DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 126



Thrisca dan Ron duduk di ranjang kamar dengan tubuh polos tak berbusana, namun mereka tidak jadi melakukan "olahraga" pagi yang sangat dirindukan oleh Ron.


Tubuh Thrisca masih penuh dengan luka dan wanita itu juga baru saja mengalami keguguran beberapa minggu yang lalu.


Ron yang cemas pada sang istri, tidak jadi melanjutkan aksi tancap benderanya karena ia takut akan menyakiti istrinya.


Ron dan Thrisca hanya duduk di ranjang dengan canggung serta sesekali saling melayangkan kecupan serta pagutan pada pasangannya tanpa melakukan hal lebih.


"Maaf, aku tidak ingat kalau kau masih memiliki banyak bekas luka." ujar Ron lirih seraya mengusap bekas luka yang ada di perut sang istri.


"Ini sudah tidak sakit, Ron. Kau tidak akan menyakitiku. Hanya saja kulitku memang masih agak kasar untuk disentuh," sesal Thrisca.


"Lebih baik kita tanya dokter dulu sebelum melakukan itu. Kau juga baru saja keguguran, kan? Aku tidak yakin ini waktu yang tepat untuk menanam benih lagi," ujar Ron.


"Apa karena aku tidak terlihat cantik lagi? Bekas luka ini membuatmu risih untuk menyentuhku?! Kau tidak ingin anak dariku lagi?" cecar Thrisca mendramatisir.


"Astaga, Sayang! Apa yang kau katakan?! Mana mungkin aku tidak mau anak darimu?!"


"Sudahlah! Aku ingin memakai bajuku!"


Thrisca menyingkirkan tangan Ron darinya dan bergegas kembali mengenakan busana lengkap.


"Makan sarapanmu! Aku akan menyiram tanaman." pamit Thrisca dengan wajah cemberut.


Ron berdiri di pojokan seraya memandangi sang istri yang masih sibuk menyiram tanaman dengan wajah manyun. Pria itu tak berani mendekati Thrisca yang terlihat tengah dalam suasana hati yang buruk.


Ron berjongkok di dekat pintu rumahnya seraya memainkan selang air. Pria itu ingin sekali membantu Thrisca, tapi ia masih belum mendapatkan cara yang seru untuk memperbaikinya suasana hati sang istri.


"Sejak kapan aku jadi payah begini?! Kenapa aku harus takut dengan wajah cemberut istriku?!" gerutu Ron pada dirinya sendiri.


Pria itu akhirnya memberanikan diri menghampiri sang istri seraya membawa selang air.


"Icha!" panggil Ron menepuk lembut bahu istrinya.


Thrisca menoleh dengan wajah malas dan langsung disambut dengan siraman air segar ke seluruh wajah cemberutnya. Ron mengarahkan selang air tepat ke wajah Thrisca hingga membuat wanita itu gelagapan karena tersemprot air.


Ron tertawa puas melihat wajah terkejut Thrisca yang nampak seperti kucing yang tersentak kaget karena siraman air.


"Ron!"


Thrisca berteriak geram ke arah sang suami yang sudah kalang kabut melarikan diri dari amukan istri.


Wanita itu mengejar balik Ron seraya mengarahkan semprotan air pada suami jahilnya itu.


Acara siram tanaman pasangan suami-istri itu pun mendadak menjadi aksi kejar-kejaran antara Thrisca dan Ron yang saling menyemprotkan air satu sama lain.


"Ron, bajuku sudah basah! Hentikan!" omel Thrisca seraya mengusap wajahnya yang terkena semburan air.


"Kau tidak boleh cemberut lagi! Atau aku akan terus menyiram wajahmu!" ujar Ron diselingi gelak tawa mendengar omelan sang istri.


"Ron! Thrisca!"


Acara basah-basahan mereka pun berakhir saat Nyonya Daisy datang berkunjung ke istana mereka.


