DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 151



Setelah tiga puluh menit berlalu, seorang dokter yang menangani Thrisca akhirnya muncul menemui keluarga pasien yang menunggu.


"Keluarga Nyonya Thrisca."


"Saya suaminya!"


Ron langsung berdiri dari bangkunya dan berlari kecil menghampiri sang dokter.


"Kondisi pasien saat ini sudah stabil. Pasien hanya mengalami keram perut ringan dan shock hingga kehilangan kesadaran. Tolong jaga kondisi pasien dan janinnya, jangan sampai pasien dilanda stress dan shock berlebihan." jelas dokter.


"Pasien sudah siuman. Keluarga sudah dipersilahkan untuk menjenguk." imbuhnya.


Ron langsung berlari masuk ke dalam ruangan Thrisca dan mendapati istrinya tercintanya itu masih tergolek lemah di atas ranjang pasien.


Thrisca yang mengetahui kedatangan Ron, langsung membuang muka dan menutup mata agar ia tidak melihat wajah Ron.


Meskipun sakit hati mendapati sang istri yang membuang muka, namun Ron tetap melanjutkan langkahnya mendekat ke arah Thrisca.


"Sudah semuak itukah kau melihat wajahku?" batin Ron kecewa.


Ron berjalan lesu menghampiri sang istri dan mendudukkan diri di tepi ranjang tempat Thrisca berbaring.


"Sayang, kau baik-baik saja, kan? Bagian mana yang sakit?" tanya Ron selembut mungkin pada sang istri.


Pria itu memberanikan diri mengusap perut istrinya meskipun Thrisca mengabaikannya.


Mendapat sentuhan di perutnya, Thrisca tidak berani menepis tangan Ron karena janin yang tumbuh di perutnya juga milik sang suami.


"Sayang, jangan lagi merepotkan mommy! Mommy kesakitan karena kau!" omel Ron sembari melayangkan kecupan ke perut Thrisca.


Pria itu meraih jemari sang istri, namun Thrisca langsung menarik tangannya dari sentuhan Ron.


"Kau tidak menolak saat aku mencium perutmu. Tapi kau menepis tanganku saat aku hanya memegang jemarimu?" ujar Ron dengan wajah memelas.


"Satu-satunya yang kau miliki dariku kini hanyalah anak ini. Ceraikan aku saat anak ini lahir." ujar Thrisca dengan mata tertutup.


"Sayang, tolong dengarkan--"


"Aku tidak ingin lagi mendengar suaramu!" pekik Thrisca.


"Tolong keluar dari sini.." sambung Thrisca lirih.


Nyonya Daisy mendekati sang putra seraya menepuk pelan bahu anak semata wayangnya itu.


"Keluarlah, Ron. Ibu dan nenek akan menemani Thrisca. Kau istirahat saja di rumah." ujar Nyonya Daisy.


Ron terpaksa mengikuti kemauan sang istri dengan keluar dari ruangan Thrisca.


Pria itu terduduk di luar ruangan dengan tatapan kosong dan terus memandangi pintu ruangan pasien yang ditempati oleh sang istri.


"Ron, buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Lihat kau sekarang! Kau melakukan hal yang sama dengan ayah dan kakek, kan?" cibir Tuan Derry saat pria tua itu hendak mengunjungi Thrisca.


"Cih, aku tidak sama dengan ayah! Ayah hanya hidung belang yang tidak tahu cara menghabiskan uang dengan benar!" sindir Ron.


"Terserah apa katamu! Sepertinya kau tidak akan bisa membelai istri pertamamu untuk beberapa waktu ke depan.." ledek Tuan Derry.


"Sial! Ini semua gara-gara wanita gila itu!" omel Ron seraya menendang kursi yang ada di dekatnya.


***


"Icha.. kau tidak sungguh-sungguh dengan perkataanmu, kan?" tanya Nyonya Daisy.


"Aku.. tidak tahu, Bu."


"Jangan berbicara seperti itu, Sayang. Ron juga pasti kesulitan menentukan pilihan."


