
"Siapa yang kau layani?"
Genta mengernyitkan dahi saat melihat Ron menata piring dan gelas di atas nampan dan mengisi nampan tersebut dengan makanan.
"Istriku tidak mau melihat wajahmu!" ujar Ron ketus.
"Kau pagi-pagi begini sudah menjadi pelayan untuk istri gendutmu itu?!" tanya Genta tak percaya.
"Jangan panggil dia gendut! Hanya aku yang boleh memanggilnya gendut!" omel Ron pada Genta.
"Kau sudah menyerah pada keadaan? Apa kakek memberimu obat pencuci otak?"
"Apa maksudmu?! Kau ingin menghina penampilan istriku?! Si gendut sudah menjadi wanita tercantik dalam hidupku. Pria lajang sepertimu tidak akan mengerti," ejek Ron pada sepupu jomblonya itu.
"Terserah kau saja," ujar Genta mengalah.
Ron bergegas membawa nampan penuh makanan itu ke kamar sang istri. Thrisca yang baru selesai mandi, keluar dari ruangan basah itu dengan berselimutkan handuk.
Saat melihat sang suami sudah berada di kamar, Thrisca kembali masuk ke kamar mandi dengan panik dan mengunci pintu dari dalam.
"Gendut, kau sudah selesai kan?! Kenapa kau masuk kembali?" omel Ron seraya menggedor-gedor pintu.
"A-aku belum selesai!"
"Ayolah cepat keluar! Aku tidak akan macam-macam. Aku tahu kita masih belum bisa melakukannya sekarang," bujuk Ron.
Thrisca membuka pintu kamar mandi sambil memegangi handuknya erat.
"Ganti bajumu dan habiskan makanannya. Aku ada banyak pekerjaan hari ini. Kau jangan keluar, aku akan kembali ke kamar setiap jam," ujar Ron seraya menggenggam tangan sang istri.
Thrisca mengangguk pelan tanpa membantah perkataan Ron. Pria itu berdiri semakin dekat dengan sang istri dan mencium aroma wangi dari tubuh gadis perawan itu.
"Wangi sekali,"
ujar Ron kemudian mengecup bibir merah istri cantiknya itu.
Pria itu tidak bisa menahan diri untuk tidak menjamah tubuh sang istri. Ron menarik handuk yang melilit tubuh sang istri dan melepas kain yang menyelimuti kulit putih istrinya itu.
Ron mengangkat tubuh gadis yang yang tak berbusana itu sambil terus mengaitkan bibirnya pada sang istri.
Thrisca memeluk leher suaminya erat dan mulai menikmati kecupan dari sang suami.
"Sudah cukup. Aku harus memakai bajuku sebelum aku membuat kotor pakaianmu," ujar Thrisca begitu mengingat ia masih dalam masa periode bulanan.
"Gendut, kau selalu saja merusak suasana,"
Ron menurunkan tubuh istrinya dan membantu menyiapkan pakaian untuk gadisnya itu.
"Makanlah bersamaku," tawar Thrisca begitu ia selesai berpakaian.
Pasangan suami-istri itu duduk di sofa kamar Ron dan menikmati sarapan bersama. Thrisca menyuapi suami manjanya dengan sabar sambil sesekali tertawa kecil menanggapi ocehan Ron.
"Gendut, bagaimana kalau kita pergi kencan lagi akhir pekan nanti? Anggap saja untuk mengganti kencan kita yang gagal kemarin," ajak Ron.
"Gagal? Kencan kita tidak gagal. Kau sudah membawaku ke danau dan menemaniku berbelanja." ujar Thrisca dengan senyum sumringah.
"Tapi aku ingin kencan seharian penuh denganmu," ujar Ron seraya memainkan rambut sang istri.
"Tentu. Kita bisa berkencan lagi akhir pekan nanti,"
Mendengar persetujuan sang istri, hati Ron nampak berbunga-bunga hingga ia tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
"Bagaimana keadaan pacarmu?" tanya Thrisca tiba-tiba. Wajah sumringah Ron berubah seketika saat mendengar ucapan sindiran dari sang istri.
"Pacar siapa? Kau pandai sekali menyindir," ujar Ron sambil tersenyum sinis.
"Apa Lilian sakit parah?" tanya Thrisca lagi.
"Aku tidak tahu. Biarkan saja," ujar Ron tak peduli.
"Ron, jangan membohongi dirimu sendiri. Kau masih sangat mempedulikan kekasihmu itu kan?" tanya Thrisca dengan senyum kecut.
"Gendut, kau ingin tahu apa penyakit wanita itu?"
"Kenapa? Wanita itu sakit parah jadi kau ingin meninggalkannya?" sindir Thrisca.
"Dengarkan aku dulu. Lian hanya kenalan di masa lalu. Aku sudah muak melihat wanita itu," ujar Ron mulai bercerita.
"Jadi apa penyakitnya?"
"Apa maksudmu?"
"Saat masih bersamaku, wanita itu ternyata tengah mengandung anak dari mantan kekasihnya. Karena tidak ingin ketahuan olehku, Lian menggugurkan anaknya sendiri demi bisa terus bersamaku. Aku berusaha memahami kalau dia melakukan hal itu untukku. Tapi yang membuatku semakin kecewa, ternyata itu bukan aborsi pertama yang pernah dia lakukan.." ujar Ron dengan wajah sinis.
"Wanita itu sudah melakukan dua kali aborsi sebelum menggugurkan anak dari mantan pacarnya itu." sambung Ron dengan sorot mata penuh kemarahan.