Thrisca segera meletakkan selang airnya dan menyambut sang ibu mertua yang datang.


"Ibu," sapa Thrisca dengan pakaian basah kuyup.


Ron yang juga terguyur air, ikut menurunkan selangnya dan menyingkirkan alat penyiram tanaman itu.


"Apa yang kalian lakukan di sini?!" omel Nyonya Daisy seraya menjewer telinga sang putra.


Thrisca dan Ron hanya bisa menunjukkan cengiran kuda, menanggapi omelan sang ibu. Pasangan suami-istri itu segera berganti pakaian dan menemani sang ibunda yang sudah duduk manis di ruang tamu.


"Biar aku buatkan minum," ujar Thrisca.


"Biar aku saja!"


Ron mendudukkan sang istri di sofa dan segera melesat menuju dapur untuk membuat secangkir teh.


"Thrisca, ibu datang kemari karena ada hal yang ingin ibu bicarakan denganmu." ujar Nyonya Daisy mulai membuka perbincangan.


"Apa ada hal penting?"


"Ini kabar yang sangat bagus untukmu." tukas Nyonya Daisy dengan senyum mengembang.


"Kabar baik?"


"Kau masih ingat kan kalau kau harus melanjutkan pendidikan dan membangun karir?" tanya Nyonya Daisy.


"Tentu saja, Bu. Tapi Ron ingin aku melakukan itu setelah kita memiliki anak. Ron tidak ingin aku menunda anak karena pendidikanku,"


"Bagaimana kalau kita mulai satu persatu? Bagaimana tanggapanmu mengenai profesi model?" tanya Nyonya Daisy.


"Model? Maksud ibu?"


"Wajahmu sangat cantik, Thrisca. Fisikmu cukup memadai untuk berkiprah di dunia modeling. Ibu tidak akan menuntutmu untuk menjadi supermodel terkenal. Coba saja--"


"Ibu.. ingin aku menjadi model?" potong Thrisca.


"Bukan ibu yang menginginkannya, tapi ada agensi yang menawarimu. Mereka mencoba menghubungimu melalui ibu." terang ibu mertua Thrisca.


"Agensi? Memangnya aku pantas?"


"Mereka juga menyoroti latar belakangmu. Banyak yang berkomentar kalau kau hanya memiliki wajah cantik untuk menjadi istri Presdir." imbuh beliau.


"Aku memang belum memiliki sesuatu yang bisa ditonjolkan." gumam Thrisca lirih.


"Karena itu, ibu memintamu untuk menerima tawaran ini. Suamimu bukan pria sembarangan. Jadi, ibu juga berharap kau memiliki nilai lebih untuk bisa bersanding dengan Ron."


"Nilai lebih apa?!" sahut Ron ikut menyela pembicaraan ibunya dengan sang istri.


"Ron,"


Thrisca menoleh dan segera merebut nampan berisi minuman yang dibawa oleh sang suami.


"Sudah kubilang, jangan buat istriku melakukan hal-hal yang tidak penting!" omel Ron.


"Hal tidak penting apa, Ron? Kau tega membiarkan istrimu dicibir banyak orang?!" omel balik Nyonya Daisy.


"Mereka hanya orang asing! Mereka--"


"Ron, tidak pernahkah sekali saja kau memikirkan perasaan istrimu?! Kalian para pria tidak akan pernah tahu penderitaan seorang istri yang tidak bisa menggapai mimpi karena sudah bersuami. Istrimu masih muda dan Thrisca berhak menggali potensi dirinya untuk kesuksesannya sendiri! Kau tidak ingin mendukung istrimu?" cecar Nyonya Daisy.


"Aku tahu apa yang terbaik untuk istriku!"


"Kau tidak tahu apapun mengenai istrimu! Kau ingin Thrisca menjadi bahan cemoohan orang-orang?! Kau seharusnya mendukung istrimu yang ingin maju!"


