
"Yovan, ada apa?"
Thrisca ikut duduk di kursi ruang tamu menyambut kedatangan tetangganya.
Ron ikut duduk menempel pada sang istri seperti permen karet. Pria itu melirik ke arah teman Thrisca dengan tatapan tidak suka.
Tetangga dari istri Ron itu juga merasa tidak nyaman melihat ada pria yang terlalu menempel pada Thrisca.
"Ron, geser sedikit!" bisik Thrisca pada suaminya itu.
Ron diam tak bergeming dan masih fokus menatap tamu istrinya dengan sorot mata tajam.
"Kau baik-baik saja, kan? Aku ingin sekali mengajakmu mengobrol tadi, tapi kau terlihat kurang baik." ujar Yovan.
"Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah membantuku mengurus pemakaman."
"Kau pasti sangat terkejut ditinggal oleh dua orang sekaligus. Jika kau butuh sesuatu, datang saja ke rumah." tawar Yovan dengan ramah.
Ron menyenggol bahu sang istri dengan kesal dan menampakkan wajah cemberut di hadapan sang tamu.
"Sudah ada suaminya disini, kenapa aku harus membiarkan istriku mencari bantuan pada pria lain?!" omel Ron dalam hati.
"Terimakasih, Van. Tapi aku tidak sendirian di rumah. Ada kerabat yang menemani," tukas Thrisca.
"Kerabat? Siapa? Aku? Apa aku hanya akan dikenalkan sebagai kerabat pada pria payah ini?!"
Ron kembali menggerutu dalam hati.
"Jadi, ini kerabatmu?" tanya Yovan seraya mengalihkan perhatian pada Ron.
"Oh, maaf aku lupa memperkenalkan kalian. Kenalkan ini Ron,"
Thrisca memperkenalkan sang suami pada teman sekolahnya itu.
"Pria bernama Ron ini hanya kerabat, kan?" batin Yovan.
"Suamiku," sambung Thrisca kemudian hingga membuat mata Yovan membulat lebar.
"SUAMI?!!" jerit Yovan dalam hati.
Susan yang masih berdiri di ruang tamu, ikut melotot ke arah Thrisca yang menyebut Ron sebagai suami.
"Jadi, pria itu suami Thrisca?" batin Susan.
Ron langsung menoleh dan menatap sang istri dengan tatapan tak percaya ia diakui sebagai suami dihadapan orang lain.
Suami dari Thrisca itu langsung melingkarkan tangan di pinggang sang istri dan menatap Yovan dengan senyum penuh kemenangan.
"Sayang, ini teman sekolahku. Namanya Yovan. Rumahnya hanya di seberang jalan itu. Ini teman yang berangkat bersama denganku ke reuni kemarin," terang Thrisca pada Ron.
"Oh, ini orangnya.." ujar Ron dengan senyum sumringah diselingi tatapan meremehkan ke arah teman istrinya itu.
"Dia juga teman yang mengundangku ke acara reuni itu." ujar Thrisca.
"Terimakasih sudah mengundang istriku. Aku sangat ingin pergi menemani istriku, tapi Icha merasa tidak enak jika aku ikut datang ke acara kalian."
Ron semakin memamerkan posisinya sebagai suami Thrisca.
Melihat Ron yang semakin menandai area kekuasaannya, Yovan pun mengalah dan pamit undur diri secepatnya sebelum pria itu dituduh sebagai perebut bini orang.
"Jadi, kau pergi bersama pria itu semalam?!" ujar Ron kembali mengomel pada sang istri.
"Ron, kau tidak ingat ini hari apa? Kau masih ingin memarahiku di hari berduka seperti ini?" rengek Thrisca.
"Tidak ada lagi mengobrol bersama pria itu! Entah jarak rumahnya hanya beberapa meter atau beberapa senti, jangan mengucapkan satu katapun pada pria penggoda seperti itu!"
"Ron! Kau mulai lagi!"
Thrisca berdiri dari kursi ruang tamu dan berjalan kembali menuju kamar.
"Gendut, kau mengerti tidak?! Jangan bukakan pintu jika pria perebut istri orang itu datang lagi kemari!" omel Ron seraya mengejar sang istri.
Susan nampak seperti pajangan yang tidak dihiraukan oleh Thrisca dan juga Ron.
Wanita itu menatap Thrisca dengan penuh rasa iri dengki karena merasa sang anak tiri tengah memamerkan rumah tangga harmonis bersama suaminya disaat wanita itu telah resmi menjanda karena ditinggal ayah Thrisca.
Senyum ramah Susan pada Thrisca perlahan menghilang berubah menjadi rasa cemburu pada kebahagiaan anak tirinya itu.
***
"Gendut, bagaimana kalau kita makan di luar? Kau ingin makan apa? Aku belum pernah datang ke kota ini. Bagaimana kalau kau mengajakku berkeliling?" ajak Ron pada sang istri yang tengah terbaring di pelukannya.
"Aku ingin berada di rumah saja. Maaf, suasana hatiku masih buruk." tolak Thrisca penuh sesal.
Ron terdiam sejenak mencoba memikirkan bagaimana cara menyenangkan sang istri.
"Ron, kenapa kau terus saja membawa bunga? Sudah kubilang, bunga tidak membuatku kenyang. Aku tidak terlalu suka bunga, kenapa kau selalu saja membawakanku bunga?!" omel Thrisca saat melihat buket bunga besar terdampar di kamar kecilnya.
