DEAR, MY RON

DEAR, MY RON
BAB 98



"Thank you, Mr. Ron,"


Seorang pria berjas mengulurkan tangan pada Ron dan menjabat tangan lebar suami Thrisca itu.


Setelah dua hari pergi meninggalkan negara tempat tinggal sang istri, akhirnya suami Thrisca itu dapat kembali pulang dalam waktu kurang dari tiga hari.


"Gen, kita pulang sekarang saja!" ajak Ron pada Genta.


"Jangan gila, Ron! Kita sudah bekerja siang malam tanpa istirahat selama dua hari ini. Kau bisa mati di jalan!" omel Genta.


"Aku sudah dua hari ini tidak menghubungi istriku. Icha pasti mencemaskanku," rengek Ron.


"Kau sendiri yang ingin menyelesaikan pekerjaan ini lebih cepat! Kau bahkan tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Tidur dulu saja sebentar, baru kita pulang." saran Genta.


Ron mengambil ponselnya dan mencari nomor kontak sang istri. Pria itu segera menghubungi istrinya yang sudah ia abaikan selama dua hari.


"Halo, Ron?"


"Halo, Sayang.." sapa Ron pada istrinya dengan girang.


"Kau masih sibuk? Maaf aku mengirim banyak pesan. Aku hanya khawatir terjadi sesuatu padamu.."


"Tidak apa-apa, Sayang. Maaf aku tidak sempat melihat ponsel. Seharusnya aku menghubungimu lebih sering." sesal Ron.


"Tidak apa, Ron. Aku tahu banyak pekerjaan yang harus kau urus."


"Aku akan pulang sekarang. Semua urusanku di sini sudah selesai," ungkap Ron bersemangat.


"Ron! Kita bisa mati! Biarkan aku tidur sebentar!" sahut Genta yang berada di samping Ron.


"Diam!" bentak Ron garang pada sepupunya itu.


"Ron, kau akan pulang? Ini baru dua hari. Kau sengaja menyelesaikan pekerjaan lebih cepat sampai tidak istirahat?!" omel Thrisca.


"Pekerjaanku memang sudah selesai." jawab Ron cuek.


"Istirahat dulu saja, Ron. Ini sudah malam. Besok saja pulangnya," bujuk Thrisca.


"Kau tidak ingin aku cepat pulang? Kau tidak merindukanku?!" rengek Ron berlebihan.


"Mana mungkin aku tidak rindu padamu, Ron. Aku sangat merindukanmu," ujar Thrisca manja.


Nadine dan Cherry bergidik merinding mendengar sahabat mereka yang tengah bermanja dengan sang suami.


"Istirahat dulu saja, ya? Besok saja pulangnya." bujuk Thrisca lagi.


Tak ingin memperpanjang perdebatan, Ron pun mengalah dan menuruti perkataan sang istri.


"Baiklah. Aku akan pulang besok. Kau baik-baik saja kan di rumah? Dua pegawai itu menjagamu dengan baik, kan?"


"Pegawai apa, Ron? Mereka teman-temanku."


"Mereka tetap pegawai yang mendapat uang dariku! Suruh saja mereka sepuasmu. Jangan biarkan mereka bersantai!"


Thrisca hanya menggeleng pelan menanggapi ucapan suaminya yang bossy.


"Istirahatlah, Ron. Sampai besok, Sayang.."


Thrisca mencium layar ponsel barunya dan segera menutup telepon dari sang suami.


"Bagaimana ini?! Ron sebentar lagi akan pulang!!" ujar Thrisca panik pada teman-temannya.


Wanita itu tengah duduk berkumpul dengan Nadine dan Cherry seraya bergumul dengan gulungan wol dan jarum sulam. Selama dua hari ini Thrisca disibukkan dengan persiapan hadiah ulang tahun untuk sang suami dan pesta kejutan kecil yang hendak ia adakan untuk Ron.


"Syalku belum selesai.." rengek Thrisca.


