
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ron keluar dari ruangan rapat dengan wajah penat. Selama seharian penuh pria itu terus disibukkan dengan berkas-berkas pekerjaan hingga ia mengabaikan sang istri yang berada di rumah.
Ron duduk dengan santai di kursi rodanya seraya mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi sang istri.
"Halo, Ron?"
Ron tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya begitu ia mendengar suara sang istri yang berada jauh di seberang sana.
"Kau belum tidur?"
"Aku menunggumu. Kau masih banyak pekerjaan?" tanya Thrisca.
"Aku akan segera pulang," ujar Ron seraya tersenyum tipis.
Namun mendadak senyumnya hilang saat ia mendapati sosok Lilian tengah berdiri di depan pintu ruangannya.
"Ron," panggi Lilian dengan suara lirih.
Suami Thrisca itu menatap Lilian sekilas dan segera membuang muka tanpa menanggapi sapaan dari mantan kekasihnya itu.
"Ron, sampai kapan kau akan mengabaikanku?!" tanya Lilian dengan nada tinggi.
Thrisca yang belum menutup sambungan telepon, mendengar sayup-sayup suara wanita dari kejauhan.
"Sayang, aku akan pulang sebentar lagi. Istirahatlah lebih dulu," ujar Ron seraya memutuskan panggilan telepon dengan Thrisca.
"Ron sedang bersama siapa?" gumam Thrisca dengan wajah cemberut.
"Pasti Lilian.." gumam Thrisca lagi mulai resah.
"Sainganku benar-benar berat," keluh gadis berambut panjang itu makin tak semangat.
***
Ron dan Lilian saling duduk berhadapan di salah satu cafe yang tidak jauh dari gedung perusahaan Ron.
Pria itu terus memainkan cangkirnya dengan bosan tanpa melirik sedikitpun ke arah Lilian.
"Terimakasih kau masih mau mendengar penjelasanku," ucap Lilian membuka perbincangan.
"Masih ada pembelaan yang ingin kau katakan?"
"Apa yang ingin kau dengar? Aku akan menjawab semuanya."
"Apapun yang kau katakan tidak akan berarti apa-apa lagi bagiku. Aku sudah tidak menyimpan kemarahan sedikitpun padamu." ujar Ron datar.
"Maksudmu? Kau akan memberiku kesempatan?" tanya Lilian penuh harap.
"Lian, kau bukan wanita murahan yang akan mengejar suami orang, kan?" tanya Ron sinis.
"Atau dari dulu kau memang murahan? Kau bahkan rela mengejar pria tua hanya demi karir kecilmu itu, kan?" sindir Ron.
"Ron, jangan keterlaluan!"
Lilian berdiri dan menggebrak meja di hadapan Ron.
"Kenapa? Bukankah aku benar? Kau mengejar banyak pria tua demi mendapatkan job model, kan? Kau bahkan membunuh bayimu hanya demi karir konyolmu itu, kan? Sekarang kau juga ingin mengejar pria lumpuh sepertiku untuk mempertahankan posisimu sebagai model di perusahaanku?"
Tamparan keras melayang di wajah tampan Ron begitu pria itu selesai mengatakan sindiran demi sindiran pada sang mantan kekasih.
"Ron, kau sebaiknya menyaring mulutmu itu sebelum mengucapkan sesuatu! Aku datang kesini bukan untuk mengemis pekerjaan padamu! Aku hanya ingin mendapatkan kembali kekasihku. Apa aku sudah begitu hina di matamu?" teriak Lilian dengan air mata berlinang.
Ron mengusap pipinya yang memerah karena tamparan Lilian dan menatap sinis ke arah wanita yang berani melukai wajahnya itu.
"Dengar Lian, aku memang tidak bisa menghapusmu dari masa laluku. Tapi aku bisa menyingkirkanmu dari masa kini dan masa depanku! Berhentilah melihat ke belakang. Kau akan tersandung bahkan terguling di aspal jika kau terus meratapi masa lalu." ujar Ron dengan tatapan dingin.
Lilian terdiam sejenak tanpa menanggapi ucapan Ron. Wanita yang menangis terisak itu mulai mencoba menenangkan diri dan menghapus air matanya yang bercucuran.
"Ron, berhentilah menyiksa dirimu sendiri. Pergilah berobat, Ron. Sembuhkan kakimu. Kau benar-benar ingin menghabiskan hidupmu bersama wanita gendut itu?"
