DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 125



Tengah malam, Ron terbangun dan menyingkirkan handuk dingin yang tergeletak di atas dahinya. Pria itu melirik ke arah sang istri yang memeluk erat lengannya dalam keadaan sudah terlelap.


Ron mengusap lembut rambut sang istri dan melepas perlahan tangan Thrisca yang melingkar di lengannya.


"Halo, Han? Apa yang kau temukan?"


Ron menghubungi Han di tengah malam untuk mengurus kembali pelaku yang telah menyakiti sang istri.


"Bos, Nyonya Berlin pergi secara mendadak dari kota ini. Mungkin Nyonya Berlin mengetahui sesuatu mengenai kecelakaan Nona."


"Nenek tua itu selalu saja bertindak sesuka hati! Kalau Ibu Gen pergi secara tiba-tiba, sudah pasti wanita tua itu pelakunya! Ajukan lagi kasus ini! Sekalipun wanita itu ibu dari Gen, aku tidak akan mengampuninya!"


"Baik, Bos." jawab Han.


"Bos, Gen pernah bilang padaku kalau Tuan kembali bersama dengan Lilian. Tapi Lilian juga menghilang secara tiba-tiba." tambah Han.


"Berani sekali wanita itu mencari perlindungan pada ayahku?! Cari juga wanita murahan itu sampai dapat!"


"Baik, Bos."


"Lilian, kau sudah berani membodohiku berulang kali! Sekarang kau masih berani mengacaukan hidupku?!" gumam Ron mencoba menahan diri untuk tidak menendang kursi maupun vas bunga agar ia tidak membangunkan sang istri yang sudah tertidur nyenyak.


***


"Nenek bilang pernikahan kita dua bulan lagi.." ujar Genta lirih pada Cherry.


Dua insan manusia itu tengah menikmati soda dingin di malam hari seraya duduk di bangku kecil sebuah taman yang berada di pusat kota.


Begitu mendengar perkataan Genta, Cherry langsung meneguk habis sodanya dan meremass kaleng itu kuat-kuat hingga penyok untuk melampiaskan kekesalannya pada Genta.


"Pak, apa pernikahan adalah hal yang sangat biasa bagimu?! Aku akan menjadi teman hidupmu selamanya, bagaimana kita bisa melakukan hal itu tanpa perasaan suka? Aku bahkan hanya akan berteman dengan orang yang kusukai! Bagaimana aku bisa menyetujui sebuah pernikahan dengan mudah?!" omel Cherry berusaha menahan diri untuk tidak memukul kepala Genta.


"Kalau begitu bantu aku mencari wanita lain! Aku akan membayar berapapun! Hanya untuk beberapa bulan saja! Aku tidak bisa membuat Nenek Aswinda malu karena pernikahanku yang gagal!" rengek Genta.


"Sewa saja salah satu wanita malam! Mereka pasti mau melakukan apapun demi uang," ujar Cherry cuek.


"Bisakah kau memberi saran yang lebih bagus?! Aku hanya perlu gadis baik-baik untuk bisa dikenalkan pada nenek. Ibuku sudah tidak peduli lagi pada pernikahanku. Aku hanya perlu menyenangkan hati nenekku yang memerlukan saham." bujuk Genta.


"Itu urusan Pak Gen. Apa urusannya denganku?! Aku hanya pegawai kecil--"


"Cherry, apa aku sejelek itu sampai kau tidak mau menikah denganku?!" potong Genta cepat.


"Pak Gen, menikahlah dengan wanita yang Pak Gen cintai." ujar Cherry tegas.


"Mendapatkan wanita yang dicintai tidaklah mudah." sanggah Genta dengan wajah murung.


"Tentu saja tidak mudah, karena kau mencintai wanita yang sudah mempunyai suami!" tutur Cherry dengan berani.


Genta membulatkan mata lebar-lebar dan menatap ke arah Cherry tanpa berkedip.


"Kau mencintai Thrisca. Benar, kan?" tebak Cherry.