"Salahkan saja suamimu! Kalau suamimu tidak membuang gulungan wolmu, pasti hadiahmu sekarang sudah siap." ujar Nadine.


"Nadine.."


Cherry mencubit lengan temannya itu yang berani berbicara seenaknya mengenai suami Thrisca.


"Jangan lupa, Nadine! Suami teman kita adalah bos di tempat kerja kita." timpal Cherry.


"Apa yang bisa kita bantu?" tawar Nadine.


"Aku hanya akan mengadakan kejutan kecil. Aku tidak berani menggunakan uang Ron seenaknya." terang Thrisca.


"Kejutan istimewa tidak perlu mahal!" ujar Cherry menyemangati Thrisca.


***


Ron dan Genta masuk ke dalam hotel mewah yang sudah dipesankan oleh rekan bisnis yang baru saja ditemui oleh Ron.


Sebagai bentuk sambutan, Ron dan Genta tidak hanya mendapat fasilitas mewah namun juga pelayanan plus-plus lain yang memuaskan.


Ron membuka pintu kamar hotel dengan wajah penat begitu ia sampai di depan ruangan yang akan menjadi tempatnya beristirahat.


Saat pria itu masuk ke dalam kamar, terlihat siluet tubuh wanita yang terbaring di ranjang luas dalam suasana gelap gulita.


Ron segera menghidupkan lampu dan mendapati seorang wanita cantik tengah terbaring di ranjang yang akan ia gunakan untuk berbaring.


Wanita cantik berbaju minim yang berada di kamarnya itu langsung berdiri menyambut sang pemilik kamar yang akan menjadi pelanggannya pada malam itu.


"Apa-apaan ini?!"


Ron segera keluar dari kamar dan membanting pintu dengan keras hingga membuat wanita yang ada di dalam kamarnya terkejut ketakutan.


Sama halnya dengan Ron, Genta juga ikut kabur dari kamarnya saat pria itu mendapatkan penampakan wanita berambut panjang yang hinggap di ranjang kamar.


"Ron! Kau juga melihat penampakan?!" tanya Genta heboh seraya berlari menghampiri sang sepupu.


"Aku akan membakar hotel ini!!" ujar Ron dengan kepala mengepul penuh amarah.


"Salah kamar apa?! Ini jelas sogokan dari tua bangka pemilik perusahaan gila itu! Mereka pikir aku akan menuruti semua kemauan mereka?! Batalkan saja kerjasamanya!" omel Ron geram.


"Ron, mungkin mereka hanya mau memberi sambutan tambahan. Tidak perlu dibesar-besarkan. Kalau kerjasamanya batal, kita akan dibunuh oleh kakek.." bujuk Genta.


"Mereka jelas-jelas meremehkanku! Memangnya aku terlihat seperti hidung belang yang akan menyambut semua wanita yang menyambangi kamarku?! Aku sudah bilang aku adalah pria beristri, tapi mereka malah mengejekku dengan mengirimkan ikan asin ke ranjang kamarku!"


Ron mengamuk di lorong kamar hotel pada Genta.


"Ron, tenang dulu--"


"Tenang apanya?! Mereka sudah menginjak-injak harga diriku!!"


"Kita pindah hotel saja,"


Genta menyeret sang sepupu keluar dari hotel sebelum ia semakin dibuat malu oleh sang sepupu yang mengamuk tidak jelas.


***


Ron dan Genta berdiri di balkon kamar hotel baru yang sudah mereka pesan. Dua pria dewasa itu bersantai seraya meneguk sekaleng soda sembari menikmati udara malam yang menyejukkan.


"Kenapa tidak kau ambil saja hadiahmu, Gen?" tanya Ron mulai membuka percakapan.


"Hadiah apanya?!"


"Wanita itu. Kau masih lajang, Gen. Nikmati saja,"


"Cih, kau sendiri bagaimana? Sekarang sudah berlagak seperti suami setia?" ledek Genta.


"Berlagak apanya? Aku memang suami yang setia." ujar Ron dengan congkak.


"Kau sudah benar-benar terjatuh dalam perangkap Thrisca?" ejek Genta.


