
Nyonya Daisy menyambangi rumah sang putra dan hendak mengajak Thrisca untuk menghadiri acara peragaan busana.
Wanita itu nampak antusias mengajak sang menantu, meskipun Ron masih bersikeras tidak mengijinkan Thrisca untuk pergi.
"Istriku tidak boleh pergi kemanapun!" ujar Ron menghadang sang ibu yang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ibu tidak butuh persetujuanmu!" omel Nyonya Daisy.
"Thrisca adalah istriku! Aku berhak mengatur istriku! Ibu pergi saja sana!" balas Ron pada sang ibu.
"Thrisca, cepat bersiaplah. Ibu tunggu di luar," teriak Nyonya Daisy tanpa menghiraukan ocehan sang putra.
"Thrisca tidak akan kemana-mana! Ibu tunggu saja sampai ibu lelah!"
Ron bergegas masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
"Ron, kasihan ibu menunggu di luar." bujuk Thrisca.
"Istirahat saja di rumah. Aku akan berbicara pada ibu nanti." balas Ron cuek.
"Sayang, aku hanya akan menemani ibumu sebentar. Aku tidak akan menerima tawaran model itu. Aku berjanji!" bujuk Thrisca lagi.
"Kalau kau masih saja bersikeras ingin pergi bersama ibuku, aku akan membuatmu tidak bisa turun dari ranjang!" ujar Ron seraya memagut bibir sang istri.
"Ron, kita sudah melakukannya beberapa kali hari ini. Apa kau tidak lelah?" protes Thrisca.
"Bermain di ranjang dengan istri cantikku tentu saja tidak akan pernah membuatku lelah.." tukas Ron seraya mengungkung sang istri di atas kasur.
"Aku akan menemanimu lagi nanti, Ron. Kalau tidak, kau ikut saja denganku dan ibu. Bagaimana?"
"Untuk apa aku ikut menghadiri acara membosankan seperti itu?!" cibir Ron.
"Kalau kau tidak mau, biarkan aku pergi menemani ibumu." tukas Thrisca.
Ron bangkit dari ranjang dan berdecak kesal. Pria itu membuka lemari dan mengambilkan panjang serba panjang untuk sang istri.
"Blokir saja nomor ibuku! Wanita tua itu selalu saja menyusahkan!" gerutu Ron seraya menyiapkan pakaian untuk sang istri.
"Jangan begitu, Ron! Kau harus tetap menghormati ibumu." ujar Thrisca seraya melingkarkan tangannya di pinggang sang suami dan memeluk erat suami kesayangannya itu dari belakang.
"Kali ini saja! Kalau ibu masih juga memaksamu untuk datang ke acara lain lagi, bilang padaku!"
"Aku mengerti." ujar Thrisca mengacak gemas rambut sang suami.
"Kau ikut, kan?" tanya Thrisca.
"Tentu saja aku harus ikut! Aku tidak akan membiarkanmu menjadi tontonan para buaya di acara membosankan seperti itu!" ujar Ron sembari membantu sang istri untuk bersiap.
***
Nadine dan Han duduk di sebuah restoran mewah di pusat kota. Asisten Ron itu nampak berusaha memilih tempat seindah mungkin untuk kencan pertamanya bersama Nadine.
Ditemani oleh pemandangan lampu kota dari ketinggian, Nadine tampak terpesona dengan suasana romantis dari kilauan lampu di tempat mahal itu.
"Hanya acara makan biasa, kan? Kenapa harus ke tempat mahal seperti ini?!" batin Nadine mengkhawatirkan isi dompetnya.
"Makanan apa yang kau suka? Pasan saja," tawar Han santai.
"Astaga, jenis makanan apa ini? Harganya mahal sekali.." batin Nadine cemas.
"A-aku minum saja.."
"Minum? Kau belum makan, kan? Atau kau tidak suka menu makanan di sini?" tanya Han agak panik.
"B-bukan seperti itu, Pak. Aku tidak terlalu lapar." sanggah Nadine cepat.
"Kalau begitu, kita pindah tempat saja." ajak Han.
"T-tidak perlu sampai pindah tempat, Pak. Aku akan pesan!" cegah Nadine.
"Aku ini saja.." ujar Nadine menunjuk makanan yang paling murah di tempat makan itu.
Sambil menunggu makanan, Nadine dan Han nampak diam dalam suasana canggung. Sesekali Han mencuri pandang ke arah Nadine dan ingin sekali mengajak wanita itu berbincang.
"Em.. kapan kau pulang ke kampung halamanmu?" tanya Han membuka percakapan.
"Mungkin setelah aku membereskan barang-barang di kantor."
"Kau akan kembali lagi ke kota ini, kan?"
"Aku tidak tahu. Kalau aku bisa secepatnya mendapat pekerjaan baru di kota ini, tentu aku akan kembali." jawab Nadine.
"Kembalilah ke kota ini." tutur Han tanpa sadar.
"Hm?"
"M-maksudnya, lebih baik kau mencari pekerjaan baru di kota ini. Atau ingin kubantu bertanya pada beberapa temanku?" tawar Han.
"Tidak perlu, Pak. Terima kasih." tolak Nadine halus.
"Walaupun kau sudah tidak bekerja di Diez Group lagi.. kita masih bisa bertemu, kan?" tanya Han ragu-ragu.
"Untuk apa aku bertemu lagi dengannya?!" batin Nadine bingung.
"T-tentu saja, Pak." jawab Nadine canggung.
"B-boleh aku meminta nomormu?"
Nadine mengerjapkan mata tak percaya mendengar ucapan Han.
"Untuk apa dia meminta nomorku?!" jerit Nadine dalam hati.
"T-tentu boleh, Pak."
Nadine memberikan ponselnya pada Han, begitu pula dengan Han yang menyodorkan ponsel pada Nadine.