"Apa yang kau katakan?! Jangan mengarang--"


"Pak Gen, aku benar-benar berterimakasih kau tidak merusak rumah tangga temanku. Tapi sebaiknya kau segera mencari wanita lain dan membangun sendiri kebahagiaanmu. Pernikahan main-main seperti ini hanya akan menyakitimu." nasihat Cherry.


"Tolong jangan hubungi aku lagi. Aku sudah tidak tertarik untuk menjadi pegawai tetap di Diez Group. Jika Bapak masih mencari seorang wanita, mungkin Nadine akan memberikan sambutan untukmu." saran Cherry.


"Nadine?"


"Itu.. temanku yang satunya. Dia.. em, sepertinya juga sedang mencari calon suami. Pas sekali, kan?" ujar Cherry mengarang cerita.


"Bagaimana aku harus mendekatinya? Bukankah dia dekat dengan Han? Han akan memukulku jika aku mendekati wanitanya."


"Nadine tidak mengatakan apapun mengenai Pak Han. Sepertinya hubungan mereka tidak sejauh itu. Pak Han hanya beberapa kali meminta Nadine membantunya." terang Cherry.


"Benarkah? Bagaimana kalau dia juga menolakku sepertimu?" rengek Genta lagi.


"Aku jamin, dia tidak akan menolak! Coba saja minta bantuan kecil padanya dan ajak dia makan siang sebagai ucapan terima kasih." usul Cherry lagi.


"Cherry, kau memang teman yang pengertian!"


Genta memeluk erat Cherry dengan wajah penuh haru.


Pipi Cherry memerah seketika dan jantung wanita itu mulai berdegup tak karuan begitu tubuh mungilnya masuk ke dalam dekapan Genta.


"Perasaan macam apa ini?!" batin Cherry kegirangan tidak jelas.


***


Lilian membuka mata dan mendapati dirinya tengah berada di sebuah klinik kecil. Tubuh wanita itu penuh dengan luka perban yang melilit tangan hingga wajahnya.


Mantan model itu bangkit dari ranjang dengan tubuh lemas dan ringisan kesakitan.


Seorang dokter wanita menghampiri Lilian dan hendak memeriksa kembali luka-luka di tubuh wanita itu.


"Kau sudah sadar? Untung saja Adrian membawamu ke sini tepat waktu." ujar dokter itu.


"Apa yang terjadi padaku?" tanya Lilian.


"Kau tidak ingat? Sepertinya kau dipukuli dan sebagian wajahmu melepuh karena siraman air keras." jelas sang dokter.


"Apa?"


"Kau tidak ingat apa yang terjadi padamu? Keponakanku yang membawamu ke sini."


"Boleh aku meminta cermin?" tanya Lilian dengan suara parau.


"Apa yang terjadi dengan wajahku?" ujar Lilian lirih.


Mantan kekasih Ron itu tak sanggup lagi melihat cermin. Lilian membanting kaca kecil itu ke lantai klinik hingga hancur berantakan.


"Apa bekas luka ini bisa disembuhkan?" tanya Lilian dengan air mata berlinang.


Dokter itu hanya diam seraya menepuk lembut pundak Lilian.


"Bibi, ini obatnya.."


Seorang pria muda bernama Adrian masuk ke klinik kecil itu dan menyerahkan bungkusan kecil pada dokter wanita itu.


"Ian, apa kau tahu apa yang terjadi dengan Nona ini?" tanya dokter itu pada sang keponakan.


Pria muda itu melirik ke arah Lilian seraya menyipitkan kedua matanya.


"Ini semua karena ulahnya sendiri, Bi. Wanita itu sudah bertindak tidak sopan pada nenek penjual buah di ujung jalan. Dia juga sering berkata kasar pada gadis-gadis di sini yang sudah mencoba bersikap ramah padanya. Wanita itu sangat angkuh sebagai pendatang baru," ungkap Adrian.


"Lalu?"