"Aborsi sebanyak itu? Apa dia selalu seperti itu setiap menjalin hubungan dengan seorang pria?" tanya Thrisca tak percaya.
"Aku tidak tahu apa yang salah dengannya. Dokter mengatakan dia terlalu banyak mengonsumsi pil kontrasepsi. Dan ternyata pil itu juga sudah tidak bisa lagi mencegah kehamilannya. Saat ini kandungannya mengalami masalah karena ia sudah beberapa kali melakukan aborsi. Wanita jahat itu tidak akan bisa memiliki anak lagi sampai kapanpun," jelas Ron panjang lebar.
"Jadi kau meninggalkannya karena dia tidak bisa memberikanmu anak?" tanya Thrisca.
"Apa kau bodoh?! Bukan itu intinya! Wanita itu sudah hamil dengan beberapa pria! Wanita jahat itu bahkan tega membunuh anaknya sendiri! Mana mungkin aku mau bersama wanita egois yang tidak menyayangi dirinya sendiri seperti itu?!" ujar Ron seraya mencubit pipi istrinya dengan kesal.
"Tapi kau masih menaruh hati padanya. Benar kan? Moralmu tetap tidak bisa mengikis kerinduanmu pada wanita itu kan?"
"Gendut, aku tahu tidak ada hal masuk akal jika kita melibatkan hati. Tapi aku masih bisa berusaha melupakan wanita itu," ujar Ron dengan tegas.
"Kau yakin?"
"Gendut, sekarang aku tanya padamu. Jika aku sudah menghamili banyak wanita.. apa kau masih ingin bersamaku?" tanya Ron dengan wajah serius.
"Kau bilang pil sudah tidak bisa mencegah kehamilannya. Apa kau.. juga salah satu ayah dari anak yang dia aborsi?" tanya Thrisca dengan wajah murung.
"Mana mungkin! Aku juga mengonsumsi pil. Aku tidak membuatnya hamil!" bantah Ron dengan kesal.
"Jadi, kau sering melakukan hal itu bersamanya?" tanya Thrisca lagi dengan senyum getir.
"Gendut, itu hanya masa lalu. Aku juga tidak menuntutmu harus masih perawan," ujar Ron membela diri.
"Aku tanya, apa kau sering melakukan hal itu bersama pacarmu itu?!" Thrisca mulai jengkel dan berani membentak sang suami.
"Aku tidak sesering itu menyentuhnya. Wanita itu sering pergi ke luar kota dan aku juga sibuk dengan pekerjaanku." jelas Ron.
"Sekarang aku tahu bagaimana perasaanmu. Kau merasa jijik pada wanita yang menghabiskan malam bersama banyak pria lain hingga menghasilkan anak. Saat ini aku merasakan hal yang sama ketika aku melihatmu. Aku juga merasa jijik karena sudah disentuh oleh pria yang menghabiskan malam bersama banyak wanita sepertimu!"
Thrisca menggeser duduknya menjauh dari sang suami.
"Gendut, ayolah. Aku hanya melakukan hal itu bersama beberapa pacarku di masa lalu. Aku juga tidak akan marah padamu jika kau sudah menghabiskan malam dengan mantan pacarmu," bujuk Ron.
Kata bujukan dari Ron hanya semakin membuat gadis itu kesal dan jengkel.
"Kalau begitu supaya adil.. biarkan aku memberikan malam pertamaku pada pria lain!" ujar Thrisca dengan senyum sinis.
"Apa maksudmu?!"
Ron mencengkeram pundak istrinya kuat-kuat.
"S-sakit.."
Thrisca meringis kesakitan karena cengkeraman tangan Ron.
"Apa maksudmu mengatakan hal itu?! Kau sudah menjadi milikku! Kau berani berkata ingin mencari pria lain sebagai pria pertamamu?!"
Ron membentak Thrisca dengan kasar.
"Kau bilang kau tidak menuntut keperawananku kan? Aku juga tidak akan menuntut apapun darimu. Aku mendapatkan pria bekas dari wanita lain, jadi kau juga harus mendapatkan wanita bekas dari pria lain!" ujar Thrisca mulai berani menantang Ron.
"Coba katakan sekali lagi! Katakan sekali lagi kau ingin mencari pria lain untuk malam pertamamu!! Coba saja kalau kau bisa! Aku jamin kau tidak akan pernah bisa melihat pria manapun selain aku!" ancam Ron dengan sorot mata menyeramkan.
"Ron, kau juga egois! Kau memperlakukan Lilian dengan kejam, tapi kau tidak mau menerima perlakuan buruk dari orang lain?!"
"Diam disini sampai aku kembali! Aku tidak akan memberikanmu kesempatan sedikitpun untuk mencari pria lain!"
Ron mendorong sang istri ke ranjang dan menutup pintu kamar rapat-rapat. Pria itu mengunci pintu dari luar dan menempatkan penjaga di area jendela kamarnya.
Thrisca hanya bisa duduk diam di kamar tanpa bisa melakukan apapun. Sekalipun ia bisa kabur dari penjara Ron, gadis rumahan itu tidak memiliki tempat yang bisa ia tuju.
"Seharusnya aku tidak memancing kemarahan Ron.." sesal Thrisca.
Selama ini gadis itu selalu menerima kejahilan dan permintaan maaf dari sang suami. Thrisca belum pernah melihat apa saja yang akan dilakukan sang suami jika pria itu tengah dilanda kemarahan besar.
***
Bersambung..