
"Halo?"
"Ada jawaban? Ada yang menjawabnya?" batin Nadine kegirangan.
Wanita yang sudah berhari-hari mencari ponselnya itu, akhirnya dapat bernafas lega saat ia berhasil menghubungi ponsel berharga miliknya.
Setelah kencan butanya yang gagal di bar kecil tempo hari, Nadine terus kebingungan mencari ponselnya. Sebagai rakyat jelata, ponsel tidak mewah milik wanita itu sudah menjadi harta terbesar dan benda termahal yang ia punya.
"Halo, mohon maaf. Boleh saya tahu saya sedang berbicara dengan siapa? Saya pemilik dari ponsel yang anda bawa saat ini." ujar Nadine sesopan mungkin.
"Ambil ke ruanganku sekarang!" ujar Han dengan congkak.
"Apa?"
"Ponselmu ada di ruanganku. Kau tidak mengenali suaraku?"
"Apa maksud anda?" tanya Nadine bingung.
"Ini aku, Han." ujar Han lirih.
"Sial! Kenapa ponselku bisa ada di tangan orang itu?!" gerutu Nadine dalam hati.
"Terima kasih sudah memungut ponsel saya, Pak. Saya ambil sekarang."
Nadine segera mematikan telepon dan memberikan benda kecil itu pada Cherry.
"Sudah ketemu?" tanya Cherry.
"Sudah," jawab Nadine segera melesat ke ruangan Han.
Tok..tok.
"Masuk!"
Nadine masuk dengan takut-takut ke ruangan asisten Bos itu seraya mengedarkan pandangan ke seluruh tempat mencari dimana gerangan ponsel berharganya.
"Di sini.." ujar Han seraya menyodorkan benda kecil itu.
"Terima kasih, Pak." jawab Nadine sekenanya.
"Hanya terima kasih?!"
"Hm?"
"Kau tidak memiliki banyak pekerjaan, kan? Bantu aku di sini!" perintah Han.
Pria itu sengaja menyimpan ponsel Nadine tanpa berniat mengembalikan benda itu untuk membalas Nadine yang sudah membuatnya diomeli oleh Ron.
Asisten Ron itu sempat mengotak-atik ponsel milik wanita itu tanpa ijin dan melihat banyak foto Nadine tersimpan di dalamnya. Ia bahkan sempat melihat foto Nadine bersama Thrisca dan Ron saat acara wisuda wanita itu.
Melihat kedekatan Nadine dan istri bosnya, Han pun mengurungkan niatnya untuk mengerjai Nadine lebih lama dan berbaik hati mengembalikan barang yang bukan haknya itu pada sang pemilik.
Nadine yang masih menghormati Han sebagai atasan pun tidak berani bertanya aneh-aneh mengenai ponselnya. Ia bahkan tidak berani bertanya dimana Han bisa menemukan ponsel miliknya itu.
Wanita yang masih berstatus magang itu duduk seharian di ruangan Han membantu asisten Bos itu menyelesaikan banyak pekerjaan yang masih menumpuk.
Han bahkan tidak segan-segan memberikan banyak tumpukan berkas pada Nadine meskipun ia tahu wanita itu memiliki hubungan dekat dengan Thrisca.
"Em, Pak? Boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Nadine di sela-sela kesibukannya membantu Han.
"Apa?"
"Apa Bapak cukup dekat dengan teman saya yang bernama Thrisca?" tanya Nadine takut-takut.
"Kenapa?"
"Tidak. Saya hanya ingin tahu saja. Beberapa hari ini saya tidak bisa menghubungi Thrisca," ujar Nadine.
Tentu saja wanita itu tidak dapat menghubungi Thrisca, karena ponsel wanita hamil itu masih disembunyikan rapat-rapat oleh Ron dalam keadaan mati.
"Kau sedang menanyakan kabar mengenai temanmu padaku?!"
"B-bukan begitu, Pak. Hanya ingin bertanya saja mungkin Bapak tahu karena Bapak juga teman dari Thrisca." jelas Nadine agak panik.
"Thrisca baik-baik saja." jawab Han datar.
Pria itu tidak bisa mengatakan mengenai istri bosnya yang hamil tanpa meminta ijin terlebih dulu pada Ron maupun Thrisca.
"Apa Bapak tahu dimana Thrisca dan suaminya tinggal?" tanya Nadine lagi.
"Tidak tahu," balas Han cepat.
Nadine kembali mengunci mulutnya tanpa berani bersuara lagi di depan Han.
