
Malam hari, Ron duduk di tepi ranjang hotel dengan perasaan kacau. Pria itu sudah mencoba membujuk sang kakek dengan segala cara, namun Tuan Hasan tetap bersikeras ingin mempertahankan perusahaan yang dibangunnya dengan menggunakan bantuan investasi dari temannya.
Selama seharian Ron terus mencoba menghubungi beberapa teman-teman dan rekan bisnisnya untuk meminta bantuan. Sayangnya, investasi yang mereka berikan masih belum cukup dan tidak sebesar investasi yang akan diberikan oleh keluarga Katrina.
"Kalau aku menikah lagi, Icha pasti akan membunuhku.." gumam Ron lirih.
Dering telepon yang berbunyi kencang membuyarkan lamunan pria tampan yang tengah dilanda gundah gulana itu.
Ron mengangkat panggilan telepon dengan malas dan mendengar suara wanita dari dalam ponsel kecilnya.
"Aku ada di depan kamarmu." ujar wanita yang tidak lain ialah Katrina.
Ron membuka pintu kamar dan bersiap untuk melempar omelan pada Katrina. Namun, wanita itu sudah terlebih dulu mengejutkan Ron dengan hadiah yang dibawanya.
"Aku sudah mendapat persetujuan dari Tuan Hasan. Tanda tangani ini dan kita sudah sah menjadi suami istri." ujar Katrina seraya menyodorkan buku nikah pada Ron.
"Omong kosong macam apa ini?!"
Ron meraih buku kecil di tangan Katrina dan menyobek-nyobek kertas itu menjadi serpihan kecil.
"Kakekku tidak berhak mengatur hidupku! Ijinnya tidak akan berlaku pada hidupku! Jika kau ingin melakukan sesuatu yang berhubungan denganku, maka hanya ijinku sendiri yang akan berlaku!"
"Kita sudah tidak memiliki banyak waktu lagi! Paman-pamanku mencoba membunuhku untuk menghilangkan ahli waris! Tolong bantu aku.." pinta Katrina seraya memohon.
"Aku bukan badan amal! Minta tolong saja pada kakekku!"
"Tuan Hasan sudah memberi ijin padamu untuk menikah lagi. Aku juga memberitahu kakekmu kalau ini hanya pernikahan sementara sampai aku bisa mengamankan seluruh aset keluargaku." ujar Katrina.
"Berhentilah membuat--"
"Ayahku sudah meninggal!" pekik Katrina dengan suara bergetar. Manik mata wanita itu mulai memerah menahan tangis.
"Ayahku.. baru saja meninggal. Semua orang mengejarku dan mencoba mendapatkan surat wasiat ayahku. Aku sekarang hidup sebatang kara. Tolong bantu aku mempertahankan seluruh barang peninggalan ayahku." imbuh Katrina.
Tangis Katrina mengingatkan Ron pada Thrisca yang juga sempat mengalami hal yang sama. Saat itu istri Ron begitu hancur karena tidak bisa mempertahankan barang peninggalan sang ayah.
Ron mulai memahami bagaimana perasaan Katrina saat ia memohon bantuan padanya. Namun pria itu tetap tidak bisa mengabulkan permintaan Katrina yang masih bersikeras untuk menjadi istrinya.
"Maafkan aku." ujar Ron lirih.
"Tuan, tolong kali ini saja bantu aku." bujuk Katrina dengan tangis sesenggukan.
"Tidak ada lagi tempat yang bisa ku kunjungi. Semua orang saat ini mencoba untuk membunuhku. Aku tidak lagi mempunyai tempat untuk berlindung." imbuh wanita malang itu.
"Lebih baik aku membantumu untuk mencari kekasihmu. Katakan Dimana terakhir kali kau bertemu dengannya. Aku akan--"
"Saat kau menemukannya, mungkin aku sudah mati di tangan ibu tiriku." ujar Katrina dengan wajah putus asa.
Tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyelesaikan malasahnya, Ron pun masuk ke dalam kamarnya dan mengamuk di dalam hotel mewah itu.
Katrina yang berlutut di ambang pintu kamar, semakin gemetar ketakutan melihat Ron yang mengamuk tak karuan mengobrak-abrik isi kamar dan menghancurkan barang-barang.
"Sial! Situasi macam apa ini?! Biarkan saja Diez Group bangkrut! Aku tidak peduli!" pekik Ron frustasi.
Sementara, Katrina yang mendengar suara Ron, semakin menangis sesenggukan karena takut Ron mungkin akan melakukan sesuatu padanya.
Wanita itu menundukkan kepala dalam-dalam tanpa berani melirik sedikitpun ke arah Ron.
Amukan pria itu akhirnya berhenti setelah terdengar suara bising ponsel yang berdering.
Ron segera merapikan rambutnya dan mengubah ekspresi berangnya dengan senyum manis sebelum ia mengangkat panggilan video dari sang istri tercinta.
"Sayang.." sapa Ron dengan nada selembut mungkin pada sang istri.
Mendengar suara lembut nan menenangkan keluar dari mulut Ron membuat Katrina mendongakkan kepala dan melirik ke arah Ron dengan tatapan tak percaya.
"Pria garang itu bisa bersuara lembut juga?!" batin Katrina terpesona dengan senyum manis Ron.
"Ron.. di sana sudah malam? Kau sudah makan malam?" tanya Thrisca.
"Aku sudah makan malam. Apa yang kau lakukan? Apa temanmu masih menginap?" tanya Ron balik.
"Cherry masih di sini. Aku sedang membaca buku di kamar. Karena bosan, jadi aku menghubungimu." ujar Thrisca manja.
