilih hobi yang lebih bermanfaat?!"
"Ron, kau juga tahu rasanya membeli seorang wanita, kan? Memangnya kau tidak ketagihan?" cibir Tuan Derry.
"Cih, ayah pikir aku akan berakhir seperti ayah dan kakek?! Mengoleksi banyak istri dan mencetak banyak anak?!"
"Apa salahnya memiliki banyak istri?!"
"Apa ayah tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaan ibu?" tanya Ron dengan sorot mata penuh amarah.
"Memangnya kenapa dengan ibu--"
"Aku tidak akan membiarkan wanita yang kucintai tersakiti karena keegoisanku. Satu istri saja sudah cukup bagiku. Thrisca sudah memberikan segalanya padaku. Apa ibu juga tidak melakukan hal yang sama? Ibu juga sudah memberikan dunianya pada ayah, kenapa ayah tidak bisa memberikan dunia ayah pada ibu?"
Tuan Derry menatap wajah sang putra tanpa bersuara. Pria tua itu benar-benar memahami arah pembicaraan putra semata wayangnya itu.
"Kau yakin kau hanya akan berakhir bersama Thrisca? Kau putra ayah, Ron. Kau juga akan melakukan hal sama dengan ayah." tukas Tuan Derry seraya berjalan meninggalkan sang putra.
***
"Sayang, kau ingin makan malam apa?" tawar Ron pada sang istri yang tengah berbaring santai di ranjang kamar mereka.
"Aku tidak lapar. Kau saja yang makan," tolak Thrisca seraya mengusap lembut tangan sang suami.
"Kenapa tidak mau makan? Kau belum lapar? Atau ada hidangan khusus yang ingin kau makan? Aku akan membelikannya untukmu." bujuk Ron.
"Tidak perlu, Sayang. Aku tidak lapar."
"Kau mual? Apa perutmu terasa tidak enak?" ujar Ron seraya menarik tangan sang istri dan mendudukkan wanita cantik itu di pangkuannya.
Ron mengusap lembut perut Thrisca seraya memeriksa suhu tubuh istrinya itu.
"Perutku memang terasa tidak enak." ujar Thrisca lirih.
"Kita ke dokter saja sekarang,"
"Tidak perlu sampai ke dokter, Ron. Aku baik-baik saja,"
"Tidak! Kau harus--"
Perkataan Ron terhenti sejenak begitu pria itu merasakan hal yang aneh pada perutnya. Ron bergegas berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya secara tiba-tiba.
"Sayang, kau kenapa?"
Thrisca menyusul Ron dan mengusap-usap lembut punggung sang suami.
Wajah pria itu mulai memucat dan tubuhnya mulai melemas setelah ia mengeluarkan isi perutnya.
"Kita panggil dokter ke rumah saja, ya?"
Thrisca menuntun sang suami keluar dari kamar mandi dan mendudukkan Ron di ranjang empuk kamar mereka.
"Aku baik-baik saja." ujar Ron dengan suara parau.
"Baik-baik saja apanya, Ron?!" omel Thrisca seraya mengusapkan minyak ke perut Ron.
"Kita harus ke dokter kandungan sekarang. Ayo, Sayang!" ajak Ron memaksa.
"Ron, kau--"
"Diamlah! Berdebat denganmu membuat kepalaku ingin pecah!" omel Ron seraya membekap mulut sang istri.
Wanita itu akhirnya menurut dan pergi ke rumah sakit bersama sang suami. Ron masih bersikeras ingin memastikan apakah istrinya benar mengandung atau tidak.
"Ron, bagaimana kalau ternyata aku tidak hamil?" ujar Thrisca cemas.
"Memangnya kenapa? Aku hanya perlu berusaha lebih keras lagi untuk membuatmu hamil." balas Ron cuek.
Pasangan suami-istri itu menunggu hasil pemeriksaan dengan gugup. Ron menggenggam erat jemari sang istri yang mulai gelisah.
"Kau gugup?" tanya Ron melihat wajah cemas sang istri.
"Hem? Tidak." jawab Thrisca asal.
"Tidak apa-apa kalau kau tidak hamil, Sayang. Aku hanya ingin memastikan saja."
Ron mengusap lembut wajah sang istri.
"Nyonya Thrisca." seorang dokter muncul dan hendak memberitahukan hasil pemeriksaan.
"Bagaimana, Dok?" tanya Ron tidak sabaran.
Dokter itu terdiam sejenak, kemudian tersenyum kecil melihat wajah tegang Thrisca dan juga Ron.
"Tidak perlu tegang, Nyonya." goda sang dokter pada Thrisca.
"Apa aku terlihat tegang?" jawab Thrisca disertai cengiran kuda.
"Selamat menantikan anggota keluarga baru, Tuan, Nyonya." ujar sang dokter dengan senyum sumringah.
"Nyonya Thrisca tengah mengandung." imbuh dokter itu.
Ron dan Thrisca saling melempar pandangan tanpa bersuara. Istri Ron itu langsung berhambur masuk ke dalam pelukan Ron yang masih mematung setelah mendengar perkataan dokter.
"Selamat, Ron. Kau akan kembali menjadi ayah.." ucap Thrisca penuh haru.
"Kau benar-benar hamil?" ungkap Ron tak percaya.
Pria itu mengecupi kening Thrisca bertubi-tubi seraya mengusap lembut perut sang istri.
Ron tidak bisa berhenti tersenyum selama perjalanan pulang bersama istri tercintanya.
Rasa senang sekaligus cemas mulai bersarang memenuhi kepala suami Thrisca itu.
Kehamilan sang istri tak hanya membawa kebahagiaan untuknya, namun juga menghadirkan kecemasan luar biasa pada calon ayah yang pernah gagal menjaga calon anak pertamanya itu.
"Sayang, dengarkan aku. Mulai sekarang, jangan pergi kemanapun tanpa aku! Jangan bepergian jauh! Jangan banyak bergerak hanya untuk hal yang tidak perlu! Jangan banyak mengomel! Jangan konsumsi makanan sembarangan! Jangan--"
"Aku tahu, Ron."
Thrisca menempatkan jari telunjuknya ke mulut Ron untuk menghentikan ocehan pria itu.
"Aku.. aku akan menjagamu dengan baik kali ini." ujar Ron seraya mendaratkan kecupan lembut ke kening sang istri.
Sayangnya, kecupan mesra mereka harus terganggu karena rasa mual yang kembali melanda sang calon daddy. Ron lagi-lagi harus dilanda morning sickness karena kehamilan sang istri.
***
Bersambung...