"Hentikan!" pekik Ron hingga membuat Thrisca tersentak kaget.


"Thrisca tetap akan menerima tawaran model itu. Aku tidak akan membiarkan Thrisca terus diejek! Dia harus belajar menjadi Nyonya yang pantas bagi keluarga ini." pungkas Nyonya Daisy.


Wanita paruh baya itu meninggalkan kediaman sang putra dengan wajah kesal.


"Model apanya?! Istriku bukan barang yang bisa dipamerkan!" teriak Ron pada sang ibunda yang sudah keluar dari pintu rumahnya.


Thrisca menghampiri Ron dan mencoba menenangkan pria yang tengah dilanda amarah besar itu.


"Kau tidak akan menuruti permintaan ibu, kan? Kau akan menurutiku, kan?"


Kali ini Ron berganti sasaran, mencecar sang istri yang menundukkan kepala di sampingnya.


"Aku akan menurutimu, Ron. Kalau kau tidak menginginkan, tidak apa-apa." ujar Thrisca seraya melempar senyum tipis pada sang suami.


Thrisca mencoba tersenyum manis pada Ron untuk menutupi kekecewaannya. Bagaimanapun juga, ini adalah langkah bagus bagi Thrisca untuk membangun latar belakang yang baik dan menjadi istri yang pantas bagi Ron, sayangnya pria posesif itu lagi-lagi berulah dengan tidak memberi ijin pada sang istri untuk melakukan apapun.


***


Kantor Perusahaan Diez.


Genta terus berkeliling tidak jelas di sekitar ruangan Nadine. Pria itu celingukan kesana-kemari, mengintip aktivitas Nadine dari kejauhan.


"Bagaimana aku harus memulainya? Tidak mungkin aku langsung menghampirinya dan memberikan cincin padanya, kan?!" gumam Genta bingung.


Genta bersembunyi di balik tembok seraya menyeruput es kopi yang ada di tangannya. Pria yang nampak senggang itu dengan teganya membiarkan Han mengurus seluruh pekerjaan selama Ron masih beristirahat di rumah.


"Gen!"


Han yang melihat Genta tengah mengintip seorang wanita, segera menghampiri pria pemalas itu dan memukul belakang kepalanya dengan keras.


"Ahh!"


Genta menoleh ke belakang seraya memegangi belakang kepalanya yang menjadi korban amukan Han.


"Apa maumu?!" bentak Genta tak terima mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari asisten sepupunya itu.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" omel Han geram.


"Apa urusanmu?!"


"Tentu saja ini urusanku! Kau dibayar di sini bukan untuk mengintip seorang gadis!" omel Han seraya mencengkeram kerah baju Genta.


"Sebenarnya siapa yang sedang kau lihat?"


Han ikut celingukan mencari sosok wanita yang tengah diperhatikan oleh Genta.


Han melirik ke arah Genta dengan geram begitu ia melihat sosok Nadine yang ternyata menjadi target pengamatan dari sepupu bosnya itu.


"Siapa yang kau lirik?! Kau mengintip Nadine?!" omel Han seraya menoyor kepala Genta.


"Memangnya kenapa?! Aku tidak mengintip wanita yang tengah telanjang!" sanggah Genta.


Han mengepalkan tangan kuat-kuat, mencoba menahan diri untuk tidak menghajar pria yang berani mengintip Nadine itu.


Genta tidak mengindahkan omelan Han sedikitpun dan masih sibuk memandangi Nadine dari jauh. Karena kesal, Han pun mendorong tubuh Genta hingga tersungkur ke lantai dengan es kopi yang ikut tumpah membasahi lantai tempat Genta mendarat.


"Han!!" pekik Genta yang sudah tersungkur ke lantai karena perbuatan Han.


Sang pelaku pun langsung kalang kabut melarikan diri seraya menertawakan Genta yang sudah terlentang di lantai dengan pakaian basah terkena es kopi.


***


Bersambung...