DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 52



Tengah malam, Ron bangun dari ranjang dan melihat sang istri terlelap di meja belajar dengan beralaskan banyak buku tebal.


Pria itu melangkah perlahan mendekati sang istri dan mengangkat tubuh mungil itu untuk memindahkan gadisnya ke tempat tidur.


Thrisca terbangun dan mengucek matanya saat ia merasakan tubuhnya terangkat dari kursi.


"Ron, kau terbangun?"


Thrisca turun dari gendongan Ron perlahan dan mengusap-usap wajahnya yang masih mengantuk.


"Jangan tidur di kursi. Nanti punggungmu sakit,"


Pria berambut coklat gelap itu menarik tangan sang istri dan mendudukkan gadis itu di kasur.


Ron menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya dengan kain tebal yang hangat.


"Tuan, kau belum mandi, kan? Belum makan juga, kan? Mandilah dan ganti bajumu. Aku akan menyiapkan makanan untukmu,"


Thrisca menyingkap selimutnya dan hendak bangkit dari ranjang.


"Tidak perlu. Aku bisa mengurus makan malamku sendiri."


Ron segera berlalu meninggalkan kamar dan membasuh tubuhnya dengan air segar di malam yang dingin itu.


Pria itu berusaha keras menahan amarahnya untuk tidak mengomel pada sang istri yang sempat menerima telepon dari Genta. Ron juga berusaha memahami sikap Thrisca yang tidak mau mengandalkan uangnya untuk menyelesaikan segala urusan gadis itu.


Semua kemarahan dan kekesalan Ron sudah tertutupi rasa haru bahagianya mendengar niat baik sang istri yang ingin berusaha memperbaiki diri menjadi wanita yang lebih baik demi pria itu.


Ron keluar dari kamar mandi dan mendengar suara gaduh piring dari dapur.


"Sudah kubilang, aku bisa mengurus makan malamku sendiri.." ujar Ron seraya melingkarkan tangannya di pinggang sang istri yang tengah sibuk menyiapkan makanan.


"Kau tidak bisa memasak, Ron. Mana mungkin aku membiarkan suamiku kelaparan,"


"Kelaparan apanya? Aku bisa memakanmu jika aku tidak bisa mendapatkan sepiring nasi,"


Ron menenggelamkan kepalanya di bahu sang istri kemudian mengecupi leher jenjang milik gadis di pelukannya dan meninggalkan banyak tanda di kulit putih istrinya itu.


"Ron, aku sedang memasak!" omel Thrisca seraya berusaha melepaskan diri dari pelukan sang suami.


"Gendut, terimakasih.." ujar Ron lirih.


"Terimakasih untuk apa?"


Thrisca berbalik badan dan menatap Ron dengan wajah bingung.


"Kau sudah menjadi wanita idamanku. Tidak perlu berusaha terlalu keras hanya untuk menyenangkanku,"


"Apa Ron melihat buku-buku di mejaku? Pria itu tidak mungkin tahu tentang rencanaku kembali ke universitas, kan?" batin Thrisca cemas kejutannya akan terbongkar tanpa menyadari sebenarnya rencana gadis itu memang sudah diketahui oleh suaminya.


"Menyenangkan apanya? Aku tidak melakukan apapun," elak Thrisca.


"Gendut, katakan saja jika kau butuh sesuatu. Jangan dipendam sendiri! Aku juga ingin kau bergantung padaku,"


"Aku tidak butuh apapun darimu,"


Thrisca masih mengelak dan mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sepertinya tidak ada yang mengenalimu di kota ini. Ternyata kau tidak setenar yang kukira," ejek Thrisca.


"Tenar apanya? Aku memang bukan selebriti,"


"Tahu begitu, aku mengajakmu datang ke reuni sekolahku kemarin." sesal Thrisca.


"Kau sendiri yang berpikir berlebihan! Aku tidak membutuhkan kursi roda di kota kecil seperti ini."