"Hidupku sekarang sudah dipenuhi oleh istri dan anakku. Untuk apa aku meladeni wanita asing?!"


"Kau.. belum memiliki niat untuk menambah istri?!"


"Bukan belum! Tapi tidak! Tidak akan pernah." jawab Ron tegas.


"Percaya diri sekali," cibir Genta.


"Entah apa yang akan terjadi nanti, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengkhianati Thrisca. Aku sudah cukup cemas menghadapi masa depan bersama keluarga kecilku.. aku tidak mempunyai waktu untuk memikirkan hal lain selain anak dan istriku."


"Kau pasti sangat cemas menanti kehadiran anakmu,"


"Sepertinya begitu. Bayi itu membawa kebahagiaan sekaligus kecemasan dalam diriku. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada istriku,"


"Kau terlalu berlebihan, Ron."


"Gen, kau tidak mempunyai pikiran yang aneh-aneh mengenai istriku, kan?" selidik Ron.


Genta melirik ke arah Ron dan mulai mengomel dengan amarah meledak-ledak.


"Pikiran apa?! Kau menuduhku?! Apa aku terlihat seperti perebut istri orang?!" protes Genta.


"Kau terlalu akrab dengan istriku. Icha juga terlihat sangat senang mengobrol denganmu," ujar Ron penuh iri dengki.


"Aku hanya ingin mencoba bersikap baik pada istrimu, Ron."


"Baguslah kalau begitu."


"Aku tidak akan berani merebut apapun darimu.." ujar Genta lirih.


"Aku akan pulang, Ron." imbuh Genta.


"Pulang?"


"Ibuku mencarikan jodoh untukku," ungkap Genta dengan wajah cemberut.


"Lalu kalau kau pulang, siapa yang akan membantu pekerjaanku?" rengek Ron.


"Ron, ibuku akan membunuhku jika aku terus berkeliaran di perusahaan."


"Kenapa?! Ibumu ingin protes lagi karena aku tidak memberimu posisi tetap di perusahaan?!"


"Kau tahu sendiri bagaimana sifat ibuku,"


"Kau ingin posisi apa?! Aku akan memberikannya padamu!"


"Tidak semudah itu, Ron. Nenekmu akan mencincangku jika aku berani meminta posisi di perusahaan.." ujar Genta.


"Nenek tua itu tidak memiliki hak apapun atas perusahaan!"


"Ron, jika nenekmu mendengarnya, kau akan habis ditebas oleh wanita tua itu.."


"Nenek tua itu sama saja menyebalkannya dengan kakek," gerutu Ron lirih.


"Kau sudah memberitahu nenekmu mengenai kehamilan istrimu? Nenekmu tidak hadir di pernikahanmu dulu karena sakit, kan? Nenek tua itu pasti tidak ingin melewatkan kelahiran cicitnya kali ini."


"Nenek tua itu masih sibuk di luar negeri. Mungkin kakek sudah memberitahukannya pada nenek."


"Kakek masih saja sibuk mengurus istri muda dan mengabaikan nenekmu yang tengah sakit. Jika aku jadi nenekmu, aku pasti sudah mengirim rudal ke rumah kakek tua itu," ujar Genta geram pada sang kakek.


Sementara, di belahan bumi lain tempat istri pertama dari Tuan Hasan tinggal, terlihat seorang wanita tua yang nampak bersemangat akan kembali ke negara tercinta tempat kelahirannya.


"Nyonya benar-benar ingin kembali sekarang?" tanya seorang dokter pada wanita tua yang sibuk menatap cermin.


"Aku sudah melewatkan pesta pernikahan cucu kesayanganku. Kali ini cucuku akan mengadakan pesta pernikahan lagi. Tentu saja aku tidak boleh melewatkannya untuk yang kedua kali. Aku sudah tidak sabar bertemu dengan cucu menantuku," ungkap wanita tua itu seraya menatap selembar kertas foto yang terdapat wajah Thrisca di dalamnya.


***


Bersambung...