"Hanya membagi alamat saja, pelit sekali!" omel Nadine dalam hati.
***
Susan berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan kota bersama dengan Elma di sore yang cerah.
Wanita itu melambaikan tangan ke arah seorang pria paruh baya yang berpakaian bak preman dengan rambut agak gondrong.
"Mas,"
Susan menghampiri pria itu seraya mengecup lembut bibir pria berpenampilan aneh itu.
"Elma, peluk papa, Nak.." ujar Susan pada Elma.
Gadis kecil itu memeluk kaki sang ibu dengan wajah ketakutan saat melihat tampang menyeramkan pria paruh baya itu.
"Biarkan saja kalau dia masih takut. Elma jarang melihatku, wajar kalau dia belum mengenaliku." tukas pria paruh baya bernama Doni itu.
"Bagaimana? Kau sudah dapatkan uangnya?" tagih Doni pada Susan.
"Uang apalagi?! Aku sudah memberikan lima puluh juta padamu bulan lalu. Sekarang kau masih mau merampok uang jatah anak kita?!" omel Susan.
"Aku masih dikejar-kejar rentenir! Bukankah kau bilang suami dari anak tirimu itu konglomerat?! Kau minta uang lagi saja padanya!"
"Mereka sudah memberikan lima puluh juta padaku! Thrisca menolak saat aku mencoba meminta uang lagi!"
"Kalau begitu jual saja pabrik peninggalan suamimu itu!" usul Doni.
"Jangan kelewatan! Dari mana aku bisa mendapatkan biaya hidup kalau aku menjual pabrik itu?! Kau ingin aku dan Elma mati kelaparan?! Kau seharusnya mengurus kami!" protes Susan.
"Kalau begitu aku akan carikan pelanggan lagi untukmu," ujar Doni datar.
"Pelanggan? Pelanggan apa?! Kau ingin menjualku lagi?! Kau sudah membuatku menikahi pria tua! Sekarang kau ingin aku melayani para hidung belang lagi?!" omel ibu satu anak itu.
"Kalau begitu bagaimana jika kau menikah dengan pria tua yang sakit lagi? Kau bisa mendapatkan warisan," usul Doni.
"Jangan gila! Aku sudah lelah melayani pria tua sepertimu! Kau masih saja menyuruhku meladeni pria tua lain! Urus saja hutang-hutangmu sendiri! Aku tidak ingin terlibat!"
"Kau mau kemana?!"
Doni mencengkeram lengan Susan dengan kencang.
"Lepaskan atau aku akan berteriak!" ancam Susan.
"Teriak saja kalau berani! Kalau aku sampai mendapat satu goresan luka karena kau, aku akan membalasmu dengan puluhan luka goresan!" ancam Doni balik.
"Aku ingin uangnya secepat mungkin! Atau kau tidak akan pernah memiliki Elma lagi di sisimu!"
Doni mendorong Susan menjauh darinya.
Wanita itu memeluk erat sang buah hati dengan mata berkaca-kaca.
***
"Sayang, mau pergi menonton film denganku?" tawar Ron seraya menghampiri sang istri yang tengah merebahkan diri dengan malas di ranjang.
"Film apa?"
"Film apapun. Kita belum pernah melakukan kencan normal seperti ini, kan?"
"Kencan normal?"
"Ya.. seperti pergi ke bioskop bersama, menghabiskan waktu di cafe kecil setelah kita selesai menonton. Lalu membeli es krim sebelum pulang,"
"Bukankah acara kencan seperti itu terlalu basi? Itu bukan gaya kencan pria dewasa sepertimu, kan?!" cibir Thrisca.
"Memang benar terlalu basi, aku juga tidak pernah melakukannya sebelumnya.."
"Lagipula gaya kencan pria dewasa yang kaya sepertimu hanya berkutat di bar mahal dan hotel mewah, kan?! Kenapa harus memaksakan diri mengatur kencan yang membosankan?!" sindir Thrisca.
"Kau ini kenapa? Kau kesal aku selalu menghabiskan waktu kencan di hotel?!"
"Kau mengakuinya? Kau benar-benar menghabiskan waktu kencan di hotel bersama mantan-mantan kekasihmu dulu?!" omel Thrisca seraya memukul-mukulkan bantal ke wajah suaminya.
"Sayang, itu hanya masa lalu. Kenapa kau mengomel tidak jelas begini padaku?!" protes Ron seraya menghindari pukulan bantal dari sang istri.