"Sepertinya bunga terlalu kuno untuk membujuk gadis jaman sekarang," gerutu Ron.
"Aku tidak butuh bunga. Aku hanya membutuhkan kehadiranmu," gumam Thrisca lirih.
"Jangan coba menggodaku!" tukas Ron seraya mencubit pipi sang istri.
"Gendut, kenapa tangan dan kakimu bisa seperti ini? Kau masih tidak ingin menceritakannya padaku?!" tanya Ron mengubah topik pembahasan.
"Ini hanya luka kecil. Sebentar lagi juga bekasnya hilang," ujar Thrisca tak peduli.
"Apa terjadi sesuatu padamu kemarin? Dengan luka seperti ini, kau pasti terjatuh di tempat kasar. Kau terjatuh di aspal atau dimana?" selidik Ron.
"Aku tidak apa-apa, Ron. Aku hanya terjatuh di aspal,"
"Kenapa bisa terjatuh di aspal?! Kapan terjatuhnya? Apa yang kau lakukan sampai bisa terjatuh di jalanan? Kakimu masih utuh dan badanmu sudah sebesar ini, tapi berjalan dengan benar saja kau tidak bisa?!" cecar suami Thrisca.
"Aku terserempet motor!"
Thrisca akhirnya menyerah dan memberitahu Ron mengenai nasib malang yang dialaminya saat perjalanan pulang.
"Ini yang kau bilang sudah dewasa? Ini yang kau bilang akan baik-baik saja bepergian sendirian?!"
"Maaf, Ron. Tapi tidak ada hal buruk lain yang terjadi. Aku bisa bepergian sendiri, aku bukan anak kecil lagi!" protes Thrisca.
"Tidak ada lagi bepergian sendirian! Kemanapun kau pergi, aku akan selalu menemanimu!" ujar Ron seraya mengecup kening sang istri.
"Gendut, aku tidak marah padamu. Sekalipun aku marah, itu semua karena aku mengkhawatirkanmu. Tolong menurutlah padaku, Sayang.." sambung Ron.
Thrisca hanya memberikan anggukan kecil sebagai jawaban untuk sang suami.
Meskipun perkataan Ron setiap hari terdengar seperti omelan, namun terselip banyak perhatian dan kekhawatiran pada tiap-tiap kata yang terucap dari pria yang sudah beristri itu.
Thrisca mulai terbiasa dengan omelan Ron dan menganggap setiap teriakan suaminya sebagai bentuk perhatian pria berkulit putih itu padanya.
"Kalau kau tidak mau makan di luar, ayo kita buat sesuatu untuk makan malam." ajak Ron seraya menarik tangan sang istri menuju dapur.
Thrisca melangkah perlahan mengekor di belakang Ron tempat penuh alat masak. Gadis itu menemukan makanan buatan istri baru ayahnya masih tersaji penuh di atas meja makan.
Susan yang baru saja menidurkan sang anak, berjalan menuju dapur dan mendapati Thrisca serta Ron tengah mencari bahan makanan untuk membuat makan malam.
"Kalian belum makan, kan? Aku memasak banyak. Untuk apa memasak lagi?" tanya Susan saat melihat Ron yang tengah memegang panci.
"Benar, Ron. Makan ini saja. Aku ambilkan untukmu, ya?" tawar Thrisca pada sang suami.
"Tidak perlu! Aku akan memasak untukmu. Duduk saja," tolak Ron tanpa melihat sedikitpun ke arah Susan.
"Icha, ini suamimu?" tanya Susan pada Thrisca.
"Oh, maaf Bibi. Aku benar-benar lupa memberitahumu mengenai Ron. Maaf, pikiranku masih kacau." sesal Thrisca.
"Sayang, ini Bibi Susan. Bibi Susan ini istri ayahku. Ayahku menikah lagi dan aku mempunyai satu adik." ujar Thrisca memperkenalkan ibu tirinya pada sang suami.
"Bibi Susan, ini suamiku. Namanya Ron. Kami belum lama menikah. Baru beberapa bulan. Mungkin ayah mengatakan sesuatu tentang hal ini pada Bibi?" ujar Thrisca pada Susan.
"Ayahmu hanya sempat bercerita kalau kau akan menikah." jawab Susan sekenanya.
Wanita itu terus menatap ke arah Ron dan berharap Ron akan mengajaknya bicara atau hanya sekedar menyapa. Namun, pria angkuh itu hanya melihat sekilas ke arah Susan tanpa menunjukkan rasa hormat sedikitpun.
"Sayang, sapalah Bibi Susan." bujuk Thrisca pada suaminya.
Ron melirik ke arah Susan dan menganggukkan kepala sedikit pada wanita beranak satu itu.
"Bibi, maaf. Ron memang seperti ini." ujar Thrisca dengan senyum kecut.
"Tidak apa-apa. Tidak perlu sungkan padaku, Ron. Usia kita sepertinya tidak terpaut jauh." tukas Susan seramah mungkin pada Ron.
Pria itu melirik ke arah Susan dengan tatapan risih. Ron nampak tidak nyaman terus diperhatikan oleh ibu tiri yang baru saja menjadi janda itu.
"Kau mau makan apa? Aku bisa membuat nasi goreng untukmu."
Ron menarik tangan Thrisca meninggalkan meja makan.
Susan memandangi Thrisca dan Ron dari jauh dengan tatapan tidak suka. Wanita itu makin kesal saat menerima sikap dingin dari sang menantu yang baru dikenalnya itu.
***
Bersambung..