"Lalu tentu saja dia mengalami kesialan," jawab Adrian datar.


"Ian, jangan bicara seperti itu!" tegur dokter wanita itu.


"Orang-orang di sini yang bermasalah, kenapa aku yang disalahkan?" ujar Lilian sinis.


"Seharusnya aku tidak datang ke kota sial ini!" imbuh Lilian.


***


Matahari sudah merangkak naik semakin tinggi, menyinari kota tempat kelahiran Ron.


Pria itu terbangun dari tidur cantiknya dengan wajah segar, setelah mendapatkan istirahat penuh selama seharian.


Ron mulai menggeliat di ranjang, hendak meregangkan otot-otot tangan dan kakinya sudah mendapat liburan seharian.


Namun sayang, pria berbadan kekar itu tak dapat menggerakkan kaki dan tangannya sedikitpun karena Thrisca mengikat erat kedua tangan dan kedua kaki sang suami agar Ron bisa terus melanjutkan istirahatnya.


Thrisca bahkan juga membungkam mulut sang suami dengan lakban, sehingga Ron tidak akan dapat mengomelinya di pagi hari yang cerah ini.


"Sial, apa yang dilakukan wanita itu?! Berani sekali dia mengikatku seperti kambing yang akan disembelih!" gerutu Ron dalam hati.


Thrisca yang masih sibuk mengurus pekerjaan rumah, nampak tenang dan damai menikmati tugasnya sebagai istri yang mengurus rumah.


Telinga wanita itu benar-benar dimanjakan dengan suara alunan musik lembut, tanpa terganggu oleh suara bising omelan dari sang suami.


"Rumah ini tenang sekali tanpa teriakan Ron.." gumam Thrisca girang.


Wanita yang sudah selesai mengepel lantai itu, beralih ke cucian baju kotor sang suami yang hanya terdiri dari beberapa kaos dan celana.


Thrisca menjemur pakaian sang suami seraya bersenandung kecil dan sesekali melirik ke arah kamar Ron yang berada di lantai atas.


"Ron pasti sudah bangun.." gumam Thrisca memandangi jendela kamar suaminya.


Selesai dengan jemuran, wanita itu segera menyiapkan sarapan sederhana dengan cepat dan bergegas mengantar sandwich penuh sosis serta segelas susu hangat untuk sang suami.


"Ron.." panggil Thrisca seraya membuka pintu kamar Ron.


Terlihat suami Thrisca itu tengah menggeliat di lantai dan berusaha mengambil gunting yang sengaja Thrisca sembunyikan di lemari bagian atas.


"Ron, kau sedang berolahraga pagi di lantai?" ledek Thrisca diiringi tawa kecil.


"Awas kau, Icha! Aku akan membalasmu!" batin Ron berapi-api.


"Kemari, Sayang.."


Thrisca membantu sang suami untuk duduk dan segera melepas tali yang ia lilitkan di tubuh Ron.


"Berani sekali kau menyekapku di dalam kamarku sendiri?!" omel Ron seraya menoyor kepala Thrisca.


"Maaf, Ron. Aku hanya ingin membuatmu beristirahat.." bela Thrisca.


"Kemari kau, gadis nakal!"


Ron mengecupi leher jenjang sang istri hingga membuat Thrisca menggeliat geli.


"Ron.."


"Kau harus diberi hukuman!"


Ron menyambar bibir merah sang istri dan menyapu seluruh rongga mulut wanitanya itu dengan antusias. Ron menyesap bibir sang istri dalam-dalam dan melumatt habis benda lembut milik istri cantiknya itu.


"Kau suka hukuman dariku?" goda Ron kembali mengecup singkat bibir sang istri.


"Ron, kau membuatku kehabisan bernafas!" protes Thrisca manja.


"Kau masih ingin hukuman selanjutnya?"


Ron membopong tubuh istrinya menuju ranjang dan mulai memberikan "hukuman ekstra" pada sang istri di pagi yang cerah ini.


***


Bersambung...