"Kalau begitu kita kencan di hotel saja, bagaimana?" tawar Ron seraya melempar senyum genit.
"Kencan apanya?! Tidur saja sendiri di hotel sana!"
Thrisca bangkit dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar.
"Sayang.. akui saja, kau juga ingin berkencan di hotel denganku, kan? Aku akan menyewa hotel mewah untuk kita.."
Ron berlari mengejar sang istri yang sudah lebih dulu melarikan diri dari kamar.
Thrisca menyambangi dapur untuk sekedar membuat camilan dan minuman hangat bagi calon bayinya yang terus kelaparan di dalam perutnya.
Setelah mual dan muntah wanita itu berangsur-angsur berkurang, selera makan wanita itu langsung naik drastis seiring dengan perkembangan janin yang tumbuh di perut ratanya itu.
Ron menghampiri Thrisca dan melingkarkan tangannya di perut sang istri serta membenamkan kepala dengan manja di tengkuk wanita yang tengah sibuk bersama sendok dan gula itu.
Calon daddy itu mengusap-usap perut sang istri dengan lembut seraya sesekali melayangkan kecupan ke leher jenjang istri hamilnya.
"Ron, kau benar-benar tidak tahu di mana ponselku?" tanya Thrisca mulai membuka perbincangan.
"Em, nanti aku belikan yang baru. Bagaimana kalau kita pergi beli sekarang sekalian jalan-jalan?" ajak Ron.
"Kenapa bisa tidak ada?! Aku hanya memiliki sedikit foto bersama ayahku dan fotonya tersimpan di ponsel itu, Ron.." ungkap Thrisca dengan wajah murung.
Ron mendekap sang istri makin erat seraya mengecupi bahu mulus istrinya bertubi-tubi.
"Aku akan mencarikannya. Tapi kita beli yang baru saja, ya? Ganti nomormu juga." bujuk Ron.
Pria itu tidak ingin sang istri terus mendapat gangguan dari orang-orang tidak penting seperti Susan.
Ron khawatir perkataan Susan akan membuat Thrisca cemas hingga mempengaruhi kesehatan sang istri serta kondisi janin yang ada di perut istrinya.
"Ganti nomor? Bagaimana aku bisa menghubungi teman-temanku lagi, Ron?!"
"Memangnya temanmu ada berapa?!" tanya Ron dengan nada meremehkan.
"Memang tidak banyak. Hanya ada.. hanya.. hanya Nadine dan Cherry." jawab Thrisca lirih.
"Aku akan mencarikan nomor mereka. Tidak perlu khawatir,"
"Em, soal itu--"
Thrisca terdiam sejenak mengingat kembali pertemuannya bersama teman-temannya itu tempo hari.
"Tunggu sebentar, Ron! Aku baru ingat, Nadine dan Cherry bekerja di kantormu, Ron.." ujar Thrisca dengan semangat.
"Benarkah? Kebetulan sekali,"
"Sepertinya mereka belum tahu kalau kantor itu milikmu. Nadine tidak bertanya apapun padaku."
"Oh," komentar Ron singkat.
"Karena mereka belum tahu, boleh aku bermain ke kantormu?" pinta Thrisca.
"Aku bekerja di rumah sekarang, kenapa kau malah ingin ke kantor?!"
"Ron, kau juga sesekali harus datang ke kantor. Mau sampai kapan kau bekerja dari rumah?!"
"Aku pemiliknya! Aku bebas melakukan apapun yang aku mau! Lagipula masih ada ayah, Gen dan Han. Mereka bisa menyelesaikan semua pekerjaan tanpaku."
"Jangan malas begitu, Ron! Kembalilah ke kantor, aku akan membawakanmu makan siang setiap hari.."
"Kalau aku kembali ke kantor, siapa yang akan menjagamu di rumah?!"
"Ada Bi Inah dan pelayan lain di sini. Masih ada supir dan petugas keamanan. Aku tidak benar-benar sendirian di rumah, Ron."
"Bagaimana bisa aku mempercayakan istriku pada asisten rumah tangga?!"
"Ron.."
"Tidak ada lagi tawar menawar! Aku akan selalu menjagamu di rumah,"
Ron menciumi pipi istrinya gemas.
"Ron, kau pelit sekali!" protes Thrisca dengan wajah cemberut.
"Kapan aku bisa lepas dari pria posesif ini?!" batin Thrisca frustasi.
***
Bersambung...