"Maaf kalau aku egois, Bu. Tapi aku tidak ingin mendengar alasan apapun dari Ron. Setidaknya dia bisa mendiskusikan hal ini denganku lebih dulu, kan?" ujar Thrisca dengan mata memerah.


"Ibu sangat tahu bagaimana perasaanmu, Sayang. Maaf sudah mengorbankan pernikahan kalian.." ungkap Nyonya Daisy.


"Siapa istri kedua Ron, Bu?"


"Dia.. dia putri dari teman kakek. Ayahnya baru saja meninggal beberapa hari yang lalu. Dia seorang nona muda keluarga terpandang. Dan kebanyakan kalangan elit hanya mengijinkan keturunan pria yang menjadi pewaris keluarga." jelas Nyonya Daisy.


"Dia seorang wanita, jadi dia tidak bisa menjadi pewaris keluarganya?"


"Begitulah. Semua aset akan dialihkan ke anggota keluarga lain kalau nona muda itu belum menikah."


"Kalau dia sudah menikah?" tanya Thrisca.


"Seluruh aset akan diberikan padanya dan kepala keluarga akan jatuh ke tangan suaminya." ujar Nyonya Daisy.


"Jadi.. karena itu dia menikahi Ron? Demi aset keluarganya?"


"Perusahaan sedang kacau, Sayang. Semenjak kakek sakit, Ron semakin kesulitan mengurus semuanya seorang diri."


Thrisca terdiam tanpa tahu harus mengatakan apa. Hal yang selama ini ia takutkan akhirnya terjadi. Sama seperti nenek mertua dan ibu mertuanya, kini Thrisca harus berjuang sendiri mempertahankan posisinya sebagai Nyonya keluarga Diez.


"Thrisca, ibu pernah berkata padamu kalau kau membutuhkan karir dan pendidikan tinggi untuk mempertahankan posisimu dari istri-istri Ron yang lain. Sekarang waktunya kau mempertahankan posisimu. Kau tidak boleh menyerah begitu saja." nasihat Nyonya Daisy.


"Tapi, Bu--"


"Tidak ada tapi. Kita terima saja tawaran model dari agensi itu. Bagaimana?" bujuk Nyonya Daisy.


"Kau masih bisa mengambil job umum sebelum perutmu membuncit. Setelah perutmu membesar, kau bisa khusus menjadi model untuk ibu hamil." ujar Nyonya Daisy.


"Bagaimana jika Ron tidak mengijinkan?"


"Ibu yang akan membujuk Ron. Ibu tidak akan mengambil terlalu banyak job untukmu. Kau mau mencobanya, kan?"


"Tentu, Bu." jawab Thrisca.


"Bagus, Sayang. Ingat, kalau kau bertemu dengan istri Ron, kau tidak boleh menundukkan kepala padanya meskipun dia seorang nona muda. Kau harus menunjukkan kuasamu kalau kau adalah nyonya yang sebenarnya."


"Tapi dia seorang nona muda.." keluh Thrisca.


"Dia tidak akan menjadi nona muda lagi jika tidak ada Ron. Satu-satunya hal yang dimiliki oleh gadis itu hanyalah reputasi baik yang ditinggalkan oleh ayahnya. Kau tidak boleh berkecil hati di depannya atau dia akan menginjak-injakmu." nasihat Nyonya Daisy.


"Aku mengerti, Bu."


"Dan.. tolong bicaralah dengan Ron. Kalian selesaikan masalah ini baik-baik. Kau bisa pulang ke rumah ibu jika kau masih malas melihat wajah Ron. Ibu dulu juga kabur lama saat ayah Ron menikah lagi." terang Nyonya Daisy bercerita.


"Ibu kabur?"


"Nenek juga kabur saat kakek menikah lagi. Ini sudah seperti hal rutin yang terjadi di setiap generasi. Ibu tahu, sulit menjadi istri yang terjerat dalam hubungan poligami. Tapi tolong cobalah bertahan untuk membiasakan diri. Lama-lama kau pasti bisa menerima Ron kembali."