"Aku hanya takut orang-orang akan salah paham seperti Mas Gen. Kupikir beberapa orang disini akan mengenalimu. Ternyata Bibi Susan saja tidak tahu siapa dirimu. Teman-temanku juga tidak mengenalimu,"


Thrisca masih melempar ledekan pada sang suami.


"Bukankah kau seharusnya senang? Aku tidak perlu memakai kursi roda, kau tidak perlu memakai baju tebal. Kita bisa berkencan di tempat umum dengan bebas,"


"Kau benar. Aku senang sekali bisa menghabiskan waktu denganmu tanpa memakai baju panas itu," ujar Thrisca seraya mengulum senyum.


Pasangan suami istri itu menikmati makanan hangat seraya berbincang ringan di malam yang sudah larut nan dingin.


"Mas Gen bilang pekerjaaanmu semakin menumpuk. Aku akan pulang setelah datang ke wisuda Nadine," ujar Thrisca.


"Kau yakin? Tidak apa-apa jika kau masih ingin berada disini lebih lama. Aku akan menemanimu,"


"Tidak baik juga terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan. Aku ingin segera mencari kesibukan baru,"


"Tidak perlu terburu-buru. Masa berkabungmu belum berakhir. Pemakaman keluargamu baru selesai beberapa hari yang lalu."


"Aku sudah baik-baik saja. Aku sudah merelakan kepergian ayahku. Ayahku sudah menyampaikan salam perpisahan padaku. Dan aku juga sudah memenuhi permintaan ayahku. Tidak ada penyesalan lagi di antara kita,"


"Kau sempat menghubungi ayahmu?"


"Ayahku meninggalkan surat untukku. Ayah juga meninggalkan foto. Kau ingin melihatnya?"


Thrisca berlari menuju kamarnya dengan antusias dan membawa selembar foto usang yang ditinggalkan oleh sang ayah.


"Lihat, ini ayahku saat masih muda. Ini aku dan ini ibuku."


Thrisca memperlihatkan foto bayinya pada Ron dengan senyuman yang berhiaskan wajah pilu menahan air mata.


"Kau ingin melihat foto ayahku yang sekarang? Kau belum pernah bertemu dengannya, kan?"


Thrisca kembali berlari mengambil beberapa foto dirinya bersama sang ayah.


Thrisca membawa pigura kecil dan menunjukkan wajah sang ayah pada suaminya.


"Sayang sekali kau tidak sempat menyapa ayahku. Wajah ayahku memang agak menyeramkan, tapi ayahku tidak segalak yang terlihat. Kau pasti bisa cepat akrab dengan ayahku,"


Thrisca terus mengoceh diiringi tawa kecil meskipun wajahnya sudah banjir dengan air mata.


Ron menatap sang istri dengan iba dan semakin tidak tega melihat gadisnya memperlihatkan tangisan pilu dihadapannya.


Suami Thrisca itu mendekap sang istri dengan erat dan menepuk-nepuk bahu Thrisca untuk menghibur gadis kesayangannya itu.


"Maaf, Gendut. Seharusnya aku datang padamu lebih awal," sesal Ron.


***


Pagi hari, kantor perusahaan keluarga Diez nampak sudah ramai dengan pegawai yang berlalu-lalang.


Han berjalan memasuki gedung tempatnya mengais rejeki dengan wajah lelah yang dihiasi lingkaran hitam pada mata.


Suasana hati asisten Ron itu semakin buruk saat ia melihat sosok Jane berkeliaran di sekitar ruangan sang bos.


"Han?"


Jane menyapa Han dengan semangat dan berlari menghampiri pria berambut hitam itu.


"Nona Jane, ada urusan apa datang kemari?" tanya Han dengan ekspresi dingin.


"Kenapa wajahmu sinis begitu padaku? Aku tidak ada urusan disini,"


"Jadi?"


Han mengernyitkan dahinya sejenak, kemudian menangkap maksud dari kehadiran Jane.


Wanita itu memang tidak mempunyai urusan dengan Ron, karena ia hanyalah sekedar teman minum yang baru berkencan dua kali dengan Ron di masa lalu.


