
"Sayang, ini saja ya? Ini modelnya sama denganku."
Ron mengajak Thrisca melihat-lihat ponsel di salah satu pusat perbelanjaan besar di kota.
Namun pasangan suami-istri itu masih harus berkeliaran mengenakan masker untuk menutupi wajah mereka di pusat keramaian.
Thrisca khawatir wajah Ron akan nampak mencolok di tengah-tengah kerumunan, mengingat baru beberapa minggu yang lalu wajah suaminya itu terpampang di seluruh surat kabar mengumumkan kembalinya Ron yang muncul dengan kaki sehat.
"Ini terlalu mahal, Ron. Beli yang lain saja," tolak Thrisca sambil berbisik.
"Ini satu,"
Ron tidak menghiraukan ocehan sang istri dan mengambil keputusan tanpa menunggu persetujuan wanita kesayangannya itu.
"Ron, sudah kubilang itu terlalu mahal!"
Thrisca memukul-mukul lengan suaminya dengan geram.
"Tidak apa-apa, Sayang. Itu hanya ponsel. Aku bisa membelikan yang lebih bagus untukmu lain kali,"
Ron menangkap tangan sang istri dan mendekap erat tubuh ramping wanita hamil itu agar berhenti memukulinya.
"Kau harus belajar berhemat, Ron. Jangan boros begitu hanya karena kau sekarang memiliki uang. Bagaimana nasib anak kita nanti kalau uangmu cepat habis?!" omel Thrisca masih dengan bisikan.
"Sebenarnya apa yang ada di otakmu?! Uangku habis apanya?!"
"Ron, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tabunglah uangmu untuk anak kita juga,"
"Aku tidak akan membiarkanmu kekurangan uang, Sayang.."
Ron mencubit gemas kedua pipi istri polosnya itu.
"Kita mau kemana setelah ini? Ada sesuatu yang ingin kau makan?" tawar Ron.
"Aku tidak terlalu lapar,"
"Bagaimana kalau menonton film?" ajak Ron bersemangat.
"Film apa?"
"Apa saja yang kau suka! Kita belum pernah kencan di bioskop, kan?"
"Kau tidak mau mengajakku ke bar mahal?!" sindir Thrisca.
Ron hanya bisa menghela nafas tanpa menanggapi sindiran dari ibu hamil muda itu. Pria itu hanya tersenyum tipis pada sang istri tanpa membalas ucapan wanita kesayangannya.
"Kita nonton film saja,"
Ron menggandeng tangan istrinya memasuki bioskop di pusat perbelanjaan tersebut.
Saat tengah mengantri tiket, Thrisca menangkap sosok familiar yang berdiri di barisan antriannya bersama sang suami.
"Mas Gen!"
Thrisca maju beberapa langkah ke barisan depan dan menarik jaket Genta. Wanita itu menurunkan maskernya dan melempar senyum pada pria yang berdiri di hadapannya.
Sepupu Ron itu gelagapan dan mulai panik saat pakaiannya tiba-tiba tertarik ke belakang.
"Thrisca?"
Genta nampak terkejut dapat melihat wanita pujaannya itu secara kebetulan di luar rumah.
"Mas Gen bersama siapa?" tanya Thrisca celingukan mencari seseorang yang mungkin berdiri di samping Genta.
"Aku.. sendiri. Kau?"
"Aku bersama Ron,"
Thrisca menunjuk sang suami yang berdiri di barisan antrian agak belakang.
Suami Thrisca itu memandangi sang istri bersama sepupunya dari jauh dengan wajah cemberut.
"Kalau begitu pesankan tiket untukku dan juga Ron. Kita menonton bertiga saja," ajak Thrisca.
"Aku ingin menonton film sendiri," tolak Genta.
"Jangan begitu, Mas Gen! Kita nonton saja bersama! Bagaimana dengan film horor lagi?!" sindir Thrisca.
"Kau ingin mengejekku?!" Genta menyipitkan mata pada Thrisca.
"Mana mungkin aku begitu," goda Thrisca seraya tertawa kecil.
Ron menatap dengan intens sang istri yang tengah tersenyum manis pada sepupunya. Pria itu semakin diselimuti amarah membara melihat keakraban wanita tercintanya bersama pria lain.
"Apa-apaan si gendut itu?! Untuk apa dia tersenyum semanis itu pada Genta?!" batin Ron geram.
"Mas Gen, kau masih takut menonton film horor?!" ejek Thrisca.
"Takut apanya?! Itu hanya hantu di dalam layar! Siapa yang takut!" elak Genta.
"Kalau begitu pesankan tiga tiket." ujar Thrisca.
"Wanita ini benar-benar!" batin Genta kesal.
Thrisca berlari girang menghampiri Ron dan mengajak suaminya membeli popcorn serta minuman.
"Bagaimana dengan tiketnya?"
"Mas Gen yang belikan," jawab Thrisca.