"Tahu apa kau soal istriku? Hidupku baik-baik saja bersama istriku." ujar Ron sinis.
"Sebaiknya kau khawatirkan saja dirimu sendiri! Carilah pekerjaan di tempat lain sebelum aku menendangmu dari perusahaanku!" ujar Ron dengan angkuh.
Pria itu segera memanggil Han dan bergegas pergi meninggalkan wanita yang masih menangis tersedu-sedu di cafe sepi itu.
"Han, aku tidak mau lagi melihat wajah Lilian di kantorku!"
"Tapi Bos, kontrak Nona Lilian masih ada beberapa bulan lagi."
"Beri saja kompensasi. Hal sekecil ini saja kau tidak bisa menanganinya?" omel Ron pada asisten malangnya itu.
"Tapi Bos, kita tidak bisa mencari pengganti dalam waktu singkat." ujar Han lirih.
"Memangnya model di dunia ini hanya Lilian?! Cari penggantinya sekarang juga!" omel Ron seraya memukul-mukulkan berkas di tangannya ke kepala Han yang tengah sibuk menyetir mobil.
***
Thrisca tampak berjalan kesana-kemari tidak jelas menunggu kepulangan sang suami.
Gadis itu mulai khawatir suaminya tidak akan pulang dan menghabiskan malam bersama wanita yang ia dengar suaranya di telepon tadi.
"Kalau saja aku terlahir sebagai primadona kota, Ron pasti tidak akan mencari wanita lain di luar sana.." keluh Thrisca lemas.
"Sepertinya aku harus belajar merias diri. Aku tidak boleh kalah cantik dari model-model itu!" ujar Thrisca dengan semangat berapi-api.
Gadis itu segera mengobrak-abrik isi lemari dan mencari gaun tidur cantik yang bisa ia kenakan di malam yang dingin itu untuk menyambut sang suami.
"Ron pasti akan pulang, kan? Aku harus percaya pada Ron, pria itu pasti pulang!" gumam Thrisca menyemangati dirinya sendiri.
"Aku benar-benar payah! Mana mungkin aku bisa bersaing dengan model-model cantik itu?!" ujar Thrisca mulai frustasi melihat riasan di wajahnya sendiri melalui cermin.
"Sepertinya aku harus ikut kelas kecantikan,"
Gadis itu mulai asyik berbicara sendiri di depan cermin.
Meskipun kepercayaan dirinya sudah terkuras habis saat melihat wanita berkelas seperti Lilian, namun Thrisca tidak ingin diam saja pasrah menerima keadaan.
Gadis itu sudah bertekad akan berusaha menjadi wanita idaman bagi suaminya tercinta.
"Kalau aku terus seperti ini, Ron pasti akan mudah bosan padaku! Pria itu pasti akan mencari istri lain yang lebih menarik dariku,"
Istri Ron itu masih terus mengoceh sendirian di dalam kamar sang suami.
Pikiran Thrisca sudah dipenuhi dengan kecemasan yang berlebihan mengenai hubungannya dengan sang suami. Rasa kurang percaya diri dalam dirinya sudah lengket menjadi penyakit hati yang tidak mau menghilang.
"Kenapa Ron tidak pulang juga?"
Thrisca berguling-guling di kasur menunggu kepulangan suaminya.
Gadis yang sudah bersusah payah berdandan cantik untuk menyambut suaminya itu akhirnya terlelap sebelum melihat batang hidung sang suami.
Tak berselang lama setelah Thrisca berkelana ke alam mimpi, mobil Ron mulai memasuki pekarangan rumah dan sang tuan rumah turun dari kendaraan roda empat itu dengan wajah lelah.
Ron terkejut bukan main saat melihat sang istri yang sudah tertidur nyenyak, namun gadis itu masih mengenakan gaun seksi dengan riasan wajah yang masih menempel di kulit mulusnya.
"Baju apa yang dipakai si gendut?! Kenapa Icha memakai baju seperti ini? Apa dia tadi keluar rumah mengenakan pakaian seperti ini?" gumam Ron seraya menatap sang istri dengan seksama.
Pria itu segera keluar dari kamar dengan wajah geram dan membuat keributan di kamar para pengurus rumah yang sudah beristirahat.
"Apa Nyonya keluar rumah hari ini? Apa Icha pergi memakai pakaian terbuka tadi?!" tanya Ron disertai bentakan pada seluruh pelayan yang ada di rumahnya.