"Apa ibu juga seperti itu pada ayah?" tanya Thrisca.


"Hem?"


"Apa ibu.. juga sudah mulai terbiasa dan bisa menerima ayah kembali?" tanya Thrisca dengan wajah pilu.


"Sayangnya tidak." jawab Nyonya Daisy dengan wajah muram.


"Lalu bagaimana aku bisa--"


"Tapi Ron berbeda dari ayahnya. Ron bukan pria hidung belang seperti ayahnya. Ibu tahu siapa putra ibu. Jika ini bukan demi keluarga kita, Ron juga tidak akan menikah lagi." potong Nyonya Daisy.


"Kenapa ibu yakin sekali?"


"Ibu sangat tahu bagaimana putra ibu. Kau bisa mempercayai Ron, Thrisca."


"Biarkan Ron menemanimu beristirahat di rumah sakit. Saat dokter memperbolehkanmu pulang, ibu akan menjemputmu pulang ke rumah ibu." imbuh Nyonya Daisy.


"Tapi aku--"


"Cobalah berbicara baik-baik dengan Ron." potong Nyonya Daisy cepat.


"Ibu pulang dulu, Sayang." pamit ibu mertua Thrisca itu.


Begitu Nyonya Daisy keluar dari ruangannya, kini sosok Ron kembali muncul untuk menggantikan sang ibu menjaga Thrisca.


Pria itu memandang sang istri dengan tatapan sendu seraya melempar senyum tipis.


Thrisca segera memalingkan wajahnya, menatap jendela dengan tatapan kosong.


"Boleh aku berbicara dengan bayi kita?" pinta Ron takut-takut.


Thrisca hanya mengangguk pelan tanpa menoleh sedikitpun ke arah Ron.


Ron langsung berjalan dengan sumringah mendekat ke arah sang istri. Pria itu duduk di tepi ranjang Thrisca dan mulai mengusap lembut perut istrinya.


Ron menyingkap pakaian rumah sakit sang istri seraya membelai lembut kulit perut wanita hamil itu.


"Biji kacangku, apa kau merindukan daddy? Daddy sangat merindukanmu dan mommy. Tapi mommymu sepertinya tidak merindukan daddy." ujar Ron lirih seraya menatap perut Thrisca.


"Bisa tolong beritahu mommymu kalau daddy sangat merindukannya? Daddy ingin sekali memeluk mommymu, tapi sepertinya dia tidak terlalu suka dengan kehadiran daddy." sambung Ron.


Air mata mulai mengalir deras tanpa permisi, membasahi pipi halus Thrisca.


Melihat sang istri yang sudah berurai air mata, Ron pun memberanikan diri untuk mengusap pipi sang istri yang sudah basah karena air mata.


"Maafkan aku.." ujar Ron lirih.


"Aku tidak ingin mendengar kata maaf darimu." ujar Thrisca dingin.


"Aku tahu aku hanya pandai membual. Aku sudah menyakitimu, tapi hanya kata maaf yang bisa kuucapkan padamu."


"Kau sudah selesai berbicara dengan anakmu?"


"Sayang, aku--"


"Kalau begitu tolong keluar. Aku ingin beristirahat." usir Thrisca.


Ron berjalan lemas menuju pintu dan kembali berdiri melamun di depan pintu ruang rawat sang istri.


Pria itu berdiri seraya bersandar pada pintu dengan wajah penat. Sementara di dalam ruangan, Thrisca tak henti-hentinya menangis sesenggukan begitu Ron menghilang di balik pintu.


Pasangan suami-istri itu berurai air mata secara bersamaan di tempat yang hanya terhalang oleh tembok dan pintu.


Ron tak henti-hentinya mengusap wajahnya kasar karena air mata yang terus mengucur deras di pipinya. Begitupun dengan Thrisca, isak tangis wanita itu berlanjut hingga air matanya mengering.


***


Bersambung...