"Kau makan dengan teratur kan hari ini? Berapa kali kau muntah? Aku akan mengundang dokter jika mualmu parah."
"Tidak perlu, Ron. Aku tidak terlalu mual hari ini. Bagaimana denganmu, Ron? Apa kau juga masih mual?"
"Aku masih mual. Aku muntah beberapa kali siang tadi." ungkap Ron.
"Periksalah ke dokter, Ron. Kalau kau mual di tengah-tengah rapat, bagaimana?"
"Ron, kapan kau pulang?" tanya Thrisca takut-takut.
"Sebentar, Sayang. Aku, em-- masih ada sesuatu yang harus kuurus. Tapi aku berjanji, aku akan pulang secepatnya." ujar Ron mulai gugup.
"Baiklah."
"Sayang, perlihatkan perutmu. Aku ingin berbicara dengan biji kacangku," ujar Ron mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kau ingin berbicara apa, Ron?"
"Cepat buka bajumu. Aku rindu pada bayi kita.."
Thrisca membuka kancing piyamanya satu persatu, menyisakan bra yang masih menempel menutup dadanya. Wanita hamil itu meraih ponsel dan mengarahkan benda kotak itu pada perutnya yang masih rata.
"Halo, Sayangku. Biji kacangku. Daddy sangat rindu padamu.." sapa Ron mulai berbincang dengan perut Thrisca.
"Ron, tunggu perutku sedikit membesar baru kau mengajak bayi kita berbicara. Janin ini bahkan belum berbentuk, Ron. Kau hanya akan terlihat seperti orang gila yang berbicara pada perut rata," ledek Thrisca.
"Jangan ganggu aku! Aku sedang berbicara dengan bayiku," omel Ron tak peduli dengan ledekan sang istri.
Pria itu menciumi perut Thrisca yang terpampang dalam layar ponselnya dengan antusias.
"Sayang, kau tidak menyusahkan mommy, kan? Jangan nakal! Jangan buat mommy mual terus! Jangan buat mommy susah tidur!" ujar Ron kembali berbicara dengan perut sang istri.
Thrisca menggelengkan kepalanya pelan seraya tersenyum kecil melihat kelakuan sang suami.
"Aku merindukanmu, Daddy Ron.." ujar Thrisca lirih.
"Daddy juga merindukan kalian berdua."
Ingin sekali Ron merengkuh tubuh sang istri. Menghujani sang istri dengan kecupan dan mendekap erat wanita kesayangannya itu. Namun, ia mulai cemas membayangkan reaksi sang istri kalau Thrisca tahu dirinya kembali ke negaranya dengan membawa istri baru.
"Icha, aku mencintaimu. Sangat." ujar Ron dengan wajah sendu.
Thrisca kembali mengarahkan ponsel ke wajahnya dan menatap sang suami penuh rindu.
"Aku juga mencintaimu, Ron. Cepat pulang, Sayang.."
"Icha, kau percaya padaku, kan? Apapun yang kulakukan untukmu, itu semua karena aku mencintaimu."
"Aku tahu, Ron. Semua yang kau lakukan untukku, itu semua demi kebaikanku. Aku tidak akan menuntut apapun lagi darimu, Sayang."
"Terima kasih, Sayang. Akan kuusahakan untuk pulang besok pagi. Tunggu aku di rumah,"
Ron mengakhiri panggilan videonya dengan sang istri.
Ekspresi wajah pria itu berubah kembali dingin begitu tak ada lagi sang istri yang melihatnya.
Pria itu berjalan perlahan menuju pintu dan menatap kesal ke arah Katrina.
"Hanya ada satu wanita yang kucintai dan itu hanyalah istriku. Cintaku sudah habis untuk istri dan anakku. Jadi, tolong jaga sikapmu dan ambil saja keuntungan yang kau butuhkan. Selebihnya, jangan coba-coba ikut campur dalam urusanku!" ujar Ron pada Katrina.
"K-kau setuju dengan pernikahan kita?"
"Cih, pernikahan?! Kau berani menyebut hubungan tidak jelas ini sebagai pernikahan?! Hanya dengan kertas saja, kau tidak akan menjadi istriku. Selamanya hanya akan ada satu istri yang kuakui. Jadi, jangan coba-coba sebut dirimu sebagai nyonya keluarga Diez."
***
Bersambung...
...**Terima kasih banyak atas seluruh dukungan teman-teman pembaca semua yang masih setia menemani hari gaje Ron dan Thrisca....
...Mohon maaf kalau ceritanya makin gaje, ngga ada feel, ngebosenin, muter-muter bikin nyut-nyutan bacanya....
...Terima kasih banyak untuk teman-teman semua yang sudah meluangkan waktu untuk membaca Dear, My Ron sampai bab ratusan ini. Terima kasih untuk like, vote, favorit dan komentar teman-teman yang selalu menjadi penyemangat untuk author tetap lanjut nulis....
...Tak terasa author sudah up lebih dari 200.000 kata untuk novel ini. Nggak tahu ini bakal jadi berita nyenengin apa berita musibah, tapi author cuma mau bilang bab-bab buat Ron dan Thrisca masih banyak dan author masih pengen lanjut ini novel sampai dua ratus bab. Semoga ngga bosen-bosen baca tingkah Ron cabe sama bumil Thrisca....
...Mungkin ada yang nyari bacaan baru atau lagi nungguin novel kesayangan up, boleh melipir dulu ke karya baru author SALAH PENGANTIN masih dengan genre romance comedy berbumbu fantasi**....
ditunggu jejaknya 🤗
Salam hangat,
KINOSANN