"Nyonya tidak keluar, Tuan. Seharian ini Nyonya terus berada di rumah." jawab Bi Inah takut-takut.
"Mana mungkin! Gadis itu tertidur lelap dengan riasan wajah yang masih menempel! Pakaian Nyonya juga tidak biasanya. Untuk apa dia merias wajah kalau tidak keluar rumah?!" omel Ron pada pelayan tidak bersalah itu.
"Maaf, Tuan. Tapi semalaman ini Nyonya terus berada di kamar." jawab Bi Inah dengan kepala tertunduk.
Ron berbalik arah dan menargetkan Genta. Pria itu menggedor-gedor pintu kamar sang sepupu bak penagih hutang yang mengamuk ingin mengambil uang setoran.
"Ron! Bisakah kau tidak menggangu istirahatku?!" omel Genta.
Ron langsung mencengkeram kerah baju Genta dan menatap sepupunya itu dengan wajah penuh amarah.
"Kau bawa pergi kemana istriku?!" bentak Ron pada sang sepupu.
"Apa maksudmu?"
"Gen, aku benar-benar akan mengusirmu dari sini jika kau terus mendekati istriku!"
"Mendekati apa? Kau ini sedang mabuk?!"
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu padamu! Kau tidak mabuk, kan?! Kau tahu jelas kalau Thrisca adalah istriku, jadi jangan coba-coba melewati batas!"
"Darimana Ron tahu kalau aku menyukai Thrisca? Aku tidak mengatakan hal itu pada siapapun," batin Genta panik.
"Kau ajak kemana istriku malam-malam begini dengan pakaian terbuka seperti itu?!"
"Ajak kemana?"
Genta yang semula panik, berubah menjadi bingung saat Ron melayangkan tuduhan tidak masuk akal padanya.
"Tidak usah berpura-pura bodoh! Kau mengajak istriku keluar, kan?! Thrisca tertidur dengan riasan wajah yang belum dibersihkan dan dia.. dia memakai gaun yang sangat terbuka! Kau yang menyuruhnya untuk berpakaian seperti itu?!"
"Apa maksudmu, Ron?! Aku tidak melihat Thrisca semalaman. Istrimu duduk di rumah seharian! Kenapa kau menyalahkanku hanya karena istrimu memakai baju seksi?!" omel Genta berbalik kesal pada sepupunya itu.
"Kau yakin istriku tidak keluar rumah?!"
"Tanya saja pada istrimu sendiri! Kalau kau masih ragu, lihat saja CCTV di depan rumahmu! Lihat apakah istrimu keluar dari gerbang rumahmu atau tidak!"
Genta mendorong Ron hingga pria beristri itu berdiri sempoyongan.
BRAKK!
Bantingan pintu yang keras mengiringi langkah Genta kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Kukira Ron benar-benar tahu kalau aku menyukai Thrisca.." gumam Genta dengan perasaan lega.
Ron bergegas memeriksa CCTV rumahnya dan mengamati setiap sudut pintu keluar di rumahnya dengan cermat. Rasa penat yang ia rasakan menghilang seketika, berubah menjadi perasaan kesal dan cemas hanya karena sang istri yang tidak berias seperti biasanya.
"Icha benar-benar tidak pergi. Dia menurutiku dan berada di rumah seharian." gumam Ron lega.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Ron kembali masuk ke kamarnya setelah berjam-jam bertengger di depan layar.
"Kenapa si gendut memakai baju seperti ini? Membuatku tidak nyaman saja," gumam Ron seraya terus melirik ke arah tubuh sang istri yang hanya terbalut pakaian minim dan tipis itu.
Ron segera mengambil selimut dan menutupi tubuh sang istri rapat-rapat dalam balutan kain hangat.
"Jangan sekarang, Ron! Icha masih berkabung. Tunggu sampai Icha merasa lebih baik, baru kita bahas mengenai malam pertama." ujar Ron mencoba menahan diri untuk tidak menyentuh sang istri.
Pria itu bahkan membaringkan tubuh di sofa kamarnya dan membiarkan istri cantiknya menguasai ranjang besarnya sendirian.
"Icha, sebaiknya kau tidak terbangun. Jika kau membuka mata sekarang, aku mungkin sudah habis memakanmu." gumam Ron seraya menatap sang istri yang tertidur pulas dari kejauhan.
***
Bersambung..