"Ron, Mas Gen datang ke sini sendiri. Menonton ramai-ramai lebih seru, kan?! Aku sudah menyuruh Mas Gen membeli tiket untuk film horor," ujar Thrisca bersemangat.
"Film horor?"
"Iya, Mas Gen sangat lucu saat menonton film horor. Dia selalu berteriak dan--"
"Kau pernah menonton film bersama Gen?!" potong Ron cepat.
Pria itu melirik sang istri dengan tatapan tidak suka saat mengetahui istri kesayangannya yang sangat bersemangat membicarakan Genta.
"Iya, aku menon--"
"Kau berani keluar bersama Gen tanpa sepengetahuanku? Bahkan sampai menonton film bersama?"
Ron menatap tajam Thrisca dengan sorot mata penuh amarah.
"Ron menyeramkan sekali.." batin Thrisca gemetar ketakutan.
"Sayang, aku tidak--"
"Tidak apa?!" potong Ron bertambah geram melihat sang istri yang nampak seperti ingin mengelak.
"Aku tidak keluar rumah bersama Mas Gen. Aku selalu meminta ijin padamu tiap aku menginjakkan kaki di luar rumah. Aku menonton film bersama Mas Gen di rumah." terang Thrisca tegas.
"Benarkah--"
"Kau mencurigaiku?!" potong Thrisca.
Kini wanita itu yang menatap kesal sang suami yang tengah meluapkan kemarahan tidak jelas.
"Bukan begitu, Sayang--"
"Terserah kau saja!"
Thrisca menepis tangan sang suami yang bertengger di pinggangnya. Wanita itu berjalan menghampiri Genta tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ron.
"Sayang, maaf.."
Ron berlarian mengejar sang istri dan merengek pada wanita hamil yang tengah merajuk itu.
"Ron, kau benar-benar merusak suasana hatiku! Pulang saja sana!" usir Thrisca kesal.
"Sayang, maafkan aku.."
Genta yang melihat drama sepasang suami-istri itu hanya bisa menatap mereka dengan sorot mata penuh iri dengki dan kecemburuan.
"Apa mereka harus menabur garam di atas lukaku?!" protes Genta dalam hati.
"Pulang sana! Kau selalu mencurigaiku! Kau tidak pernah percaya padaku!" omel Thrisca penuh drama.
"Maksudku bukan seperti itu, aku hanya--"
"Hanya apa?! Hanya ingin memarahiku dengan alasan tidak jelas?! Hanya ingin mengomel padaku untuk melampiaskan amarahmu?! Kau kesal padaku, kan? Kau kesal karena aku membuatmu kerepotan selama beberapa hari ini, kan?!"
"Astaga! Hentikan! Kalian membuatku malu!"
Genta menarik telinga Ron dengan kasar serta menarik tangan Thrisca menjauh dari keramaian.
"Teruskan saja jika kalian masih ingin bertengkar!" omel Genta seraya memukul belakang kepala Ron dengan keras dan mencubit pipi Thrisca gemas.
"Mas Gen, pukul kepala Ron lebih keras!" rengek Thrisca pada Genta bak anak kecil yang meminta ayahnya menghajar bocah nakal yang mengganggunya.
"Gen, lebih baik kau pergi saja sana!" usir Ron seraya menarik kasar tangan sepupu yang lebih tua darinya itu.
"Mas Gen akan menonton film bersama kita!"
Thrisca ikut menarik tangan Genta untuk mencegah pria itu pergi.
Pertengkaran suami-istri itu berlanjut dengan aksi saling tarik menarik kedua tangan Genta hingga membuat tubuh pria jangkung itu berayun ke kanan dan ke kiri.
"Mas Gen tidak boleh pergi kemanapun!" ujar Thrisca seraya menarik lengan Genta.
"Gen hanya akan mengganggu! Pulang sana, Gen!" omel Ron dengan menarik tangan Genta tak kalah kasar.
"Mas Gen harus di sini!"
"Gen harus pergi!"
Pria malang sepupu dari Ron itu hanya pasrah dijadikan boneka yang dipermainkan oleh pasangan suami-istri yang masih bersitegang.
Tubuh lunglai Genta berayun kesana-kemari mengikuti tarikan kasar dari Thrisca dan Ron.
"Cukup!!" bentak Genta pada pasangan suami-istri itu.
Thrisca dan Ron yang tersentak kaget, segera melepas tangan mereka dari Genta serta menjauh dari pria yang kini mulai menampakkan wajah garang itu.
Wanita hamil itu segera berlari kecil menghampiri Ron dan menggandeng tangan sang suami untuk kabur sebelum Genta mengamuk.
Pasangan suami-istri itu bergegas melarikan diri dari omelan dan teriakan Genta yang meledak-ledak di tengah keramaian bioskop.
"Awas saja kau, Ron! Aku akan memasukkan banyak kaos kaki bau ke sarung bantalmu!" teriak Genta pada Ron yang sudah berlari menjauh bersama sang istri.
***
Bersambung...