"Aku akan memberitahumu kalau ada lowongan pekerjaan di tempat teman-temanku."
"Terima kasih, Pak." jawab Nadine disertai senyum canggung.
***
Kantor Diez Group.
Cherry memasuki gedung kantor yang sudah gelap nan sepi seorang diri. Wanita itu masuk ke dalam gedung seraya celingukan di dalam ruangan besar yang sudah sepi dari pegawai.
"Masih jam segini, kenapa kantor sudah sepi sekali? Suasananya benar-benar seram.." gumam Cherry bergidik ngeri.
Wanita itu bergegas mengambil barangnya dan berlari kencang menuju pintu keluar.
Saat hendak memasuki lift, Cherry dikejutkan dengan sesosok pria yang tengah berjongkok di depan lift dengan mata sayu.
"S-siapa orang itu? Kenapa dia berjongkok di depan lift?! Bagaimana aku bisa turun?" gumam Cherry ketakutan memandangi seorang pria yang berjongkok tak bergerak di depan pintu lift.
"Air.." ujar pria yang tengah berjongkok itu dengan suara parau.
"Itu manusia, kan? Tidak mungkin dia hantu, kan?" gumam Cherry makin panik.
Cherry mengambil kotak pensil miliknya dan bersiap untuk memukul kepala pria itu jika terdapat pergerakan mencurigakan dari pria yang tengah berjongkok di depan lift itu.
"Air!" sentak pria itu seraya berdiri secara mendadak hingga membuat Cherry terkejut.
Bletakk!
Cherry langsung mengayunkan kotak pensilnya ke kepala pria itu hingga tubuh jangkung si pria itu berdiri sempoyongan.
Wanita itu segera menekan lift dengan panik dan terus melirik ke arah pria mencurigakan yang berdiri tak jauh darinya.
"Gen?" pekik Cherry seraya mengerjapkan mata.
"Dasar! Kau ini benar-benar membuatku takut!" omel Cherry seraya memukul-mukul lengan Genta.
"Kau kenapa, Gen?" tanya Cherry begitu ia menyadari Genta tak memberi reaksi apapun. Pria itu nampak lemas dan berdiri setengah sadar dengan wajah pucat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Cherry penuh hati-hati.
"Aku tidak baik-baik saja.." jawab Genta dengan suara parau.
"Kau mabuk, Gen?" tanya Cherry mengendus aroma alkohol dari tubuh Genta.
"Aku tidak baik-baik saja. Ibuku, wanita yang kucintai, sepupuku.. aku sudah kehilangan semuanya." racau Gen dengan wajah muram.
"Gen, kau mabuk! Ayo kita keluar dari sini." ajak Cherry seraya menarik lengan Genta.
"Aku tidak mabuk! Aku tidak gila! Aku masih waras!" racau Genta makin parah.
Cherry bersusah payah menyeret Genta menaiki lift dan mengantar pria mabuk itu menuju ruangannya.
"Gen, kau tidur di sini saja. Aku tidak tahu di mana rumahmu dan aku juga tidak ingin mengantarmu! Mulai hari ini kau bukan lagi atasanku. Jadi, aku tidak perlu bersikap sopan lagi padamu!" oceh Cherry panjang lebar pada pria mabuk itu.
"Air.." gumam Gen dengan wajah sendu.
"Air.." rengek pria itu makin kacau.
"Sial, kenapa aku harus merawatmu?! Ambil saja sendiri airnya!" pekik Cherry kesal.
Wanita itu mengambil botol minum dan melemparnya tepat ke arah sofa tempat Gen berbaring.
"Pak Gen, aku pulang dulu." pamit Cherry.
"Jangan pergi.." ujar Genta lirih.
"Hm?"
Cherry berbalik badan dan menoleh ke arah Genta.
"Jangan tinggalkan aku! Kenapa semua orang pergi?" oceh pria itu dengan wajah murung.
Cherry kembali menghampiri Gen dan menatap iba pria malang itu. Wanita itu mencari kain untuk dijadikan selimut dan mengerubuti tubuh Genta dengan kain.
"Tidurlah, Gen. Aku harus pulang." gumam Cherry pelan seraya menepuk lembut lengan Genta.
Pria itu langsung membuka mata lebar-lebar begitu ia merasakan ada tangan yang menyentuhnya.
"Thrisca.. kau di sini?" gumam Genta girang.
Pria mabuk itu tanpa sadar mendekap Cherry dan mengecup bibir merah teman Thrisca itu.
"Dasar pria cabull" pekik Cherry dalam hati.
Wanita itu terus meronta, namun Genta mendekapnya semakin erat.
"Gen, aku bukan Thrisca! Aku Cherry!" ujar Cherry dengan suara bergetar.
Bak terkena sengatan listrik, darah wanita itu mulai berdesir saat Genta melayangkan kecupan dan gigitan di leher jenjangnya.
"Gen.. lepaskan aku!" ujar Cherry dengan air mata berlinang.
Wanita itu semakin terjebak dalam kungkungan Genta dengan pakaian yang sudah compang-camping.
"Tolong! Tolong aku.." jerit Cherry dengan suara gemetar.
Genta semakin beringas menjamah tubuh Cherry dan melucuti paksa pakaian wanita itu.
"Gen, sadarlah! Aku bukan Thrisca!"
Cherry mencoba meronta, namun ia tidak sanggup melawan kekuatan besar Genta.
Cherry yang tak bisa melarikan diri, akhirnya harus pasrah menerima saat Genta menghancurkan paksa dinding mahkota yang selama ini ia jaga.
"Dasar pria brengsekk!" umpat Cherry seraya mengusap air mata di wajahnya dengan kasar.
"Gen, aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah!"
***
Bersambung...