Berbeda dengan wanita satu lagi yang datang bersamanya, Han yakin Jane datang untuk menemani Lilian.


"Nona Lilian ada disini?"


"Lian kesini, tapi hanya ada Genta di ruangan Ron. Sekarang Lian sekarang mengurus pekerjaan," jawab Jane cuek.


"Pekerjaan?"


"Kau lupa? Kontrak perusahaan kalian dengan Lilian belum berakhir. Kalian masih membutuhkan Lian sebagai model, kan? Wanita itu sudah bersemangat untuk kembali bekerja," terang Jane.


"Lilian masih ingin melanjutkan kontrak?"


"Tentu saja. Lian sudah benar-benar kembali dari masa rehat. Ini kabar bagus, bukan?" sindir Jane.


Sementara Lilian yang tengah menjadi bahan perbincangan oleh Han dan Jane, sedang sibuk berkeliling perusahaan untuk mencari keberadaan Ron.


Wanita itu berjalan lesu menuju toilet saat ia mendapat kabar bahwa pria idamannya tengah berada di luar kota menemani sang istri.


"Bukankah itu Lilian? Model yang sedang rehat itu?"


Beberapa pegawai wanita nampak berbisik membicarakan Lilian saat melihat model cantik itu masuk ke dalam toilet.


"Sepertinya masa rehatnya sudah usai. Bukankah dia model yang digunakan oleh perusahaan sejak tahun lalu?"


Wanita-wanita itu makin asyik membicarakan Lilian yang sudah masuk ke salah satu bilik.


"Dengar-dengar dia mantan pacar bos? Sepertinya dia bisa menjadi model perusahaan ini juga karena bos," komentar salah satu pegawai wanita.


"Mantan pacar bos? Bukankah dia simpanannya Tuan Derry? Aku pernah melihatnya keluar dari mobil Tuan Derry."


"Wah, ada apa ini? Jadi, siapa yang lebih dulu menggunakan Lilian? Anaknya atau ayahnya?"


Beberapa wanita ikut meramaikan perbincangan panas itu.


"Wanita itu tidak tahu malu sekali. Sudah mendekati Tuan Derry, tapi masih berani mengencani Tuan Ron."


"Apa mungkin karena itu Bos putus dengan Lilian?" sahut salah satu pegawai wanita.


"Kalau Tuan Ron tahu kekasihnya juga menjadi simpanan ayahnya, Lilian pasti sudah diusir dari sini. Tapi dia masih bisa berkeliaran di perusahaan dengan bebas! Sepertinya Keluarga Diez tidak ada yang tahu mengenai Lilian yang menjadi simpanan Tuan Derry,"


"Pantas saja Lilian mendapat kontrak besar dari perusahaan ini. Ternyata bantuan backing," komentar sinis salah satu pegawai.


"Backing Lilian terlalu kuat. Siapa yang berani menentang Tuan Derry,"


"Untung saja Bos sudah menikah. Walaupun hanya gadis gendut, tapi setidaknya Bos tidak perlu berebut wanita dengan ayahnya sendiri," sahut pegawai lain disambut tawa heboh wanita-wanita yang berada di toilet kecil itu.


Lilian mendengar dengan jelas setiap ledekan yang ditujukan padanya.


Wanita itu membuka pintu dengan kasar hingga membuat para wanita yang asyik tertawa itu terdiam seketika.


Kumpulan wanita itu menoleh serentak ke arah Lilian dan menatap mantan kekasih Ron itu dengan wajah tidak suka.


Lilian berjalan dengan angkuh dan memasang tampang dingin saat melewati wanita-wanita yang melemparkan ejekan padanya itu.


"Si gendut itu benar-benar mengganggu!" gumam Lilian geram seraya mengingat-ingat kembali wajah Thrisca yang masih melekat di pikirannya.


"Gendut, akan kubuat kau menyadari bahwa kau tidak pantas menjadi sainganku!" gumam Lilian dengan sorot mata penuh kebencian.


***


Bersambung..